
Tuuuuuut...
Tuuuuuut...
Tuuuuuut...
Tuuuuuut...
“Angkat Muuuud, ayo angkat!” Gerutu Abah Dul kian gelisah.
“Gimana Dul?!” timpal sukma Gus Harun.
“Ngggak diangkat-angkat Gus,” jawab Abah Dul gusar.
“Sepuluh menit lagi Bah!” Kata Kosim mulai putus asa.
Abah Dul reflek melihat jam dinding, raut wahahnya sangat gusar. Dalam kondisi kekalutan yang teramat sangat, otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih, semuanya serasa buntu.
Tuuuuuut.... tuuuuuut...
“Maaf telpon yang anda tuju sedang di luar jangkauan atau tidak menjawab panggilan anda, silahkan coba beberapa saat lagi.” Suara dari operator seluler membuat Abah Dul semakin gusar.
“Gimana ini Gus?!” tanya Abah Dul pada sukma Gus Harun.
Sukma Gus Harun nampak berpikir keras, persoalan utamanya bukan soal tidak berani atau takut menghadapi Raja Kalas Pati yang memang kekuatannya jauh diatas dirinya maupun Abah Dul akan tetapi pertimbangannya soal berhasil atau kalah sia-sia. Jikapun saat ini meminta bantuan dua sahabat lainnya, Basyari dan Baharudin percuma saja karena waktunya yang sangat sedikit. Seandainya menghubungi Basyari dan Baharudin, laling cepatnya memakan waktu 5 menit untuk menemui kedua orang itu yang artinya waktu yang tersisa 5 menit lagi.
Gus Harun sangat bingung dengan situasi genting tersebut. Disisi lain kalau pun mengajak Basyari dan Baharudin kembali untuk bertarung dengan Raja Kalas Pati, sama saja dengan mengajak sahabat-sahabatnya itu bunuh diri.
"Bah, Gus, gimana ini? Apa yang harus dilakukan?!" tanya Kosim menambah kerumitan situasi.
Situasi ini sangat di luar kendali serta sangat di luar dugaan sebelumnya. Situasi yang benar-benar sangat membingungkan semuanya.
Dalam situasi serba buntu dan kebingungan, tiba-tiba terdengar suara dering telpon di hape Abah Dul. Abah Dul langsung melihat layar hapenya.
“Mahmud!” Seru Abah Dul langsung menerima panggilan telpon tersebut.
“Ya hallo Mud!” seru Abah Dul bersamaan menekan tombol jawab panggilan.
__ADS_1
“Selamat malam, apakah ini saudaranya yang punya hape ini?! Sahut suara dari seberang telpon.
“Betul pak, Mahmudnya kemana pak?” Tanya Abah Dul keheranan.
“Saya petugas dari kepolisian kota, pemilik hape ini mengalami kecelakaan di persimpangan lampu merah RA Kartini. Saat ini korban sudah di bawa ke RSUD.” Kata penelpon.
“Astagfirulllah... Innalillahi wa innailaihi rojiun...!” ucap Abah Dul suaranya bergetar.
Tangan Abah Dul yang memegang hape langsung terkulai lemas. Tubuhnya dihempaskan ke tembok sembari menghebuskan nafasnya kuat-kuat.
“Kenapa dengan mas Mahmud Bah?!” sergah Kosim bertambah panik.
“Ada apa Dul?!” timpal sukma Gus Harun.
“Mahmud kenapa Bah?!” susul ustad Arifin.
“Mahmud kecelakaan...” ucap Abah Dul lemas.
“Innalillahi wainnailaihi rojiuun...” seru ustad Arifin dan sukma Gus Harun.
Abah Dul nampak sangat gusar kebingungan bukan main. Ia di hadapkan dua masalah yang sangat pelik dan dua-duanya sama-sama dalam kondisi urgen yang mengancam nyawa.
Bagi Abah Dul, sosok Mahmud melebihi saudara kandungnya sendiri. Hubungan persahabatannya bisa dikatakan sudah tidak ada jarak lagi, dekat? Sangat dekat. Kebaikan Mahmud sudah sangat di kenal di masyarakat, Mahmud begitu baik bukan hanya pada Abah Dul, kepada masyarakat sekitarnya pun kebaikkan Mahmud sudah sangat melekat. Bagi Abah Dul dan masyarakat desa Suka Dami, sosok Mahmud sebagai Dewa Penolong, ia selalu ada di saat dimintai tolong bukan hanya tenaga dan pikiran saja, masalah uang pun Mahmud tidak perhitungan dan tidak segan-segan membantunya.
Di sisi lain, nyawa anak Kosim pun dalam ancaman tak kalah gentingnya. Bahkan hanya memiliki peluang waktu 10 menitan untuk menyelamatkannya. Meski pun Abah Dul tahu menyelamatkan nyawa Dede menjadi sebuah Mission Imposible baginya, namun jika tidak dilakukan upaya penyeleamatan pun membuatnya akan menyesal di kemudian hari.
Dalam puncak keputus asaannya akhirnya Abah Dul mengambil keputusan yang entah benar atau salah.
“Ayo kita pergi selamatkan Dede!” seru Abah Dul.
......................
Tiga kilatan cahaya berwarna putih melesat cepat membelah kabut-kabut pekat menuju arah selatan. Dalam sekejapan mata, ketiga cahaya putih itu berhenti di depan sebuah gerbang tinggi menjulang. Gerbang itu memancarkan cahaya kuning keemasan, nampak kilauan cahaya kuningnya berkilatan ketika cahaya-cahaya dari petir yang berkilatan membentuk garis menjilat-jilat keluar dari pekatnya langit. Gemuruh guntur sesekali terdengar menggema memenuhi langit.
Tiga cahaya putih yang tak lain sukma Abah Dul, sukma Gus Harun dan sosok berkabut Kosim tegak berdiri berjejer memandang gerbang emas itu.
Abah Dul langsung membuat gerakkan dengan merentangkan tangannya, ia nampak mengerahkan kekuatan tenaga dalamnya dengan di topang bacaan-bacaan khusus dalam bahasa Arab yang samar-samar terucap. Sesaat kemudian kedua tangannya di dorong kuat-kuat kearah gerbang tersebut.
__ADS_1
Boommmm...!!!
Suara dentuman terdengar menggelegar seantero langit hingga pijakkannya pun terasa bergoncang keras.
Seiring lenyapnya sùara dentuman itu ribuan kilatan-kilatan cahaya bermunculan dari atas, namun kilatan-kilatan yang muncul itu bukanlah kilatan dari cahaya petir.
Tiga cahaya putih yang tak lain sukma Abah Dul, sukma Gus Harun dan sosok berkabut Kosim terkesiap melihat cahaya-cahaya yang muncul dari atas langit itu berubah menjadi mahluk monyet-monyet besar dengan senjata-senjata tongkat dan pedang terhunus.
Melihat ancaman datang, sukma Gus Harun dan sukma Abah Dul langsung mengacungkan tangan kanannya ke atas dan seketika sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan muncul di ujung tangan sukma Gus Harun. Sesaat kemudian cahaya putih itu lenyap dan kini diujung tangan sukma Gus Harun sudah tergenggam senjata pusaka gaibnya, Cambuk Amal Rosuli.
Sementara sukma Abah Dul usai kilauan cahaya putih itu lenyap, kini diujung tangannya sudah tergenggam senjata pusaka gaibnya, Tombak Mata Kembar.
Sedangkan Kosim mengandalkan satu-satunya benda di genggaman tangannya berbentuk bulat sebesar telur angsa berwarna emas yang mengeluarkan cahaya kuning.
Melihat cahaya-cahaya menyilaukan dari tangan-tangan sukma Gus Harun, sukma Abah Dul dan Kosim membuat ratusan monyet-monyet bertubuh tinggi besar menyurutkan terjangannya yang hendak menyerang ketiganya.
Melihat monyet-monyet itu menutup mata dengan lengannya, seketika sukma Gus Harun, sukma Abah Dul dan Kosim menggunakan kelengahan itu untuk menyerangnya lebih dulu.
Senjata Cambuk Amal Rosuli di genggaman tangan Sukma Gus Harun melecut diarahkan menyapu ke arah sepasukkan monyet di depannya dengan gerakan viertikal. Seiring sapuan itu untaian Cambuk Amal Rosuli dari gagang hingga ujungnya mengeluarkan api menjilat-jilat merah melesat mengikuti gerakkan cambuk.
Tiga langkah disebelah kanan sukma Gus Harun, Sukma Abah Dul juga melakukan gerakkan yang sama. Dia mengibaskan Tombak Mata Kembarnya kearah pasukkan monyet di depannya. Seketika cahaya putih berkiblat membentuk siluet ilusi beerbentuk Tombak memapras pasukkan monyet.
Sementara itu Kosim yang menggenggam batu mustika telur naga melemparkan kuat-kuat kearah sepasukan monyet di depannya seperti melempar granat.
Daaaarrrr!!!
Booooommm!!!
Jedddarrrrr!!!!
Suara dentuman dari energi senjata-senjata yang di lancarkan sukma Gus Harun, Sukma Abah Dul dan Kosim terdengar susul menyusul mengguncangkan langit dan pijakkan ketiganya. Seketika sepasukkan di hadapan ketiganya bercerai berai, berpelantingan ke segala arah berbentuk potongan bagian-bagian tubuh.
Barisan ratusan monyet-monyet besar yang semula penuh sesak berbaris itu kini menyisakan pemandangan lapang dalam jarak beberapa puluh meter di depan sukma Gus Harun, sukma Abah Dul dan Kosim.
Namun ketiga sukma itu membelalakkan matanya melihat ada lapisan sepasukkan monyet yang lain di belakang monyet-monyet yang telah di musnahkan. Ketiganya saling memandang bergantian satu sama lain, nampak di raut wajah ketiganya menggurat kecemasan yang teramat sangat.
Bersambung....
__ADS_1
......................
🔴YANG BACA RIBUAN TAPI LIKE DIKIT AMIT nih... 🤕🤕🤕🤕🤕👏👏👏👏👏👏