
Malam sudah beranjak mendekati pukul 24.00 wib. Mahmud, Abah Dul, Kosim dan Mang Ali mulai merasakan dinginnya udara malam, sedinginnya suasana di ruang tamu saat ini.
Ya, tidak seperti biasanya ruang tamu rumah Mahmud selalu hangat oleh candaan dan obrolan santai namun serius tetapi kali ini terasa tegang penuh diliputi kekesalan, kekecewaan dan berasa kaku.
Terlepas dari ikhlas atau tidak ikhlas, manusia mana yang tidak kesal dan kecewa yang teramat sangat ketika merasa upayanya merasa diabaikan dan seolah tidak dihargai.
Apalagi ini sebuah pertolongan yang bukan biasa-biasa saja melainkan dengan mempertaruhkan nyawa bahkan hingga empat nyawa dipertaruhkan tanpa pamrih hanya untuk melindungi seseorang yang bahkan bukan darah dagingnya sendiri.
"Sim, coba dipikirkan lagi. Apakah ente sudah memberikan keputusan ikut sama teman ente?" Kata Abah Dul memecah keheningan.
Suaranya sedikit berat dan bergetar. Gejolak amarah didalam dada mencoba ditahannya. Matanya berkilat dengan sorot tajam menatap Kosim yang terus tertunduk sambil menekuri memainkan sebatang rokok ditangannya.
"Belum Bah, saya bilang besok keputusannya," jawab Kosim dengan tertunduk.
"Saya pengen tau, apa yang membuat ente tidak percaya dengan peringatan mimpi itu Sim?!" Suara Abah Dul sedikit ditekankan.
Beberapa saat lamanya Kosim diam tidak menjawab pertanyaan Abah Dul. Wajahnya tetap membesi, egonya muncul menguasi hatinya. Dirinya merasa kalau ini mutlak merupakan hak pribadinya akan tetapi dia simpan saja alibi itu dihatinya tidak berani diungkapkan.
"Nggak tau Bah, saya hanya ingin mendapatkan uang yang banyak itu," ucap Kosim datar.
Jika tidak memandang Mahmud sebagai sahabat karibnya, mungkin saja Abah Dul sudah malas membantunya. Sangat manusiawi apabila Abah Dul ataupun Mahmud marah dan kecewa terhadap Kosim.
"Ya sudah, itu hak ente Sim. Saya bukan siapa-siapanya ente kalau memang sudah menjadi keinginan ente seperti itu," kata Abah Dul sambil meneguk kopinya.
Mahmud hanya mendengarkan percakapan itu sambil sesekali menghisap rokoknya. Dia terlihat sudah sangat malas dan acuh tak acuh. Dia merasa bantuannya telah sia-sia dan sudah tidak dianggap lagi oleh Kosim. Padahal dirinya begitu ikhlas membantu sekuat dan semampunya karena menyayangi keluarganya apalagi terhadap Dede, anaknya.
"Ya sudah Mud, saya pulang ya..." kata Abah Dul penuh nada kekecewaan bercampur menahan marah di hatinya.
"Iya Bah," balas Mahmud datar.
Abah Dul memahami perasaan Mahmud karena pasti tidak jauh berbeda dengan apa yang dirasakannya.
"Saya juga lah, Mud." Ujar Mang Ali.
"Iya, iya Mang Ali," sahut Mahmud dengan sikap yang sama.
Abah Dul dan Mang Ali pun beranjak dari kursi tamu. Setelah menyalami semuanya dia pun melangkah keluar diikuti Mang Ali.
Setelah melewati begitu banyak peristiwa yang mengancam nyawa dan mati-matian membelanya namun pada akhirnya sikap Kosim sangat mengecewakan. Yang membuat Abah Dul, Mahmud bahkan Mang Ali sangat terpukul, dikala hanya tinggal mencapai puncaknya saja dalam kondisi pertaruhan hidup dan matinya sendiri, Kosim malah tidak mengindahkan peringatannya dan tidak mau mendengar nasihatnya.
......................
HARI KE-4 MENJELANG PURNAMA,
Selepas sholat Subuh, Mahmud berpamitan pada Dewi untuk pergi ke kebun cabai yang akan dipanennya hari ini. Mahmud terlihat semangat karena panen cabainya kali ini sukses melimpah apalagi saat ini harga jual cabai sedang tinggi. Berbeda dengan panen sebelumnya, sebagian cabainya banyak yang busuk akibat banjir dan hujan lebat yang terus menerus mengguyur kampungnya.
Udara dingin di pagi buta menghantarkan Mahmud pergi ke kebun cabainya setelah sebelumnya menyampar Pak Karyo yang akan membantunya memanen.
Dua hari yang lalu Mahmud sudah meminta Kosim ikut memanen cabai usai mendapat kabar pemecatan dan pada saat itu Kosim antusias akan ikut membantunya. Namun pagi ini Mahmud tidak berusaha mengajaknya lagi karena selain Kosim belum bangun juga karena hatinya masih kecewa dan kesal.
Dua jam kemudian sekitar jam 6.30 wib sinar matahari pagi mulai memberikan hangatnya yang cerah. Sementara itu Kosim baru bangun dari tidurnya dan dia sudah melewatkan waktu sholat Subuh untuk kesekian kalinya. Setelah cuci muka, Kosim langsung menyeduh kopi hitam di dapur lalu melenggang keluar dan duduk di teras.
"Sim, Mbak berangkat kerja dulu. Arin mana?" Tanya Dewi melangkah menuruni undakkan teras.
__ADS_1
"Iya Mbak, Arin agi ke warung. Mas Mahmud belum bangun Mbak?" Kosim balik tanya.
"Mas Mahmud sudah berangkat ke kebun setelah sholat Subuh tadi." Ujar Dewi sambil melangkah pergi.
Kosim baru ingat kalau hari ini Mahmud panen cabai dan Mahmud mengajaknya dua hari yang lalu. Wajah Kosim terlihat bingung, apakah menyusulnya atau tidak.
"Kalau saya ke kebun cabai, nanti Udin gimana?" Kata Kosim dalam hati.
Sesuai janjinya, pagi ini Kosim akan memberikan jawabannya terkait pekerjaan yang ditawarkan temannya bernama Udin.
Kosim nampaknya sudah terbuai oleh bayaran yang akan diterimanya dari pekerjaan Seismik di Wonosobo. Angannya sudah melambung jauh ke langit tujuh, hanya dua bulan menerima upah lima juta merupakan nominal yang sangat besar bagi Kosim.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, Din. Kok tiba-tiba sudah ada disini?!" Kata Kosim terkejut.
"Kamu aja yang bengong melamun sedari tadi," timpal Udin.
"Naik apa kesini Din?" Tanya Kosim.
"Naik angkot, Sim. Gimana jadi ikut kan Sim?" Ujar Udin sangat berharap Kosim ikut.
"Tenang, slow duduk dulu saya bikinkan kopi ya," ujar Kosim.
"Ya boleh deh," kata Udin sambil duduk dibibir teras.
Kosim langsung beranjak dari duduknya melangkah masuk untuk membuatkan kopi meninggalkan Udin duduk sendirian. Udin nampak sumringah melihat sikap Kosim, menurut perkiraannya Kosim pasti bakal ikut.
"Eh, ada tamu..." Arin datang menyapa basa-basi.
"Mas Kosimnya mana?" Tanya Arin.
"Didalam lagi bikin kopi," kata Udin.
"Saya tinggal dulu ya Mas..." ucap Arin ngeloyor pergi masuk melalui samping rumah yang langsung ke dapur.
Di dapur Kosim baru saja selesai menyeduh segelas kopi untuk Udin dan hendak beranjak dari dapur bersamaan itu Arin muncul membuka pintu.
"Siapa itu Mas?" Tanya Arin dengan nada sedikit ketus.
"Itu Udin teman Mas yang ngajak kerja Rin," jawab Kosim antusias.
Arin tidak menyahutinya lagi hatinya sudah terlanjur kesal sejak semalam. Kosim pun bergegas melangkah pergi meninggalkan Arin di dapur.
Arin memang masih menyimpan kesal kepada suaminya itu. Semalam Kosim bersikukuh ingin berangkat ke Wonosobo menerima tawaran temannya padahal sudah dilarang oleh dua kakaknya.
Perasaan Arin pun mendadak cemas teringat ucapan kakak iparnya, Mahmud yang mengatakan soal peringatan mimpi terkait bulan Purnama.
"Ada apa dengan bulan Purnama ya?!" kata Arin dalam hati.
Dalam ketidak mengertiannya, didalam hati Arin timbul perasaan cemas yang tiba-tiba menguasainya. Sepertinya bulan Purnama itu merupakan bahaya besar yang akan menimpa suaminya, pikir Arin. Namun Kosim tadi malam tidak mengindahkan soal Purnama itu.
Disaat dirinya tidak lagi menuntut apa-apa dari Kosim tetapi sikap Kosim membuatnya sangat kecewa. Kalau dulu mungkin dirinya akan langsung menyetujui Kosim pergi berapa lamanya pun asalkan pulang membawa uang banyak.
__ADS_1
Tetapi sekarang disaat dirinya sudah menyadari kesalahannya dan sudah mulai menerima keadaan, Kosim justru malah mengecewakannya. Perasaan praduga negatif pun berseliweran di kepala Arin, bukan menyangka Kosim bermain api dibelakangnya. Sebab hal itu jauh dari kemungkinan karena Kosim sangat mencintainya namun pikiran negatif itu muncul begitu saja mengkhawatirkan keselamatannya.
"Ahhhhkkk..!"
Arin menutup mukanya, pikirannya melayang terlalu jauh memikirkan hal terburuk yang mimpa Kosim. Tanpa terasa air matanya sudah membasahi kedua pipinya, dirinya membayangkan kalau kepergiannya ke Jawa Tengah itu untuk selamanya.
Sementara itu di teras depan rumah, Kosim dan Udin terlihat wajah keduanya sumringah sedang ngobrol sesekali diselingi tertawa.
"Wuih, saya senang banget Sim kamu mau ikut," ujar Udin.
"Nanti berangkatnya jam berapa Din? Apa nanti mobilnya jemput kesini?" Tanya Kosim.
"Kira-kira jam sepuluhan pagi, kamu nunggu didepan aja dipinggir jalan itu biar cepat langsung cabut," kata Udin.
"Oke deh," ujar Kosim.
"Kalau begitu saya langsung permisi aja Sim, sampai ketemu hari Selasa ya.?" ucap Udin menyalami Kosim lalu melangkah pergi meninggalkan Kosim.
Senyum Kosim mengiringi temannya pergi sampai tidak kelihatan lagi. Wajah Kosim nampak begitu ceria, "Kapan lagi dapat uang jutaan. Nanti akan saya ajak Arin dan Dede belanja di Mall, makan di restaurant atau apapun yang dipengeni deh pokonya," hayalnya.
Kosim sama sekali tidak menyadari kalau keputusannya itu membuat banyak orang yang marah dan kesal. Pantas saja jika Abah Dul, Mahmud dan Mang Ali menganggap Kosim tidak menghargai jerih payahnya yang sudah berusaha melindungi dari ancaman Siluman Monyet dengan pertaruhan nyawa.
Seandainya semua tahu yang dirasakan Kosim saat mendapat tawaran kerja dengan imbalan 5 juta itu pasti akan memahami tekadnya. Bagi Kosim uang sebesar itu baru kali ini akan ia dapatkan dari hasil keringatnya yang sudah terpampang didepan mata. Makanya dia tidak pedulikan soal mimpi-mimpi Purnama itu.
Dia tahu bagaimana rasanya tidak punya uang disaat ada kebutuhan penting yang mendesak. Dia juga tahu rasanya di caci maki karena penghasilannya recehan.
Namun yang lebih mengingatkannya lagi, disaat dirinya tidak mengantongi uang sama sekali tiba-tiba ibunya datang untuk meminjam uang untuk membeli beras.
"Nak, boleh Emak pinjem uang buat beli beras."
Kosim bingung setengah mati, mau minta sama istrinya takut kena semprot. Kosim lantas masuk pura-pura hendak mengambil uang.
Namun saat melewati kardus susu anaknya disudut ruang tengah dia berhenti tertegun,
"Berapa juta duit untuk membelikan anaknya susu dalam jangka tiga tahun ini, sedang dirinya semenjak bayi hingga seusia anaknya disusui ibunya dengan ASI-nya penuh dengan kasih sayang," Gumam Kosim dalam hati.
"Engkau telah memberikan semua kasih sayang, harta dan semuanya untuk saya tanpa pamrih, dan semua itu saya terima dengan gratis. Maafkan saya Mak yang tidak tahu balas budi..." gumamnya.
Kosim buru-buru setengah berlari keluar dari pintu belakang menuju rumah Mak Ijah untuk meminjam uang.
Saat itu Kosim segera ia bersujud di kaki ibunya. Beberapa saat lamanya ibunya baru membangukannya, Kosim berdiri menatap wajah ibunya yang teduh meski sudah dimakan usia.
Kosim mencium kening ibunya lalu memberikan uang Rp 1 juta, sambil menangis Kosim berucap; "Mak, jangan berkata pinjam lagi ya, uang saya itu uangnya emak juga. Do'akan saya agar selalu berbakti sama Emak,"
Emaknya berlinangan air mata, seraya berkata;
"Nak, di setiap keadaan apapun Emak selalu berdo'a agar anak-anak Emak diberikan sehat dan rejeki yang berlimpah. Emak juga selalu memohon agar kita semua selalu dapat berkumpul di dunia dan di Surga nanti dalam kebahagian..."
Tanpa disadari, mata Kosim berkaca-kaca mengingat perjalanan hidupnya. Buru-buru di kucek-kucek matanya dengan telapak tangannya sebelum ada yang melihatnya.
......................
🔴RENUNGAN JUMAT
__ADS_1