
“Apakah mungkin raja jin yang sekarang memburu tuan karena mencari kalung itu?!” sela tuan Samanta tiba- tiba.
Mendengar ucapan tuan Samanta, semuanya terkesiap seolah- olah baru tersadarkan oleh perkataan tuan Samanta terutama bagi tuan Denta sendiri. Tuan Denta tampak tertegun
mencermati ucapan tersebut dalam- dalam.
Rupanya ucapan tuan Samanta ada benarnya, seketika ingatannya tuan Denta melayang jauh ke masa lampau. Tuan Denta teringat kembali terhadap peristiwa masa lampau ketika saat- saat Raja Jin yang pertama memberikan kalung tersebut.
“Sembunyikan kalung ini Jendral Denta. Jangan sampai jatuh kepada para pemberontak!”
Hanya kalimat itu yang tuan Denta ingat dan masih terngiang- ngiang dalam ingatannya sampai saat ini. Kalimat itu pula yang diucapkan sang Raja Jin untuk yang terakhir kalinya sebelum wujudnya lenyap setelah sebelumnya terluka cukup parah.
Tuan Denta mengingat- ingat lebih mendalam lagi tentang kalung tersebut namun tidak ada sepenggal rangkaian kisah lagi dalam ingatannya. Yang di ingat tuan Denta kala itu hanyalah teriakkan- teriakkan dari para pemberontak untuk segera mencari suatu benda, namun tuan Denta tidak mengetahui dengan jelas benda apa yang di maksud pemimpin pemberontak tersebut.
“Mungkin anda benar tuan Samanta, benda
inilah yang dimaksud oleh para pemberontak kala itu,” gumam tuan Denta masih menerawang menatap kalung yang tergantung di dinding kayu.
Tiba- tiba tuan Denta teringat dengan kisahnya beberapa waktu lalu ketika dikejar- kejar oleh para prajurit bersama Abah Dul hingga masuk ke dalam kediaman lalu kabur melalui lorong rahasia.
“Tapi jika memang kalung ini yang dicari- cari, kenapa saat mengejarku dan tuan Dul waktu itu hingga kedalam tempat ini mereka tidak mengambilnya?” sanggah tuan Denta heran.
“Mungkin mereka sudah menduga sebelumnya kalau kalung itu ada bersama tuan, sehingga hanya fokus tertuju pada perburuan terhadap tuan saja,” ujar tuan Samanta.
“Ya, bisa jadi seperti itu. Tuan Mahmud silahkan bawa dan simpan saja kalung itu bersama anda tuan. Mungkin akan lebih aman jika berada di alam manusia,” kata tuan Denta.
Mendengar ucapan tuan Denta itu seketika Mahmud senang bukan main dan seolah- olah tidak percaya dengan yang dia dengar.
“Benarkah tuan Denta?!” tanya Mahmud sekaligus menegaskan ucapan tuan Denta.
“Iya tuan Mahmud, aku serahkan kalung itu kepadamu. Mungkin di alam mu kalung itu akan lebih aman dan juga lebih berguna,” tegas tuan Denta tanpa ragu sedikit pun.
__ADS_1
“Bolehkah saya ambil kalung itu sekarang tuan?” tanya Mahmud meminta ijin.
“Silahkan tuan Mahmud, jaga baik- baik kalung itu,” jawab tuan Denta.
Mahmud segera meraih kalung yang tergantung di dinding kayu tersebut dengan tangan sedikit gemetar. Mahmud sendiri masih belum mengerti kenapa hatinya begitu tertarik dengan benda yang sudah usang tersebut.
Setelah meraih kalung dari gantungan dinding, sejenak Mahmud menggenggamnya erat- erat. Seketika tangan Mahmud merasakan ada hawa sejuk yang mengalir dari tangan yang genggaman kalung. Aliran hawa sejuk itu terus merayap menuju punggung lengan dan terus mengalir kesegala organ- organ tubuh Mahmud.
Tanpa sadar Mahmud memejamkan matanya pelan- pelan seperti menikmati aliran hawa sejuk yang mengalir didalam tubuhnya.
Sedetik kemudian tiba- tiba Mahmud
membuka matanya dan menolehkan kepalanya kearah pintu yang rusak dan terbuka akibat di dobrak sebelumnya oleh para prajurit jin. Semua yang sejak tadi memperhatikan gerak –gerik
Mahmud secara spontan itu juga turut mengalihkan pandangan matanya memgikuti arah pandangan Mahmud.
“Ada apa nak Mahmud?!” tanya Kiyai Sapu Jagat heran, sebab ia tidak melihat apa- apa di pintu maupun di luar pintu.
Seketuka Tuan Denta, tuan Samanta, tuan Gosin, Kosim serta Kiyai Sapu Jagat terkejut mendengar seruan Mahmud sekaligus dibuat terheran- heran dengan peringatan yang diucapkan Mahmud itu.
"Mana?!" tanya Kosim penasaran celingukkan melihat kesekeliling.
"Mereka sedang bergerak menuju ke sini!" ujar Mahmud meyakinkan.
“Bagaimana tuan tahu ada banyak prajurit datang?! Sedangkan aku tidak merasakan kehadirannya?!” tanya tuan Denta terheran- heran dengan kemampuan Mahmud yang muncul tiba- tiba itu.
“Sa.. sssaya ti.. tiddak tau tuan. Ta.. tapi saya melihat ada banyak pasukan seperti tadi sedang bergerak menuju kesini,” jawab Mahmud, pandangan matanya masih menatap keluar rumah.
“Berapa jauh jaraknya tuan?!” tanya tuan Samanta yang langsung mempercayai peringatan dari Mahmud.
“Saya tidak tahu seberapa jauh jaraknya tapi saya melihat disekitar Para pasukan itu banyak pepohonan besar dan tinggi- tinggi, seperti ada di tepi hutan,” jawab Mahmud.
__ADS_1
“Berarti mereka tidak jauh dari tempat ini. Ayo
kita harus cepat bergerak ke pintu gerbang keluar dari alam jin ini!” seru tuan Denta menunjuk salah satu sudut ruangan.
Tuan Denta segera bergerak menuju sudut ruangan sisi kiri diikuti Mahmud, Kiyai Sapu Jagat, Kosim, tuan Gosin dan terakhir tuan Samanta.
Tak lama kemudian tuan Denta berhenti sekitar dua jengkal dari sudut yang dituju diikuti yang lainnya. Mahmud yang berdiri dibelakang tuan Denta merasa heran karena yang dilihatnya tidak sesuai seperti apa yang dikatakan tuan Denta sebagai pintu gerbang menuju alam lain.
Mahmud melihatnya hanya ada sudut ruangan dengan dinding- dinding yang terbuat dari kayu dan tidak ada apapun di sudut itu.
Tiba- tiba Tuan Denta mengangkat tangan kanannya dengan telapak tangan menghadap kearah sudut ruangan. Matanya menatap lurus kedepan, mulutnya komat- kamit nampak sedang membaca sebuah mantera.
Tak lama kemudian perlahan- lahan muncul sebuah kabut tipis yang berputar- putar membentuk lingkaran. Mula- mula kabut tipis tersebut terlihat samar- samar, namun lama kelamaan kabut tipis tersebut nampak terlihat jelas. Bahkan putarannya pun kini jelas terlihat seperti pusaran dengan pusat putarannya berada ditengah- tengah diameter lingkarannya.
"Ayo cepat masuk!" seru tuan Denta melambaikan tangannya.
Tuan Denta menggeser tubuhnya ke kanan memberikan jalan pada Mahmud yang berada diurutan paling depan. Sejenak Mahmud tampak ragu- ragu melangkahkan kakinya kedalam pusaran lingkaran kabut tipis tersebut.
Mahmud menoleh pada tuan Denta, seakan meminta untuk meyakinkan dirinya memasuki gerbang dimensi tersebut. Tuan Dentamembalas dengan menganggukan kepalanya, lalu Mahmud menoleh kebelakang dimana Kiyai Sapu Jagat berdiri menunggu giliran di belakangnya.
Kiyai Sapu Jagat pun mengguk kecil memberikan keyakinan pada Mahmud yang terlihat ragu- ragu untuk melangkah memasuki gerbang dimensi itu.
Sambil memejamkan mata, Mahmud pun mulai menggerakkan kakinya satu langkah kearah pusaran kabut yang berjarak 3 langkah didepannya.
Satu langkah... Dua langkah...
Dan pada ayunan langkah ketiga, baru saja kaki Mahmud terangkat setengah langkah akan memasuki kedalam pusaran lingkaran, tiba- tiba sebuah ledakkan terdengar keras dan mengguncangkan bangunan kediaman tuan Denta.
Buuummmm...!!!
Ledakkan itu menghancurkan bagian tengah bangunan kediaman tuan Denda sekaligus membuat Mahmud, Kiyai Sapu Jagat, tuan Denta, Kosim, tuan Gosin serta tuan Samanta seketika tercerai _berai berpentalan kesegala arah. ● BERSAMBUNG
__ADS_1