Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Suara Itu


__ADS_3

Nama Kosim dan Arin kini telah kembali bersih di mata warga Kampungnya setelah pelaku pesugihan yang sesungguhnya terungkap berkat keahlian Mang Ali dan Abah Dul. Kolaborasi yang membuahkan hasil sesama praktisi supranatural tingkat tinggi meski berbeda aliran.


Abah Dul dan Mang Ali merupakan contoh sebagai Paranormal yang jujur, bijaksana dan baik hati prilakunya. Adakalanya oknum Paranormal akan mempermainkan orang yang membutuhkannya untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai trik-trik dan drama yang dibuat berliku-liku. Sehingga pasiennya akan terus-menerus merogoh koceknya untuk alasan berbagai keperluan prosesi atau syarat dan sebagainya, padahal sebenarnya hanyalah alasan yang dibuat-buat oleh sang oknum Paranormal agar terlihat sakti dan terlihat berat kasus yang ditanganinya. Dan biasanya tanpa disadari, Si Pasien mau tidak mau akan menurutinya karena kondisinya benar-benar sedang sangat membutuhkan pertolongan.


Hati-hati dan harus jeli dengan praktek oknum Paranormal semacam ini❗Cirinya, jika diawal sudah berbicara uang maka sebaiknya jangan diteruskan seperti yang dialami Kosim pada Bab "Suara Tanpa Rupa".


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari ke-5 menjelang Purnama,


Bertepatan dengan suara azan Subuh bersahutan dari pengeras suara mushola-mushola dan masjid, puluhan pasang mata terhenyak melihat Parni bertingkah seperti orang gila. Beragam tatapan memelas dari puluhan pasang mata memperhatikan Parni dengan beragam ekspresi yang menyiratkan gemas bercampur marah, iba namun tetap mencaci memaki dan mencibirnya.


Setelah menyerahkan sepenuhnya urusan Parni yang menjadi gila dan terbunuhnya suaminya ditangan massa kepada Pak Kuwu, kemudian Abah Dul, Mang Ali, Mahmud dan Kosim pun berpamitan.


"Matur suwun Abah Dul, Mang Ali, Mahmud dan Kosim, ya..." Ucap Pak Kuwu disela-sela memperhatikan tingkah Parni yang terlihat tak normal.


"Njih Pak Kuwu, sami-sami. Kami pamit sekaranh, Pak Kuwu." Kata Abah Dul mewakili.


Mahmud membonceng Abah Dul sedangkan Kosim membonceng Mang Ali bermaksud kembali ke rumah Mahmud.


"Mas, Bah.. mampir ke rumah ya sholat Subuh dulu!" Seru Kosim beriringan melaju diatas sepeda motornya.


"Iya!" Seru Mahmud diantara semilir angin Subuh menerpa telinganya.


Udara dingin Subuh hari kini baru dirasakan Mahmud, Abah Dul, Kosim dan Mang Ali diatas sepeda motor yang hanya memakai kaos oblong. Untungnya rumah Kosim tak begitu jauh dari lokasi rumah Parni hanya berjarak 1 kilo meteran.


Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai didepan rumah Kosim yang ditinggalkannya sehari lalu. Lampu-lampu didalam maupun diluar rumah masih menyala terang. Kosim menitipkan rumahnya pada Mak Ijah dan diberikan kunci cadangan rumah untuk mengurusnya. Biasanya Mak Ijah baru akan mematikan lampu sekitar pukul 6 pagi sekalian bersih-bersih.


Kosim dan Arin sudah kali kedua ini menitipkan rumahnya kepada Mak Ijah yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri dan rumahnya pun berada disebelahnya. Kosim langsung merogoh sakunya mengambil kunci rumah lalu membukanya. Namun baru satu kakinya melangkah melewati pintu, tiba-tiba Kosim tersurut mundur kembali.


"Kenapa Sim?!" Seru Mahmud yang turut kaget melihat reaksi Kosim.


"Bau banget Mas!" Seru Kosim dengan wajah terkejut.


"Masya Allah!" Ujar Mahmud langsung menutup hidung dengan pangkal lengannya.


Abah Dul dan Mang Ali pun dibuat penasaran lantas bergegas ketempat Kosim dan Mahmud berdiri. Keduanya segera melongok didepan pintu yang terbuka melihat-lihat ke ruang tamu. Kontan saja Abah Dul dan Mang Ali pun langsung muntup hidungnya dengan tangan. Di ruang tamu memang tidak ada apa-apa akan tetapi bau yang sangat menyengat membuat Abah Dul dan Mang Ali terkejut. Semuanya menutup hidungnya karena bau busuk yang sangat menyengat begitu pintu dibuka lebar-lebar.


"Bau apa ini Bah?!" Seru Kosim dengan suara tertahan karena tangannya menutup hidung dan mulutnya rapat-rapat.


Abah Dul dan Mang Ali pun heran, diruang tamu nampak tidak ada apapun namun bau kotoran hewan begitu menyengat. Abah Dul kemudian menahan nafasnya sambil berdiri lalu memejamkan mata. Dengan jelas penglihatan mata batinnya melihat banyak berserakkan kotoran hewan dimana-mana. Di lantai, di kursi tamu hingga diatas meja, kotoran-kotoran itu berceceran bercampur dengan bercak-bercak air kekuningan. Sangat menjijikkan!


"Seperti kotoran monyet!" Kata Abah Dul, masih dengan mata terpejam.


"Ini ada yang nggak beres Sim di rumah ente. Sepertinya rumah ente baru saja dijadikan tempat pesta monyet-monyet siluman," sambungnya.

__ADS_1


Kosim, Mahmud dan Mang Ali kian terkejut mendengar penjelasan Abah Dul.


"O iya Bah, saya ingat. Waktu saya baru kembali menempati rumah, keadaannya nyaris sama bedanya saat itu memang ada kotoran hewan dimana-mana." sergah Kosim.


"Rumah ente harus dibersihkan Sim," ujar Abah Dul, sudah membuka matanya kembali.


"Lalu gimana sekarang Bah?" Tanya Kosim.


Abah Dul kembali terdiam. Matanya kembali terpejam, kali ini tangan Abah Dul diangkat satu jengkal didepan dahinya. Mulutnya bergerak membaca amalan. Dalam pandangan tak kasat mata, dari telapak tangan Abah Dul memancar cahaya putih. Saat tangannya digerakan seperti menyapu, kotoran-kotoran yang berserakkan itu langsung lenyap tersapu oleh cahaya putih yang memancar dari telapak tangan Abah Dul.


"Hilang baunya Bah!" Seru Kosim takjub.


"Iya, hilang." Timpal Mang Ali.


"Alhamdulillah," ucap Abah Dul mengusap mukanya.


"Ya sudah kita sholat dulu keburu muncul mataharinya," kata Abah Dul.


Keempatnya pun segera masuk langsung menuju ke bak untuk berwudlu secara bergantian lalu melaksanakan sholat Subuh berjamaah. Beberapa menit kemudian setelah selesai melaksakan sholat Subuh berjamaah diruang tengah beralaskan tikar, Mahmud hanya duduk lesehan menyalakan rokoknya. Sementara Kosim langsung beranjak menuju dapur untuk membuatkan kopi. Sedangkan Abah Dul dan Mang Ali langsung merebahkan tubuhnya. Sesaat kemudian tanpa disadari keduanya lelap tertidur.


"Tunggu saat Purnama!!!"


Abah Dul seketika bangun dari tidurnya. Dia celingukkan memandang kesegala arah seperti mencari sesauatu. Mahmud terkesiap kaget melihat Abah Dul tiba-tiba bangun dan nampak gelagapan sedikit panik.


Abah Dul baru tersadar sepenuhnya setelah mendengar suara Mahmud bertanya. Dirinya seperti mengingat-ingat kalau dirinya sempat terlelap beberapa detik. Lalu meraupkan kedua telapak tangannya seraya berucap, "Astagfirullah..."


"Kenapa Bah?!" Tanya Mahmud penasaran.


"Suara itu Mud, seperti nggak asing. Apa tadi saya terlelap ya Mud?" Ujar Abah Dul.


"Ya, saya liat tadi ente tertidur Dul," kata Mahmud.


"Apa ente nggak dengar suara Mud?" Tanya Abah Dul.


"Nggak ada suara apa-apa Bah," jawab Mahmud.


Kosim muncul dari dalam membawa empat gelas kopi diatas nampan.


"Nggak ada kuehnya nih," ucap Kosim sambil meletakkan gelas-gelasnya diatas tikar.


"Kenapa sih Mas, Bah?" Tanya Kosim heran melihat Abah Dul dan Mahmud saling menatap melongo.


"Sim, ente masih ingat mimpi yang ente ceritakan waktu lalu dengan suara yang mengatakan Purnama?" Tanya Abah Dul.


"Besar dan sember, ya mengerikan Bah," ujar Kosim.

__ADS_1


"Hmmm, benar Sim. Sepertinya suara yang sama," kata Abah Dul.


Kosim planga-plongo nampak kebingungan tidak mengerti dengan arah pembicaraan Abah Dul.


"Ada apa sih Mas?" Kosim penasaran mengalihkan tanyanya kepada Mahmud.


"Tau tuh, Abah." Jawab Mahmud.


"Nggak tau mimpi atau nggak, tadi saya mendengar dengan jelas di telinga suara itu mengatakan, tunggu saat purnama," terang Abah Dul.


Kosim ternganga dan bergidik merinding mendengar penjelasan Abah Dul. Yang diceritakan Abah Dul mengingatkannya pada mimpi dua hari yang lalu saat baru pindah kembali ke rumahnya.


"Itu Raja Kalas Pati!" Sergah Abah Dul.


Kosim dan Mahmud sama-sama terkejut mendengar Abah Dul menyebut nama Raja Siluman Monyet.


"Berarti ini benar-benar sebuah ancaman besar. Bangsa siluman itu tidak main-main, sekarang sudah tanggal berapa?" Tanya Abah Dul.


Koaim langsung berdiri melihat kalender yang tergantung di dinding yang ada di atas kepalanya.


"Mmm.. tanggal 8 Bah," ujar Kosim.


"Lima hari lagi Sim, Purnama!" Seru Abah Dul tanpa sadar.


Mang Ali yang sedang tidur langsung terbangun gelagapan kaget oleh suara Abah Dul.


"Mana Bah, mana?!" balas Mang Ali langsung terduduk.


"Hahahahaha..."


"Hahahahaha..."


"Hahahahaha..."


Abah Dul, Mahmud dan Kosim dibuat terpingkal-pingkal melihat ekspresi Mang Ali yang terkaget-kaget setengah sadar terbangun dari tidurnya.


......................


NEXT


......................


Kopinya diminum dulu, rilex dulu lemaskan ototnya ya...


Kalau Like nya lebih dari 100 bakal up 3 bab sehari nih❗ Ayo, ayo...

__ADS_1


__ADS_2