Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KABAR DARI ALAM LAIN


__ADS_3

Gus Harun tampak diam tak langsung menjawab pertanyaan Basyari itu. Didalam hatinya sebenarnya juga merasakan firasat yang sama seperti yang di pikirkan Basyari, namun Gus Harun tak mau mengungkapkannya dan berusaha meyakinkan diri kalau tuan Denta dan Raja Kajiman tersebut baik- baik saja.


“Apakah nggak sebaiknya kita kembali kesana Gus, kita susul dan bantu tuan Denta dan Raja Kajiman?” usul Baharudin.


Sebelum Baharudin menyatakan usulannya itu, sebenarnya di dalam benak Gus Harun sudah terlintas hal yang


sama seperti apa yang Baharudin katakan. Gus Harun pun langsung memberikan jawaban spontan meng iyakan usulan Baharudin tersebut.


“Iya Har, saya juga berpikir begitu. Saya merasakan firasat buruk yang tengah dialami tuan Denta dan Raja Kajiman,” ungkap Gus Harun yang sejak tadi dipendamnya.


“Tap Gus kita tunggu Dul dulu, kalau kang Mahmud dan kang Kosim mungkin dia masih dalam suasana suka cita bersama keluarga anak dan istrinya, jadi biar kita bertiga saja.” Ujar Basyari.


‘Ya, sebaiknya begitu Bas,” balas Gus Harun lalu mengambil gorengan pisang didepannya.


Sesaat gorengan pisang itu akan memasukkannya ke dalam mulut, tiba- tiba Gus Harun, Basyari dan Baharudin merasakan datangnya hembusan angin dari arah atas. Meski hembusannya tidak begitu kencang namun mereka dapat merasakannya dengan jelas.


“Astagfirullah!” pekik mereka bertiga serempak.


“Assalamualaikum…” ucap sebuah suara bersamaan hilangnya hembusan angin.


“Wa, wa’ alaikum salam,”sahut Gus Harun tergagagp.


“Tuan Samanta! Tuan Gosin!” seru Basyari.


Dua sosok tak kasat mata berdiri di tanah halaman rumah menghadap Gus Harun, Basyari dan Baharudin yang sedang duduk lesehan di teras. Kedua sosok berperawakan tinggi dan besarnya dua kali lipat dari ukuran tubuh manusia itu pada bagian tubuh pinggang keatas dibalut dengan baju zirah terbuat dari baja hitam pekat. Di masing- masing pinggangnya terselip pedang yang panjangnya hampir menyentuh tanah sedangkan kepalanya terbungkus helm menyerupai jaring- jaring yang juga terbuat dari baja hitam namun lentur.


“Ada kabar apa tuan?!” susul Baharudin merasakan firasat buruk atas kedatangan wakil pimpinan pasukan jin dan pasukan Kajiman.


“Tu, tuan… cepat tolong pimpinan kami tuan, mereka sedang dalam bahaya!” kata Samanta wakil pasukan jin.


“Be, benar tuan! Kami mohon segera tolong pimpinan kami!” timpal Gosin.

__ADS_1


“Apakah tuan Denta dan  tuan Raja masih bertarung?!’ tanya Gus Harun.


“Benar tuan, aku sempat melihat kilatan- kilatan cahaya pertempuran dari halaman istana. Karena penasaran kami berdua sepakat untuk kembali ke istana dan melihat ke tempat kilatan cahaya –cahaya itu muncul,” terang Samanta.


“Lalu apa yang kalian lihat? Bagaimana dengan kondisi tuan Denta dan tuan Raja?” serga Baharudin membenarkan firasatnya.


“Saat kami kembali dan melihat pertarungan itu, kedua tuan kami sedang dalam posisi bertahan dan terus menghindar dari serangan- serangan Raja siluman monyet itu tuan,” terang Samanta.


“Baiklah kami akan segera kembali kesana, lalu bagaimana dengan pasukan- pasukan kalian?” tanya Gus Harun.


“Pasukkan kami hanya sepermpatnya saja yang musnah tuan.  Dan sisanya sudah kami tarik mundur untuk


kembali ke dunia kami. Maafkan kami sebelumnya tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik. Jumlah prajurit siluman monyet terlalu banyak tuan, meski keadaan mereka sedang diluar kesadarannya, namun justru karena hilang kesadaran akibat mabuk itu mereka menyerang dengan membabi buta dengan mengerahkan kekuatan


mereka sepebuhnya,” ungkap Gosin.


“Nggak apa- apa tuan Samnta, tuan Gosin. Kami semua mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian. Sekarang kalian bisa kembali ke pasukan kalian masing- masing,” kata Gus Harun.


“Tidak tuan! Kami berdua sudah sepakat akan ikut dengan tuan untuk membantu junjungan kami!” tegas tuan Samanta.


Setelah beberapa detik suasana saling diam, akhirnya Gus Harun pun angkat bicara, “Kita akan menunggu sahabat kami dulu tuan. Mungkin sebentar lagi akan sampai kedini.”


“Baik tuan!” sahut tuan Samanta dan tuan Gosin.


Benar saja apa yang Gus Harun ucapkan, baru saja tuan Samanta dan tuan Gosin menjawab nampak dikejauhan  Abah Dul dan Mahmud sedang berjalan tergesa- gesa menuju kearah mereka.


“Itu mereka!” seru Baharudin.


Tak lama kemudian Mahmud dan Abah Dul pun sampai di depan teras rumah. Belum sempat keduanya mengucapkan salam. Mahmud dan Abah Dul dibuat terkejut  karena tubuh Mahmud dan Abah Dul seperti


terhalang oleh tembok dan tubuh keduannya terhenti secara tiba- tiba.

__ADS_1


“Kenapa ini Gus!” pekik Abah Dul spontan diikuti pandangan mata Mahmud menunggu jawaban Gus Harun.


“Makanya ente harus tetap waspada Dul,” jawab Gus Harun.


“Ente jalan nggak liat- liat sih,” seloroh Basyari.


“hehehehe… hehehehe…” timpal Baharudin tertawa.


Abah Dul dan Mahmud masih tampak bingung dengan ucapan- ucapan sahabatnya itu, keduanya saling pandang. Abah Dul dan Mahmud masih belum mengerti maksud dari perkataan- perkataan Basyari dan Gus Harun.


“Ya jelas saja ente nggak bisa jalan, lah wong ente menabrak kaki tuan Samanta dan tuan Gosin, hahahahaha… hahaha…” ujar Gus Harun tertawa diikuti tawa Basyari dan baharudin.


Mahmud hanya melongo mendengar ucapan Gus Harun dan tawa mereka, tetapi Abah Dul langsung memahami ucapan dari sahabatnya itu. Seketika itu juga Abah Dul membuka mata batinnya dan memberi isyarat pada Mahmud agar mundur satu langkah.


“Ssssttt.. Mud, kita nabrak kaki!” bisik Abah Dul.


“Hah!? Nabrak kaki?” balas Mahmud.


“Ayo mutar jalannya,” ajak Abah Dul tanpa memperdulikan kebingungan Mahmud.


Mahmud yang masih dalam kebingungannya akhirnya mengikuti jalan Abah Dul memutar menghindari empat kaki yang menghalangi jalannya.


“Maaf tuan Dul, tuan Mahmud,” ucap tuan Samanta dan tuan Gosin menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sambil sedikit membungkuk.


“Nggak apa- apa, nggak apa- apa tuan,” balas Abah Dul.


“Nggak apa- apa, apanya Bah???” tanya Mahmud heran.


“Bukan bicara sama ente Mud, itu ada dua sosok wakil pimpinan pasukan jin dan wakil pemimpin pasukan Kajiman,” ujar Abah Dul sambil menunjuk dengan ibu jarinya.


Barulah Mahmud sadar jika yang sedang dibicarakan oleh Gus Harun dan sahabat- sahabatnya itu adalah mahluk tak kasat mata. Mahmud pun penasaran ingin melihatnya juga, seperti apa sosok yang di katakan Abah Dul.

__ADS_1


“Astagfirullah!” pekik Mahmud mundur selangkah dan hampir terjengkang saking kagetnya.


Mahmud tidak menyangka sama sekali di alam nyata dirinya melihat ada dua sosok mahluk yang sangat menyeramkan dengan postur tubuh tinggi dan besar ada di hadapannya. Meski pun sebelumnya Mahmud sudah melihat wujud dari mahluk- mahluk jin dan Kajiman saat berada di dalam siluman, namun karena saat ini dirinya merasa sedang berada di dunia nyata sehingga membuatnya sangat terkejut melihat mahluk yang menurutnya sangat menyeramkan.** BERSAMBUNG


__ADS_2