Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PENENTUAN 2


__ADS_3

Di langit alam siluman, ditengah pekatnya langit terlihat jilatan- jilatan petir berwarna kuning bercampur merah berpendaran seperti akar pohon. Kilatan- kilatan cahayanya laksana lampu disko yang turut menyemarakan pesta pora siluman monyet.


Gemuruh guntur pun terdengar susul menyusul bersamaan kilatan petir yang muncul dari atas ke bawah.


Di dalam istana kerajaan siluman monyet, semua prajurit- prajurit yang memenuhi luasnya ruang istana kian hanyut dalam pengaruh minuman yang memabukkan.


Mereka berjingkrak- jingkrak menari- nari, melompat kesana kemari sambil tertawa- tawa dan meracau tak


karuan. Tingkah polah sejatinya sebagai binatang monyet nampak jelas terlihat dari semua prajurit- prajurit tersebut.


Jauh diujung terdepan dimana pusat pesta berlangsung, duduk di kursi singgasana kebesaran pemimpin dari


mahluk monyet yang tak lain adalah Raja Kalas Pati.


Raja Kalas Pati menampilkan wujud sejatinya yang memiliki tubuh tinggi besar, wajahnya merah darah kian bertambah merah akibat banyak menenggak minuman yang memabukkan. Sekujur tubuhnya dipenuhi dengan bulu- bulu berwarna kelabu dengan lebat dari kepala hingga ujung kaki. Dilengan kanan dan kirinya melingkar pernik- pernik hiasan yang terbuat dari emas, sementara pada pergelangan tangan kanan dan tangan kiri tersemat gelang besar hampir menutupi setengah lengannya.


Raja Kalas Pati duduk dengan angkuhnya diatas kursi singgasana yang besar yang terbuat dari mas dihiasi


pernik- pernik permata berwarna warni. Cahayanya berkilauan ditempa oleh cahaya utama istana, meski cahayanya remang- remang namun pantulan dari kilauan kursi singgasana dan permatanya kian menambah eksotik cahaya memantul keberbagai arah dan sudut ruangan yang sangat luas itu.


Disekelilingnya berdiri sosok- sosok berwujud wanita cantik layaknya wujud manusia dengan pakaian minim. Masing- masing dari wanita- wanita itu memiliki tugas berbeda melayani Raja Kalas Pati. Dua wanita duduk di pangkuan Raja Kalas Pati sembari sesekali menyuapinya dengan makanan buah- buahan yang tersedia diatas meja berukir disamping kursi singgasana yang juga terbuat dari emas. Dan wanita satunya lagi siap sedia menuangkan cairan yang memabukkan manakala Raja Kalas Pati memintanya.


Dibelakang Raja Kalas Pati, dua wanita di kanan dan kiri senantiasa memijat- mijat bahu sang Raja tanpa henti. Dua wanita di samping kanan dan dua wanita disamping kiri lainnya terus menerus menggerakkan kipas tangan besar yang terbuat dari dedauanan.

__ADS_1


Dihadapan Raja Kalas Pati, terlihat sekelompok wanita penari yang bergerak gemulai mengikuti irama tetabuhan gendang dan terompet dengan pakaian sangat minim. Raja Kalas Pati tampak terbuai oleh kemeriahan pesta pora mereka. Raja Kalas Pati sengaja membiarkan para prajuritnya melakukan apa saja sesuka hatinya dengan bebas tanpa membatasinya.


Begitu pun dengan para petinggi- petingginya juga hanyut terbuah oleh cairan yang memabukkan hingga membuat mereka nyaris hilang kesadarannya karena mabuk berat.


Tak sedikit para prajurit siluman monyet mendatangi tempat tahanan wanita manusia- manusia pengabdi yang telah habis kontraknya maupun yang melanggar perjanjian untuk melakukan perbuatan asusila. Dengan beringas dan brutal para prajurit yang mabuk berat itu memperkosa dari wanita satu ke wanita yang lain. Dimata mereka semua tahanan wanita itu terlihat cantik dan muda, padahal pada kenyataannya wanita- wanita pengabdi itu ada yang berusia 50 tahun keatas.


Sementara itu Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Mahmud, tuan Denta, Kosim serta Raja Kajiman yang wujudnya dalam penyamaran menyerupai prajurit siluman monyet, perlahan- lahan bergerak diantara prajurit- prajurit asli yang berjoget- joget sambil menenggak cairan memabukkan.


Awalnya tak hanya Gus Harun yang tercengang melihat situasi dan kondisi pesta pora golongan siluman monyet tersebut tetapi semuanyanya pun merasa terkejut luar biasa. Mereka semua baru pertama kalinya melihat tingkah polah mahluk- mahluk siluman dalam suatu pesta.


“Astagfirullahal azim!” pekik Mahmud buru- buru mendekap mulutnya sendiri.


Untung saja suaranya tersamarkan oleh tetabuhan dan gelak tawa prajurit –prajurit yang sedang bergembira tersebut sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dan membuat penyamarannya terbongkar.


Dengan perhitungan waktu yang sudah ditentukan, Gus Harun beserta sahabat- sahabatnya harus secepatnya menemukan ruang penyekapan para arwah pengabdi kekayaan yang ditahan untuk mencari keberadaan putra Kosim. Jika terlambat maka para pasukan yang berada di luar istana akan lebih dulu mendapat serangan, dan jika itu terjadi maka sudah pasti pencarian terhadap putra Kosim akan mengalami kesulitan bahkan penyamaran mereka akan terbongkar.


“Baik Gus!” sahut mereka bersamaan.


“Gus ada sekumpulan prajurit bergerak menuju lorong sebelah depan sana!” seru Kosim melalui telepati.


Gus Harun langsung mengarahkan pandangannya kearah yang ditunjuk Kosim. Benar saja ada sekumpulan prajurit berjalan sempoyongan melangkah gontai menuju lorong. Lorong tersebut tampak sepi, tidak ada satu pun prajurit yang berada di lorong tersebut.


“Ayo ikuti mereka!” kata Gus Harun melalui telepati.

__ADS_1


Gus Harun dan ke 8 sahabatnya bergegas bergerak menyelinap diantara tubuh- tubuh prajurit siluman monyet yang berjubel padat menuju lorong yang dimasuki sekelompok prajurit tadi. Sayangnya Gus Harun beserta yang lainnya tak bisa lebih cepat lagi bergerak karena jalannya terhambat oleh padatnya para prajurit- prajurit yang berpesta.


Sementara itu diluar pintu istana, para pasukkan golongan jin dan pasukan golongan Kajiman sudah lebih dulu melancarkan strateginya sesuai dengan jeda waktu yang sudah ditentukan. Suara- suara dentingan senjata saling beradu dari dua ratusan ribu pasukan seketika terdengar menggema seantero lingkungan istana kerajaan


Kalas Pati.


Layaknya sebuah peperangan, suara gemuruh senjata- senjata beradu tersebut mampu mengungguli kerasnya suara tetabuhan di dalam istana. Alhasil akhirnya dentingan- dentingan dan suara teriakan layaknya sedang bertarung pun didengar oleh prajurit- prajurit siluman monyet yang berada di dekat pintu istana.


Seketika pintu istana pun dibuka dari dalam, disusul ratusan prajurit siluman monyet menyeruak keluar dari pintu istana. Melihat banyaknya mahluk- mahluk asing memasuki pelataran istana, para prajurit siluman monyet seketika melesat merangsak kearah pasukan jin dan pasukan Kajiman.


Melihat strategi pancingan mereka berhasil, secepat kilat 50 pasukan Kajiman dan pasukkan jin yang bertugas menutup pintu tatkala prajurit- prajurit siluman monyet keluar pun langsung bergerak menutupnya kembali.


Saat pintu raksasa istana itu perlahan tertutup kembali, para prajurit yang berada di dalam istana yang hendak mengikuti rekannya keluar, sama sekali tidak berusaha untuk menahan pintu yang tertutup tersebut. Mereka tampak tidak menghiraukannya sama sekali dan kembali berbaur dengan rekan- rekannya yang lain.


Kini di pelataran halaman istana sudah saling berhadapan pasukan jin dan pasukan Kajiman melawan


prajurit siluman monyet yang jumlahnya hanya sepertiga dari pasukan jin dan pasukan Kajiman.


Dengan cepat pasukan Kajiman bergerak menelikung mengurung prajurit- prajurit siluman monyet. Prajurit- prajurit siluman monyet terlihat kebingungan mendapati diri mereka telah dikepung oleh mahluk- mahluk asing. Akal normalnya sebagai prajurit sudah nyaris hilang akibat menenggak cairan yang memabukkan sehingga


membuat mereka tak mampu berpikir dengan jernih dan tidak menyadari kalau istana mereka sedang diserang.


“Seraaang….!” Teriak salah satu wakil pimpinan pasukan tuan Denta.

__ADS_1


Mendengar teriakkan aba- aba tersebut, seluruh pasukkan baik dari golongan jin dan golongan Kajiman seketika bergerak merangsak mencari sasaran lawannya masing- masing. Ada yang yang menerjang dari atas, ada yang dari belakang, dari samping kanan serta samping kiri.


Karena jumlahnya yang tak seimbang, banyak sekali dari prajurit siluman monyet tersebut harus menghadapi 10 hingga 20 lawannya.** BERSAMBUNG


__ADS_2