
Kehidupan di kampung itu enak, tentram, damai lohjinawi. Kultur, adat dan budayanya masih sangat kental masyarakatnya hidup saling menghargai, saling menghormati, saling membantu hingga tercipta makna gotong royong. Makanya dahulu tercetus kalimat gotong royong itu tercipta berasal dari kehidupan masyarakat di kampung.
Di kota yang namanya gotong royong itu nyaris sudah tidak nampak lagi, warganya masing-masing sibuk dengan dunianya dan jarang sekali bersosialisasi dengan tetangga apalagi dengan warga lainnya. Lah wong pagar rumahnya saja tinggi-tinggi dan tertutup seolah-olah tetangga depan kanan kiri tidak boleh melihatnya, hikhikhik...
Di kota itu ada kalanya tetangga dan warganya berkumpul saling bertatap muka hanya pada saat ada salah satu penghuni rumah yang meninggal saja atau pada saat diundang tahlilan selebihnya mereka lebih asyik berdiam diri di rumah daripada duduk ngobrol di pos ronda.
Namun mungkin tidak semuanya kulturnya seperti itu, mungkin masih ada warga kota yang hidupnya masih ada gotong royongnya tapi entah dimana.
Kalau pun di kota masih ada gotong-royong bisa jadi pemukimannya masih didominasi warga lokal. Apakah di kotamu masih ada gotong royong?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
........... Namun sayangnya kondisi terburuknya hidup di kampung itu dalam hal gunjing-menggunjing warga di kampung yang paling jago dibanding warga di kota. Di kampung tidak perlu pakai medsos lagi, cukup dari mulut ke mulut juga dalam sehari orang sekampung sudah tahu semua. Biasanya sambil nyari kutu tuh!
Seperti halnya di kampung tempat tinggalnya Kosim, berawal dari gosipan satu orang di warung, kini seluruh masyarakat akhirnya mendengar kabar tentang Kosim melakukan pesugihan monyet.
Dan sialnya lagi kabar itu bersamaan dengan kejadian-kejadian nyata yang menimpa warga. Beberapa warga merasa kehilangan uangnya secara misterius.
"Saya tadi malam duitnya hilang bu padahal disimpan didalam laci terkunci, paginya saat mau belanja pas dihitung kurang dua lembar seratus ribuan." Ujar ibu-ibu saat belanja di warung.
"Lah, berarti sama tadi malam juga kejadiannya. Malam sebelum tidur suami ngasih uang lima ratus buat belanja, saya taruh aja di atas meja violet, ehh paginya pas saya ambil tinggal empat lembar," timpal ibu-ibu lainnya.
"Kalau saya baru ketahuan kemarin malam. Saya ingat uang itu dari hasil menjual gabah dua ton dan baru menerima uang lima juta pas tidak kuran dan tidak lebih. Dan jelas-jelas uang itu sudah saya hitung lagi sebelum saya simpan. Saat mau dipakai tiap kurang lima lembar, siapa lagi malingnya kalau bukan orang ngepet?!" Ujar Ibu Denok ketus.
Alhasil, tuduhan tidak manusiawi pun ramai-ramai mengarah pada Kosim yang sebelum sudah digosipkan melakukan pesugihan. Kini kabar Kosim menjalani pesugihan monyet berhembus semakin kencang. Nama Kosim menjadi viral ditengah masyarakat meski secara diam-diam dan kasak-kusuk tersembunyi.
__ADS_1
Ngerinya lagi di kampung itu tidak mengenal berita "HOAX" masyarakatnya akan menelan mentah-mentah kabar tersebut sebagai kabar pasti dan benar. Padahal jika ditelusuri mereka akan menjawab, katanya, kata si anu, si anunya ditanya kata si anu lagi dan seterusnya sampai si anunya anu lagi.
Ibarat jatuh tertimpa tangga, nama Kosim dan Arin seperti masuk dalam daftar orang kampung yang diasingkan. Akhirnya Kosim dan Arin pun mendengar kabar tersebut bukan lagi dari Arin saat di warung namun mendengarnya langsung dari Mak Ijah kalau dirinya sedang menjadi omongan para tetangga sekitarnya yang menuduhnya sedang melakoni pesugihan.
"Sim, emak mendengar kabar dari omongan orang-orang kalau kamu menjalani pesugihan monyet, apa benar Sim?!" Tanya Mak Ijah menahan sewotnya.
Kosim menghela nafas berat, dirinya juga marah merasa difitnah seperti itu. Lalu mau tidak mau Kosim pun menjelaskan semuanya pada Mak Ijah yang sudah dianggapnya sebagai orang tua sendiri.
"Demi Allah, Mak... saya memang pernah mencoba, pernah akan melakukannya tapi ritualnya gagal. Dan sampai sekarang saya tidak pernah mencari uang dengan cara itu, Mak..." Terang Kosim emosional.
Arin yang duduk disampingnya hanya diam mendengarkan saja. Ingin rasanya membela suaminya namun tidak dilakukannya sebab dia merasa yang berhak menjelaskan dan tahu semuanya hanya Kosim sendiri.
Arin yang awalnya juga termakan oleh gunjingan orang-orang di warung hingga minggat dari rumah, akhirnya bisa mengerti yang sebenarnya setelah kakaknya menjelaskan dan memberinya pengertian ketika menemuinya di rumah Lulu saat dalam pelariannya.
"Kalau emak percaya sama kamu Sim, tapi bagaiman menjelaskannya pada mereka. Emak juga marah kalau ada orang yang menuduhmu ngepet, karena emak tau betul keadaanmu." Ucap Mak Ijah mulai berkaca-kaca.
"Bisa jadi ya, Sim!" Sergah Mak Ijah sedikit terperangah seperti mendapatkan jawaban dari fitnahan terhadap Kosim.
"Tapi gimana bisa membuktikannya? Sementara orang-orang taunya kamu yang melakukan," Tanya Mak Ijah dengan suara bergetar.
Kosim terdiam beberapa saat,,pikirannya melayang menerka-nerka pasti ada orang yang benar-benar melakukan menjalani pesugihan tapi siapa, pikirnya.
Kosim menyandarkan kepalanya dan menengadah melihat langit-langit ruang tamu membayangkan rumah-rumah disekitarnya yang terlihat tiba-tiba mentereng dan mencurigakan dalam beberapa minggu ini. Namun buntu, dirinya tidak mungkin mencurigai atau menuduh tanpa ada bukti.
"Abah Dul, Mas. Ya minta bantuan Abah Dul pasti bisa!" Tiba-tiba Arin berseru sumringah penuh harapan.
__ADS_1
"Ini harus segera diungkap Sim, sebelum warga benar-benar menuduhmu dan marah," ujar Mak Ijah.
Meskipun selentingan kabar meluas menuduh Kosim yang melakukan pesugihan namun belum ada seorang warga pun yang terang-terangan datang ke rumahnya untuk meminta pertanggung jawaban atas tuduhan perbuatan yang tidak pernah dilakukannya.
"Jika dibiarkan berlarut-larut bukan tidak mungkin keresahan warga akan mudah tersulut menjadi emosi ketika ada seseorang yang memprovokasinya. Dan bisa sangat mungkin akan berubah menjadi anarkis bahkan bisa mengancam keselamatan nyawa saya." pikir Kosim.
Beberapa saat lamanya suasana hening. Raut wajah Mak Ijah masih terlihat gundah mencemaskan Kosim dan keluarganya.
"Sim, kalau menurut emak sebaiknya kamu, Arin dan Dede untuk sementara tinggal di rumah Mahmud lagi dulu sampai susana disini kembali normal," ucap Mak Ijah memecah keheningan.
"Iya Mas, benar saran emak sebaiknya kita tinggal disana dulu," timpal Arin.
Kosim terdiam beberapa saat, terlihat seperti keberatan dengan anjuran Mak Ijah. Padahal jauh didalam batinnya anjuran Mak Ijah itu benar, akan tetapi entah mengapa dirinya merasa sangat berat dan enggan untuk tinggal di rumah kakak iparnya itu. Ada perasaan seperti mencegahnya dengan kuat agar tidak tinggal disana.
"Iya Mak, nanti saya bicarakan lagi sama Mbak Dewi dan Mas Mahmud," ujar Kosim tak ingin membuat Mak Ijah kecewa.
"Ya sudah emak pulang dulu, ya." ujar emak berdiri.
"Dedeee... ayo salim dulu sama Uyut. Uyutnya mau pulang tuh," ucap Arin pada Dede sembari mengulurkan tangan Dede menuntunnya salim.
Kini kerumitan yang dihadapi Kosim berganti lagi harus menghadapi fitnahan orang sekampung. Bertubi-tubi masalah menimpanya sepertinya semua masalah itu agar membuatnya putus asa lalu mati bunuh diri.
......................
Renungan:
__ADS_1
Putus asa merupakan emosi atau perasaan yang ditandai dengan kurangnya harapan, optimisme, dan gairah. Seseorang yang mengalami kondisi ini seringkali tidak memiliki harapan dalam hidup, dirinya sudah menyerah dan tidak memiliki keyakinannya lagi untuk berubah menjadi lebih baik.