
Kosim masih terus berusaha meyakinkan istri dan dua kakak iparnya kalau dirinya akan baik-baik saja. Namun dia tidak berani mengungkapkan secara langsung atas ketidak percayaannya terhadap mimpi tentang Purnama.
"Kalau soal purnama itu Mas, bagaimana misalkan hanya sekedar mimpi? kan sayang melepas kerjaan yang sudah didepan mata dengan bayaran yang lumayan gede," ujar Kosim antusias.
"Sim, seandainya mimpi itu hanya bunga tidur lalu kenapa Abah Dul juga memimpikan hal yang sama? Nyawa kamu itu masih dalam ancaman Sim! Bahkan bukan hanya kamu tapi juga istri dan anakmu juga!" Tegas Mahmud.
Kosim terdiam dengan wajah membesi menyiratkan penolakkan dengan ucapan kakak iparnya. Di hatinya tetap yakin kalau peringatan mimpi itu omong kosong belaka.
"Tapi Mas, bagaimana kalau tidak terjadi apa-apa dengan Purnama?"
Ketidak percayaan dihatinya soal peringatan mimpi itu menguatkan tekad Kosim sehingga membuatnya ngotot ingin tetap berangkat. Atau mungkin juga didalam pikirannya sudah dipenuhi dengan angan-angan uang jutaan rupiah sehingga hatinya menguat yakin membuat mimpi itu hanya lewat.
Arin, Dewi dan Mahmud terlihat kesal dengan Kosim yang masih tetap ngeyel. Terutama Mahmud yang paling merasa sangat dikecewakan oleh sikap Kosim. Bagaimana tidak kecewa, dirinya sangat khawatir dan sudah mati-matian meminta bantuan Abah Dul dengan bertaruh nyawa untuk melindunginya tetapi Kosim justru menyepelekannya begitu saja.
"Sim Rezeki atau uang bisa dicari tapi kalau nyawa? Ujar Mahmud menggantungkan pertanyaannya.
Kosim tertegun, hatinya mendadak gamang. Kali ini akal sehatnya membenarkan ucapan Mahmud. "Bagaimana jika peringatan mimpi itu benar-benar terjadi?" ucap hatinya membayangkan wajah Arin dan Dede.
Kosim terdiam sepertinya kata-kata Mahmud kali ini dapat menyentuh hati sanubarinya. Namun sesaat kemudian muncul kembali bayangan membawa uang sehingga hatinya kembali bersikukuh tetap ingin menerima pekerjaan tersebut.
"Bagaimana jika Arin atau Dede benar-benar dijemput oleh mahluk sialan itu?!" Mahmud kembali menegaskan.
Logika dipikiran Kosim terus berputar-putar, dia masih menyangsikan kebenaran soal peringatan "Purnama". Lagi-lagi pertanyaan diotaknya terngiang-ngiang menggodanya, "Bagaimana jika peringatan Purnama itu hanyalah omong kosong?! Lepas tuh uang lima juta di tangan!" ucapnya dalam hati.
"Kerjaanmu dan uang hasil kerjamu bakal sia-sia, tidak ada artinya meskipun ketika kamu pulang membawa uang atau berlian satu karung tetapi istrimu atau anakmu sudah nggak ada, terus untuk siapa jerih payahmu itu?!" Ujar Mahmud pedas menahan kesalnya.
Kosim menutup mukanya rapat-rapat. Hatinya benar-benar galau mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum diketahui kebenarannya. Tetapi godaan di akalnya kembali muncul dan menentangnya.
"Bagaimana seandainya peringatan itu benar-benar terjadi lalu Dede atau Arin mati sebagai tumbal?!" kata Kosim membatin.
Sekian lamanya Kosim merasakan gamang setengah mati. Susana menjadi hening dan kaku, semuanya terdiam. Mahmud, Arin dan Dewi menunggu jawaban Kosim dan berharap mengatakan 'tidak jadi pergi.'
Ditengah-tengah keheningan itu tiba-tiba terdengar suara seseorang mengucap salam diluar rumah sedikit mengejutkan semuanya.
"Waalaikumsalam..." sahut Mahmud.
Biasanya Kosim cepat tanggap menawarkan diri membukakan pintu namun kali ini dia diam saja ditempat duduknya. Mahmud pun bergegas beranjak untuk membukakannya melihat Kosim tak bergeming.
"Bah, masuk... masuk.." ucap Mahmud membuka pintu.
Abah Dul melangkah masuk lalu duduj di kursi tamu diikuti Mahmud.
"Kosim mana Mud?" Tanya Abah Dul.
__ADS_1
"Ada di ruang tengah Bah." Jawab Mahmud sedikit malas mengatakannya. Hatinya masih kesal dengan Kosim yang ngeyel tidak bisa dinasihati.
"Siiiim...!" Seru Mahmud memanggil Kosim.
Beberapa saat kemudian tanpa sahutan, tau-tau Kosim sudah nongol di ruang tamu. Lalu duduk diseberang meja menghadap Mahmud dan Abah Dul.
"Kenapa kalian pada murung begitu mukanya?" Tanya Abah Dul keheranan.
Tidak biasanya wajah-wajah keduanya nampak muram membuat Abah Dul bertanya-tanya.
Mahmud hanya diam, dia kelihatan malas menerangkan permasalahannya. Demikian juga dengan Kosim, namun terdiamnya Kosim lebih karena tidak berani menceritakan keinginannya menerima kerjaan itu sekaligus tidak berani mengungkapkan ketidak percayaannya soal peringatan mimpi Purnama.
"Sim, kenapa?" Abah Dul mendesak Kosim.
"A, anu Bah. tadi kita sempat berdebat soal mimpi Purnama itu," Kosim menghentikan ucapannya, dia melirik Mahmud sejenak.
"Terus.." sela Abah Dul.
Kosim nampak ragu-ragu untuk menceritakan soal soal keyakinannya tidak memempercayai mimpi dan soal tawaran pekerjaan.
"Kosim nggak mempercayai peringatan mimpi soal Purnama bahkan dia hendak nekad menerima pekerjaan di Wonosobo Bah. Bahkan keberangkatannya pun bertepatan dengan tanggal 14," terang Mahmud tak sabar menunggu Kosim meneruskan ucapannya.
Abah Dul nampak kaget mendengar penjelasan Mahmud. Sontak raut wajahnya nampak marah namun ditahannya.
"Apa yang membuat ente yakin kalau peringatan Purnama itu nggak bakal nyata, Sim?!" Suara Abah Dul penuh dengan tekanan emosi.
"Sim, memang jodoh, rezeki, pati itu ketentuan mutlak dari Gusti Allah. Kalau memang akhirnya seperti yang ente mau seperti itu ya monggo-monggo saja itu hak pribadi ente," kata Abah Dul.
"Akan tetapi apa ente nggak ingat kakak ipar ente mati-matian belain ente sampai-sampai saya dan sahabat-sahabat saya hampir mati hanya gara-gara belain ente. Saya kalau nggak menganggap ente sebagai sodara, ngapain juga sampai rela bertaruh nyawa?!" sambungnya.
Abah Dul nampak sangat kecewa sekali, dirinya merasa kalau perjuangannya selama ini akan menjadi sia-sia.
Suasana menjadi senyap usai Abah Dul berkata seperti itu. Kosim hanya tertunduk dalam-dalam. Ucapan Abah Dul serasa menampar mukanya keras-keras namun didalam hatinya bergemuruh terjadi pergulatan hebat antara keinginan dan ketidak percayaannya.
"Mud, besok Gus Harun mau kesini," ucap Abah Dul datar.
"Sebaiknya batalin aja Bah jangan sampai kesini. Wong Kosimnya aja nggak mau dibantu, biarin aja kalau dia tetap mau pergi," sergah Mahmud kesal.
Kosim diam terpaku, hati dan pikirannya berkecamuk dipenuhi dengan nominal uang jutaan rupiah yang membuatnya bergeming menyingkirkan jauh-jauh tentang sesuatu yang belum pasti seperti "PERINGATAN MIMPI PURNAMA".
Malam ke-5 menjelang Purnama, sudah merambah pukul 22.10 wib. Suasana di ruang tamu menjadi hening dan kaku. Mahmud terdiam dirinya merasa sudah malas untuk menasihati Kosim. Namun Abah Dul tak sampai hati membiarkannya begitu saja seandainya diujung 'MELAWAN PERJANJIAN GAIB' pada akhirnya tetap akan menimbulkan korban nyawa.
Meski didalam hatinya marah namun Abah Dul mencoba untuk bersabar. Otaknya berputar mencari cara agar Kosim mengurungkan niatnya mengambil pekerjaan itu. Atau mungkin juga Kosim sedang dalam pengaruh mahluk tak kasat mata, begitu pikir Abah Dul.
__ADS_1
..."Apa mungkin didalam tubuh Kosim bersemayam lagi monyet siluman?" ucapnya dalam hati....
Baru saja Abah Dul hendak memejamkan mata bermaksud melihat tubuh Kosim dengan mata batinnya, namun tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab Mahmud, Kosim dan Abah Dul.
"Masuk Mang Ali..." ujar Mahmud.
Abah Dul mengurungkan niatnya untuk melihat tubuh Kosim dengan mata batinnya. Mang Ali muncul dan menyalami Mahmud, Abah Dul dan Kosim.
"Nah, kebetulan!" seru Abah Dul.
"Kebetulan apa Bah?!" Mang Ali keheranan sampai-sampai tidak jadi duduk.
"Mang Ali bawa keris nggak?" Tanya Abah Dul.
"Ya nggak Bah. Emang mau ada serangan lagi Bah?" Mang Ali balik tanya.
"Nggak ada sih. Ya udah nggak jadi deh," ujar Abah Dul.
Tadinya Abah Dul bermaksud akan menyuruh Kosim memegang Keris Skober milik Mang Ali untuk memastikan didalam tubuh Kosim bersemayam monyet siluman atau tidak.
"Jadi gini Mang Ali, Kosim bersikukuh akan ikut temannya bekerja di daerah Jawa Tengah, padahal kan sudah ada peringatan tentang Purnama," terang Abah Dul.
"Bener Sim?!" Mang Ali nampak terkejut.
"Iya Mang Ali," jawab Kosim singkat.
"Jangan dulu lah, kamu itu belum terbebas. Kamu masih terikat perjanjian gaib Sim!" tandas Mang Ali.
"Sudahlah Mang Ali, biarkan saja dia berangkat." celetuk Mahmud kesal.
"Kapan berangkatnya Sim?" Tanya Mang Ali.
"Tanggal 14 Mang,"
"Tanggal 14 itu bertepatan dengan Purnama Sim. Apa kamu nggak takut dengan ancaman di mimpi kamu?!" sergah Mang Ali mengingatkan.
"Ya semoga saja hanya mimpi Mang Ali," ucap Kosim.
__ADS_1
......................
🔴Semoga yang meninggalkan jejak, LIKE, KOMEN, BUNGA ATAU FAVORIT langsung dibalas rezeki, Amiiin...🤲🤲🤲