
“Har, Hariri..?!” gumam istri pak Harjo.
"Benarkah kamu Hariri nak?!" ucap pak Harjo menegaskan gumaman istrinya.
Di tengah- tengah pintu berdiri seorang remaja laki- laki memandang kearah pak Harjo danistrinya dengan tatapan
heran. Remaja yang memakai kaos putih yang nampak seperti kebesaran itu mengerutkan keningnya. Kerutannya sangat terlihat jelas membentuk deretan tiga garis menghiasi kulit di keningnya yang sedikit pucat.
Pancaran mata remaja itu nampak berbinar dengan senyumannya menyungging di bibirnya. Meski tubuhnya terlihat kurus kering dengan rambut sedikit gondrong menutupi kedua telinganya, tetapi dia terlihat kokoh berdiri.
“Kamu Hariri nak?!” istri pak Harjo kembali meyakinkan kalau pandangannya tidak salah lihat.
Remaja kurus kering itu melempar senyumnya pada lelaki dan perempuan paruh baya yang kini sudah berdiri
disamping tempat tidurnya. Pandangan mata pak Harjo dan istrinya tak berkedip memperhatikan sekujur tubuh remaja itu dengan seksama, dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
“Iya bu, pak saya Hariri. Kenapa bapak sama ibu memandang saya seperti melihat hantu saja,” kata remaja itu yang tak lain adalah Hariri.
“Ya allah, Gustiiii…. Alhamdulillah… matur suwun sanget Gustiiii…” ucap istri pak Harjo lalu tiba- tiba bersimpuh
dan sujud penuh rasa syukur yang tak terhingga.
“Alhamdulillah… ajaib! Sungguh ajaib! Terima kasih Gustiiii… terima kasih ya allah,” susul pak Harjo yang juga langsung melakukan sujud syukur disebelah istrinya.
Melihat kedua orang tuanya bersujud seperti itu membuat hati Hariri terenyuh. Hariri sudah menduga kalau bapak dan ibunya pasti akan sangat terkejut melihat dirinya yang sekarang. Hariri sendiri tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya, namun yang ia rasakan pada saat matanya terbuka bangun dari tidur sekujur tubuhnya berasa sangat segar dan tidak merasakan lagi kesakitan pada kedua kakinya.
__ADS_1
Dan bahkan saat dirinya memeriksa kedua kakinya, ia pun sangat terkejut tak terkira, sebab luka- luka dan koreng yang sudah membusuk itu kini sudah hilang begitu saja tanpa meninggalkan bekas.
“Ibu… bapak… mohon maafkan Hariri. Hariri sadar sakitnya Hariri ini akibat dari perbuatan Hariri sendiri pak, bu…” ucap Hariri bersimpuh dihadapan bapak dan ibunya yang tengah bersujud syukur.
Mendengar ucapan putranya, perlahan- lahan pak Harjo dan istrinya bangun dari sujudnya dengan mata berkaca- kaca menahan tangis haru. Seketika itu juga ibunya langsung menubruk Hariri dan memeluknya dengan erat. Suara tangisan ibunya pun pecah di pundak Hariri. Disusul pak Harjo memeluk ibu dan anak itu sambil terisak- isak. Ketiganya saling memeluk erat penuh rasa haru sekaligus bahagia.
“Syukurlah nak, kamu sudah menyadari semuanya. Bapak sama ibumu juga minta karena lalai memberikan perhatian padamu nak, sehingga kamu mencari hiburan di luaran sana,” ucap pak Hariri lirih.
“Apa yang sudah terjadi padamu nak? Sehingga kamu tiba- tiba sudah sembuh seperti dulu?” tanya pak Harjo disela- sela isak tangisnya.
“Nanti saja Hariri ceritakan pak, bu. Sekarang mari kita sholat subuh berjamaah, Hariri sudah ambil wudlu tadi. Rasanya Hariri sudah lama tidak melakukan sholat subuh sama- sama bapak dan ibu lagi,” jawab Hariri.
Mendengar ucapan Hariri seperti itu membuat bapak dan ibunya semakin tersedu- sedu. Ada rasa rindu yang teramat besar yang dirasakan pak Harjo dan istrinya. Ya, benar yang dikatakan putranya itu mereka sudah lama tidak melakukan sholat berjamaah lagi semenjak Hariri masuk SMA. Momen yang biasa dilakukan itu baru sekarang terasa hilangnya, sehingga tiba- tiba menumbuhkan rasa kangen yang teramat sangat.
“Kamu benar sudah sembuh nak?” tanya ibunya sambil mengelus- elus kedua pipi Hariri.
Tiba- tiba ibunya berjongkok meraba- raba bagian kakinya dari mulai lutut hingga punggung telapak kaki Hariri secara berulang –ulang. Dengan mata terbuka lebar, pak Harjo pun turut memperhatikan kondisi kedua kaki Hariri mengikuti usapan- usapan tangan istrinya.
Antara percaya dan tidak melihat kenyataan yang ada di hadapannya saat ini. Takjub dan ajaib merupakan dua kata
yang paling tinggi disematkan untuk keadaan putranya saat ini. Tidak ada kata- kata lain lagi yang dipunya dalam pikiran pak Harjo.
“Bapak sudah lama mengucap janji dalam hati nak. Apabila kamu sembuh bapak akan mengadakan syukuran dengan mengundang seluruh warga masyarakat Palu Wesi ini untuk melakukan doa syukur dan mengajak makan bersama seluruh warga. Ini nazar bapak sebagai ungkapan rasa syukur atas kesembuhanmu nak,” ucap pak Harjo.
“Njih pak, kalau memang bapak sudah bernazar seperti itu. Sekarang mari kita sholat berjamaah lagi pak, bu…” jawab Hariri.
__ADS_1
Subuh itu merupakan hari yang paling bahagia dirasakan oleh pak Hariri dan istrinya. Tak henti- hentinya pak Harjo
dan istrinya mengucap syukur atas kesembuhan Hariri. Bukan hanya itu saja, kebahagiaan mereka semakin lengkap dengan perubahan sifat pada putranya. Entah apa yang sudah merubah sikap putranya tersebut sehingga Hariri seperti terlahir untuk kedua kalinya dengan sifat –sifat yang dulu sudah ditanamkan semenjak kecil.
......................
Matahari mulai menampakkan sinarnya menyambut pagi hari. Sinarnya yang hangat menyinari seluruh desa Palu Wesi. Pagi yang cerah, sepertinya alam pun turut bersuka cita seperti yang dirasakan keluarga pak Harjo saat ini.
Dengan penuh semangat bu Harjo bergegas pergi ke warung untuk berbelanja bahan- bahan masakan kesukaan Hariri untuk sarapan pagi. Rasanya sudah lama bu Harjo tidak merasakan sesemangat pagi ini, dan juga sepertinya sudah lama dirinya tidak lagi rutin berbelanja kebutuhan memasak semenjak putranya sakit.
Dengan melenggang sumringah, bu Harjo menenteng rinjing berbelanja sayur mayur dan lauk pauk di warung Bi Jum langganannya yang berada di bloknya pak Diman. Namun jaraknya tak terlalu jauh sekitar 10 menit dengan berjalan kaki.
“Masya allaaah, bu Harjo baru kelihatan berbelanja lagi,” pekik salah seorang ibu- ibu melihat kedatangan bu Harjo.
Mendengar seruan tersebut seketika membuat ibu- ibu yang lain langsung menoleh kearah bu Harjo yang datang
mendekat.
“Tumben bu, baru belanja lagi…” timpal ibu- ibu lainnya.
Bu Harjo balas dengan senyum sumringah yang semakin membuat ibu- ibu di warung itu nampak keheranan. Belum juga bu Harjo akan menjawab pertanyaan- pertanyaan itu sudah ditimpali pertanyaan dari ibu- ibu lainnya.
“Bu Harjo gimana keadaan nak Hariri? Apakah sudah membaik?” tanya Bi Jum penjual sayur mayur. Seketika pandangan ibu- ibu semua mengarah pada bu Harjo yang ingin juga mendengar jawaban dari bu Harjo.
Kabar sakitnya Hariri yang sudah lama tidak kunjung sembuh itu sudah banyak yang tahu, apalagi ibu- ibu yang
__ADS_1
biasa ngumpul di warung Bi Jum setiap pagi. Semenjak bu Harjo tak pernah kelihatan lagi berbelanja, membuat semua ibu- ibu itu bertanya- tanya satu sama lain. Sampai akhirnya ada yang mendengar kabar kalau putranya sakit.
Hidup di perkampungan itu jika ada berita- berita terbaru langsung saja cepat tersebar sehingga tak butuh waktu lama saat itu juga langsung banyak diketahui oleh masyarakat luas. Ya, tidak kalah up to date nya dengan berita- berita melalui internet.* BERSAMBUNG