
Suasana makan malam berjalan dengan santai dan sudah tak nampak lagi kesedihan di rumah Mahmud setelah perpisahan mereka dengan Kosim. Hati Dewi dan Arin sudah bisa menerima kenyataan yang sudah terjadi sehingga kakak beradik itu terlihat lebih lega, tak merasa ada perasaan yang mengganjal lagi di hati mereka. Begitu pula dengan Dede, setelah di bujuk dengan berbagai cara dan diberi nasihat- nasihat oleh Arin, Dewi, Mahmud dan Abah Dul akhirnya mau mengerti dengan ketiadaan ayahnya.
Sikap bocah berusia 3 tahunan itu terlihat begitu aneh dan tak wajar bagi bocah seusianya. Dede seperti cepat mengerti dan memahami suasana yang telah terjadi walau tak menghilangkan tingkah lakunya sebagai mana mestinya anak seusianya.
“Wi, malam ini rencanyanya mas mau mengantarkan kang Basyari dan kang Baharudin pulang ke Surabaya. Sama Abah Dul dan Gus Harun juga ikut kesana,” kata Mahmud setelah meneguk air minum.
“Loh, apa nggak besok lagi aja,” jawab Dewi sedikit terkejut.
“Tadinya kami pulang pagi tadi mbak, tapi kang Kosim mencegah meminta waktu sampai dirinya pergi dulu,” sela Basyari.
“Aduh kang, kami belum menyiapkan apa- apa untuk memberikan oleh- oleh,” sergah Dewi yang diangguki Arin dengan wajah menyesal.
“jangan mbak, nggak usah repot- repot seperti itu. Ya, sepertinya kami harus pulang secepatnya mbak, sebab kami sudah ditunggu disana,” jawab Basyari.
“Saya, Arin dan mas Mahmud mengucapkan banyak- banyak terima kasih ya kang. Bantuan sampeyan- sampyean tak akan ada nilainya dari apapun, sekali lagi kami ucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya,” ucap Dewi mewakili Arin mengiyakan ucapak kakaknya dengan mengangguk.
“Itu semua berkat Gusti allah mbak, kami hanya perantara saja. Yang penting sekarang mbak Dewi dan mbak Arin harus ingat pesan kang Kosim tadi, jaga Dede dan beri pendidikan yang baik ya,” kata Baharudin mengingatkan.
“Jam berapa berangkatnya mas?” tanya Dewi pada Mahmud.
“Jam dua belas atau jam satuan wi, kami mampir ke Semarang dulu ada keperluan yang harus diselesaikan kang Basyari dan Baharudin disana,” jawab Mahmud.
“Ayah Mamud, ayah Mamud ada orang yang datang. Ada empat!” sela Dede tiba- tiba dengan suara lantang.
Seketika obrolan mereka terhenti, semuanya menatap Dede dengan kening berkerut heran antara percaya dan tidak.
“Mana?” tanya Mahmud menanggapi.
“Tunggu saja ayah Mamud, satu… dua… ti…” balas Dede seketika terputus oleh suara salam dari luar rumah.
“Assalamualaikum…”
__ADS_1
Tok.. tok… tok…
“Tuh kan ayah Mamud!” teriak Dede girang.
Semua mata membelalak heran sekaligus takjub memandang ke arah Dede yang acuh tak acuh. Entah sadar atau tidak yang diucapkan Dede itu namun yang jelas memang benar- benar nyata.
“Assalamualaikum…”
Tok.. tok… tok…
“Wa alaikum salam…” sahut semuanya bersamaan lalu Mahmud langsung bangkit dari duduknya bergegas melangkah kedepan.
Kreteeeekkkk…
Saat pintu membuka pintu, di teras rumah terlihat sudah ada empat orang sedang duduk- duduk di bibir teras. Dua laki- laki dan dua perempuan, keempatnya berusia rata- rata 50 tahunan dan tampaknya suami istri.
“Benar! Seperti yang Dede katakan,” ucap Mahmud dalam hati takjub mengingat ucapan Dede.
“njih, njih boten napa- napa (Nggak apa- apa)… monggo masuk pak, bu…” balas Mahmud ramah mempersilahkan tamunya masuk rumah.
“Njih matur suwun kang Mahmud,” sahut empat tamu lalu mengikuti langkah Mahmud menuju ruang tamu.
“Monggo duduk, duduk pak, bu…” ucap Mahmud sambil duduk mempersilahkan tamunya.
Sekilas Mahmud melihat dua perempuan menenteng air mineral kemasan botol didalam kantong kresek berwarna putih. Mahmud sedikit mengerutkan kening, ia mencoba menerka- nerka apa maksud dan tujuan keempat tamunya tersebut namun masih belum menemukan jawabannya.
Melihat Mahmud seperti kebingungan dan menyiratkan banyak pertanyaan di wajahnya, buru- buru lelaki paruh baya yang memakai kopyah hitam berkata; “Mm… begini kang Mahmud. Sebelumnya perkenalkan kami dari desa Palu Wesi, saya Harjo dan ini istri saya. Dan yang ini pak Diman dan istrinya. Kami kesini bermaksud meminta tolong,” terang pak Harjo.
“Desa Palu Wesi?!” ucap Mahmud terkejut, sebab desa itu berada jauh dari kecamatan lain.
“Njih kang,” sahut pak Diman dan yang lainnya bersamaan.
__ADS_1
“Maaf sebelumnya pak Haro, pak Diman dan ibu- ibu, saya masih belum paham dengan maksud minta tolong. Apa yang bisa saya bantu pak?” tanya Mahmud dengan polos.
“Mmm, a, anu kang Mahmud. Begini, kami mendengar cerita dari orang- orang bahwa ada anak ajaib di desa sukadami. Jadi saya langsung mencarinya, setelah tanya beberapa kali sana sini akhirnya kami sampai disini,” terang pak Harjo.
“Anak ajaib?!” Mahmud mengerutkan keningnya dalam- dalam karena heran dan masih tak mengerti dengan maksud ucapan pak Harjo.
“Njih kang, katanya anak itu sakti,” tegas pak Diman yang diangguki pak Harjo.
“Maaf pak, bu… disini tidak ada anak ajaib ataupun anak sakti yang bapak ibu maksud,” jawab Mahmud benar- benar tak mengerti.
“Kami memohon dengan sangat kang Mahmud agar anak tersebut dapat mengobati sakit anak saya,” ucap pak Harjo memelas.
“Benar kang, saya juga kesini untuk meminta pertolongan mengobati penyakit istri saya ini,” timpal pak Diman.
Seketika Mahmud melongo mendengar penjelasan pak Diman dan pak Harjo. Dalam hati Mahmud masih tak percaya dengan permintaan pak Harjo dan pak Diman tersebut, sebab sampai saat ini Dede tidak pernah melakukan apapun apalagi memberikan pengobatan sama orang, tapi mengapa orang- orang dari luar daerah ini datang meminta pertolongan seperti itu.
“Ah, mungkin bapak- bapak salah alamat pak, disini tidak ada anak yang bisa mengobati seperti itu,” sanggah Mahmud.
“Kata orang- orang disini mengatakan anak itu bangkit dari kubur setelah 40 hari, dan mereka menunjukkannya ke rumah sampyean,” sergah pak Harjo bersikukuh.
Barulah Mahmud mulai mengerti siapa yang mereka maksud. Saat itu juga Mahmud sangat gamang, apakah benar Dede bisa menyembuhkan orang sakit??? Mahmud masih terbengong- bengong memikirkan permintaan tamu- tamunya.
“Ayah Mamud, kasihan bapak- bapak dan ibu- ibu itu!” tiba- tiba Dede berteriak dan muncul di ruang tamu membuat Mahmud dan tamu- tamunya tersentak kaget.
“Nak, tolong bapak nak…” ucap pak Harjo spontan bersamaan melihat kemunculan seorang bocah berusia 3 tahunan.
“Iya nak, tolonglah…” susul pak Diman memohon.
Mahmud semakin melongo mendengar ucapan pak Harjo dan pak Diman lalu melihat tingkah Dede yang seakan- akan memperingatkannya layaknya orang yang sudah sepuh saja.
Dede langsung loncat keatas pangkuan Mahmud dengan manja lalu duduk menghadap keempat tamu dengan tingkah bocahnya. Vocah kecil itu menatap keempat orang dihadapannya satu persatu. ** BERSAMBUNG
__ADS_1