Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
DUGAAN BURUK


__ADS_3

Pagi yang cerah, mentari besinar begitu hangatnya menaungi desa Sukadami. Wajah- wajah ceria para petani melenggang kangkung penuh semangat menuju ke ladangnya masing- masing. Topi kerucut, Cangkul di lampirkan di bahu, tangan kanan menenteng ceret air minum melangkah dengan penuh menatap harapan masa depan mereka.


"Assalamualaikum..." ucap seseorang di depan rumah Mahmud.


"Wa alaikumsalam..." sahut Mahmud dan beberapa suara membalas salam dengan bersamaan.


Mahmud yang sedang ngobrol ringan bersama dengan Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin sambil menikmati secangkir kopi dan gorengan singkong segera beranjak dari kursi tamu.


"Monggo, monggo mang Bakri, mau ke kebon?" sambut Mahmud kepada pria berusia 50 tahunan berdiri di depan rumah Mahmud lengkap membawa peralatan bertani.


"Iya Mud, hari inj mau semprot- semprot, saya mau ambil pupuk," kata mang Bakri.


"Jadi cabenya kapan mulai di panen mang?" tanya Mahmud.


"Kurang lebih semingguan lagi Mud, ya mudah- mudahan cuacanya nggak seburuk kayak kemarin- kemarin," jawab mang Bakri.


"Amiin... Sebentar saya ambilkan pupuknya ya mang. Mari ke samping mang," ajak Mahmud lalu melangkah ke samping rumah.


"Iya Mud," sahut mang Bakri.


Mang Bakri merupakan orang yang dipercaya Mahmud untuk mengurusi kebun cabenya. Ia sudah cukup lama bekerja pada Mahmud dari semenjak Mahmud mangalih fungsikan ladangnya yang semula hanya di tanami singkong menjadi kebun cabe.


"Siapa Mas?" tanya Dewi melongok dari jendela dapur melihat Mahmud berjalan bersama mang Bakri.


"Itu mang Bakri mau ambil pupuk Wi," sahut Mahmud.


"Oh," gumam Dewi lantas melanjutkan memasak untuk sarapan pagi untuk tamu- tamunya.


Mahmud kemudian mengambilkan pupupuk yang dikemas dalam karung yang teronggok di pojok dekat jendela dapur dibantu mang Bakri.


"Mau dibawa semuanya atau setengah aja mang?" tanya Mahmud.


"Setengah aja Mud, buat jaga- jaga aja agar tidak dihinggapi hama menjelang panen," ujar mang Bakri.


"Oh ya udah mang, ini mang pupuknya," kata Mahmud memberikan setengah karung pupuk pada mang Bakri.


Mang Bakri pun menerimanya dengan sedikit kerepotan karena peralatan yang dibawanya. Cangkul di pundak, tangan kiri menenteng ceret air minum.


"Bisa nggak bawanya mang?" tanya Mahmud.

__ADS_1


"Bisa, bisa Mud. Nggak berat ini," balas mang Bakri menenteng karung berisi pupuk dengan tangan kanannya.


"Mang Bakri! Mang Bakri...!" seru Dewi dari dalam dapur lalu keluar.


"Ya Wi," sahut mang Bakri menghentikan langkahnya lalu memutar badannya.


"Ini ada gorengan singkong, lumayan buat cemilan di kebon," ucap Dewi memberikan sekantung kresek gorengan singkong pada mang Bakri.


"Matur suwun Wi, mari Mud." ucap mang Bakri lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah Mahmud.


Setelah mang Bakri sudah tak kelihatan lagi punggungnya, Mahmud kembali ke ruang tamu berkumpul lagi bersama Abah Dul, Gus Harun, Basyari dan Baharudin.


"Dul, Gus berhubung kondisinya sudah aman, saya dan Bahar akan pulang siang ini," kata Basyari.


Mahmud, Abah Dul dan Gus Harun sedikit kaget mendengarnya. Terutama Abah Dul dan Gus Harun, keduanya merasa berat untuk berpisah dengan sahabat- sahabat satu perjuangan tersebut saat sama- sama di pesantren dulu.


"Loh, loh... Kita baru sehari ketemu Bas, Har kok cepet- cepet mua pulang," ujar Abah Dul.


"Iya Bas, Har, tinggalah barang sehari dua hari lagi," timpal Gus Harun.


"Kebetulan di pesantren tiga hari lagi mau ada acara haul Gus, jadi kami harus pulang," kata Basyari.


"Hehehe..., kebetulan Basyari meminta saya untuk mengisi tausiyah diacara itu Dul. Ya Bas?" jawab Baharudin menoleh pada Basyari.


“Iya Dul, Gus, makanya kami sempatkan untuk datang kesini sekalian mau mengundang ente- ente juga untuk datang ke acara haul di pesantren saya. Kang Mahmud juga ikut ya,” ujar Basyari.


“Inysa allah kang Bas, itu pun kalau Gus Harun da Abah Dul mau ngajak saya, hehehe…” sahut Mahmud senyum simpul.


“Kalau begitu sekalian aja kita berangkat bareng- bareng dari sini. Kan sekalian nemenin Basyari dan Baharudin ngurus- ngurus pengambilan barang- barang yang di rampok,” ujar Abah Dul.


“Lah, iya ya. Bagaimana kang Mahmud?” tanya Gus Harun.


“Mm, insya allah bisa Gus. Tapi ini nggak apa- apa rumah ini di tinggal semua?” Mahmud terlihat gamang, ia baru kepikiran tidak ada seorang laki- laki satu pun di rumannya.


“Insya allah aman kang Mahmud. Situasinya sudah normal kembali, ya kan Dul?” sahut Gus Harun.


“Iya Mud, saya rasa nggak akan ada kejadian apa- apa lagi,” timpal Abah Dul.


“Oh iya, kang Kosim mana? Kok belum kelihatan juga kang?” tanya Gus Harun.

__ADS_1


“Dari subuh tadi Kosim belum keluar- keluar dari kamar Gus,” jawab Mahmud.


“Apakah kang Kosim sudah pergi ya. Tapi kalau dia sudah pergi kenapa tidak pamitan pada kita,” ujar Gus Harun.


“Apa mungkin Kosim pulas tidur?” tanya Mahmud menduga- duga.


“Waduh!” seru Gus Harun tiba- tiba.


“Kenapa Gus?!” tanya Abah Dul.


“Bahaya! Bahaya Dul!” sergah Gus Harun.


“Bahaya?!” sahut Mahmud, Abah Dul, Basyari dan Baharudin serempak.


“Kita lupa untuk mengingatkan kang Kosim,” kata Gus Harun.


“Mengingatkan apa Gus?” tanya Abah Dul penasaran.


“Iya ini akan jadi peristiwa menghebohkan lagi seandainya kang Kosim dan mbak Arin sampai melakukan hubungan badan,” kata Gus Harun.


Mahmud, Abah Dul, Basyari dan Baharudin seketika terkesiap kaget. Tidak terlintas dipikiran mereka sedikit pun hingga sampai memikirkan sejauh itu. Karena malam tadi semuanya larut dalam suka cita masing- masing, sehingga tak memikirkan adanya Kosim yang berada di dalam kamar bersama istri dan anaknya.


“Punten, mari sarapan dulu…” kata Dewi tiba- tiba nongol di ruang tamu.


Obrolan seputar Kosim pun seketika berhenti melihat kemunculan Dewi yang mengajak mereka untuk sarapan.


“Mm, Wi… Arin sudah bangun belum?” tanya Mahmud membuat Dewi mengehntikan langkahnya hendak kembali masuk.


“Sudah Mas, dia lagi mandi, kenapa mas?” jawab Dewi balik tanya.


“Oh, nggak. Nggak apa- apa…” balas Mahmud.


“Ayo kita sarapan dulu,” sambung Mahmud mengajak Gus Harun dan yang lainnya.


Mendengar jawaban Dewi yang mengatakan Arin sedang mandi, membuat pikiran Gus Harun, Abah Dul, Mahmud, Basyari dan Baharudin seketika saling berpandangan satu sama lain secara bergantian. Nampaknya mereka memiliki prasangka yang sama dipikiran mereka kalau Kosim dan Arin telah melakukan hubungan suami istri.


Dan jika itu terjadi lalu Arin hamil, pastilah akan menimbulkan prasangka- prasangka buruk pada Arin. Sebab semua orang sudah tahu kalau Arin seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Belum lagi kekhawatiran Gus Harun kian


membesar andai saja Arin benar- benar hamil lalu melahirkan anak dari hubungannya dengan Kosim yang wujudnya hanya arwah, pastilah akan ada dampak pada bayi tersebut.** BERESAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2