
“Mas, mas... mas Mahmud!”
Mahmud dan Abah Dul terkejut seketika mendengar suara Dewi dari dalam memanggil-manggil. Mahmud menoleh ke Abah Dul, begitu pula dengan Abah Dul hingga keduanya saling bertatapan penuh tanda tanya mendengar panggilan Dewi dengan nada suara panik. Mahmud dan Abah Dul pun langsung bangkit dari duduknya lalu bergegas masuk.
Didepan televisi yang ada di ruang tengah, Dewi sedang mendekap Arin dalam posisi terduduk. Arin nampak terkulai tak sadarkan diri, karena itu pula Dewi tak henti-hentinya terisak karena mencemaskan adiknya.
“Ada apa Wi? Kenapa dengan Arin?” Tanya Mahmud panik.
“Arin tiba-tiba saja terkulai mas, suhu badannya panas!” jawab Dewi sambil terisak.
“Ya sudah kita bawa ke rumah sakit, saya pinjam mobil siaga dulu ya.” Ujar Mahmud kemudian pergi dari hadapan Dewi.
Abah Dul yang sedari tadi terdiam memperhatikan kondisi Arin langsung mencegah Mahmud, “Nggak usah Mud, ambilkan air putih saja,” ucap Abah Dul.
Mahmud menghentikan langkahnya yang baru dua langkah hendak meninggalkan ruang tengah lalu menoleh ragu pada Abah Dul. Sedetik kemudian Mahmud benar-benar menyadarinya kalau Abah Dul bilang seperti itu berarti urusannya dengan dunia gaib bukan dengan penyakit medis.
__ADS_1
“Baik bah,” ucap Mahmud kemudian balik badan berganti arah menuju dapur.
"Wi, baringkan Arin dibawah. Biar saja jangan di kasih bamtal." ucap Abah Dul kemudian membantu Dewi meletakkan Arin diatas lantai beralaskan matras.
Kemudian Abah Dul segera menempelkan punggung telapak tangannya di dahi Arin. Suhu tubuhnya memang terasa panas sekali, lalu Abah Dul membalikkan telapak tangannya dan perlahan-lahan membuat gerakkan mendeteksi berjarak satu jengkal dari permukaan kulit Arin. Dari keningnya, telapak tangan Abah Dul bergerak turun menyisir melewati bagian wajah. Lalu disekitar dada, Abah Dul merasakan suhunya berubah tidak sepanas di kening. Telapak tangan Abah Dul kembali bergerak turun, ketika sampai diatas perut suhu panas itu semakin hilang dan bahkan sudah tidak ada lagi hingga sampai keujung kaki.
Abah Dul mencoba melihat dengan mata batin apa yang terjadi pada kepala Arin sehingga ada hawa panas di kepalanya. Adah Dul memejamkan matanya lalu mulutnya teŕlihat membaca sesuatu. Tak lama kemudian nampak Abah Dul mengeŕnyitkan keningnya, raut wajahnya terkesiap kaget seketika.
......................
Sebelumnya, 6 jam yang lalu...
Setelah masuk di kawasan hutan Gunung Ciremai, tidak sulit untuk menemukan jalur lintasan yang biasa dilalui oleh para pendaki. Komar pun tinggal mengikuti arah jalan dari petunjuk yang terpampang sebagai rambu-rambu, namun ia harus selalu waspada menajamkan pendengaran dan pandangannya agar tidak kepergok dengan para pendaki ataupun petugas Taman Nasional Gunung Ciremai.
Untungnya bukan bertepatan dengan momen-momen liburan sehingga sangat jarang menemui para pendaki yang lalu lalang. Hanya ada beberapa saja pendaki yang melintas dan semuanya datang dari atas dalam perjalanan turun. Ketika mendengar ada suara-suara orang lain disekitarnya, Komar pun segera bersembunyi hingga orang-orang itu lewat.
__ADS_1
Diseperempat perjalanannya mencapai lokasi, Komar menghentikan perjalanannya. Dia terduduk bersandar dibawah pohon pinus untuk melepas lelah setelah berjalan dua jam tanpa berhenti. Nafasnya tersengal-sengal, ia menyeka peluh bercucuran membasahi mukanya dengan lengan jaket tebalnya. Diraihnya sebotol air minum kemasan dari sisi ransel lalu meneguknya hingga setengahnya. Kemudian ia membuka ranselnya mengambil sebungkus plastik berisi roti dan segera melahapnya. Dalam empat kali gigitan saja roti itu ludes masuk mèngisi perutnya. Sebatang rokok ia lolos dari bungkusnya lalu disulutnya, dihisapnya dalam-dalam rokok itu kemudian dihempaskannya perlahan melalui lubang hidungnya. Komar terlihat begitu menikmatinya dalam lelahnya.
Tetapi kenikmatan itu harus segera diakhiri setelah Komar melihat cuaca di langit dari celah-celah rerimbunan pohon pinus diatasnya. Nampak matahari sudah bergeser ke barat, Komar pun segera berkemas lagi untuk melanjutkan perjalannya. Hari sudah memasuki sore hari.
"Kurang lebih satu jam lagi sampai, berarti sebelum gelap harus sudah mencapai gua," gumam Komar kemudian mempercepat langkahnya.
"Cinta buta" sebuah ungkapan perasaan tatkala menyukai seseorang yang sudah melegenda itu memang bukanlah hanya isapan jempol belaka dan bukan hanya sebagai ungkapan intrik dalam perjalanan cinta seseorang. Nyatanya cinta buta benar-benar sedang merundung seorang pemuda bernama Komar. Dia sudah gelap mata karena cintanya bertepuk sebelah tangan sehingga apapun yang dianjurkan oleh sang Dukun akan dilakukannya.
Sang Dukun menganjurkan untuk menguatkan ilmu guna-guna pelet yang diajarkannya agar berhasil dan memiliki kekuatan sempurna memperdayai targetnya, harus tirakat ditempat yang memiliki kekuatan gaib yang sakral kewingitannya. Di Gunung Ciremai terdapat salah satu gua yang dipercaya tempat bersemayamnya tokoh hitam yang sangat sakti mandra guna terkenal dengan nama Nini Pelet. Sang Dukun berdalih kalau mantra yang diberikannya itu bersumber dari salah satu ilmu kesaktian tokoh hitam yang melegenda di Jawa Barat tersebut.
Namun jika sedikit menarik kebelakang garis cerita rakyat yang sudah turun temurun di masyarakat yang berada disekitar gunung Ciremai seperti Kuningan, Majalengka, Cirebon akan disebut dua tokoh sakti yang bersemayam di gunung Ciremai. Tokoh sakti itu adalah Ki Buyut Mangun Tapa dari golongan putih dan Nini Pelet dari golongan hitam.
Konon dari legendanya, Ki Buyut Mangun Tapa merupakan seorang ulama yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Ki Buyut Mangun Tapa berhasil menciptakan kitab Mantra Asmara yang sangat terkenal yaitu Ajian Jaran Goyang dan Ajian Semar Mesem. Sementara Nini Pelet yang mengetahui keampuhan dan kedahsyatan kitab mantra asmara itu berhasil mencurinya dengan berbekal kesaktian dan kelicikkannya. Dengan kitab tersebut Nini Pelet akan mengolahnya dengan ilmu kesaktian yang dimilikinya bertujuan agar dirinya menjadi awet muda dan cantik.
Pertarungan dua tokoh sakti dari golongan hitam dan putih itu terus menerus terjadi sepanjang masa hingga diteruskan oleh murid dari Ki Buyut Mangun Tapa untuk merebut kembali kitab mantra asmara yang dicuri Nini Pelet. Permusuhan itu seperti tak pernah ada akhirnya hingga tujuh turunan. Hingga sekarang kawasan Gunung Ciremai masih dipercaya memiliki kwingitan yang masih sangat nyata keangkerannya.
__ADS_1
Komar yang sudah gelap mata dan gelap hati percaya begitu saja tanpa ada keraguan sedikit pun. Karena secara kebetulan dia sendiri mengetahui cerita legenda tersebut. Ketika hari sudah mulai gelap, Komar sudah berada didalam sebuah goa yang terdapat di lereng gunung Ciremai. Komar nampak duduk bersila menghadap sesaji yang diletakkan diatas batu pipih yang menyerupai meja. Sesaji berupa kembang tujuh rupa yang telah dipersiapkan sebelumnya itu mulai ditabur-taburkan disekelilingnya, mulutnya tak berhenti komat-kamit membaca mantra. Dan diantara mantra yang dibacakan Komar terselip nama ARIN!
......................