Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Ilusi


__ADS_3

Kosim merasakan dirinya gugup perasaannya mengatakan kalau dirinya sedang diawasi oleh mahluk siluman monyet. Matanya sesekali melirik menatap ekor monyet yang keluar dari dalam gerobak pedagang seafood kaki lima. Dirinya sangat yakin yang dilihatnya itu adalah ekor monyet.


Makanan yang sudah dipesan seakan sangat lama datangnya. Kosim menoleh ke Arin dan Dede, keduanya masih asyik bercanda bermain. Duduk Kosim pun menjadi gelisah hatinya benar-benar tidak tenang.


"Monyet sialan! Dimana-mana selalu mengganggu. Atau jangan-jangan monyet itu..." gumam Kosim dalam hati.


Tiba-tiba Kosim meneggakkan badan ditempat duduknya. Kosim mencurigai kalau pedagang seafood itu menggunakan bantuan pesugihan. Timbul niatan untuk menyelidik keberadaan ekor monyet di gerobak seafood.


"Bisa jadi dia menggunakan pesugihan," pikir Kosim.


Kosim mengedarkan pandangannya melihat sekeliling seafood kaki lima. Pengunjungnya nampak banyak, ada sepuluh meja panjang yang berjajar di pinggir jalan semuanya terisi padat.


"Hmmm, nggak salah lagi nih," Kosim membatin.


Kecurigaan Kosim makin menguat melihat dengan ramainya pengunjung warung makan seafood kaki lima tersebut. Belum lagi banyak pembeli yang ngantri pesanan untuk dibawa pulang membuat dirinya sangat yakin pedagang itu menggunakan pesugihan.


Pikiran Kosim sudah dipenuhi rasa traumatik tentang monyet sehingga menimbulkan prasangka buruk. Bayangan-bayangan monyet yang memenuhi pikiran Kosim langsung buyar karena datang pelayan membawakan pesanannya.


Setelah menaruh makanan pesanan Kosim pelayan pun kembali ketempatnya, Kosim memandanginya penuh selidik hingga hilang diantara para pengunjung yang berdiri menyesaki sekeliling gerobak.


Sejenak dipandanginya makanan pesanannya diatas meja, kepiring saus tiram, kerang saus tiram, cah kangkung dan kerang kecap. Ada keraguan untuk menyantapnya, dia melirik Arin yang mulai memakannya.


Keraguannya pun hilang melihat Arin yang nampak menikmati kerang saus tiramnya, sesekali bergantian menyuapi Dede. Kosim pun akhirnya menyantap juga kepiring saus tiram didepannya.


"Mas, enak ya rasanya walau kaki lima tapi nggak kalah rasanya sama rumah makan seafood besar. Pantas aja ramai," kata Arin disela-sela suapannya.


"He-eh..." jawab Kosim.


Dasarnya Kosim otaknya sudah dipenuhi kecurigaan dan prasangka buruk, dihatinya menyanggah ucapan Arin meskipun mengiyakannya karena tidak ingin menimbulkan perdebatan.


"Ini pasti pengaruh dari pesugihan monyet!" Kata Kosim dalam hati.


Padahal Kosim sendiri sesungguhnya benar-benar merasakan kelezatan masakan seafood di mulutnya. Namun kejujuran rasa dilidahnya kalah oleh negatif thinkingnya yang sudah mengaburkan kebenaran.


Berlangsung 30 menitan kepiting saus tiram dan nasi dipiring Kosim ludes tak tersisa begitu pula dengan Arin saus tiramnya pun ludes hingga kuwah-kuwahnya.


Selesai makan Kosim beranjak dari duduknya melangkah mendekati salah satu pelayan yang berdiri dibelakang gerobak berniat untuk membayarnya. Sambil melangkah matanya terus menatap gerobak yang dilihatnya ada ekor monyet.


Rasa kecurigaan Kosim makin yakin, dia merasa yang dilihatnya ekor monyet itu seperti bergerak-gerak setelah seorang pelayan menyenggolnya.


"Udah mas, berapa semuanya?" Tanya Kosim tanpa mengalihkan tatapannya pada ekor monyet.


Beberapa saat pelayan itu menghitung, "Semuanya 60 ribu, Mas." Jawab pelayan.


Kosim mengambil dua lembaran 50 ribu dan 10 ribu dari dompetnya lalu mengulurkannya pada pelayan sambil bertanya, "Mas itu ekor monyet ya?" Sambil menunjuk bawah gerobak.

__ADS_1


"Ekor monyet?!" Pelayan heran balik tanya.


"Iya itu tuh yang keluar dari gerobak," kata Kosim sedikit ngotot.


"Mana...?!" Pelayan mulai tak senang.


"Pantesan ramai," celetuk Kosim sambil balik badan.


"Eh Mas, apa kamu bilang?!" Pelayan itu tersinggung.


"Iya pantesan ramai," ujar Kosim cuek sambil melangkah.


"Maksud kamu apa Mas?! Seru pelayan.


Pengunjung yang berada disekitarnya kontan terkejut mendengar teriakkan marah pelayan. Semua mata tertuju pada pelayan dan Kosim. Pelayan mengejar langkah Kosim dan menyongsongnya hingga menghentikan langkah Kosim.


"Apaan sih?!" Kosim bereaksi mendorong pelayan.


"Maksud kamu apa, hah?! Menghina ya?!" Bentak pelayan.


Beberapa pengunjung mendekat melerai keduanya. Namun pelayan itu terus merangsak sambil menunjuk-nunjuk kearah Kosim. Temannya datang berusaha menenangkannya.


Kosim semula nampak cuek tidak mau meladeni kemarahan pelayan itu tetapi tiba-tiba berbalik badan ingin menunjukkan membuktikan sangkaannya setelah pelayan itu meneriakinya.


Pengunjung mengerubuti melihat keributan Kosim dan pelayan dengan raut muka penuh tanda tanya karena tidak ada yang tahu penyebabnya.


"Mana?!" Seru pelayan.


Semua mata pengunjung melihat Kosim berjalan di balik gerobak. Seketika Kosim terkesiap, dia tertegun sejenak melihat apa yang sebelumnya dia lihat sebagai ekor monyet ternyata hanyalah selang gas.


"Maaf, maaf Mas. Saya salah lihat." Ucap Kosim dengan muka malu bergegas melangkah keluar dari warung seafood.


"Huuuuuuhhhh..." suara pengunjung serempak menyoraki Kosim.


Kosim lekas-lekas melangkah menyusul Arin yang sudah lebih dulu di parkiran. Beruntung Arin tidak mengetahui keributan tadi, jika tadi Arin melihatnya tentunya ikut merasa malu dengan tindakkan suaminya.


Sepanjang perjalanan pulang Kosim terdiam seribu bahasa. Dirinya tak habis pikir kenapa mencurigai hal-hal sepele hingga membuat dirinya malu setengah mati.


Siluman monyet seperti menjadi sosok yang menghantui perasaan dan pandangan Kosim. Ilusi yang diciptakan dari pandangan matanya bukan hanya memalukan namun juga nyaris menimbulkan perkelahian.


......................


MALAM PERTAMA KEPULANGAN KOSIM DI RUMAHNYA,


Jarum jam di dinding kamar sudah menunjukkan angka 10 malam, didalam kamarnya Kosim belum juga bisa memejamkan matanya. Dilihatnya Dede dan Arin nampak sudah tidur lelap disampingnya.

__ADS_1


Bayangan-bayangan monyet terus bermain-main dipikirannya meskipun Kosim sudah berusaha untuk tidak memikirkannya namun tegap saja monyet-monyet itu muncul dipikirannya.


Kosim benar-benar gelisah, pergumulan antara pengen tidur dengan susah tertidur membuatnya kesal. Kosim merubah posisi tidurnya dengan miring ke kiri, beberapa saat kemudian berubah lagi miring ke kanan tetapi tetap saja matanya tidak bisa diajak merem.


"Tek..."


"Tek..."


"Tek..."


"Tek..."


"Tek..."


Suara detikan jarum jam yang berputar pelan pun seperti terdengar sangat jelas di telinga Kosim hingga semakin membuatnya terganggu. Sedikit kesal Kosim bangkit dari pembaringannya berniat untuk ngopi di ruang tamu. Sejenak berdiri disisi dipan menatap istri dan anaknya lalu melangkah keluar kamar.


"Telpon Mas Mahmud aja deh," gumam Kosim sambil melangkah ke dapur.


Suara-suara jangkrik bersahutan dengan suara kodok menemani kesendirian Kosim. Tak lama kemudian Kosim sudah menenteng gelas kopi keluar dari dapur dan menyambar hape yang tergeletak diatas bupet ruang tengah.


Setelah duduk di kursi tamu Kosim langsung membuka hapenya untuk menelpon Mahmud. Kosim menyeruput kopi sambil menunggu Mahmud mengangkat telpon.


"Tuuuuut..."


"Tuuuuut..."


"Tuuuuut..."


"Tuuuuut..."


Nada sambung berulangkali bunyi namun tak kunjung dianhgat.


"Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab atau sedang berada diluar jangkauan silahkan tunggu bebrapa saat lagi."


Kosim menutup panggilan telponnya. Lalu berinisiatif menulis pesan melalui Whatsapp.


"Assalamualaikum, mas angkat telponnya," tulis Kosim.


Pesan pun terkirim, beberapa saat dilihatnya lagi pesannya namun masih contreng hitam. Mahmud belum membaca pesannya.


"Apa Mas Mahmud sudah tidur ya," gumam Kosim.


Kosim menyalakan sebatang rokok lalu kembali menyeruput kopinya. Pikirannya melayang merenungi semua peristiwa yang berkaitan dengan monyet.


"Kenapa saya pulang padahal sangat berbahaya," Kosim membatin.

__ADS_1


Harusnya saya menuruti kata Mas Mahmud untuk tetap tinggal disana. Kosim sendiri merasa heran dengan keputasannya pulang. Bagaimana kalau para siluman monyet tiba-tiba datang?


Dalam kesendiriannya dan dalam pikiran normal muncul penyesalan secara tiba-tiba. Kosim seperti baru tersadar dengan kondisinya saat ini. Namun sudah terlanjur berada di rumahnya, mau tidak mau harus melewatinya apapun resikonya.


__ADS_2