Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PERTAMA KALI KELUARNYA PUSAKA


__ADS_3

Beberapa saat kemudian acara sarapan bersama pun selesai, didahului Gus harun kemudian Abah Dul serta Mahmud.


“Loh, kok nggak ada yang nambah sih makannya,” seloroh Dewi.


“Sudah cukup kenyang mbak Dewi,” ujar Gus Harun.


“O iya, mbak Dewi nggak berangkat kerja? Apa karena kedatangan saya ya jadi mengganggu aktifitas mbak Dewi,” sambung Gus Harun.


“Ah, nggak kok Gus. Kebetulan saya ijin absen sampai hari sabtu


Gus,”


Tiba- tiba obrolan Basa- basiitu terputus ketika terdengar suara seseorang dari luar yang setengah berteriak mengucapkan salam. Nada suaranya terdengar panik. Seketika semuanya mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya.


“Assalamualaikum… Assalamualikum… Kang Mahmud! Kang…!”


“Seperti suara pak RT,” timpal Mahmud.


“Wa’ alaikum salam…” sahut Mahmud lalu segera beranjak menuju pintu depan.


Begitu Mahmud membuka pintu, langsung diberondong dengan permohonan seorang laki- laki paruh baya berusia 50 tahunan. Dugaan Mahmud benar yang datang mengucapkan salam dengan nada panik tersebut adalah pak


Asrul, ketua RT.


“Kang tolongin anak gadis saya kang!” kata pak RT berat dan bergetar.


“Tenang, tenang pak RT. Ada apa? Kenapa?” Mahmud berusaha menenangkannya.


“Mari masuk dulu pak,” ajak Mahmud.


“Nggak, nggak kang Mahmud. Cepat tolongin Tinah. Ayo ke rumah sekarang kang!” seru pak RT sambil menggapai lengan kanan Mahmud.


“I, iya. Tapi kenapa dengan Tinah pak?!” tanya Mahmud masih berusaha tenang. Padahal ia sendiri mulai nampak terbawa kepanikan pak RT.


“Kang Mahmud lihat saja langsung, saya sendiri nggak ngerti nggak tahu kenapa1” sergah pak RT.

__ADS_1


Tiba- tiba Abah Dul muncul dibelakang Mahmud yang masih berdiri di tengah pintu berhadapan dengan pak RT.


“Ada apa pak RT?” tanya Abah Dul.


“A, anu bah. Tinah,Tinah nggak tahu kenapa. Tolongin bah, cepat1” pinta pak RT.


“Ayo Mud, kita kesana. Mari pak RT,” sahut Abah Dul singkat.


“Gus, saya tinggal dulu ya!” sambung Abah Dul ditujukkan kepada Gus Harun yang masih duduk di ruang tengah.


Tanpa menunggu jawaban dari Gus Harun, Mahmud, Abah Dul dan pak RT pun segera beraanjak pergi meninggalkan rumah Mahmud menuju rumah pak RT yang hanya berselisih 5 rumah dari rumah Mahmud.


Mahmud dan Abah Dul memang sudah dikenal oleh masyarakat sekitarnya sebagai orang yang memiliki ilmu kebatinan. Keduanya sudah sering dimintai tolong oleh warga untuk mengobati orang sakit, orang kesurupan hingga orang yang terkena gangguan santet. Meski begitu Mahmud sendiri mewanti- wanti agar


masyarakat tidak menganggap dirinya paranormal, ia tidak mau jika masyarakat menyebut dirinya sebagai seorang paranormal.


Mahmud merasa ilmunya belum cukup jika disebut sebagai paranormal, tidak seperti Abah Dul yang ilmunya memang sudah mumpuni dan layak orang –orang menyebutnya paranormal. Bahkan nama Abah Dul sendiri memang sudah tersohor hingga keluar desa sebagai seorang yang berilmu kebatinan tinggi.


Namanya kian membuming setelah bebarapa bulan yang lalu berhasil mengungkap pelaku pesugihan yang sempat mebuat Kosim mendapat fitnahan dari warga tempat tinggalnya.


“Itu kang mahmud sama Abah Dul datang!” teriak seorang ibu- ibu saat melihat kedatangan pak RT yang membawa Mahmud dan Abah Dul.


“Permisi, permisi, permisi…” ucap pak RT melangkah didepan membuka jalan diantara kerumunan warga yang memenuhi pintu diikuti Mahmud dan Abah Dul di belakangnmya.


Semua pasang mata warga memandang mengiringi langkah Mahmud dan Abah Dul yang langsung masuk kedalam rumah mengikuti pak RT. Beberapa warga mengajak bersalaman dengan Mahmud dan Abah Dul.


Di ruang tamu yang tak begitu besar, diatas tikar terlentang seorang gadis berkulit hitam manis sedang meronta- ronta. Kedua tangan dan kedua kakinya dipegangi oleh bapak- bapak.


“Tidak! Tidak mau! Pergiiiii..!” gadis itu berteriak histeris. Tubuhnya meronta- ronta dengan raut wajah menyiratkan ketakutan yang teramat sangat.


Abah Dul langsung memposisikan duduknya di samping kepala Tinah, sedangkan Mahmud langsung mengambil alih kaki kanan yang dipegang seorang warga.


“Tidak! Tidak mau! Pergiiiii..!”


“Tidak! Tidak mau! Pergiiiii..!”

__ADS_1


“Tidak! Tidak mau! Pergiiiii..!”


Abah Dul menoleh kearah pak RT yang duduk mendampimgi disebelahnya, seraya bertanya; “Bagaimana bisa seperti ini pak RT?”


“Saya sendiri nggak begitu tau pastinya Bah…” jawab pak RT dengan suara terbata- bata dan gemetar.


Kemudian Pak RT menceritakan awal mulanya mendapati putrinya sudah dalam keadaan demikian. Pak RT mengatakan, hanya kalimat itu yang terus menerus diteriakkan oleh tinah semenjak tiba di rumah diantar oleh dua orang guru sekolahnya menggunakan mobil. Menurut keterangan dari gurunya, saat berlangsung kegiatan belajar di kelas tiba- tiba saja Tinah jatuh dari bangku belajarnya dan tak sadarkan diri. Beberapa menit setelah sadar dari pinsannya, Tinah malah bertingkah aneh. Ia menjerit- jerit hiteris seperti orang yang sedang ketakutan. Dan dari mulutnya hanya kalimat- kalimat itu saja yang diucapkan Tinah.


Abah Dul manggut- manggut usai mendengarkan keterangan dari pak RT. Keterangan itu sangat dibutuhkan Abah Dul sebelum melakukan penyembuhan. Setidaknya dirinya dapat memperkirakan mahluk tak kasat apa yang mengganggunya sekaligus akan menentukan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.


Sesaat kemudian Abah Dul memejamkan mata, ia mengerahkan mata batinnya untuk melihat mahluk tak kasat mata. Ia penasaran ingin melihat mahluk jenis apa yang telah menghantui Tinah itu sebelum menghajarnya. Mulutnya nampak bergerak membaca- baca amalan.


Sekitar 30 detik usai Abah Dul melafalkan bacaannya, seketika di hadapannya berdiri sesosok mahluk tinggi menjulang. Perawakannya tidak besar  namun sangat tinggi menjulang, Abah Dul spontan mendongakkan kepalanya untuk melihat rupa mahluk itu. Tingginya diperkirakkan 20 meteran membuatnya sedikit


kesulitan mengenali wajahnya.


“Astagfirullahal azim!” seru Abah Dul tertahan.


Seruan Abah Dul kontan saja membuat orang- orang yang ada di ruangan dan di luar rumah itu serempak menoleh kearah Abah Dul dengan raut wajah- wajah penasaran menunggu- nunggu ucapan selanjutnya dari Abah Dul. Apa yang


Abah Dul lihat?!


Tanpa dapat dilihat oleh orang- orang disekitarnya, sukma Abah Dul keluar dari raganya. Sukmanya perlahan- lahan membesar dan  membesar hingga menyamai tingginya mahluk gaib tersebut. Kini sukma Abah Dul dan mahluk gaib itu berdiri saling berhadap- hadapan. Abah Dul mencermati wajah sosok di depannya. Wajahnya nampak rata dan samar membias namun dari sekitar dahi mahluk itu diyakini Abah Dul terdapat sebatang tanduk. Ukuran panjangnya kurang lebih sekitar 10 cm- an.


“Kenapa kamu mengganggu anak ini?!” hardik Abah Dul.


Diawali dengan geraman mahluk itu menjawab dengan suara halus timbul tenggelam seperti terbawa hembusan angin, “Aku hanya suruhan!”


“Siapa yang menyuruhmu?!” tanya Abah Dul.


Namun mahluk itu hanya diam seperti menatap lekat- lekat sukma Abah Dul. Abah Dul tahu kalau mahluk itu sedang menatapnya meskipun mata mahluk itu hanya bias samar terlihat. Mahluk itu tak mau menjawabnya.


Tak mau berlama- lama Abah Dul langsung mengggerakkan tangan kanannya lurus menjulur keatas lalu sesaat berikutnya muncul kilatan cahaya putih berkilauan. Andai dilihat mata manusia pastilah akan langsung menutup


matanya karena saking silaunya kilatan cahaya itu.

__ADS_1


Kini digenggaman tangan Abah Dul terdapat sebuah tongkat berwarna kuning emas yang terus- menerus memancarkan sinarnya...


BERSAMBUNG....


__ADS_2