
Usai melaksanakan sholat subuh berjamaah di ruang sholat di dalam rumah bersama pak Harjo, bu Harjo, Hasan dan Hariri, Dewi dan Arin
permisi pada bu Harjo pergi ke dapur untuk menyiapkan membuat sarapan pagi. Pada awalnya bu Harjo mencegahnya, karena Dewi dan Arin sebagai tamu di rumahnya, namun Dewi tetap memaksanya. Dan bu Harjo pun hanya geleng- geleng kepala
merasa takjub sekaligus senang melihat inisiatif dari kakak beradik tersebut.
“Jangan nak Dewi, nak Arin. Biar nanti ibu saja yang menyiapkan makanan untuk sarapannya,” cegah bu Harjo ketika Dewi meminta ijin ke dapur.
“Tidak apa- apa bu, saya dan Arin sudah biasa melakukannya di rumah setiap pagi. Jadi kalau saya dan Arin hanya menunggu rasanya tak enak
juga bu,” jawab Dewi.
“Aduh nak Dewi ibu jadi nggak enak,” kata bu Harjo.
“Sudah tidak apa- apa bu, saya dan Arin permisi ya bu,” ujar Dewi.
“Njih nak Dewi, nak Arin. Nanti ibu menyusul ya. O iya di dapur kayaknya masih ada daging kambing tuh nak Dewi,” kata bu Harjo.
“Njih bu,” sahut Dewi beranjak dari ruang sholat menuju dapur.
Tanpa disadari panggilan ‘Nak’ pada Dewi dan Arin keluar begitu saja dari mulut bu Harjo. Awalnya Dewi dan Arin sedikit kaget manakala bu Harjo memanggilnya dengan menyebut ‘Nak’ bukan menyebutnya ‘mbak’ seperti
kemarin, tetapi Dewi merasa panggilan ‘nak’ itu lebih cocok daripada panggilan ‘mbak’ untuk dirinya dan Arin.
Hubungan kekeluargaan kian terasa kental meski hanya baru satu hari Dewi dan Arin berada di rumah pak Harjo. Dewi dan Arin merasa diperlakukan
seperti layaknya keluarga sendiri, bahkan pak Harjo dan bu Harjo sudah
menganggap keduanya sebagai anak sendiri. Pak Harjo dan bu Harjo sudah lama mengidam- idamkan anak perempuan, namun rupanya Gusti Allah hanya memberinya dua anak yang kesemuanya laki- laki.
Dan satu- satunya harapan bagi kedua orang tua Hasan dan Hariri itu memiliki anak perempuan adalah menantu dan cucu. Kehadiran Dewi dan Arin serta Dede di rumahnya merupakan sebuah anugerah kebahagiaan yang tak
terkira bagi pak Harjo dan bu Harjo, bahkan keduanya sudah lebih dulu menganggap Arin sebagai menantunya.
Pembicaraan antara Dewi dan bu Harjo saat Dewi berpamitan hendak menyiapkan masakan untuk sarapan itu rupanya didengar oleh pak Harjo
yang duduk paling depan usai mengimami sholat subuh. Saat itu juga pak Harjo merasa kagum dengan Dewi dan Arin yang bisa menumbuhkan rasa sayang pada dirinya dan istrinya dimana keduanya sangat merindukkan kehadiran sosok anak perempuan.
“Bu, bapak sangat kagum dengan Dewi dan Arin,” ujar pak Harjo menoleh kebelakang sepeninggalnya Dewi dan Arin di tempat sholat itu.
__ADS_1
“Iya pak, ibu juga makin sayang dengan mereka. Ibu ingin punya menantu seperti mereka,” sahut bu Harjo sambil melirik kearah Hasan yang duduk di belakang bapaknya.
Hasan hanya menunduk saja pura- pura tak mendengarkan percakapan ibu dan bapaknya. Namun di dalam hatinya, dirinya pun sangat berharap Arin menjadi istrinya. Hasan merasa sosok Arin itu sangat pas dan cocok di hatinya sesuai dengan apa yang diangan- angankannya, perempuan yang baik, punya tata krama, hormat sama orang tua serta tidak bermalas- malasan. Semua itu dia temukan dalam diri Arin.
Setidaknya baru sebatas itu Hasan menjajaki Arin hanya dari percakapan-
percakapan singkat sebelumnya. Namun didalam hati Hasan sangat yakin kalau Arin adalah jodoh sebagai istrinya. Tanpa sadar Hasan senyum- senyum sendiri seketika mengingat kejadian- kejadian yang tak disengaja saat bertubrukkan dua kali.
“Kak Hasan sepertinya mau tuh bu, pak!” celetuk Hariri yang melihat kakaknya sedang senyum- senyum sendiri.
Ibu dan bapaknya kontan menoleh ke arah Hasan dengan wajah sumringah, seraya bertanya sungguh- sungguh; “Benar San, kamu mau menikah
dengan Arin?” tanya bu Harjo. Senyum Pak Harjo merekah saat istrinya menanyakan itu pada Hasan.
“Benar San kamu suka sama Arin?” pak Harjo mengulangi pertanyaan istrinya.
“Jawab saja kak, iya gitu…” sungut Hariri tak sabar melihat Hasan belum juga menjawab.
“Tapi pak bu, apakah Arin mau?” tanya Hasan pura –pura ragu, padahal dirinya yakin Arin juga menaruh hati padanya.
“Ya kalau kamu suka dan serius nanti ibu yang akan menyampaikannya San, ya pak ya…” kata bu Harjo.
“Kalau memang ini jodoh saya, saya bersedia pak bu…” sahut Hasan.
......................
Sementara itu di dapur,
Sudah menjadi kebiasaan bagi Dewi dan Arin sehabis menunaikan ibadah sholat subuh, kakak beradik itu melakukan rutinitas di dapur.
Seperti saat ini biarpun sedang menginap di rumah pak Harjo di desa Palu Wesi. Pekerjaan rumah yang sudah sepatutnya dikerjakan oleh para kaum hawa di pagi hari, memasak, mencuci, atau pun bersih- bersih di dalam rumah maupun di luar rumah.
Karena sudah menjadi rutinitas dan kebiasaan Dewi dan Arin di rumahnya, aktifitas pagi ini di rumah pak Harjo pun tetap dilakukannya. Dan aktifitas
tersebut tidak membuat Dewi dan Arin menjadi beban bagi keduanya. Seperti di pagi buta ini, Arin mencuci piring- piring, gelas, sendok serta peralatan dapur lainnya bekas dipakai semalam. Sementara Dewi melakukan kegiatan memasak membuat sarapan pagi dengan bahan seadanya yang tersimpan di rak dapur. Yang terpenting
baginya masih ada nasi dan telor, maka menu sarapan pun jadi. Minimalnya Dewi akan membuat nasi goreng dan kebetulan di tempat rak penyimpanan makanan masih tersedia potongan daging kambing.
Pagi ini bu Harjo tidak pergi ke waru bi Jum untuk berbelanja sayur mayur karena masih banyak bahan- bahan memasak sisa acara syukuran kemarin. Bu Harjo langsung menuju ke dapur untuk membantu Dewi dan Arin memasak.
__ADS_1
“Loh nak Arin kemana nak Dewi?” tanya bu Harjo saat sampai di dapur dan hanya ada Dewi seorang.
“Itu bu di luar lagi nyapu halaman,” jawab Dewi.
“Masya allah… ibu jadi tidak enak nak Dewi. Tamu kok pada masak dan menyapu,” ujar bu Harjo.
“Tidak apa- apa kok bu, ini biasa saya dan Arin selalu lakukan di rumah hampir setiap pagi,” balas Dewi.
“Iya tapi nak Dewi dan nak Arin kan tamu ibu, biar ibu yang melayani kalian,” sergah bu Harjo.
“Hehehehe… ibu nih kayak saya dan Arin tamu apa aja sampe di layani begitu. Ibu dan bapak serta mas Hasan dan dek Hariri sudah menganggap
kami keluarga juga kami sudah sangat berterima kasih bu,” kata Dewi.
“Eh, nak Dewi ibu mau bicara serius nih,” kata bu Harjo menghentikan kegiatan Dewi mengiris bawang, lalu menatap wajah bu Harjo penasaran.
“Bicara serius apa bu?” tanya Dewi.
“Begini nak Dewi, kira- kira nak Arin mau tidak ya di jodohkan dengan Hasan?” kata bu Haro setengah bertanya.
Dewi terkesiap mendengar pertanyaan yang diajukan bu Harjo. Kedua alisnya terangkat sambil menatap lekat- lekat wajah bu Harjo, seraya mimpi mendengar tawaran yang diucapkan bu Harjo. Sebab Dewi sendiri sempat menghayalkan kalau adiknya itu dinikahi sama Hasan, akan tetapi hayalannya tersebut langsung surut
mengingat Arin sudah janda sedangkan Hasan masih perjaka. Apakah Hasan mau???
Pertanyaan itulah yang mengganggu di pikiran Dewi semalaman, hingga tak dapat tidur. Bahkan saat Arin keluar kamar pun sebetulnya Dewi
mengetahuinya. Dan setelah lama Arin tidak kunjung kembali ke kamar, saat itu Dewi mencoba mencari tahu keberadaan Arin. Dan ternyata Dewi melihat Arin sedang duduk berdua dengan Hasan di teras depan. Harapan itu kembali muncul lebih kuat dan
sangat berharap hayalannya itu akan menjadi kenyataan.
“Nak Dewi, nak! Kok melamun? Apa nak Dewi tidak setuju?” bu Harjo menepuk- nepuk punggung lengan Dewi yang terbengong- bengong.
“Eh, anu, bu, bukan begitu bu. Saya hanya belum yakin apakah mas Hasan sudah memikirkan status adik saya itu bu,” kata Dewi tergagap, tersadar dari lamunannya.
“Masalah itu sih ibu bisa jamin nak Dewi, anak ibu sepertinya sudah memikirkannya, hehehe…” kata bu Harjo sumringah.
“Nanti saya coba bicarakan ini dengan Arin ya bu, ya semoga saja Arin dan Hasan bisa berjodoh,” balas Dewi bijak.
“Amiiin… amin ya allah…” sahut bu Harjo.
__ADS_1
“Ya sudah sekarang nak Dewi mau bikin apa?” tanya bu Harjo bersemangat, hatinya sangat senang.
“Saya mau bikin nasi goreng spesial resep chef Dewi dengan tetelan daging ini bu, hehehe…” jawab Dewi bercanda, keduanya pun lantas tertawa- tawa. ** BERSAMBUNG