Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Penyusup


__ADS_3

Tanpa terasa malam sudah berada dipuncaknya, pukul 24.00 wib. Di ruang tengah masih terlibat obrolan santai tapi serius membahas rencana untuk mengungkap pelaku pesugihan di kampung Kosim.


"Kalau sudah tau jenis pesugihannya , insya Allah bisa terdeteksi saat si pelaku melakukan aksinya," kata Mang Ali.


"Ya mudah-mudahan besok Mak Ijah sudah mendapat informasinya," ucap Kosim.


"Apalagi dengan kemampuan Abah Dul akan lebih mudah mengetahuinya nanti," kata Mang Ali.


"Caranya Mang Ali?!" Sela Mahmud yang penasaran.


"Gampanglah, nanti besok malam lagi." Jawab Mang Ali.


Suasana kembali hening beberapa saat, Abah Dul, Mahmud, Mang Ali dan Kosim saling menyeruput kopinya yang sudah dingin. Kosim baru teringat ada yang hendak ditanyakan ke Abah Dul yang dipendamnya sejak beberapa hari lalu.


"Mmm, Bah kenapa ya suara tanpa rupa itu nggak muncul-muncul lagi?" Tanya Kosim memecah keheningan.


Abah Dul mengurungkan menyeruput kopinya, gelasnya kembali diletakan.


"O iya, saya juga baru inget mau nanya itu Sim. Biasanya kalau ada bahaya suara itu selalu memperingati ente," Abah Dul balik tanya.


"Justru itu Bah, sejak kejadian pertengkaran dengan Arin, suara tanpa rupa itu nggak pernah muncul lagi sampai sekarang, kenapa ya Bah." terang Kosim.


"Saya ingat suara itu muncul tapi didalam mimpi Bah, dia mengatakan kalau saya tidak layak dia ikuti," sambungnya.


"Hmmm, sepertinya ente melakukan kesalahan fatal. Artinya dia merasa sudah nggak nyaman berada di tubuh ente Sim," ucap Abah Dul.


"Berarti suara tanpa rupa itu khodam dari wiridan yang diberikan oleh Gus Harun. Soalnya sudah tiga hari kemarin saya lupa menjalankan zikir itu Bah," terang Kosim.


Abah Dul tidak langsung menjawab, dia terdiam memikirkan dan menimbang-nimbang yang akan diucapkannya.


"Saya belum bisa memastikannya Sim, hanya Gusti Allah dan Gus Harun yang tau." Ucap Abah Dul.


"Gimana nanya Gus Harun Bah, ada di banten," keluh Kosim.


"Tapi coba ente tekuni lagi zikiran itu Sim, kalau suara tanpa rupa itu datang lagi berarti khodam dari zikir itu," lanjut Abah Dul.


"Oke Bah," jawab Kosim singkat.


"Ya sudah saya pulang dulu deh dilanjut besok malam lagi ya Mang Ali," kata Abah Dul sambil beranjak berdiri.


"Sekalian saya juga pulang ah," timpal Mang Ali.

__ADS_1


"Iya Bah, Mang Ali suwun ya." Jawab Mahmud.


"Makasih, makasih Bah, Mang Ali." Timpal Kosim.


Abah Dul dan Mang Ali pun melangkah keluar diikuti Mang Ali setelah bersalaman dengan Mahmud dan Kosim.


......................


Hari ke-6 menjelang Purnama,


Tadi malam Kosim tidaur dengan nyenyak, tidak ada gangguan apapun. Rencana tadi malam mengungkap pelaku pesugihan pun urung dilakukan karena kata Mang Ali harus mengetahui lebih dulu jenis pesugihannya biarpun pelakunya belum diketahui.


Semalam Abah Dul dan Mang Ali pulang pukul 01.12 wib dan akan dilanjutkan malam ini, itupun menunggu kabar dulu dari Mak Ijah yang akan mencari tahu kabar jenis pesugihan.


Pagi ini cuaca sangat cerah bahkan terkesan panas karena meski masih jam 8 tetapi panasnya sudah sedikit menyengat. Mahmud sudah siap-siap berangkat ke kebun cabainya dengan cangkul yang di gantungkan di bahunya, sementara Dewi sudah berangkat kerja jam 7 tadi.


"Sim, saya ke kebun dulu ya, khawatir cabainya rusak sebelum panen," kata Mahmud pada Kosim yang juga bersiap berangkat ke proyek.


"Iya Mas, saya juga pamit mau berangkat kerja," jawab Kosim yang sedang mengelap sepeda motornya.


"Ya sudah, hati-hati ya Sim." Balas Mahmud melangkah meninggalkan rumah.


Beberapa menit kemudian Kosim pun selesai mengelap sepeda motornya lalu masuk melalui pintu samping yang langsung ke ruang dapur.


"Rin, Mas berangkat dulu ya. Dede belum bangun?" Kata Kosim pada Arin yang sedang mencuci gelas di wastafel bekas semalam.


"Belum Mas, ya udah ati-ati ya Mas," jawab Arin sembari meraih tangan Kosim dan menciumnya.


Kosim pun melangkah keluar menuju sepeda motornya dengan menenteng tas berisi peralatan tukangnya. Bebebrapa saat kemudian Kosim meninggalkan rumah Mahmud.


Kini dirumah Mahmud tinggalah Arin dan Dede saja. Setelah cuci-mencucinya kelar, Arin berniat ke warung untuk belanja sayur-sayuran buat masak.


Ditengoknya Dede yang masih tergolek tidur di kamar. Arin bimbang, apakah nunggu Dede bangun atau ditinggal saja. Sekian lamanya Arin masih mematung didepan pintu kamar.


"Tinggal aja deh, cuma sebentar ini," gumam Arin.


Arin beranjak keluar melalui pintu samping yang berhubungan langsung dengan dapur tetapi langkahnya terhenti lalu dia balik lagi ke kamar melihat Dede.


Tiba-tiba muncul perasaan khawatir menguasai hatinya jika meninggalkannya. Pikirannya diliputi gamang dan tidak tenang. Namun ketika memperhatikan Dede yang nampaknya tertidur pulas, akhirnya Arin memutuskan ditinggal saja.


Diatas pohon jambu air, sosok mahluk tak kasat mata dengan sepasang mata merah terus memperhatikan rumah Mahmud entah sejak kapan.

__ADS_1


Tatapannya kian tajam manakala melihat Arin keluar dari samping rumah. Seketika seringainya melebar dan pandangan matanya langsung menyapu sekitar rumah memperhatikan situasi.


Sementara Arin bergegas melangkah keluar tanpa merasakan kejanggalan apapun meninggalkan Dede yang sedang tidur dan sendirian didalam rumah.


Namun ketika melintasi pohon jambu air, Arin sempat merasakan bulu kuduknya meremang, meski sempat berhenti dan menengok kembali melihat rumah namun Arin tetap meneruskan langkahnya. Dia terus berjalan menuju warung bi Isah untuk berbelanja sayuran dan lauk pauk.


"Hahahahahahahahaha.... Baguuuusss, semuanya pada pergi, tumbal itu sendirian!"


Sosok hitam berbulu lebat meloncat dari atas pohon jambu air ke halaman depan rumah Mahmud. Beberapa saat celingukkan memperhatikan sekelilingnya yang nampak sepi.


"Aku harus cepat-cepat masuk dan membawa nyawa anak itu!"


Lalu mahluk tak kasat mata itu meloncat keatas genting tepat diposisi kamar dimana Dede sedang tertidur. Tetapi saat kedua kakinya yang dipenuhi bulu lebat itu akan menyentuh genting, tiba-tiba detuman keras terdengar.


"Booom!"


Tubuh tak kasat mata itu terpental sejauh 10 meter dan jatuh diatas genteng rumah Pak Karim tetangga Mahmud hingga menggetarkan rumah. Tubuhnya mendarat terjengkang hingga menimbulkan suara yang cukup berisik.


Ibu Suti, istri Pak Karim keluar dari pintu belakang. Lalu celingukkan melihat sekeliling kanan dan kirinya, tapi tidak menemukan apapun.


Bu Suti melangkah lagi kedepan hingga mepet ke dinding samping rumah Mahmud dan mendongak keatas melihat untuk memerikas sumber suara diatas genteng. Namun tidak menemukan apapun juga.


"Suara apa tadi ya?!" gumam Bu Suti heran.


Saking penasarannya Bu Suti memeriksa sekeliling rumahnya hingga berdiri tertegun di halaman depan rumah Mahmud sambil kembali melihat genteng rumahnya.


"Muuuud... Mahmuuud...!" seru Bu Suti.


Namun tidak ada sahutan dari dalam rumah Mahmud karena memang hanya ada Dede seorang diri yang sedang tidur di kamar.


Setelah ditunggu beberapa saat tidak ada sahutan, Bu Suti pun bergegas kembali masuk rumahnya.


Sementara yang tidak dapat dilihat Bu Suti, diatas gentengnya mahluk tak kasat mata itu meringis kesakitan sambil memegangi kedua kakinya. Tiba-tiba Sikuman Monyet perempuan itu tersentak melihat sebuah cahaya putih melesat dan berhenti di halaman rumah Mahmud. Monyet Siluman itu Kemudian langsung meloncat keatas melesat kearah selatan dan lenyap.


Mahluk besar berbulu hitam itu tak lain adalah Anggada Gini yang ditugaskan mengawasi tempat Kosim tinggal. Dia tidak tahu kalau rumah yang hendak dia masuki itu sudah dilindungi dengan pagar gaib berkekuatan tinggi oleh Gus Harun dan Abah Dul sejak awal-awal Kosim tinggal di rumah Mahmud.


to be continue....


......................


Aku ikhlas kok Nggak Di Jempolin dan di Favoritin, sambil ngenes...😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2