Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KABAR MENGEJUTKAN


__ADS_3

“Kemungkinannya hanga dua, bisa iya bisa tidak. Apabila Gusti allah memberikan takdir umur panjang, tidak ada hal yang mustahil kalau Dede bisa kembali hidup meskipun sudah berada didalam liang kubur. Tapi sebaliknya, ente harus bisa merelakannya jika ternyata putra ente berada dalam takdir kematiannya,” terang Gus Harun.


Kosim terdiam, wajahnya tampak murung mendengar penjelasan Gus Harun. Akan tetapi di relung matanya yang datar terlihat seberkas harapan kalau putranya bisa kembali.


“I, iyy, iya Gus. Insya allah saya rela dan ikhlas,” sahut Kosim.


Sementara Mahmud masih memikirkan pertanyaan Kosim. Pertanyaan itu cukup mengusik pikirannya.


Di satu sisi pertanyaan Kosim itu ada benarnya, apabila berhasil mengambil kembali nyawa Dede lalu apakah mungkin Dede akan hidup kembali?


Sedangkan jasad bocah berusia 3 tahunan itu sudah terkubur satu minggu lebih didalam tanah. Rasanya sangat mustahil dan tidak mungkin Dede bisa hidup kembali.


"Tapi kita kembalikan lagi pada kekuasaan Gusti Allah. Manusia hanya bisa berusaha," ucap Gus Harun.


"O iya Dul, kabarnya Basyari dan Baharudin gimana?" tanya Gus Harun mengalihkan topik pembicaraan.


“Insya allah mereka siap ikut Gus!” Sahut Abah Dul yakin.


Tiba- tiba terdengar suara dering telpon dari saku baju Abah Dul. Pembicaraan pun terhenti, semua mata menoleh kearah Abah Dul.


Abah Dul langsung merohoh saku bajunya mengambil hape. Sejenak ia melihat ke layar hape, seketika wajahnya berubah.


“Siapa Dul?!” Sergah Gus Harun.

__ADS_1


“Baharudin Gus!” Sahut Abah Dul surprise.


“Subhanallah, baru saja kita omongin. Panjang umur,” timpal Gus Harun.


Abah Dul langsung menjawab pangholan telpon tersebut; “Assalamualaikum Har,”


“Wa alaikum salam,” sahut Baharudin.


“Gimana kabar ente Har?” tanya Abah Dul.


“Alhamdulillah baik Dul, apakah Gus Harun sudah sampai di situ Dul?” sahut Baharudin.


“Alhamdulillah, tadi siang baru sampai disini Har. Ente siap ikut kan Har?” tanya Abah Dul.


“Ke Bandara? Mau kemana ente Har?” Abah Dul sedikit terkejut.


“Saya hendak menuju ke Surabaya Dul ke rumah Basyari. Kita sudah kontak- kontakkan dan sepakat datang ke rumah kang Mahmud, ke tempat ente,” sahut Baharudin.


“Masya allah Har. Maaf sudah merepotkan ente dan Basyari nih,” kata Abah Dul.


“Santai aja Dul. Sekalian kita reuni, lama kita nggak jumpa. Mumpung ada momen jadi sekalian kita kumpul- kumpul lagi,” sahut Baharudin.


Gus Harun dan Mahmud mengernyitkan dahinya mendengar obrolan satu arah itu. Karena yang mereka dengar hanya ucapan- ucapan dari Abah Dul saja.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Abah Dul nampak menyudahi pembicaraan dengan Baharudin melalui selulernya dan langsung disambut pertanyaan penuh penasaran oleh Gus Harun.


“Apa kata Baharudin Dul?” tanya Gus Harun.


“Masya Allah Gus, Baharudin dan Basyari hendak menuju ke sini,” ungkap Abah Dul bersemangat.


“Subhanallah, jauh- jauh Baharudin dan Basyari menyempatkan datang langsung kesini untuk membantu Dul?” kata Gus Harun merasa takjub.


“Njih, Gus...” timpal Abah Dul.


“Alhamdulillah...” gumam Gus Harun diiringi Mahmud.


Sementara Kosim dalam wujud siluetnya nampak terharu terlihat dari ekspresi wajahnya yang menunduk dalam- dalam. Dirinya merasa terharu berada di dekat orang- orang yang memiliki hati yang ikhlas dan tulus menolong.


Kosim merasa sangat yakin sahabat- sahabat Abah Dul menolong tanpa pamrih sebab sebelum- sebelumnya mereka tidak pernah menyinggung soal biaya atau pun uang.


Apalagi kalau mengingat jarak dan waktu dari ketiga sahabat Abah Dul yang membutuhkan berjam- jam untuk sampai di rumah Mahmud.


Baharudin rela datang jauh- jauh dari Makassar bersama Basyari yang berada di Surabaya serta Gus Harun datang dari ujung kulon pulau Jawa.


"Subhanallah, mereka orang- orang baik..." gumam Kosim.


......................

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2