
Dua malam sebelum penyerangan...
Selepas waktu isya, Mahmud sedang menunggu kedatangan Abah Dul dan Gus Harun. Mahmud duduk santai di teras depan rumahnya.
Sementara itu di ruang tengah Dewi dan Arin sibuk menyiapkan hidangan untuk makan malam bersama.
Satu sangku nasi, ikan goreng, sayur asam, sambal terasi dan lalapan seperti petai, mentimun dan daun singkong serta ikan goreng gurame tertata apik diatas tikar. Siapapun yang melihat tampilannya, sungguh menggugah selera makan.
Setelah selesai menata hidangan Dewi kembali masuk ke dapur. Sementara Arin sesaat termangu menghadap hidangan yang baru saja di tatatnya.
“Mas Kosim, Dede...” gumam Arin spontan.
Ingatan Arin langsung melambung jauh teringat dengan suami dan putra kecilnya itu. Situasi yang sama mengingatkannya akan Kosim yang senantiasa memangku putra semata wayangnya tepat di posisi Arin termangu.
Gambaran beberapa bulan yang lalu kembali muncul dipelupuk matanya. Dede, bocah berusia 3 tahunan bergelayut manja di pangkuan Kosim. Dengan sabar sesekali Kosim menyuapi Dede, meski dirinya sedikit kesusahan untuk makan.
Tanpa disadarin Arin menyunggingkan senyum melihat bayang- bayang suami dan putranya yang muncul berasa nyata di hadapannya.
"Riiiin...!" seru Dewi dari dapur.
Namun Arin tak mengidahkannya, ia nampak masih terhanyut dalam ilusi bayangan Kosim dan Dede yang diciptakan oleh pikirannya.
"Ariiiiin...!" suara Dewi kembali terdengar.
"I, iyy, iyya mbak..." Arin mengerjapkan kedua matanya terhentak kaget oleh suara panggilan Dewi.
Sekejapan mata bayangan Kosim dan Dede di hadapannya lenyap seketika. Arin buru- buru mengusap lelehan air mata yang sempat luruh dibawah matanya.
Arin bergegas bangkit dan melangkah meninggalkan ruang tengah tempat makan bersama yang mengingatkannya kembali dengan suami dan anaknya.
......................
Di alam Kajiman,
Kosim tengah duduk bersila dengan mata terpejam, tiba- tiba membuka matanya. Telinganya mendengar sayup- sayup suara yang tak begitu asing.
"Arin...." gumam Kosim.
Kosim segera menyudahi semedinya yang merupakan aktifitas rutinnya yang di mulai semenjak alam mulai memasuki pergantian malam.
Ia langsung mengerahkan pandangan spritualnya menerawang menuju rumah Mahmud untuk melihat keadaan disana.
Mula- mula Kosim melihat kakak iparnya sedang duduk di teras depan rumah. Kemudian Kosim melanjutkan penglihatannya kedalam rumah.
__ADS_1
Di ruang tengah Kosim melihat banyak makanan yang sudah tertata rapih diatas tikar. Kosim menelan air liurnya melihat makanan- makanan itu yang kesemuanya merupakan makanan kesukaannya.
Pandangannya terpaku pada sosok wanita yang duduk bersimpuh di tempat yang biasa ia duduki setiap kali makan bersama. Wanita yang tak lain adalah Arin itu namapk sedang terbengong- bengong menatap makanan di depannya.
Seketika Kosim terhenyak manakala ia mengetahui ada air bening meleleh dari kedua mata Arin. Wajah Kosim seketika menjadi sedih melihat keadaan istrinya.
Sesaat Kosim turut hanyut merasakan kedukaan yang sedang Arin rasakan. Tiba- tiba mata Kosim nyalang liar, ketika ia teringat dengan putranya. Kedua tangannya mengepal kuat- kuat, sorot matanya membesi tersirat kemarahan yang teramat sangat.
Kosim berdiri lalu wujud siluetnya melesat dengan menerobos tempat tinggalnya. Kosim pergi meninggalkan alam Kajiman.
“Assalamualaikum...”
Suara lebih dari satu orang mengucap salam secara bersamaan itu sedikit mengagetkan Mahmud yang sedang duduk sendirian di teras.
“Wa alaikum salam...” jawab Mahmud mendongakkan wajahnya melihat dua orang yang datang.
“Monggo, monggo...” ucap Mahmud mempersilahkan Abah Dul dan Gus Harun untuk naik ke teras.
Abah Dul dan Gus Harun menyalami Mahmud lalu duduk saling berhadapan di lantai teras.
“Kita makan bersama dulu ya, Bah... Gus...” ucap Mahmud.
“Ealah, kok jadi ngerepotin kang Mahmud,” timpal Gus Harun.
“Tapi sayang ya Mud, nggak seperti dulu. Formasinya sudah berbeda, nggak ada Kosim dan mang Ali, hehehe...” seloroh Abah Dul.
“Iya juga ya Bah, hehehe...” Mahmud menimpali.
“Ngobrolnya di dalam aja yuk, banyak nyamuk diluar sini sih. Biar enn...” ucapan Mahmud terhenti oleh seruan suara dari dalam rumah.
“Maaas... sudah pada datang belum? Sudah siap nih!” suara Dewi teredengar sedikit keras.
Tapi tak lama setelah Dewi menanyakan itu, ia muncul di pintu dan sangat terkejut melihat sudah ada Abah Dul dan Gus Harun.
“Eh, maaf, maaf... punten Abah, Gus kirain belum datang,” ucap Dewi buru- buru meminta maaf karena merasa teriakannya kurang sopan.
“Hehehe... nggak apa- apa mbak, kita juga baru sampai kok,” sergah Gus Harun.
“Monggo, makan dulu Gus, Bah...” ucap Dewi.
Bersamaan Mahmud, Gus Harun dan Abah Dul masuk ke dalam rumah, tiba -tiba sesosok siluet transparan muncul di teras rumah.
“Astagfirullah!” Pekik Abah Dul yang berada paling belakang.
__ADS_1
Gus Harun dan Mahmud kontan menoleh kebelakang mengikuti pandangan Abah Dul dengan raut wajah penuh tanda tanya.
“Kenapa Dul?!” Tanya Gus Harun spontan.
Mahmud hanya menganggukan kepala mengikuti pertanyaan dari Gus Harun.
“Mas Kosim?!” Gumam Gus Harun.
“Kosim?!” Timpal Mahmud.
“Ayo sekalian ikut makan Sim,” ajak Abah Dul.
Kosim menyunggingkan senyuman lalu menganggukkan kepalanya mengekor dibelakang mereka yang melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah.
Tak lama setelah sampai di ruang tengah, Abah Dul terceguk melihat hidangan yang sangat menggoda seleranya.
“Wow, luar biasahhh!” seloroh Abah Dul langsung mengambil tempat duduk menghadap timur.
Diikuti oleh Gus Harun menghadap utara dan Mahmud duduk di sebelah Gus Harun. Sementara Kosim dengan wujud siluetnya masih tampak berdiri dengan tatapan nanar.
Dewi dan Arin muncul membawa ceret dan gelas dari dalam dapur. Saat Arin hendak duduk, buru- buru Abah Dul mencegahnya.
“Rin, Rin... punten jangan duduk di situ ya,” sergah Abah Dul.
Arin terhenti setengah jongkok, spontan ia mengurungkan niatnya duduk di tempat yang biasa Kosim duduki dengan wajah bingung.
“Kenapa sih Bah?!” tanya Arin heran.
“Ada tamu istimewa,” balas Abah Dul mesem- mesem.
“Tamu istimewa? Siapa Bah?!” sela Dewi yang juga keheranan.
Abah Dul tak menjawab, ia hanya senyum- senyum saja yang membuat Arin dan Dewi keheranan. Lalu Dewi dan Arin mengalihkan tatapannya pada Mahmud meminta jawaban darinya.
Mahmud yang ditatap oleh istri dan adik iparnya, seketika gugup dan bingung untuk menjawabnya. Mahmud pun menolehkan pandangannya pada Gus Harun.
Gus Harun yang merasa jadi orang terakhir mau tidak mau merasa terbebani untuk menjawabnya.
“Mmm, turuti aja kata Dul mbak Arin, mbak Dewi,” ucap Gus Harun terdengar bijaksana.
Meski masih diliputi tanda tanya, namun Arin dan Dewi mengikutinya. Arin tak jadi duduk di tempat yang biasa Kosim tempati menghadap selatan, ia sedikit menggeser duduknya lebih menyerong.
Kosim yang berdiri sedikit tersenyum dengan pandangan nanar menatap Arin. Ia pun kemudian bergerak melayang melewati punggung Abah Dul lalu duduk di sebelah kiri diantara Arin dan Abah Dul.
__ADS_1
......................