Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Terlena Suasana


__ADS_3

Teriakkan Kosim yang tiba-tiba bukan hanya membuat kaget Abah Dul, Mahmud dan Mang Ali, namun juga membuat Arin dan Dewi yang berada di ruang tengah sedang nonton televisi kontan menoleh lalu bergegas keluar.


“Ada apa Mas?!” Tanya Arin cemas.


Melihat Arin dan Dewi muncul, Abah Dul lantas menyuruh keduanya untuk kembali masuk. Abah Dul mulai percaya apa yang diucapkan Kosim akan adanya bahaya.


“Sudah, sudah. Arin sama Dewi masuk aja. Mahmud sama Mang Ali jaga mereka ya, biar Kosim disini.” Kata Abah Dul sedikit cemas.


Mahmud dan Mang Ali pun bergegas mengikuti Arin dan Dewi masuk sembari menutup pintu.


Desiran angin terasa janggal dirasakan Abah Dul dan Kosim yang sudah duduk bersila di teras.


“Sim, kamu bisa melihat mereka?” Bisik Abah Dul.


“Saya belum tau Bah, tapi suara bisikkan itu kembali mengingatkan saya,” jawab Kosim.


“Saya percaya kamu bisa menghadapinya Sim. Apa kamu siap?!” Abah Dul menegaskan Kosim.


“Saya belum tau juga, Bah. Karena yang membantu saya datangnya tiba-tiba bahkan saya juga nggak tau apakah pemilik suara tanpa rupa itu ada disini atau tidak,” jawab Kosim gamang.


Jawaban Kosim sedikit membuat ragu di hati Abah Dul. Tetapi keyakinannya menguat bila mengingat rentetan cerita Kosim siang tadi. “Ya semoga saja,” ucapnya dalam hati.


“Tempat ini sudah dikepung puluhan monyet siluman. Waspada yang ada diatas pohon jambu air.” Peringatan itu sangat jelas didengar Kosim di telinganya.


“Bah, waspada mahluk diatas pohon jambu itu. Tempat ini sudah dikelilingi monyet siluman.” Bisik Kosim pada Abah Dul.


Abah Dul langsung merangkapkan kedua telapak tangan di dadanya. Mata batinnya menerawang menembus alam tak kasat mata ke berbagai arah melihat situasi dan kondisi disekitar rumah Mahmud.


“Tepat sekali yang diucapkan Kosim,” kata Abah Dul dalam hati penuh ketakjuban.


Disaat itu tiba-tiba muncul dua ekor monyet berbulu hitam lebat disamping Kosim dalam wujud nyata. Dua monyet siluman berukuran besar itu dengan cepat hendak mencekal kedua tangan Kosim.


Posisi Abah Dul yang menghadap ke Kosim melihatnya dengan jelas kalau Kosim dalam bahaya. Segera ia merapalkan amalannya untuk menghalau dua monyet siluman itu.


Tetapi belum sempat Abah Dul melayangkan pukulan tenaga dalamnya, tiba-tiba dua monyet siluman itu terpental dengan sendirinya saat akan menyentuh tangan Kosim.


“Nyiiiitttt... nyiiiiit...!”

__ADS_1


Suara lengkingan kesakitan dari dua monyet begitu jelas terdengar bersamaan tubuhnya terpental hingga ke halaman.


Abah Dul dibuat melongo melihat didepan matanya dua monyet siluman terpental tiga meter hingga tersungkur di halaman.


Keheranannya kian bertambah begitu melihat Kosim langsung bangkit bergerak mengejar dua monyet siluman yang terkapar di halaman depan rumah.


Abah Dul benar-benar merasa heran bukan kepalang melihat sepak terjang Kosim yang selama ini dikenalnya orang biasa yang lugu dan polos tak memiliki kemampuan apapun tiba-tiba sebegitu beraninya sampai-sampai menyongsong dua monyet siluman yang menyerangnya.


Sementara itu Kosim sudah tegak berdiri diantara dua tubuh monyet siluman yang terkapar sambil merintih kesakitan. Secepat kilat Kosim mengayunkan kaki kanannya menendang dengan keras mengarah bagian kepala monyet siluman disebelah kanannya.


“Jedddarrrrr..!”


Suara gelegar terdengar seiring beradunya punggung telapak kaki Kosim dengan kepala monyet siluman. Lalu disusul keluar kepulan asap hitam dipangkal leher monyet siluman yang sudah tak berkepala itu. Dan sedetik kemudian asap menebal lalu lenyap bersama tubuh monyet siluman.


Kosim berpaling ke monyet siluman disebelah kirinya, ia kembali bersiap mengayunkan kakinya untuk kembali menghajarnya. Disaat bersamaan tiba-tiba datang selarik sinar merah menyala dari atas pohon jambu air menghujam deras kearah kaki Kosim yang akan mengenai kepala monyet siluman itu.


Hanya 20 centian punggung telapak kaki Kosim akan mendarat telak di kening, selarik sinar merah menyala menghantam kaki Kosim.


Hantaman sinar merah menyala itu tak membuat sapuan kaki Kosim berhenti. Justru membuat ayunan kakinya semakin menambah kekuatan terjangnya sepuluh kali lipat menghajar kepala monyet siluman.


Seketika kepala monyet siluman hancur memercikkan cahaya putih diiringi dentuman keras.


Sementara Abah Dul yang melihat Kosim mendapat serangan itu langsung menyorongkan telapak tangan kanannya kearah sumber cahaya merah diatas pohon jambu air.


Sinar putih berkekuatan maha dahsyat yang dilancarkan Abah Dul menderu kearah rerimbunan jambu air.


“Duarrrr..!!!”


Suara dentumannya hingga menggetarkan pijakan Kosim di halaman.


Seketika terdengar suara dahan-dahan berderakan disertai bergoyangnya dedaunan dengan liar akibat energi hantamkan Abah Dul. Lalu disusul suara jeritan menyayat melengking melesat keatas dan lenyap.


Disisi lain, puluhan monyet siluman yang sudah mengepung rumah Mahmud, secara serentak merangsak berupaya masuk kedalam rumah Mahmud dari segala penjuru.


Namun berjarak satu meteran sebelum menembus rumah Mahmud, puluhan monyet siluman itu terpental siiringi jeritan kesakitan.


Abah Dul yang kini sudah berdiri beriringan dengan Kosim di latar depan melihat dengan jelas percikan-percikan cahaya merah berpendaran keatas langit disekeliling rumah Mahmud.

__ADS_1


Sementara itu didalam rumah, Arin dan Dewi mendekap Dede dengan erat bersamaan mendengar dentuman-dentuman dan merasakan getaran ditempatnya duduk. Wajah keduanya sangat tegang hingga tubuhnya gemetar merasakan ketakutan yang amat sangat.


Sedangkan Mahmud dan Mang Ali yang duduk berhadapan tak henti-henti membaca Sholawat dengan mata terpejam. Diam-diam Mang Ali sudah menyiapkan tenaga dalamnya untuk berjaga-jaga manakala ada monyet siluman yang mencoba masuk. Sampai akhirnya keempatnya merasakan suasana berangsur-angsur tenang kembali.


Mahmud, Mang Ali, Dewi dan Arin sambil mendekap Dede digendongannya lekas-lekas keluar untuk melihat Kosim dan Abah Dul.


Keempatnya melihat Kosim dan Abah Dul masih berdiri di halaman dengan tangan terkepal sikap siaga. Melihat kemunculan Mahmud, Mang Ali, Dewi dan Arin di teras, keduanya bergegas menghampiri.


“Kalian nggak apa-apa?!” Tanya Abah Dul cemas.


“Alhamdulillah, nggak apa-apa Bah,” jawab Mahmud.


“Mas, kamu juga nggak apa-apa?!” Tanya Arin mencemaskan suaminya.


“Nggak apa-apa Rin, ayo masuk, masuk..” Sergah Kosim.


“Ayo, ayo masuk. Malu nanti dilihat tetangga,” Abah Dul menimpali.


Semuanya masuk dan berkumpul di ruang tengah duduk melingkar diatas tikar. Kosim langsung meraih Dede duduk dipangkuannya. Bocah 3 tahunan itu dengan wajah polosnya langsung bergelayut manja dipangkuan Kosim tanpa ia mengerti adanya bahaya yang baru saja mengancamnya.


"Bah, sebenarnya apa yang sedang terjadi selama ini?" Tanya Arin keheranan.


Abah Dul diam sesaat, ada keraguan untuk menjawabnya. Ia menoleh pada Kosim seolah-olah meminta bantuan untuk menjawabnya. Kosim pun terlihat ragu-ragu, apakah berterus terang sekarang atau nanti saja setelah semuanya berlalu.


"Kenapa Mas?" Arin mengalihkan pertanyaannya pada Kosim.


Beberapa saat lamanya Kosim dan Abah Dul terdiam, keduanya sama-sama bingung menjawabnya.


"Sudah, Rin. Mungkin ini mahluk gaib yang sama yang menyukai Dede," sela Mahmud berbohong.


Mahmud memahami terdiamnya Abah Dul dan Kosim yang tak bisa menjawab pertanyaan Arin. Beruntung Arin pun masih mempercayai alasan itu sehingga tak lagi menekan pertanyaan itu lagi.


Dalam hati Kosim merasa lega setelah kakak iparnya menjelaskannya pada Arin meskipun bohong.


Terkadang kebohongan itu memang diperlukan akan tetapi bukan untuk maksud tujuan buruk, melainkan hanya untuk tujuan demi kebaikan bersama dan rasanya itu tidak ada salahnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2