
Makan malam di ruang tengah di rumah Mahmud suasananya terlihat kaku, tidak ada obrolan apapun selama makan berlangsung ataupun sesudahnya. Mahmud, Dewi dan Arin masih memendam kesal dengan Kosim yang tetap memutuskan menerima ajakan temannya bekerja di proyek Seismik di daerah Jawa Tengah.
Selesai makan Mahmud langsung beranjak meninggalkan ruang tengah berniat duduk santai di teras.
"Wi, bikinin kopi ya, Masnya di teras." Ucap Mahmud sebelum melangkah pergi.
"Iya Mas. Sim, kamu mau kopi? Sekalian Mbak bikinin..." ujar Dewi.
Meski memendam kesal tetapi Dewi masih bisa menyembunyikannya. Dia tetap bersikap seperti biasa terhadap Kosim. Berbeda dengan Mahmud dan Arin, ya mungkin tingkat rasanya berbeda.
"Nggak usah Mbak biar nanti saya bikin sendiri aja," jawab Kosim sungkan.
Dewi pun segera beranjak ke dapur. Kini tinggal Kosim dan Arin yang masih menyuapi Dede. Kosim menyalakan sebatang rokoknya, sesaat kemudian dihisapnya dalam-dalam lalu dihebuskannya perlahan sambil sesekali melirik kearah Arin dan Dede.
Sikap acuh tak acuh Arin dirasakan Kosim sebagi hal yang biasa, seperti yang sering diterimanya sebelum dirinya nekad melakukan ritual pesugihan. Jadi, Kosim pun membiarkan saja suasana yang tidak nyaman tersebut.
Sementara Mahmud sedikit terkejut saat membuka pintu berniat duduk di teras depan. Dilihatnya sudah ada Abah Dul sedang duduk bersandar pada saka rumah sebelah kanan sambil menghisap rokoknya.
"Lah, sudah lama Bah?" Tanya Mahmud.
"Baru Mud ada sepuluh menitan sih, hehehe.." Abah Dul tertawa sumbang.
"Loh ada Abah Dul," ucap Dewi yang muncul membawa kopi buat Mahmud.
"Iya, saya juga kaget pas buka pintu sudah ada Abah lagi duduk. Bikin satu lagi ya Wi," kata Mahmud.
Dewi pun kembali masuk setelah meletakkan kopi dihadapan Mahmud lalu kembali masuk.
"Tadi siang gimana panennya cabainya Mud?" Tanya Abah Dul membuka obrolan.
"Alhamdulillah panen kali ini melimpah, nggak seperti panen sebelumnya. Hancur, hehehe..." ujar Mahmud sumringah.
"Harganya lagi bagus atau sedang turun sekarang?"
"Lumayan lagi tinggi Bah, malah langsung ditodong ditempat sama bandar cabainya. Ya nggak semuanya saya jual sih, sengaja saya sisain satu karung buat dibagi-bagi ke tetangga. Kalau Abah mau nanti saya bawain," kata Mahmud.
"Ya mau lah hehehe..." tipal Abah Dul.
"Hallah, emang buat apa? jomblo permanen aja mau masak hahahaha..." kelakar Mahmud.
"Sembarangan ente Mud. Awas aja bentar lagi juga jadi adik ipar ente nih," timpal Abah Dul.
"Emang Zakiyah mau?" Mahmud terkejut juga mendengar pengakuan Abah Dul.
"Tunggu saja kejutannya, Mas Mahmud orang paling sabaaaarrr, hehehe..." seloroh Abah Dul.
__ADS_1
Mahmud hanya tertawa kecil, dihatinya masih bertanya-tanya apakah Abah Dul bercanda atau serius. Tetapi dari ucapannya sepertinya serius.
"Gus Harun sebentar lagi nyampe Mud. Palingan setengah jam lagi," ujar Abah Dul diakhir ketawanya.
"Jadi kesininya?"
Mahmud sedikit sangsi karena kemarin malam dirinya sempat emosi hingga meminta Abah Dul membatalkannya.
"Nggak enak Mud, masa saya melarang. Gus Harun kesini atas inisiatif sendiri, dia khawatir dengan mimpi saya dan Kosim yang saya ceritakan," kata Abah Dul.
"Lah wong Kosimnya sendiri begitu, nggak mau dibantu. Nggak ngargai kita sama sekali," sungut Mahmud dengan nada kesal.
"Sekarang begini Mud, saya semalam sepulang dari sini sudah memikirkannya. Biar saja Kosim pergi merantau kalau memang tidak bisa dicegah, bukan berarti Arin dan Dede dibiarkan begitu saja. Kita disini menjaga Arin dan Dede," terang Abah Dul.
Mahmud terdiam, dia seperti baru tersadar mendengar penjelasan Abah Dul masih ada Arin dan Dede yang juga masih dalam ancaman.
"Iya ya Bah,"
"Bersikap seprti biasa saja terhadap Kosim. Saya juga sebetulnya kesal tapi ya ikhlaskan saja dengan apa yang sudah kita lakukan dengan sikap Kosim seperti itu. Saya yakin Kosim mempunyai motivasi atau alasan sendiri memutuskan menerima kerjaan itu hingga mengabaikan peringatan mimpinya," kata Abah Dul.
Perasaan emosi dan kesal Mahmud terhadap Kosim seperti tersiram air es, hatinya seketika merasa sejuk. Penjelasan Abah Dul tak ubahnya seperti cambuk yang mengingatkan untuk berfikir jernih.
"Biar nanti meminta Gus Harun untuk membekali Kosim agar tidak bisa dilihat keberadaannya oleh mahluk gaib. Sekarang Kosimnya mana, Mud?" Ujar Abah Dul.
Mahmud segera bangkit dari duduknya namun urung diteruakan karena secara bersamaan Dewi muncul membawa kopi buat Abah Dul.
"Wi, panggilin Kosim kesini ya..." kata Mahmud.
"Iya Mas,"
"Monggo diminum Bah, tapi nggak ada kue nih belum sempat belanja, hehehe..." ujar Dewi.
"Nggak apa-apa Wi, matur suwun Wi." Balas Abah Dul.
"Sepertinya Dewi dan Arin, terutama Arin Bah masih belum bisa menerima keputusan Kosim. Saat makan tadi saja pada diam semua nggak seperti biasanya, ya termasuk saya sih hehehe..." kata Mahmud setelah Dewi kembali masuk.
"Nanti biar saya yang ngasih pengertian Mud. Nggak baik juga satu rumah pada diem-dieman begitu, ya kan?" Ujar Abah Dul.
"Sim sini duduk," sambung Abah Dul bersamaan Kosim muncul.
"iya Bah," sahut Kosim.
Kosim duduk disebelah Mahmud bersandar pada tembok dibawah jendela.
"Sim ente sudah memeutuskan jadi berangkat ke Wonosobonya?" Tanya Abah Dul.
__ADS_1
"Iya Bah, tadi pagi sudah bilang ke teman saya," jawab Kosim.
"Ya sudah nggak apa-apa. Tapi tolong ente disana jaga diri baik-baik, nanti saya mintakan ke Gus Harun untuk membekali ente. Ente mau ya Sim?" Kata Abah Dul hati-hati agar Kosim tidak tersinggung.
"Iya Bah, matur kesuwun sanget Bah. Inya Allah saya bersedia Bah. Mmm, saya juga mau minta maaf sama Abah dan Mas Mahmud, keputusan saya pasti mengecewakan. Dan sekali lagi minta maaf yang sebesar-besarnya, keputusan saya ini tidak ada maksud sedikit pun mengabaikan pertolongan Abah dan Mas Mahmud selama ini," ucap Kosim.
Kosim berhenti sejenak sembari menghela nafas panjang. Dia tahu kalau keputusannya sangat menyinggung perasaan Abah Dul dan Mahmud.
"Saya titip Arin dan Dede Bah, Mas. Kalau pun saya yang harus dijemput monyet siluman itu saya juga ikhlas, asalkan jangan Arin dan Dede," lanjut Kosim.
Abah Dul dan Mahmud seketika terperangah mendengar ucapan Kosim yang sepertinya pasrah apabila peringatan dari mimpi itu benar-benar terjadi.
"Saya sudah memikirkan dan menimbang-nimbang itu Bah, Mas. Tetapi saya sangat yakin kepergian saya kerja dengan niat baik ingin menafkahi keluarga. Jika Gusti Allah menghendaki saya untuk menerima hukuman atas perbuatan yang saya lakukan bersekutu dengan siluman itu, saya sudah siap dan ikhlas," tutur Kosim.
Mahmud menunduk haru mendengar kepasrahan Kosim. Kini dia memahami kenekatan Kosim menerima pekerjaan itu. Bahkan kini dirinya merasa bersalah sudah menilainya yang macam-macam.
"Saya juga minta maaf Sim. Saya memang sempat marah atas keputusan kamu hingga menilai kamu tidak menghargai jerih payah orang-orang yang sudah berupaya membantumu hingga bertaruh nyawa," ucap Mahmud sambil menepuk pundak adik iparnya itu.
Abah Dul hanya diam mendengarkan percakapan Mahmud dan Kosim. Dirinya sebetulnya sedikit sudah mengetahui alasan Kosim sehingga dia lebih dulu bisa menerima keputusan Kosim daripada Mahmud.
Pada malam sebelumnya Abah Dul memang sempat merasa kesal dan marah saat itu sehingga dirinya pulang bersama Mang Ali. Namun sesampainya di rumah menunggu saat Kosim tidur, Abah Dul langsung menggunakan amalan melepas sukmanya untuk mendatangi sukma Kosim.
Dialam bawah sadar, Kosim tidak mengetahui secara langsung kalau dirinya sudah memberikan alasan soal keputusannya kepada Abah Dul. Pada saat itu sukma Abah Dul menanyakannya pada sukma Kosim dan sukma Kosim mengatakannya persis seperti yang Kosim sampaikan barusan. Dan Abah Dul pun merasakan sama dengan yang dirasakan Mahmud yang kini sudah memahaminya.
Makanya Abah Dul tidak terlalu kaget dengan ucapan Kosim yang memberikan alasan tersebut. Namun yang mengejutkan dirinya, Kosim terlihat pasrah dan sepertinya sudah siap jika harus mati menanggung akibat perbuatannya.
Suasana malam itu sudah kembali mencair. Tidak ada lagi ganjalan dihati Mahmud, Kosim maupun Abah Dul. Perasaan Kosim kini sudah sangat tenang dan kalaupun nantibberangkat ke Wonosobo tidak ada lagi maslah yang mengganjal di hatinya.
"Tulilit... tuliliiiit..."
"Tulilit... tuliliiiit..."
"Tulilit... tuliliiiit..."
Abah Dul langsung merogoh saku baju kokonya mengambil hapenya yang berdering. Dilihatnya sesaat lalu dianfkatnya.
"Assalamuikum Gus, sampai mana? O, iya... iya... yowi tunggu saja disitu Gus. Ya, ya... Assalamualaikum." Abah Dul pun menutup telponnya.
"Sim jemput Gus Harun ya, di depan Alapa kebablasan katanya," ujar Abah Dul.
"Iya Bah," sahut Kosim.
Kosim segera bergegas masuk rumah untuk mengambil kunci sepeda motornya. Tidak lama kemudian kembali keluar langsung menuju sepeda motornya yang masih terparkir disamping rumah.
......................
__ADS_1