Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
SANTET


__ADS_3

Usai menggelar tahlilan malam ke 5, para tetangga satu demi satu meninggalkan rumah Mahmud. Hanya ada empat orang tetangga selain Abah Dul dan ustad Arifin yang masih duduk santai ngobrol di ruangan tamu beralaskan tikar. Semenjak dari hari pertama tahlilan, ruang tamu itu memang di jadikan sebagai tempat tahlil dengan beralaskan tikar. Sementara kursi ruang tamu di pindahkan di teras samping rumah.


Berselang 30 menit kemudian setelah ngobrol ngalor ngidul, empat orang itu pun secara bersamaan pamit pulang. Akhirnya di rumah Mahmud hanya tinggal bertiga yaitu Mahmud, Abah Dul dan ustad Arifin. Tak lama selepas empat orang tetangga itu meninggalkan rumah Mahmud, Dewi muncul di ruang tamu menawarkan minum.


“Mas barangkali ada yang mau dibikinkan kopi atau teh?” tanya Dewi pada Mahmud.


Mahmud langsung menoleh menawarkan pada Abah Dul dan Ustad Arifin, “Bah, ustad mau bikin apa?”


“Ane kopi Wi,” sahut Abah Dul.


“Ustad?” timpal Mahmud.


“Saya teh tubruk aja,” sahut ustad Arifin.


“Kopinya dua ya Wi, sama saya. O iya Arin udah tidur?” tanya Mahmud.


“Kayaknya sudah tidur mas, dia sudah masuk kamar dari tadi,” jawab Dewi.


“Saya bikinin minum dulu,” sambung Dewi kemudian berlalu dari ruang tamu.


Tak terasa waktu sudah mendekati pukul 24.00 wib. Setelah Dewi membuatkan minuman ia pun pamitan pada Mahmud dan yang lainnya untuk berangkat tidur. Suara-suara jangkrik dan kodok sangat jelas terdengar bersahutan memecah suasana malam yang terasa gerah di rasakan oleh Abah Dul, ustad Arifin dan Mahmud.


“Apa mau hujan ya, kok jadi gerah begini,” kata Mahmud.


“Hujan? Cuacanya aja terang nggak ada mendung sama sekali, Mud!” timpal ustad Arifin.


Abah Dul terlihat gelisah dalam duduknya, sesekali ia celingukkan seperti mencari sesuatu namun entah apa yang di carinya. Kegelisahan Abah Dul pun akhirnya diketahui Mahmud dan ustad Atifin setelah keduanya tak sengaja menoleh ke Abah Dul karena sedari tadi tidak bersuara.


“Kenapa Bah?” Tanya Mahmud.


“Nyari apa bah?!” susul ustad Arifin heran.


“Nggak tahu nih, perasaan saya jadi deg- degan gini,” jawab Abah Dul.


“Jam berapa sekarang Mud?” Abah Dul balik bertanya.

__ADS_1


Mahmud lantas melongokkan kepalanya melihat jam dinding yang ada di ruang tengah, lalu menjawab; “Jam 12. 09 bah,”


“Saya ambil air wudlu dulu, kayaknya ini firasat nggak baik.” Kata Abah Dul.


Abah Dul pun bangkit berdiri dari duduknya dan hendak melangkah menuju bak mandi untuk berwudlu, namun baru saja satu langkah tubuh Abah tiba-tiba jatuh terduduk kembali sambil menekukkan badannya, sedangkan tangannya memegang perut sambil mengerang kesakitan.


"Astagfirullah!" pekik ustad Arifin.


"Astagfirullah! Kenapa bah?!" susul Mahmud.


Abah Dul yang mengerang seperti kesakitan menekukkan tubuhnya sambil memegangi perut, Mahmud dan ustad Arifin segera membimbingnya ke posisi yang lebih nyaman sambil meneggakkan tubuhnya. Namun Abah Dul kembali menekukkan badannya.


"Aaakhhh... Sakit sekali Mud, ustad!" erang Abah Dul sambil memegangi perutnya dengan erat-erat.


"Ustad, gimana ini ustad!" pekik Mahmud panik.


Ustad Arifin juga sama paniknya, ia berusaha untuk dapat berfikir dan mencari tahu penyebabnya dan mengatasinya.


......................


Di dalam pondokkan yang temaram oleh bias cahaya obor dari luar samping pintu, Ki Suta duduk bersila menghadap pedupaan dan setumpuk kembang di depannya. Bau khas kemenyan yang keluar dari asap di pendupaan terasa kental menyengat memenuhi ruangan pondok kayu tersebut.


Ki Suta tampak kusyuk dengan memejamkan matanya, perlahan namun tegas ia tak henti membaca mantera. Suaranya bergetar pelan namun sangat jelas terdengar di tengah kesenyapan tengah malam. Sesaat kemudian tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat, bersamaan dengan itu tiba-tiba muncul angin yang berputar kencang membawa bau amis menusuk hidung.


"Hadir...! datanglah....hadirlah...!" seru Ki Suta bergetar.


Tiba-tiba hembusan angin semakin berputar kencang menyelimuti tubuh Ki Suta, tak lama kemudian terdengar suara pintu pondokkan Ki Suta terbuka lebar. Samar-samar diantara keremangan lampu obor muncul sesosok mengerikan bergerak melata memasuki pondokkan. Suara desisnya terdengar sangat jelas memecah kesenyapan malam hutan lereng Gunung Ng mengalahkan sahutan- sahutan binatang malam di kejauhan.


Sosok yang memasuki pondokan itu seekor ular berukuran besar yang sangat menyeramkan. Tubuhnya berwarna hitam legam, matanya menyala merah sedang dari sela- sela sudut mulutnya mencuat taring yang runcing. Sesekali lidah bercabangnya menjulur -julur keluar masuk diantara taringnya.


"Ssssssssssshhhhhh...."


Desisannya kian santer terdengar di telinga Ki Suta. Tubuh Ki Suta kian bergetar merasakan benda kenyal menggelosor melilit tubuhnya tetapi lilitan itu seperti memberikan perlindungan bukan lilitan memangsa. Kepala ular hitam itu menjulur menghadap wajah Ki Suta.


"Sssssssshhhhh.... Ada apa Suta... sssssshhhh..." suara ular hitam menggidikkan telinga Ki Suta.

__ADS_1


"Nyi Kanti, bunuh orang yang di panggil Abah Dul. Ikuti energi yang aku kirimkan ini untuk memandumu!" perintah Ki Suta.


"Ssssssssshhhh..... baik Suta, sssssssshhhh...." balas ular hitam.


Mulut Ki Suta langsung komat- kamit membaca mantra, dan sesaat kemudian dari telapak tangan Ki Suta muncul cahaya merah sebesar bulatan telaur ayam. Cahayanya sedikit menerangi sosok ular hitam legam dan berlendir yang menyelimuti tubuh Ki Suta.


"Ikuti cahaya ini!" perintah Ki Suta pada ular hitam tersebut.


Cahaya merah melayang -layang sesaat di depan mata Ki Suta dàn Nyi Kanti si ular hitam. Lalu cahaya sebesar telur ayam itu melesat keatas menembus atap pondokan diikuti oleh ular hitam dibawahnga dan menghilang.


......................


Di ruang tamu, Abah Dul yang sedang ngobrol santai sambil duduk lesehan diatas tikar bersama Mahmud dan ustad Arifin merasakan gelisah dan tidak nyaman. Dadanya sedari tadi berdebar- debar kian kencang, sehingga Abah Dul memutuskan untuk berwudlu lalu berzikir. Akan tetapi tanpa ada yang menyadari cahaya merah dan ular hitam melesat masuk kedalam tubuh Abah Dul yang hendak melangkah berniat mengambil air wudlu. Abah Dul langsung ambruk berlutut sambil memegangi perutnya yang terasa sakit dan dada terasa sesak.


“Ustad, gimana ustad!” pekik Mahmud panik.


Ustad Arifin juga nampak panik, ia bingung apa yang harus diperbuatnya untuk membantu Abah Dul yang sedang kesakitan. Beberapa detik lamanya suasana panik dan tegang membuat Mahmud dan ustad Arifin tercekat tanpa melakukan tindakkan apapun. Tapi sedetik berikutnya, ustad Arifin tersadar dari paniknya dan seketika membacakan doa- doa. Bibir ustad Arifin bergetar mengucapkan bacaan yang terdengar seperti membacakan beberapa surat Al Quran, yang dimulai surat Al Ikhlas, Al Falaq, An nas dan diakhiri surat Al fatihah.


Setelah selesai membaca ayat-ayat Al Quran itu kemudian ustad Arifin menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil meniupkannya, lalu telapak tangannya di tempelkan pada bagian perut Abah Dul yang terduduk sedikit membungkuk.


“Allahu Akbar!!!” sentak ustad Arifin bersamaan dengan telapak tangannya menekan.


“Hegkhhh..!” tubuh Abah Dul terhenyak, kemudian terlihat seperti hendak muntah.


“Hoekkh... hoekkhhh..”


Mahmud dan ustad Arifin tercekat melihat Abah Dul memuntahkan darah kental berwarna merah kehitaman dari mulutnya sebanyak dua kali. Namun bukannya kondisi Abah Dul membaik, justru Abah Dul terlihat semakin kesakitan. Melihat reaksi Abah Dul membuat Mahmud dan ustad Arifin kian cemas dan panik.


Ditengah kepanikan itu Mahmud baru ingat kalau dirinya bisa melihat mahluk gaib berkat tuan Denta yang membuka mata batinnya. Kemudian Mahmud berseru, “Mata batin!”


Usai mengucapkan itu Mahmud terkesiap, raut wajahnya semakin panik dan ketakutan. Mahmud melihat dengan jelas, sosok ular hitam sedang melilit perut Abah Dul. Mahmud kontan terlonjak kaget, ia beringsut menggeser mundur duduknya dengan wajah pucat pasi.


......................


🔴LANJUT...

__ADS_1


__ADS_2