
Sepeninggal Gus Harun dan Abah Dul, tanpa disadari oleh Mahmud dan Kosim ada sesosok bayangan hitam tengah menintai dari balik pohon mangga di samping rumah Mahmud.
Melihat Abah Dul dan Gus Harun sudah meninggalkan rumah Mahmud, sosok bayangan berbaju hitam itu menyeringai senang.
"Hmmm, bagus! bagus! hahaha..." gumam sosok bayangan hitam itu.
Setelah Abah Dul dan Gus Harun sudah tak terlihat lagi, Mahmud pun beranjak kembali masuk dan duduk di ruang tamu diikuti siluet Kosim dibelakang.
“Mas kalau mas Mahmud sudah ngantuk, mas tidur saja. Biar saya yang menjaga rumah,” ucap Kosim.
“Iya deh, saya masuk kamar ya Sim,” balas Mahmud.
“Njih, monggo...” ujar Kosim.
“Eh, sebentar mas!” cegah Kosim.
Mahmud yang sudah berdiri dari kursi hendak pergi, langsung berhenti menoleh kearah Kosim.
“Ada apa Sim?!” tanya Mahmud dengan wajah heran.
“Saya merasakan ada aura jahat di luar rumah Mas,” ucap Kosim.
“Hah?! Apa itu sim?!” tanya Mahmud penasaran.
“Ayo kita keluar mas,” ajak Kosim.
“Ayo Sim!” Sahut Mahmud.
“Tunggu! Tunggu!” Cegah Kosim sambil mengangkat tangannya.
“Kenapa Sim?!” Tanya Mahmud bingung.
__ADS_1
“Jangan lewat pintu depan mas, lewat samping aja. Kayaknya aura itu berasal dari depan,” jawab Kosim kemudian tubuhnya melayang menuju pintu samping diikuti Mahmud.
Mahmud buru- buru mengikuti Kosim memasuki ruang dapur karena pintu samping berada di sana.
“Sim, tunggu!” Seru Mahmud melihat Kosim lebih dulu didepan.
Setelah sampai didepan pintu, Kosim berhenti dan mènunggu Mahmud untuk membukanya.
“Kok berhenti di pintu Sim? Kamu kan bisa lewat tanpa nunggu pintu dibuka?” ujar Mahmud polos.
“Katanya suruh tunggu mas, hehehe...” seloroh Kosim menyeringai.
Mahmud kemudian Membuka kuci pintu dengan sangat hati- hati.
Klak!
Suara kunci pintu terbuka serasa keras terdengar dikeheningan malam. Lalu pelan- pelan pintu dibuka sedikit untuk mengintip memperhatikan situasi diluar.
Mula- mula pandangan Mahmud langsung tertuju pada pohon jambu air. Sebab pohon itu seringkali menjadi sumber beberapa kejadian seperti yang sudah -sudah. Namun setelah beberapa saat memperhatikannya, Mahmud tak melihat ada sesuatu yang mencurigakan di pohon itu.
Yang Mahmud lihat dan rasakan suasana diluar nampak senyap dan sepi tak ada apapun disana. Mahmud menoleh kesamping hendak mengabarkan pada Kosim, tetapi Kosim sudah tak ada di tempatnya.
“Sim... Kosim...!” bisik Mahmud menekankan suaranya.
Belum sempat mendapat sahutan dari Kosim, tiba- tiba terdengar suara desisan berdesing di di telinga Mahmud.
Mahmud reflek menoleh mencari suara desingan seperti suara laser yang melesat menjauh.
Wuuuussswhhhh....
Mahmud melihat ada kilatan cahaya putih yang melesat dari hadapannya menuju kearah pohon mangga.
__ADS_1
Blaaarr...!
Saat kilatan cahaya itu mengenai pohon mangga, seketika berpendaran cahaya memercik tak ubahnya seperti kembang api.
Pendaran cahaya itu begitu kontras menyala terang memecah gelapnya pekarangan samping rumah.
Mahmud terpana menyaksikan fenomena depan matanya. Mulutnya ternganga menyaksikan kejadian yang singkat itu.
Tak lama setelah pendaran cahaya itu perlahan- lahan lenyap, terdengar suara pekikan keras menyayat hati.
“Aaaaaakkkkkhhh!”
Bersamaan terdengar lengkingan jeritan itu sebuah cahaya kuning sebesar bola sepak memancar lalu kemudian melesat ke langit.
Mahmud tak dapat lagi melihat kemana arah cahaya kuning kemerahan itu melesat karena terhalang oleh atap rumahnya.
Mahmud segera keluar, di pintu sisi kanan nampak Kosim masih dalam posisi menyorongkan tangan kanannya kedepan. Mahmud masih sempat melihatnya, sebelum Kosim kembali menarik tangannya.
“Sim, cahaya putih tadi berasal dari kamu?” tanya Mahmud takjub.
Kosim tak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum sambil mengangguk.
“Ada apa disana Sim? Saya nggak mekihatnya,” ujar Mahmud.
“Saya juga nggak tau pasti mas, tapi samar- samar sosok itu seperti seorang kakek berpakaian hitam,” terang Kosim.
"Siapa ya Sim? dan kenapa juga disini?" Gumam Mahmud bingung setengah bertanya.
BERSAMBUNG...
......................
__ADS_1