
Satu persatu mereka menghilang dari rumah Mahmud untuk kembali ke tempat asalnya. Gus Harun dan Tuan Denta lenyap setelah mengucapkan salam kembali ke kediamannya di Banten, begitu pula dengan Kosim, sosoknya menghilang setelah berpamitan dan melesat menuju alam Kajiman.
Abah Dul, Mahmud dan ustad Arifin menghela nafas mendapati mahluk- mahluk tak kasat mata di hadapannya itu telah menghilang. Tak lama setelah itu Abah Dul juga berpamitan pulang untuk beristirahat karena kondisinya yang masih belum pulih sepenuhnya, lalu di susul ustad Arifin.
......................
Sementara itu di alam Kajiman,
Saat Kosim sampai di pintu gerbang alam Kajiman, ia di hentikan oleh dua mahluk yangmenjaga pintu masuk tersebut. Kosim sedikit kesal di perlakukan demikian seolah- olah dirinya bertindak sebagai mahluk yang di curigai dan tidak seperti biasanya ia di berhentikan.
"Tuan, tinggal di wilayah mana?!" tanya salah satu penjaga.
"Aku tinggal di wilayah tengah," jawab Kosim kemudian hendak melanjutkan langkahnya.
"Tunggu! Anda tidak boleh masuk dulu!" sergah penjaga sambil menahan langkah Kosim dengan memalangkan tombak diikuti oleh penjaga lainnya.
Kosim tersentak kaget langkahnya di halangi, wajahnya mendadak muram membesi. Tatapan matanya tajam mengarah pada kedua penjaga itu bergantian.
"Kenapa?!" tanya Kosim dengan nada keras.
"Di area tengah, baru saja terjadi pertarungan. Area itu tiba-tiba di serang oleh sepasukan mahluk dari golongan siluman monyet, mereka mencari sesosok menyebut-nyebut nama Kosim. Apakah nama yang dimaksud para siluman monyet itu anda?!" ungkap seorang penjaga bertubuh tinggi berwarna hitam legam.
Kosim terkesiap kaget mendengar penjelasan dari penjaga itu. Raut wajah nampak kian muram menunjukkan kemarahan yang meluap-luap dalam dirinya.
"Benar! Aku Kosim," jawab Kosim dengan suara bergetar.
"Kalau begitu ikut kami menghadap Raja, kami di perintah untuk membawamu menemuinya!" tegas penjaga itu.
Kosim merasa tak terima diperlakukan begitu, dirinya merasa seolah-olah menjadi mahluk penjahat. Dia pun menolak dengan keras saat penjaga itu hendak mencengkeram pergelangan tangannya. Secepat kilat Kosim menggerakkan lengannya berkelit menghindari tangan penjaga tersebut.
"Jangan melawan!" hardik penjaga lainnya.
"Apa salahku?!" sentak Kosim melawan.
"Karena anda sebagai penyebab yang membuat mahluk Kajiman menjadi tidak tentram dan terancam!" kata penjaga bertubuh hitam.
"Terancam?! Apa maksudnya?!" seru Kosim.
"Para mahluk siluman mengancam akan memusnahkan bangsa kita jika mahluk bernama Kosim masih berada di alam ini!" terang penjaga itu.
Kosim tesperangah mendengar penjelasan mahluk penjaga itu. Raut wajahnya kian muram, tatapannya dingin berkilat penuh amarah yang meledak-ledak.
__ADS_1
"Lalu untuk apa Raja Kajiman memintaku menghadapnya?!" tanya Kosim gusar.
"Kami tidak tahu, sebaiknya anda menurut saja!" hardik penjaga bertubuh hitam.
Selarik sinar kelabu membentuk untaian rantai tiba-tiba menjulur keluar dari telapak tangan penjaga bertubuh hitam. Untaian rantai berwarna gelap itu meluncur deras kearah tubuh Kosim yang berjarak 5 langkah darinya. Rantai itu seperti memiliki kesadaran sendiri membentuk ikatan **** hendak meringkus dan mengikat tubuh Kosim.
Kosim mendengus marah segera bergerak mundur dengan cepat menghindari jeratan rantai itu. Tali rantai itu berubah arah mengejar gerak tubuh Kosim.
Kosim mengangkat tangannya tinggi- tinggi tegak keatas. Lalu tiba- tiba tampak sekilat cahaya menyilaukan berwarna keemasan muncul di telapak tangannya yang terkepal.
Dua penjaga alam Kajiman kontan seketika menutup wajahnya dengan punggung tangan kirinya karena pancaran cahaya dari tangan Kosim itu sangat menyilaukan dan membuat panas mata mereka.
Cahaya keemasan yang terpancar dari telapak tangan Kosim itu berasal dari sebuah benda bulat sebesar telur angsa. Beberapa saat kemudian Kosim menggenggam erat- erat benda bercahaya emas itu di depan dadanya. Benda tersebut yang tak lain adalah Mustika Telur Naga Kencana seketika cahayanya menyelimuti sekujur tubuh Kosim membuat pertahanan.
Bersamaan itu tali rantai meluncur deras menghantam tubuh Kosim dengan ujung rantainya menjulur seperti kepala ular yang hendak menyelinap diantara tubuh Kosim untuk membuat ikatan meringkus Kosim. Akan tetapi kepala rantai itu tiba-tiba terpental dengan menimbulkan suara dentuman keras manakala menyentuh cahaya keemasan yang menyelimuti tubuh Kosim.
Duaarrrrr..!!!
Seketika tempat Kosim dan dua penjaga itu bergetar keras bersamaan suara benturan rantai dan cahaya Mustika Naga Kencana saling beradu. Bahkan getarannya mampu mengguncangkan seisi alam Kajiman.
......................
“Penjaga, ada apa ini?!” Teriak Raja Gandewa.
“Tuanku, kemungkinan ada pertarungan di depan gerbang!” kata salah satu penjaga.
“Pertarungan?! Siapa yang bertarung?!” Hardik Raja Gandewa.
Hanya sekejapan mata setelah getaran itu mengguncang alam Kajiman, para penjaga di luar istana melihat pancaran cahaya diatas langit yang berpendaran menerangi pekatnya langit. Penjaga itu lekas- lekas melesat datang melapor dan secara kebetulan para penjaga datang bersamaan dengan teriakkan Raja Gandewa yang memanggilnya.
“Kami belum mengetahui dengan pasti siapa yang bertarung!” sahut penjaga.
“Apakah siluman monyet itu datang lagi?!” kata Raja Gandewa bertanya pada dirinya sendiri sekaligus kepada dua penjaga di hadapannya.
Dua penjaga istana itu melaporkan dengan menceritakan apa yang mereka lihat tentang adanya pendaran cahaya emas yang menerangi langit.
“Ayo kesana! Siapkan sepasukan!” perintah Raja Gandewa kemudian dia berdiri dan melesat melayang keluar istana.
......................
Tali rantai terpental dan hancur berceceran kesegala arah. Dua penjaga gerbang alam Kajiman itu membelalakkan matanya lebar- lebar tak percaya melihat senjata paling di takuti mahluk Kajiman itu hancur bercerai- berai.
__ADS_1
Sekejap kemudian setelah keluar dari situasi terkejutnya, kedua penjaga itu lantas menarik pedangnya yang tergantung di pinggang kiri dan menghubusnya tegak lurus mengarah pada Kosim. Kedua mahluk itu bersiap melesat menerjang kearah Kosim.
Tiba -tiba gerakkannya tertahan oleh sebuah suara keras yang menggetarkan tempat itu.
“Tahan!”
“Hormat kami Raja Gandewa!” seru penjaga bertubuh hitam.
Raja Kajiman bersama sepasukan di belakangnya itu turun dan berdiri di samping dua penjaga.
“Siapa mahluk itu?!” tanya Raja Gandewa.
“Itu mahluk yang di cari siluman monyet tuan!” jawab salah satu penjaga gerbang.
“Kosim?!” sergah Raja Gandewa sangat terkejut.
Raja Gandewa lantas bergerak melayang mendekati tempat Kosim berdiri berjarak dua langkah didepan Kosim yang tubuhnya masih diselimuti oleh cahaya emas.
“Sudah, hentikan! Maafkan penjaga- penjaga kami!” seru Raja Gandewa.
Perlahan -lahan luapan kemarahan Kosim pun mereda setelah mendengar nada suara bersahabat dari Raja Gandewa. Cahaya emas yang menyelimuti tubuhnya pun berangsur- angur memudar lalu lenyap seketika bersamaan benda di genggamannya menghilang.
“Apakah benar anda mahluk bernama Kosim?!” tanya Raja Gandewa.
“Benar!” jawab Kosim masih tetap menjaga kewaspadaannya.
“Puji syukur, kalau begitu ikut saya ke istana. Ada yang ingin saya bicarakan,” kata Raja Gandewa dengan halus.
Kosim nampak masih ragu- ragu dan menyimpan tanda tanya besar di benaknya. Apakah ini merupakan jebakan atau memang benar- benar ada hal penting yang akan di bicarakan dengan dirinya. Kosim masih diam berdiri memandang lekat- lekat Raja Kajiman.
“Tenanglah, saya akan melindungi anda!” tegas raja Gandewa meyakinkan Kosim.
Mendengar itu Kosim pun mulai luluh dan percaya sehingga menganggikkan kepalanya.
“Baiklah...” sahut Kosim.
“Terima kasih, mari ikuti saya...” kata raja Kajiman.
Kemudian Kosim dan Raja Gandewa pun bergerak melayang meninggalkan gerbang alam Kajiman diikuti oleh pasukan yang datang bersama Raja Gandewa.
......................
__ADS_1
BERSAMBUNG....