
Beberapa menit berlalu sembari berzikir Mahmud yang terus-menerus memperhatikan tubuh Abah Dul yang diam tak bergerak mendadak sontak terkejut. Tiba-tiba keringat menetes deras dari dahi Abah Dul, begitu pula dengan kaos oblong hitamnya bertuliskan Wisata Guci nampak basah.
Sesekali tubuh Abah Dul terlihat seperti terhentak-hentak namun sesaat berikutnya kembali diam tak bergeming. Hal itu berlangsung hingga sepuluh menitan berjalan.
Mahmud tidak mengerti sama sekali dengan kondisi yang sedang terjadi pada Abah Dul. Bibirnya terus mengucap zikir tak putus-putus dengan wajah menggurat kecemasan yang teramat sangat.
Kecemasan kian menyelimuti hati Mahmud mengalihkan pandangannya memperhatikan tubuh Kosim yang terbaring telentang dihadapan Abah Dul. Tubuh Kosim tak sekalipun menunjukkan gerakkan. Tubuhnya terlentang tak bergeming dengan mata terpejam rapat.
Sementara Dewi dan Arin serta Dede yang berada dipangkuannya terus menahan tangis sambil memanggil-manggil nama Kosim disamping kanan tubuh Kosim yang terbaring.
"Bangun maaaas... ayo bangun Maaasss.... Banguuuun..." ucap Arin lirih.
Entah keberapa puluh kalinya Arin dan Dewi memanggil-manggil nama Kosim dengan terisak. Ditengah panggilan itu tiba-tiba tubuh Kosim terhentak begitu pula dengan tubuh Abah Dul secara bersamaan.
Abah Dul perlahan-lahan membuka matanya dengan nafas terengah-engah.
"Alhamdulillah..." ucap Abah Dul sembari meraupkan telapak tangan ke mukanya.
Ditatapnya tubuh Kosim lalu dibacakan surat Alfatihah ditelinganya. Tubuh kosim masih tak bergerak tetapi sedetik berikutnya kelopak matanya perlahan membuka lalu disusul jemarinya bergerak-gerak.
Arin melihatnya bergerak, langsung mendekap menjatuhkan kepalanya diatas dada Kosim. Tangisnya pecah, Arin menangis tersedu-sedu di dada Kosim. Sementara Dede bocah 3 tahunan itu hanya menatap ayah dan ibunya tanpa mengerti yang sedang terjadi.
"Ariiin... Dedeee..." ucap Kosim pelan dan lemah.
"Alhamdulillahirobbil alamiin..." Sontak bersamaan semuanya mengucapkannya melihat Kosim bergerak hidup dan mendengar suaranya memanggil Arin dan anaknya.
Diteras rumah emak-emak bergerombol melongokkan mukanya memenuhi lebarnya kaca untuk melihat Kosim. Tatkala mendengar ucapan itu dan melihat Kosim bergerak mereka pun kompak mengucapkan 'Alhamdulillah.'
Dewi bergegas ke dapur untuk mengambilkan air minum. Tak lama kemudian air minum diserahkan ke Abah Dul. Dibacakannya doa untuk menetralisir aura negatif ditubuh Kosim selama kosong ditinggal sukmanya.
Kosim berupaya bangkit untuk duduk lalu meneguk air putih yang diberikan Abah Dul. Wajahnya yang semula pucat pasi kini perlahan mulai terlihat segar seperti semula.
"Loh, kok ada di rumah Mas Mahmud..." ucap Kosim celingulkan sambil garuk-garuk kepala.
"Arin kenapa menangis?" sambungnya kebingungan.
Antara ketawa dan tangis bahagia langsunh membucah memenuhi ruangan tengah melihat kelucuan tingkah Kosim.
Kosim masih belum mengerti dengan kondisinya. Dia mencoba ingat-ingat lagi saat perjalanan pulang dari Tegal. Saat itu sudah memasuki wilayah Cirebon antara tidur dan nggak dirinya merasa ditarik dua mahluk hitam dan besar.
Yang satu menarik tangan kanannya dan yang satu menarik tangan kirinya. Dirinya bersaha keras berontak melawan namun kekuatan dua mahluk hitam besar itu terlalu kuat tenagannya.
Dirinya tiba-tiba saja berada pada alam yang sangat luas dan asing. Hanya hamparan kelabu pekat sejauh mata memandang, dirinya terus ditarik oleh kedua mahluk itu. Sampai akhirnya datang selarik sinar putih menghalanginya. Dan cahaya itu adalah Abah Dul. Kosim langsung menoleh ke Abah Dul dan menubruknya sambil mencium tangannya.
"Abah matur nuwun pisan, saya sangat sangat berterima kasih Bah. Rasanya saya nggak bisa membalas pertolongan Abah," ucap Kosim masih menyalami dan mencium tangan Abah Dul.
__ADS_1
Diingatan Kosim, Abah Dul bertarung melawan dua mahluk hitam besar. Dentuman dan getarannya masih membekas ditelinganya. Hingga Abah Dul menggandeng tangan lalu membawanya pulang.
Mahmud, Dewi dan Arin saling berpandangan mata. Rautnya mengguratkan kebingungan tak mengerti apa yang diucapkan Kosim.
"Sudah, sudah Sim... Semua itu berkat pertolongan Allah. Dan takdirnya ente kudu hidup," ujar Abah Dul melepaskan jabatan tangan Kosim.
"Emang Kosim kenapa Bah?" tanya Mahmud bingung.
Arin dan Dewi kompak menatap Abah Dul menanti jawaban penuh dengan penasaran. Setelah ditunggu-tinggu jawaban Abah Dul bikin nyesek.
"Huhhh! Jadi lapar nih," jawab Abah.
Mendengar jawaban tidak seperti yang diharapkan ketiganya kontan ngedumel tidak karuan dan kompak bilang, "Yaaaaaahhhh...!"
"Sim, ssssttt! Sim, kenapa?!" tanya Mahmud penasaran mengalihkan ke Kosim.
Kembali wajah Mahmud, Dewi dan Arin menegang menanti cerita dari Kosim. Kosim menghela nafas panjang, lalu dihempaskan, "huhhhh.."
Sekitar 30 detik Kosim diam tertunduk. Lalu memandang Mahmud, Dewi dan Arin. Yang dipandang mengerutkan kening terlihat sangat mengharap jawaban.
"Huhhh! Jadi lapar nih," ucap Kosim.
Jawaban yang sama membuat Mahmud, Dewi dan Arin keki bukan main.
"Kan nggak ada makanan Mbak. Kita baru sampe," timpal Arin.
"Oh iya," balas Dewi sambil nepak jidatnya.
"Yowis lah, saya balik dulu sekalian nganterin mobil." kata Abah Dul.
Abah Dul bangkit dari duduknya diikuti Mahmud dan Kosim menghantarkannya hingga Abah Dul berlalu dengan mobilnya.
......................
Malam ke-21
Mang Ali datang ke rumah Mahmud baru saja waktu magrib berlalu. Mahmud dan Kosim masih berada di tempat sholat bergegas keluar mendengar suara orang mengucapkan salam.
"Mang Ali, Sim..." ucap Mahmud.
"Iya Mas," jawab Kosim.
Mahmud lantas melangkah keluar menemui Mang Ali dan Kosim pergi ke dapur bikin kopi. Sementara Arin dan Dewi selesai sholat Magrib langsung ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
"Tumben masih sore sudah nongol, Mang Ali hehehe," kata Mahmud.
__ADS_1
"Mana oleh-oleh dari Tegalnya Mud," timpal Mang Ali.
"Ada tenang aja Mang Ali," jawab Mahmud.
"Siiim, sekalian bawa plastik yang di depan tv ya," seru Mahmud.
"Gimana kabar ibu Mud?" tanya Mang Ali.
"Waktu saya datang sih memang lagi nggak enak badan. Tapi pas melihat saya dan yang lainnya, berangsur sehat malah ikut jalan-jalan ke tempat wisata," terang Mahmud.
"Orang tua memang begitu Mud. Terkadang mereka sakit karena kepikiran anak-anaknya atau lagi kangen pengen ketemu anaknya. Makanya sering-sering berkunjung Mud," ujar Mang Ali.
"Iya Mang Ali, sudah dua lebaran ini saya nggak mudik." timpal Mahmud.
Kosim datang dengan membawa nampan berisi gelas kopi dan aneka macam kue yang di beli di Tegal. Dipergelangan tangan Kosim tergantung kresek besar berwarna hitam.
"Nah, ini oleh-oleh special buat Mang Ali," ucap Mahmud memberikan kresek besar.
Mang Ali pun tak sabar langsung membukanya. Dua buah kaos berwarna putih dan hitam bertuliskan 'Wisata Air Panas Guci' dibeber dan coba diukurkan ke badannya yang gempal.
"Wah, pas nih Mud," ucap Mang Ali girang.
"Nah, yang dibawahnya itu kue-kue khas Tegal," ucap Mahmud.
"Aduh, banyal banget Mud, Sim. Matur suwun nih," balas Mang Ali.
"Abah kesini nggak?" sambungnya.
"Nggak tau tuh Mang Ali. Barangkali kecapean nyetir bisa jadi tidur," ujar Mahmud.
"Halllahh' bujangan sih bebas, hahaha..." seloroh Mang Ali disambut ketawa Mahmud dan Kosim.
"Bentar lagi udah nggak bujangan lagi Mang Ali," timpal Kosim.
"Yang bener Sim?!" tanya Mang Ali penasaran campur senang.
"Tinggal nunggu persetujuan dari kakak iparnya, hikhik.." kata Kosim cekikikan melirik Mahmud.
Mang Ali pun turut menatap Mahmud penasaran, "Adik ente Mud?" tanya Mang Ali polos.
"Yeee, ya nggak tau terserah mereka berdua. Sebagai kakak sih setuju-setuju aja kalau memang ada jodoh dengan adik saya Mang Ali," ujar Mahmud.
"Wah, wah kakak yang baik, hahaha..." timpal Mang Ali senang.
......................
__ADS_1