
Di rumah Mahmud, Gus Harun duduk- duduk santai di teras depan. Di hadapannya tersaji segelas kopi hitam dan sepiring pisang goreng. Meski wajahnya terlihat tenang, namun di dalam hatinya ada rasa cemas yang mendalam. Sama halnya dengan yang dipikirkan Abah Dul tentang dua sahabatnya yang menghilang tak ada kabar sama sekali.
Sesekali Gus Harun mendongak keatas melihat langit. Warnanya masih tak kunjung berubah, langit masih tetap gelap. Yang nampak hanya awan hitam tebal menutupi langit hingga cahaya matahari pun tak mampu menyinari menembus ke bumi. Mendung tapi tak berhujan! Suasana itu sudah semenjak subuh hari atau mungkin juga sudah sejak semalam, Gus Harun tidak tahu pasti.
Mungkin bagi masyarakat umum fenomena mendung itu adalah mendung biasa dan tidak akan pernah
mengira ada hal lain yang membuat cuaca seperti itu. Akan tetapi lain halnya dengan Gus Harun dan Abah Dul, gelapnya langit itu merupakan efek aktifitas gaib.
“asssalamualaikum...” suara salam dua orang bersamaan mengagetkan Gus Harun.
“Wa’alaikum salam, Dul, kang Mahmud. Gimana tadi kenapa dengan pak RT?” tanya Gus Harun menyambut kedatangan Abah Dul dan Mahmud.
“ya begitulah Gus, biasa perbuatan dedemit, hehehe...” jawab Abah Dul sambil mendudukkan pantatnya di bibir teras disusul Mahmud.
“Sekarang sudah beres?” tanya Gus Harun lagi.
“Kelas teri itu sih Gus, hehehe...” jawab Abah Dul tertawa kecil.
“Sombong ente Dul,” ujar Gus Harun yang juga tertawa berbaur dengan tawa Abah Dul.
“Bah, mau bikin kopi nggak?” sela Mahmud diantara suara tawa Gus Harun dan Abah Dul.
“Nggak usah lah Mud,” ujar Abah Dul.
“Uduh, tumben amat, beneran nih?!” balas Mahmud.
“Iya, nggak usah! Nggak usah lama- lama, hehehe....” kelakar Abah Dul.
“Dasar ente ya!” tukas Mahmud melangkah pergi masuk rumah.
Sesaat suasana terjeda hening sepeninggal Mahmud. Namun suasana itu tak berlangsung lama, karena Abah Dul kembali teringat dengan kedua sahabatnya.
“Bagaimana ini Gus, sekarang sudah jam 10 tapi Baharudin dan Basyari belum ada kabarnya,”
ucap Abah Dul.
“Iya Dul, itu yang sedang saya pikirkan dari tadi. Ente sudah coba telpon mereka lagi?” tanya Gus Harun.
“Belum sih Gus,”
“Coba ente hubungi lagi Dul, siapa tahu sekarang sudah aktif,” kata Gus Harun.
__ADS_1
Abah Dul segera merogoh saku bajunya mengambil hape. Tak lama kemudian setelah mencari nomor kontak baharudin, ia menempelkan hape ke telinganya. Sekitar 3 detik, nada suara di hape terdengar bunyi ‘Tut.. tut.. tut.. tut..”
Abah Dul kembali mengulang mencari nomor kontak, kali ini yang coba dihubunginya adalah Basyari. Namun beberapa saat kemudian suara sambungan telpon sama seperti saat menghubungi Baharudin, hape Basyari tidak aktif.
“Tetep aja nggak tersambung Gus. Ada apa dengan Baharudin dan Basyarai ya Gus?” gumam Abah Dul heran.
“Basyari juga?” tanya Gus Harun.
“Iya Gus, dua- duanya nggak aktif,” sahut Abah Dul.
“Coba deh ente langsung ke rumahnya aja Dul, sekalian lihat apa yang sedang terjadi
disana,” kata Gus Harun.
“Oh iya ya Gus, kok kenapa nggak kepikiran ya,” ujar Abah Dul.
Setelah mengatakan itu Abah Dul langsung membetulkan posisi duduknya. Ia bersila, punggungnya
disandarkan pada tiang tumah, matanya perlahan dipejamkan, mulutnya komat- kamit. Sesaat kemudian tubuhnya tak bergerak lagi. Sukma Abah Dul keluar dari raganya lalu melesat seperti kilat menuju kearah selatan.
**
Kutai,
Sukma Abah Dul melayang menuju saung yang biasa dijadikan tempat berkholwat Baharudin yang
berada di belakang rumah.
“Punten permisi ya mbak, saya mau lihat ke belakang,” ucap sukma Abah Dul sambil melintas dibelakang wanita itu.
Bersamaan lewatnya sukma Abah Dul, wanita yang merupakan istrinya Baharudin itu tiba- tiba menoleh kebelakang. Rupa- rupanya dia merasakan seperti ada sesuatu yang lewat dibelakangnya. Wanita itu sempat merasakan ada hembusan angin kecil dibelakangnya seperti orang yang lewat.
Istri Baharudin itu celingukkan kesana kemari, “Kayak ada orang lewat tapi kok nggak ada siapa- siapa ya,” gumamnya.
“Ah, mungkin angin kali,” gumamnya lagi, kemudian wanita itupun kembali meneruskan
aktifitasnya menyirami bunga.
Sementara itu Sukma Abah Dul melayang di depan saung tempat biasa Baharudin berkholwat. Abah
Dul mencari- cari Baharudin melongokkan kepalanya melihat kedalam saung.
__ADS_1
“Assalamualaikum, Har... Bahar...” ucap sukma Abah Dul.
Sukma Abah Dul menunggu dan berharap ada sahutan dari Baharudin. Tetapi setelah beberapa saat ternyata tidak ada sahutan sama sekali dari dalam saung. Sukma Abah Dul penasaran, dia segera masuk ke dalam saung. Dan ternyata memang Baharudin tidak ada disana.
“Aduh, kemana ente Har,” keluh sukma Abah Dul.
“Saya langsung ke Basyari aja deh,” gumamnya.
Secepat kilat sukma Abah Dul kembali melesat menghilang dari kediaman Baharudin. Sukma Abah Dul bergerak menuju kediaman Basyari di Surabaya.
**
Surabaya,
Kediaman Basyari nampak ramai lalu lalang orang yang beziarah. Karena rumah Basyari berada di lingkungan
makbaroh sunan Ampel, jadi setiap harinya tak pernah sepi oleh orang- orang yang ngalap berkah dengan berziarah ke makam salah satu wali songo itu.
Rumah bercat hijau dengan halaman yang tak terlalu besar itu nampak asri menghijau di tumbuhi bermacam- macam tanaman hias. Di halaman depan ada tiga santri yang sedang menyapu halaman dan menyirami tanaman.
Sukma Abah Dul langsung melayang menuju saung tempat biasa berkholwat Basyari yang berada di halaman samping rumah. Saung itu pun nampak sepi tak ada orang didalamnya. Sukma Abah Dul dapat langsung melihatnya karena dinding sisi- sisinya hanya tertutup seperempatnya saja.
“Assalamualaikum Bas... Bas... Basyari...” ucap sukma Abah Dul.
Tak ada sahutan, suasana sepi senyap. Raut sukma Abah Dul semakin dibuat heran sekaligus bingung. Bharudin tidak ada, Basyari juga tidak ada ditempatnya, “Pada kemana mereka?”
Sukma Abah Dul diam terpaku ditempatnya, pikirannya mengira- ngira kemana perginya kedua sahabatnya itu. Namun setelah sekian lama memikirkannya, Abah Dul tak juga menemukan jawabannya. Sukma Abah Dul memutuskan kembali, sukmanya seketika melesat cepat kearah utara.
“Alhamdulillah...” ucap Abah Dul sambil mengusap wajahnya.
“Gimana Dul?" tanya Gus Harun setelah melihat Abah Dul bergerak. Ia sudah menunggu sekitar 5 menitan.
“Baharudin dan Basyari nggak ada di rumahnya Gus,” jawab Abah Dul murung.
“Kok, aneh ya Dul. nggak seperti biasanya,” ujar Gus Harun.
“Iya, Gus,” Abah Dul menghela nafas berat lalu dihembuskannya keras- keras seolah- olah
mewakili kekecewaan hatinya.
Gus Harun pun terdiam tak lagi bertanya melihat kemuraman wajah Abah Dul. Dia nampaknya memahami perasaan Abah Dul bahkan dirinya juga sama heran bercampur dengan gundah.
__ADS_1
“Ada apa dengan kalian?” ucap Gus Harun dalam hati.