
Belum leluasa bernafas lega, Abah Dul kembali melihat kilatan- kilatan cahaya meluncur deras mengarah padanya.
Seketika Abah Dul bergerak untuk melompat menghindar, akan tetapi kali ini ia merasakan kakinya tak bisa di gerakkan.
Abah Dul meronta- ronta berusaha menggerakkan kakinya, namun tetap tak bisa digerakkan sama sekali.
Matanya membelalak menatap kilatan- kilatan cahaya menghujam mengarah padanya dengan sangat deras. Instingnya mengatakan kalau kilatan- kilatan cahaya itu tak ubahnya mata pedang dan sangat membahayakannya.
Terlintas di kepalanya untuk menghadirkan pedang perwujudan dari amalan andalannya, yakni pedang Abu Bakar untuk menahan hujan cahaya itu.
Segera Abah Dul memejamkan matanya sambil mengangkat tangan kanannya segera diacungkan lurus keatas, mulutnya komat- kamit merapalkan amalannya.
Sesaat kemudian muncul percikan cahaya diujung tangan Abah Dul, cahayanya seketika memancar terang.
Tak lama cahaya di ujung tangan Abah Dul perlahan- lahan meredup lalu lenyap. Bersama hilangnya cahaya di ujung tangan Abah Dul, muncul sebilah pedang tergenggam erat di tangannya.
Sesaat setelah pedang Abu Bakar berada di genggamannya, segera membuat gerakan tebasan berkali- kali kearah datangnya hujaman cahaya putih keperakan yang sedikit condong diatas kepalanya.
Seketika dari mata pedang Abu Bakar terkiblat cahaya- cahaya putih yang membentuk pedang itu sendiri melesat menyongsong kearah datangnya kilatan- kilatan cahaya itu.
Itu adalah upaya terakhir yang Abah Dul bisa lakukan meski hatinya tidak sepenuhnya yakin akan berhasil.
Puluhan kiblatan cahaya yang membentuk replika pedang Abu Bakar itu sesaat lagi akan menghantam ratusan hujaman cahaya yang keluar dari pedang besar yang dibawa oleh burung gagak.
Abah Dul menyilangkan pedang Abu Bakarnya di depan dada sambil mendongak keatas menanti- nanti apa yang akan terjadi berharap- harap cemas.
Di ketinggian atas langit sekitar 50 meteran dua cahaya berbeda bentuk. Satu cahaya membentuk puluhan pedang bermata cabang dan cahaya yang satunya berbentuk kilatan cahaya panjang- panjang yang jumlahnya 10 kali lipat dari cahaya berbentuk pedang.
Duarrrr...! duarrr...! duaarrr..!
Suara dentuman- dentuman seketika menggelagar diatas langit. Suaranya menggema seantero alam padang pasir hingga memekakan telinga Abah Dul.
Abah Dul menunduk cepat- cepat menutup telinganya rapat- rapat. Namun saat kembali mendongak keatas, matanya membelalak lebar.
Cahaya replika pedang Abu Bakar miliknya, lenyap satu demi satu setiap kali dentuman itu terdengar. Sedangkan kilatan cahaya putih dari pedang besar yang dibawa kumpulan ratusan burung gagak itu terus meluncur deras tak terhambat sedikit pun menghujam memgarah ke Abah Dul.
Merasa upaya yang dilakukanya tak dapat menghalau hujaman cahaya keperakkan itu Abah Dul hanya menetap nanar kilatan- kilatan cahaya yang mengarah padanya.
Ia terlihat pasrah diam membatu dengan bertumpu pada pedang Abu Bakar yang di tancapkan ke tanah didepan kakinya.
__ADS_1
Perlahan- lahan Abah Dul memejamkan matanya seolah- olah sudah siap menerima apapun yang terjadi terhadap dirinya. Abah Dul benar- benar pasrah dan mengucapkan dua kalimah syahadat.
"Asyhadu Ala illaha illallah, wa' asyhadu anna muhammadarrosulallah..."
Seiring selesainya mengucap syahadat, datang ratusan kilatan- kilatan cahaya mengerucut membentuk ujung lancip mengarah pada bagian dada Abah Dul.
Blaaaasaahhh....
Ratusan kilatan cahaya keperakan menerjang dada Abah Dul, cahayanya seketika lenyap manakala menyentuh dada Abah Dul. Satu demi satu rentetan cahaya keperakan lenyap di dada Abah Dul, hingga semuanya lenyap masuk kedalam tubuh Abah Dul.
Tubuh Abah Dul nampak bergetar tak henti- henti semenjak hujaman pertama kilatan cahaya keperakan itu.
Abah Dul merasakan hawa hangat yang menjalar di dalam tubuhnya. Ia sedikit terkesiap sekaligus keheranan.
Tidak seperti yang ada di dalam perkiraan sebelumnya, membayangkan hujaman kilatan cahaya itu kalau dirinya akan merasakan sangat kesakitan.
Justru Abah Dul hanya merasakan energi dengan hawa hangat yang terus -menerus menempa dadanya lalu seperti menyebar melalui aliran darahnya kesekujur tubuh.
Kejadian itu berlangsung sekitar 10 menitan, sampai akhirnya Abah Dul tak lagi merasakan adanya terpaan hawa di dadanya.
“Apakah saya masih hidup ataukah sudah mati?” ucapnya dalam hati.
Meski didalam hatinya masih bingung dan bertanya- tanya apa yang sebenarnya terjadi, namun sekian lamanya ia tak berani untuk membuka mata.
Abah Dul masih terus memejamkan matanya, namun yang dia rasakan ada sesuatu yang hilang didalam genggamannya. Ia tak merasakan pedang Abu Bakar ditangannya lagi.
Selain itu Abah Dul juga merasakan ada yang lain dengan suasana disekitarnya. Suasana yang tadinya sunyi senyap, tiba- tiba telinganya mendengar suara- suara serangga malam, ada suara jangkrik, suara kodok hingga dengungan suara nyamuk.
Abah Dul mengernyitkan dahinya dipenuhi tanda tanya, seraya bergumam; “Apakah berganti alam lagi?!”
Belum juga kebingungannya terjawab, tiba- tiba telinganya menangkap suara sayup- sayup lantunan azan.
Abah Dul memfokuskan pendengarannya untuk memastikan kalau lantunan sayup- sayup itu benar- benar suara orang azan.
"Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar
Asyhadu allaa ilaaha illallah, Asyhadu allaa ilaaha illallah
Asyhadu anna muhammadar rosuulullah, Asyhadu anna muhammadar rosuulullah
__ADS_1
Hayya ‘alash shalaah, Hayya ‘alash shalaah
Hayya ‘alal falaah, Hayya ‘alal falaah
Ash-Shalaatu khairum-minannaum, Ash-Shalaatu khairum-minannaum
Allahu akbar, Allahu kabar laa ilaaha illallah..."
Abah Dul sedikit terperangah, sayup- sayup lantunan yang didengarnya itu benar- benar suara orang azan.
“Azan subuh?!” Gumam Abah Dul.
Akhirnya Abah Dul memberanikan diri membuka matanya. Namun pada saat matanya terbuka, yang pertama dilihatnya hanyalah suasana gelap gulita.
Abah Dul celingukkan menengok ke kanan dan kiri melihat sekelilingnya, tetap ia tak dapat melihat apapun. Namun saat ia merasakan posisi badannya saat ini, perlahan- lahan kesadarannya pulih sepenuhnya.
Ia merasakan sedang duduk bersila, padahal kejadian sebelumnya dirinya dalam posisi berdiri. Segera ia raba- raba alas yang sedang didudukinya.
“Sajadah!”
“Tasbih!”
“Saya sudah kembali? Alhamdulillahirobbil alamiin...” ucap Abah Dul senang.
Setelah ia menyadari sepenuhnya keberadaan dan posisinya, Abah Dul langsung teringat dengan pesan gurunya, Kyai Sapu Jagat sebelum melakukan zikir.
Sebelumnya kyai Sapu Jagat mengatakan, kalau dirinya akan menjaganya diluar.
Teringat dengan ucapan gurinya itu, Abah Dul pun bergegas bangkit dan keluar dari tempatnya zikir.
Kreeoootttt...
Saat pintu dibuka, tak jauh dari Abah Dul keluar ia melihat Kiyai Sapu Jagat tengah memejamkan matanya.
Sejenak Abah Dul ragu- ragu untuk mengucap salam, ia tidak tahu apakah gurunya itu sedang tidur ataukah sedang berzikir.
Namun setelah dipikir- pikir tidak ada salahnya apabila dirinya mengucapkan salam. Ia pun memberanikan diri mengucapkan salam dengan suara pelan- pelan.
"Assalamualaikum...." ucap Abah Dul.
__ADS_1
......................
......................