Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PERTEMUAN TAK TERDUGA


__ADS_3

Mahmud melangkah hati- hati mendekati sosok yang sedang terbaring meringkuk membelakanginya menahan kesakitan diatas batu. Terdengar Suara erangan terus menerus keluar dari sosok tersebut, Mahmud merasa sangat penasaran dengan sosok di hadapannya karena merasa mengenalinya.


Dengan tangan gemetar, Mahmud menjulurkan tangannya untuk menyentuh punggung sosok tersebut. Melihat dari pakaian dan penampilannya, Mahmud merasa semakin yakin kalau sosok dihadapannya saat ini adalah sosok yang dia kenal.


“Tu, tuan…” panggil Mahmud dengan suara bergetar.


Sosok yang dipanggil tidak memberikan reaksi sehingga membuat Mahmud merasa gamang seketika, Meski dirinya merasa sangat yakin kalau sosok tersebut adalah orang yang dia maksud, tetapi seketika keyakinannya hilang manakala mengingat tempat ia berada saat ini. Hati kecil lainnya mengatakan tidak mungkin sosok yang ia kenal itu berada di tempat ini. Bahkan Mahmud sendiri tidak tahu tempat apa dan dimana dirinya berada.


“Tu, tuan Den… tuan Denta…?” ucap Mahmud setengah bergumam.


Rupanya sosok yang dipanggil tuan Denta tersebut mendengar suara Mahmud, seketika erangannya berhenti lalu perlahan- lahan membalikkan badannya. Saat itu juga Mahmud melihat dengan jelas wajah sosok tersebut dalam kondisi pucat pasi. Bibirnya terlihat gemetaran sambil terus meringkuk merapatkan kedua tangannya diantara kedua kakinya yang


ditekuk menyentuh perut.


“To, tol… long… ak.. u… tu.. tua.. n…” ucap sosok yang dipanggil tuan Denta dengan suara lirih seperti menahan rasa sakit yang teramat sangat.


“Tuan Denta? Benarkah anda tuan Denta?!” tanya Mahmud terkesiap.


“Tu, tuan ma… h mud… be.. benar.. kah i.. itu tua..n Mah.. mud?” tuan Denta balik tanya dengan sorot mata penuh pengharapan besar.


“Be, benar tuan Denta. Astagfirullahal azim! Tuan, apa yang terjadi dengan tuan?!” Mahmud kembali bertanya sembari duduk disisi batu yang


menyerupai ranjang tersebut.


“To.. tolong… tu.. tuan.. cep.. at… to.. long ak.. u…” suara tuan Denta gemetaran dan semakin melemah.


“Baik tuan! Saya akan mencoba menolong tuan,” sahut Mahmud lalu menempelkan telapak tangannya pada bagian dada tuan Denta.


Saat Mahmud menempelkan telapak tangan di dada tuan Denta, seketika itu juga Mahmud langsung menarik tangannya kembali sembari terpekik; “Astagfirullah!”


Mahmud sangat kaget teramat sangat sampai- sampai dirinya tersurut mundur dari duduknya dan hampir terjatuh. Telapak tangan Mahmud merasakan panas yang luar biasa saat menyentuh dada tuan Denta. Sesaat Mahmud terlihat panik sekaligus bingung apa yang harus


dilakukannya.


“Tu.. tuan… gu.. na.. kan.. ba.. batu.. mus.. tika.. ra.. ja u.. lar i.. itu…” ucap tuan Denta manakala melihat Mahmud terkejut dan terlihat bingung.

__ADS_1


Mahmud spontan meraba cincin bermata batu merah delima di jari manis tangan kirinya. Tiba- tiba muncul semburat cahaya merah dari sela-


sela jari Mahmud yang sedang mengusap- usap batu cincinya.


“Cepat… a.. rah.. kan… ba.. tu.. i.. tu.. ke.. tubuh.. ku tu.. an..” ucap tuan Denta melihat pancaran cahaya merah tiba- tiba keluar dari jari Mahmud.


Mahmud buru- buru mengalihkan jemari yang mengusap- usap batu cincin diatasnya, lalu segera mendekatkan cincinnya ke dada tuan Denta. Seketika itu juga semburat cahaya merah yang keluar dari cincin seolah- olah masuk


kedalam tubuh tuan Denta. Tuan Denta langsung bereaksi, tubuhnya meronta- ronta nampak menahan rasa sakit yang teramat sangat.


“Tuan…! Tuan Denta..!!!” panggil Mahmud sangat khawatir melihat keadaan tuan Denta yang kesakitan.


Mahmud berniat untuk menarik kembali


cincinnya agar tuan Denta tidak kesakitan, namun sebuah cengkeraman tangan tuan


Denta menahannya dengan mengerahkan sisa- sisa kekuatan yang ada pada dirinya.


“Ja.. ngan.. alihkan … mus… tika itu .. tuan…” sergah tuan Denta.


Mahmud pun mengurungkan niatnya, jemari tangan yang terdapat cincin mustika raja ularnya terus didekap tuan Denta dan bahkan semakin ditekan ke dada oleh tuan Denta sendiri. Tubuh tuan Denta tampak kelojotan dan terlihat sangat kesakitan sekali. Mahmud tak tega melihat kejadian yang menyakitkan itu, ia pun cepat- cepat memejamkan matanya agar tidak melihat reaksi kesakitan tuan Denta berlangsung.


Mahmud segera membuka kedua matanya


kembali untuk memeriksa keadaan tuan Denta. Di lihatnya tuan Denta kini terbaring dengan tubuh lurus, tidak lagi dalam kondisi meringkuk. Namun tangan tuan Denta masih memegang erat punggung telapak tangan Mahmud yang terdapat cincin mustika raja ular tersebut untuk terus menempel di dadanya.


Mahmud menarik nafas lega ketika melihat


kondisi tuan Denta yang sudah mulai terlihat tenang. Nafasnya pun mulai teratur, bahkan raut wajah tuan Denta tak lagi sepucat pasi seperti sebelumnya. Namun tuan Denta masih memejamkan matanya rapat- rapat.


‘Kenapa tuan Denta berada di tempat ini? Lalu tempat apa ini sebenarnya?’ tanya Mahmud dalam hati.


Beragam pertanyaan menggumpal di kepala Mahmud terutama tempat ia berada saat ini. Ditambah lagi kejadian yang tak terduga pertemuannya dengan tuan Denta. Satu – satunya jawaban dari semua pertanyaan yang terpendam hanyalah pada tuan Denta. Mahmud meyakini kalau tuan Denta mengetahui tempat ini.


Mahmud masih terus sabar menunggu tuan

__ADS_1


Denta pulih dan membuka matanya. Sekilas Mahmud  memperhatikan kondisi tubuh tuan Denta, dan dirinya baru menyadari kalau kain yang melapisi tubuh tuan Denta mengalami


robek di sana sini. Tetapi robekannya bukan berasal dari bekas sayatan- sayatan senjata tajam, robekan- robekan tersebut nampak seperti akibat dari terbakar.


Mahmud mengernyitkan kening, dirinya sama sekali tak bisa mengira- ngira robekan kain yang di pakai tuan Denta tersebut disebabkan oleh apa. Mahmud mengingat- ingat kembali saat –saat terakhir melihat tuan Denta di alam Siluman, tidak mungkin tuan Denta terbakar oleh api. Yang Mahmud ingat saat itu  dirinya sama


sekali tidak melihat adanya api dalam pertarunga tuan Denta melawan Raja Kalas


Pati tersebut.


Mahmud mencermati lagi dengan seksama robekan- robekan pada pakaian tuan Denta. Dan terlihat robekan –robekan yang membekas tersebut berupa lobang- lobang berbagai ukuran besarnya, ada yang sebesar kepalan tangan, ada yang sebesar ujung jempol tangan. Melihat itu


Mahmud semakin dibuat bingung dan semakin tidak mengerti dengan kondisi yang  tuan Denta alami.


Beberapa lama kemudian Mahmud melihat ada pergerakkan pada pupil mata tuan Denta. Pupil mata tuan Denta sesaat nampak berkedut- kedut lalu sedetik berikutnya perlahan- lahan kedua mata tuan Denta terbuka. Sorot mata tuan Denta menatap lurus ke atas langit- langit ruangan, lalu pelan- pelan tuan Denta menoleh ke sisi kanan. Dilihatnya Mahmud duduk di tepi batu ranjang sedang mengamatinya.


Tangan tuan Denta yang mendekap punggung tangan Mahmud segera dilepasnya, lalu beringsut mencoba untuk bangkit dan duduk. Mahmud terlihat sangat senang, ia begitu sumringah melihat tuan Denta bergerak dan nampak seperti sudah membaik.


“Terima kasih tuan Mahmud, jika saja tidak ada tuan Mahmud disini mungkin saja aku akan musnah,” ucap tuan Denta pelan seraya tersenyum tulus.


“Sama- sama tuan, lalu apa yang sebenarnya terjadi pada tuan? Dan tempat apa ini tuan?” jawab Mahmud sekaligus balik tanya.


“Ini tempat kediamanku dahulu tuan,” jawab tuan Denta seraya menghela nafas.


Tuan Denta nampak seperti sedang mengingat sesuatu tentang masa lalunya. Matanya menerawang memperhatikan sekelilingnya seisi ruangan tanpa ada yang terlewat sedikit pun dari pandangan tuan Denta.


‘Tempat kediaman tuan Denta?! Bukankah dia dari golongan jin?!’ dalam hati Mahmud bertanya- tanya sekaligus bertambah bingung.


“Mmm… Maaf tuan, bukankah tuan Denta berasal dari golongan jin?” tanya Mahmud mengeluarkan unek- uneknya.


“Benar tuan Mahmud,” jawab tuan Denta.


“Tuan Denta bilang tempat ini kediaman tuan, bukankah kita ini sedang berada di alam siluman?” tanya Mahmud.


Tuan Denta seketika tersenyum bahkan

__ADS_1


setengah tertawa mendengar pertanyaan Mahmud. Sepertinya Mahmud tidak mnyadari


dan tidak mengetahui dimana ia berada saat ini, begitu pikir tuan Denta.** BERSAMBUNG


__ADS_2