Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Mahluk Misterius


__ADS_3

Hari ke-9 pukul 09.00 wib, cuaca yang sejak pagi buta cerah perlahan-lahan redup dan menampakkan awan mendung sepertinya akan turun hujan.


Abah Dul, Gus Harun dan Mahmud masih ngobrol di ruang tamu. Diatas meja tersaji gorengan pisang dan kopi.


"Pas nih, cuaca mendung gini minum kopi ditemani gorengan pisang, hehehe..." Celetuk Abah Dul.


"Padahal pagi tadi cuaca cerah ya, sekarang jadi mendung," kata Gus Harun.


"Sekarang sih nggak tentu kapan musim hujan kapan kemarau susah ditebak Gus," kata Abah Dul.


"Abah sama Gus Harun belum tidur dari semalam, ya?" Sela Mahmud setengah bertanya.


"Iya nih, sekarang mata kerasa udah mulai berat," jawab Abah Dul.


"Istirahat aja dulu Bah, Gus.." kata Mahmud.


"Ngabisin rokok ini dulu tanggung, hehehe..." Jawab Gus Harun.


Kosim muncul dari dalam terlihat sudah rapih dengan tas kecil nyelempang di dadanya.


"Gus, Abah, Kang Mahmud saya pamit dulu," kata Kosim sambil menyalami satu persatu.


"Mau kemana Sim?" Sahut Mahmud.


"Ada kerjaan Kang, teman ngajak di proyek perumahan di kota, lumayan lah." Jawab Kosim.


"Nanti nginep disana atau pulang?" Mahmud balik nanya.


"Pulang Kang, o iya motornya saya pake dulu ya Kang," ucap Kosim.


"Iya, hati-hati Sim jangan banyak ngelamun." seru Mahmud mengiringi Kosim melangkah keluar.


"Iya Kang.." Sahut Kosim.


Kosim berlalu melangkah menuju sepeda motor yang terparkir disamping rumah. Saat sudah duduk diatas sepeda motor, Kosim terdiam sejenak. Ia celingukan melihat sekelilingnya ia merasa seperti ada yang memperhatikan.


Kosim tidak menyadari ada sepasang mata merah sedang melihatnya dari atas pohon jambu air. Sepasang mata merah itu terus mengamati gerak-gerik Kosim dengan seksama.


Kosim pun lantas melanjutkan men-starter motornya, mesin langsung menyala dan beberapa saat memainkan gas untuk memanaskan mesin kemudian melajukan motornya meninggalkan halaman rumah Mahmud.


Seiring berlalunya Kosim menaiki sepeda motor, sosok mahluk gaib yang sedari tadi mengamati dari atas pohon jambu air pun seketika melesat keatas dan lenyap.


Rintik-rintik hujan mulai turun membasahi jalan aspal yang dilalui Kosim tanpa perasaan janggal sedikitpun. Dijalanan Kecepatannya hanya 60 km/jam tak terlalu kencang namun juga tak terlalu lambat.

__ADS_1


Di jalan raya pantura seperti biasanya sudah ramai dipadati kendaraan besar seperti bus, kontainer ataupun truk dengan ragam bunyi klaksonnya yang sesekali mengagetkan Kosim saat beriringan melewatinya.


Sepanjang jalan Kosim membayangkan pekerjaan yang akan didapatkannya. Adukan semen, sekop, naik turun bangunan, semuanya sudah ada dalam bayangan Kosim karena kerja sebagai kuli bangunan bukanlah yang pertama baginya.


Kosim memelankan laju sepeda motornya ketika lajur jalan didepannya menikung. Tetapi tiba-tiba Kosim tersentak kaget seketika membuyarkan lamunannya. Tangan dan kaki kanannya reflek menarik dan menginjak rem bersamaan. Akibatnya Kosim dan seperda motor nyaris terjatuh karena slip.


Dibelakangnya bunyi klakson terdengar keras dari kendaraan lain menambah Kosim terkejut. Sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi nyaris saja menabraknya jika saja sepeda motor Kosim tidak nyelonong ke kiri.


Sepeda motornya zig-zag oleng ke kiri sebelum terhenti akibat roda depannya masuk kedalam kubangan bekas roda mobil besar. Tubuh Kosim terdorong kedepan hingga dadanya menghantam kepala stang dengan telak.


"Aduh..!" Teriak Kosim sambil memegangi dadanya.


'Mahluk apa tadi? Besar banget,' kata Kosim dalam hati sambil meringis menahan kesakitan.


Barusan matanya dengan jelas melihat sekelebatan sosok besar tiba-tiba nyelonong menyeberangi jalan masuk kesemak-semak belukar ditepi jalan. Hanya 20 senti meteran dari roda depannya nyaris menabrak mahluk tersebut.


Kosim lalu turun dari sepeda motornya dengan penuh penasaran bergegas melangkah mencari ketempat mahluk tadi menyelinap di semak-semak. Akan tetapi matanya tak menemukan apapun disana bahkan jejaknya pun tak ada.


Ia pun kembali ke sepeda motornya yang masih terjerembab roda depannya terperosok kedalam kubangan bekas ban mobil yang lumayan dalam menelan hingga sepermpat rodanya.


Tak ada seorang pun ditempat itu yang menolon Kosim karena posisinya jauh dari pemukiman. Kosim sendirian berusaha menarik motornya dari kubangan dengan susah payah.


Beberapa menit kemudian akhirnya Kosim berhasil mengeluarkan roda depan motornya dari kubangan dengan belepotan lumpur di ujung celana levisnya. Kemudian ia pun kembali melanjutkan perjalanannya.


"Astagfirullah!" Ucap Kosim spontan.


Rasa trauma Kosim lebih mendominasi pikirannya ketika melihat monyet. Nyaris saja Kosim loncat dari motornya berniat berlari tetapi urung setelah sosok bermuka monyet itu bernyanyi sambil mengulurkan plastik bekas bungkus kacang kearahnya.


"Didepan orang tuaku kau malukan dirikuuuu..." nyanyian itu keluar dari balik topeng monyet disebelah Kosim.


"Sialan, cuma pengamen!" Gerutu Kosim dalam hati.


Kosim merogoh saku celananya dan mengambil receh lalu diberikannya pada pengamen tersebut. Antara kesal dan menertawakan diri sendiri mengingat kejadian tadi Kosim mesem-mesem diatas sepeda motornya.


Lampu merah berganti hijau, Kosim pun melanjutkan perjalannya menuju kota tempat proyek bangunan seperti yang diberitahukan temannya.


Kurang lebih 25 menitan Kosim sampai ditempat proyek. Didepannya terhampar tanah lapang serta banyak material-material bangunan, pasir, semen, kayu-kayu dan bebatuan bertumpuk berjajar dipinggir lokasi.


Beberapa kuli bangunan hilir mudik mengangkut adukan semen. Kosim berhenti tepat pada dua orang yang sedang berdiri mengamati bangunan. Yang satu gemuk pendek beusia 50 tahunan dan yang satunya berperawakan sedang seusia Kosim.


"Assalamualaikum, punten pak. Mau ketemu pak Mandornya," Sapa Kosim pada orang yang gemuk sambil menyalaminya.


"Waalaikumsalam, ya saya mandornya. Ada apa ya Mas?" Jawab pria gemuk.

__ADS_1


"Oh, kebetulan. Saya Kosim diminta teman saya Juned untuk ikut proyek disini pak, katanya masih butuh pekerja," jawab Kosim santun.


"Iya, iya mas. Betul, kita masih butuh pekerja. Itu Juned," kata Mandor sambil menunjuk kearah orang yang sedang mengoperatori mesin molen.


"Ned, Juded! Sini sebentar," Seru Mandor.


Tak lama seorang pemuda seusia Kosim datang tergopoh-gopoh, "Iya pak, eh ada Kosim. Ini pak orang yang saya bicarakan kemarin," kata Juned langsung nyerocos mengenalkan pada Mandor.


"Ya sudah saya percaya saja sama orang-orang yang kamu rekomendasikan Ned. Hal-hal pembayaran nanti bisa dibicarakan sama Juned ya, mas Kosim," kata Mandor.


"Iya pak, gampang soal itu sih." Sergah Kosim.


"Silahkan, bisa langsung bekerja sekarang. Pakaian kerjanya minta sama Juned ya," kata Mandor.


"Ayo Sim, ikut saya. Permisi pak," kata Juned berlalu dari hadapan Mandor.


Kosim dan Juned pun lantas berjalan menuju sebuah bangunan mess disudut lokasi perumahan.


"Ganti bajunya Sim, itu helmnya jangan lupa dipakai. Kamu tugasnya poles-poles menghaluskan tembok, Sim." Kata Juned.


Setelah memakai baju proyek yang dirangkapkan dengan kaosnya, Kosim bermaksud hendak mengambil helm proyek yang tergantung di dinding, tiba-tiba melintas didepannya sekelebatan sosok besar berbulu lebat berwarna kelabu menyambar tangan Kosim.


Dengan reflek Kosim menarik kembali tangannya, tangan Kosim lolos dari sambaran. Kelebatan sosok berbulu kelabu itu lantas menabrak dinding yang terbuat dari triplek dengan keras disebelah Kosim.


"Brakkkk!"


Juned yang hendak keluar mess terkejut dan menghentikan langkahnya mendengar suara itu yang disusul bunyi gemeretak dari atas bangunan.


"Siiiim, lariiiii..!" Teriak Juned yang melihat bangunan akan runtuh.


Juned langsung berlari keluar, sedangkan Kosim masih berdiri tertegun. Sedetik kemudian atap bangunan mess itu berjatuhan runtuh tepat diatas kepala Kosim.


"Toloooong... toloooong..." Teriak Juned panik.


Seluruh pekerja bangunan berlarian ketempat runtuhnya bangunan mess yang hanya terbuat dari kayu dan beratap seng.


"Didalam ada teman saya, tolong pak. Cepat tolong.." Seru Juned panik bercampur cemas, sambil menunjukkan dimana posisi Kosim berada.


Para pekerja proyek bangunan berdatangan lalu serentak bahu-membahu menyibakkan reruntuhan bangunan tepat diposisi Kosim tertimbun.


Mula-mula terlihat kaki Kosim tertindih kayu atap. Sedikit demi sedikit material reruntuhan berhasil disingkirkan dari atas tubuh Kosim yang tergeletak tak bergerak.


Tidak ada yang memastikan apakah Kosim masih hidup ataukah hanya pinsan. Sang Mandor langsung mengambil mobilnya membawa Kosim ke rumah sakit.

__ADS_1


......................


__ADS_2