
Nyaris secara bersamaan, di ujung tangan kanan Gus Harun muncul cambuk amal rosuli yang mengeluarkan cahaya putih menyilaukan. Di ujung tangan Abah Dul muncul tombak bermata tiga yang disebut senjata pusaka trisula, di ujung tangan Basyari kini sudah tergenggam pedang besar yang bernama pedang Abu Bakar, dan di ujung tangan Baharudin tergenggam tongkat Pagar Alam.
Sementara itu, di ujung tangan Tuan Samanta terhunus pedang merah yang panjang dan besarnya dua kali lipat dari pedang Abu Bakar di tangan Basyari. Di ujung tangan Tuan Gosin juga sudah tergenggam pedang memiliki ujung mata yang besar dan di punggung pedang terdapat gerigi-gerigi tajam.
Bersamaan dengan ayunan tongkat emas dari Raja Kalas Pati yang menyasar ke arah posisi Tuan Denta dan Raja Kajiman, kelima kilatan cahaya putih beriringan dengan satu kilatan cahaya merah datang dari atas menghujam ke arah meluncurnya tongkat emas. Seketika tongkat emas Raja Kalas Pati dan keenam kilatan saling bertabrakan menimbulkan suara dentuman yang sangat keras disertai dengan bergetarnya istana.
Tuan Denta dan Raja Kajiman terpental oleh dorongan kekuatan akibat beradunya gabungan tujuh kekuatan besar. Pendaran cahaya dan percikan api bertebaran melayang sekitar sepuluh jengkal di atas kepala Tuan Denta dan Raja Kajiman. Begitu pula dengan Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Tuan Samanta, dan Tuan Gosin, tangan mereka masing-masing seolah-olah terbakar merasakan panas yang sangat luar biasa.
Dahsyatnya bentrokan kekuatan tersebut membuat senjata-senjata di tangan Gus Harun dan yang lainnya terpental jatuh ke halaman istana dan menancap di tengah-tengah antara tubuh Tuan Denta dan tubuh Raja Kajiman. Hampir saja salah satu senjata tersebut menancap di tubuh Tuan Denta jika saja Tuan Denta tidak waspada dan tidak cepat-cepat berguling ke samping kanannya.
Wuuussssshhh…
Belum sempat hilang dari keterkejutannya dan selamat dari hujaman senjata sahabat-sahabatnya, Tuan Denta kembali terbelalak. Di atasnya, Tuan Denta melihat cahaya kuning emas dengan suara menderu yang kian kencang terus meluncur deras ke arahnya. Tuan Denta tertegun terpaku di tempatnya terbaring tanpa berupaya melakukan tindakan apa pun.
__ADS_1
Tongkat emas yang besar tersebut tetap melaju dengan deras meski sudah dihadang oleh kekuatan gabungan dari enam cahaya yang dilepaskan oleh Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Tuan Samanta, dan Tuan Gosin melalui sabetan senjata masing-masing.
Tuan Denta hanya menatap lebar-lebar tongkat emas Raja Kalas Pati yang terus meluncur deras ke arahnya. Namun saat merasakan hawa panas yang semakin terasa di tubuhnya, barulah dia tersadar posisinya dalam bahaya besar. Sekuat tenaga, Tuan Denta mengerahkan sisa-sisa kekuatannya untuk menjauh dari posisinya.
Buuuummmm!!!
Tongkat emas melesak ambalas di lantai halaman istana menimbulkan suara dentuman yang lebih keras dibandingkan suara dentuman saat beradu dengan enam kekuatan sebelumnya. Serpihan-serpihan lantai istana seketika berterbangan ke segala arah, membuat kerusakan di berbagai tempat. Seperti halnya dinding-dinding benteng yang mengalami kerusakan parah di beberapa bagian. Bahkan salah satu tiang istana pun tampak sompal di sana-sini dan nyaris ambruk. Debu-debu mengepul membentuk awan menutupi area hujaman dan langsung mengepulkan asap yang membumbung ke langit.
Di posisi Tuan Denta yang sebelumnya belum sempat bangkit, tubuhnya langsung merasakan tubuhnya terbanting keras seperti dihantam oleh beban ribuan ton akibat tertimpa tongkat emas Raja Kalas Pati. Sosok Tuan Denta sudah tak terlihat lagi di permukaan halaman istana, di posisinya semula yang nampak hanya tongkat emas yang melesak tertancap ke dalam.
Raja Kajiman menggeliat-geliat kelojotan merasakan panas yang sangat luar biasa menjalar di seluruh tubuhnya, tak ubahnya seperti dipanggang di atas bara api. Sesaat kemudian, tubuhnya perlahan-lahan menggelosoh terkulai dan terdiam tak bergerak lagi.
Sementara itu, di luar benteng istana, di mana ratusan ribu prajurit siluman monyet sedang berbaris siaga, juga turut terpelanting akibat hujaman senjata Raja Kalas Pati. Tubuh mereka terpelanting saling berterbangan dan menimpa prajurit-prajurit lain, saling tumpang tindih. Para prajurit siluman monyet yang posisinya lebih dekat dengan jarak ledakan pukulan tongkat emas langsung musnah bersamaan tubuh mereka berjatuhan menimpa prajurit yang lain.
__ADS_1
Beruntung bagi Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Tuan Samanta, dan Tuan Gosin, andai saja mereka tidak terpental lebih awal, mungkin saja nasibnya akan sama dengan para prajurit siluman monyet. Saat ledakan hujaman tongkat emas ke enam, sosok yang sedang melayang akibat hempasan hawa bentrokan sebelumnya, hanya merasakan sedikit dorongan pada tubuh mereka, membuat mereka semakin menjauh dari area ledakan.
Sesaat kemudian, di langit tampak enam cahaya terjun bebas ke bawah seperti meteorit. Satu persatu, tubuh Gus Harun dan yang lainnya berjatuhan dengan jarak tak begitu berjauhan. Setelah tubuh mereka berjatuhan ke dasar, nampak Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Tuan Samanta, dan Tuan Gosin terlihat tak ada tanda-tanda gerakan dari tubuh mereka.
Di alam manusia,
Mahmud sudah duduk selama 30 menit untuk menjaga tubuh Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin yang tengah duduk bersila tanpa bergerak. Namun tiba-tiba Mahmud tersentak kaget tak terkira. Mahmud melihat tubuh Gus Harun serta tiga sahabat lainnya berguncang-guncang dengan keras. Sesekali tubuh Gus Harun dan yang lainnya terlihat bergerak ke kiri, ke kanan, ke depan, bahkan ke belakang seperti terhentak keras. Mahmud melihat pada dahi keempat sahabatnya mengeluarkan peluh yang terus mengalir deras seperti sedang berada dekat dengan perapian. Bahkan tangan serta baju mereka seketika basah oleh keringat yang bercucuran.
“Astagfirullahal’azim!” pekik Mahmud panik.
Mahmud dibuat bingung setengah mati, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya untuk membantu Gus Harun dan yang lainnya. Melihat kondisi empat sahabatnya, seketika yang terlintas di dalam benak Mahmud adalah Gus Harun dan sahabat-sahabatnya sedang dalam keadaan terbakar. Mahmud bergegas berdiri dari tempat duduknya dan berlari ke bak mandi. Tak lama kemudian, Mahmud muncul lagi di ruang tamu sambil menenteng ember berisi air.
Tanpa berpikir lebih jauh, Mahmud langsung menyiramkan air di dalam ember ke kepala Gus Harun, lalu berganti ke kepala Abah Dul, Basyari, dan Baharudin. Mahmud membagi air di dalam ember hingga habis. Merasa belum cukup, Mahmud kembali berlari mengambil seember air lagi dan mengguyurkannya satu persatu ke kepala dan tubuh Gus Harun serta yang lainnya.
__ADS_1
Mahmud semakin tersentak kaget melihat reaksi dari keempat tubuh di hadapannya. Sesaat setelah tubuh Gus Harun, Abah Dul, Basyari, dan Baharudin disiram air, nampak dari masing-masing empat tubuh itu mengepulkan asap tipis.
“Apa yang terjadi dengan mereka?!” gumam Mahmud terduduk memperhatikan tubuh mereka satu per satu. **BERSAMBUNG