
Masih dihari ke-6 menjelang Purnama,
Cahaya senja membias diufuk timur, Kosim masih terus mengerjakan tugasnya memoles dinding dengan adukkan semen disisi luar salah satu rumah di proyek perumahan kota.
"Sim! Turun, turun, sudah setengah lima!" Seru teman-teman pekerja lainnya dari bawah.
"Belum jam lima Kang tanggung sedikit lagi ngabisin adukkan!" Jawab Kosim.
Kejujuran Kosim sudah dikenal teman-teman sesama kuli proyeknya. Dia bekerja sesuai waktu yang sudah ditetapkan, tidak pernah korupsi waktu. Mungkin hanya Kosim yang paling jujur dengan pekerjaannya dibandingkan teman-temannya.
Terkadang manusia itu aneh, pada saat belum mendapat pekerjaan mereka nyari-nyari hingga memohon-mohon agar diterima bekerja. Tetapi ketika sudah bekerja pengennya pulang cepat dan juga mengharapkan libur melulu. Jadi sebenarnya maunya mereka tuh apa? Iya toh?
Satu teplokkan adukkan semen terakhir waktu sudah jam 5 lewat 10 menit. Kosim bergegas turun dari tangga monyet lalu membereskan semua perkakas pertukangannya yang berserakkan. Setelah dicuci, satu persatu dimasukkan kembali kedalam wadah tas yang sudah lecek dan sobek-sobek dibeberapa bagian.
"Kriiiiiing...!"
"Kriiiiiiing...!"
Kriiiiiing...!"
"Kriiiiiiing...!"
"Assalamualaikum, iya Mak. Saya masih di tempat kerja Mak..... Iya... iya... matur suwun ya Mak." Kosim menutup telpon dari Mak Ijah.
Kosim mempercepat beres-beresnya dan bergegas pulang untuk mengabarkan informasi dari Mak Ijah kepada Mahmud, Abah Dul dan Mang Ali.
Suara azan Magrib terdengar bersahutan dari cocong-cocong toa mushola dan masjid saat Kosim sampai di rumah Mahmud.
"Assalamualaikum," ucap Kosim.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Mahmud, Dewi dan Arin yang masih pada duduk di teras depan.
"Mas, bener dugaan saya!" Seru Kosim antusias.
"Dugaan apa Sim?" Jawab Mahmud kebingungan.
Dewi dan Arin hanya melongo menanti ucapan Kosim selanjutnya.
"Itu orang yang menjalani pesugihan," terang Kosim.
"Siapa Mas?!" Sergah Arin.
"Iya, siapa Sim?!" Timpal Dewi.
Kosim turun dari sepeda motornya, sementara Dewi, Arin dan Mahmud memperhatikan dengan raut berharap menunggu jawaban Kosim. Kosim lalu duduk dibibir teras.
"Tapi nanti malam aja saya kasih tau ya, sekalian ngasih tau Abah Dul dan Mang Ali," ujar Kosim sambil nyengir.
"Huuuuhhh!" Dewi dan Arin menimpali bersamaan.
Dewi dan Arin kecewa, jawaban yang ditunggu-tunggunya tak sesuai dengan harapannya. Mahmud hanya tersenyum kalem melihat ekspresi istri dan adik iparnya itu.
"Sudah, yuk sholat Magrib dulu." Sergah Mahmud.
"Saya mandi dulu Mas, kalau kelamaan duluan saja. Syukur-syukur nunggu saya, hehehe.." ucap Kosim.
Mahmud, Dewi dan Arin bersama Dede digendongannya lalu masuk kedalam rumah, sementara Kosim masuk melalui pintu samping yang berhubungan langsung dengan dapur dan kamar mandi.
...----------------...
Selepas Isya pukul 19.30 wib,
__ADS_1
Di ruang tengah, Mahmud, Dewi, Kosim dan Arin bersama Dede disebelahnya baru saja selesai menyantap makan malam diatas tikar duduk lesehan.
"Assalamualaikum..."
"Assalamualaikum..."
Terdengar dari luar suara dua orang mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mahmud, Dewi, Kosim dan Arin spontan brrsamaan
"Itu suara Abah Dul dan Mang Ali," kata Mahmud.
"Biar saya yang buka pintu Mas," sergah Kosim lekas berdiri melangkah meninggalkan ruang tengah.
"Saya beres-beres dulu Mas," sela Dewi.
"Jangan dulu Wi, tawrin Abah Dul dan Mang Ali dulu barangkali mereka belum makan," cegah Mahmud.
Beberapa saat ditunggu-tunggu terdengar suata Abah Dul dan Mang Ali sudah duduk di ruang tamu bersama Kosim. Mahmud pun bergegas menyusul ketiganya.
"Bah, Mang makan dulu ya," tawar Mahmud.
"Suwun, suwun Mud, saya sudah makan. Itu barangkali Mang Ali," sergah Abah Dul.
"Saya juga sudah makan Mud," timpal Mang Ali.
Mahmud lantas kembali ke ruang tengah menyampaikannya pada Dewi dan Arin kalau Abah Dul dan Mang Ali tidak makan.
"Bikinin kopi aja Rin, empat ya," ujar Mahmud.
Sementara Dewi beres-beres membersihkan bekas makan, Arin membawa beberapa piring kotor ke dapur sekalian membuatkan minuman.
"Gimana Sim, sudah ada kabar dari Mak Ijah?" Tanya Abah Dul.
"Nyupang apa katanya Sim?" Sela Mang Ali.
Bersamaan pertanyaan Mang Ali, Arin muncul membawa empat gelas kopi diatas nampan. Arin sempat mendengar pertanyaan Mang Ali, dan ikut penasaran menunggu Kosim menjawab.
"Diminum Bah, Mang Ali..." ucap Arin.
Setelah meletakkan empat gelas kopi diatas meja tamu Arin pun duduk pada sandaran tangan kursi yang diduduki Kosim.
"Siapa Mas? Nyupang apa?" Arin menegaskan pertanyaan Abah Dul dan Mang Ali.
"Kata Mak Ijah Bu Parni," jawab Kosim.
"Oooo... jadi bu Parni, ternyata dia sengaja menghasut ibu-ibu di warung menuduh Mas Kosim untuk menutupi perbuatannya!" Kata Arin geram.
"Kemarin malam kata Mak Ijah, beberapa warga melihat babi dibelakang rumah Haji Goni sedang mengesek-gesekkan tubuhnya ke tembok rumah. Di kampung sana sedang geger itu," terang Kosim.
"Tau pelakunya bu Parni darimananya Sim?" Tanya Abah Dul.
"Warga mulai curiga dengan bu Parni karena seringkali terlihat membeli perabotan rumah yang kelihatannya mewah-mewah. Itupun baru sebatas kecurigaan dan susah membuktikan kalau dia nyupang," jelas Kosim.
"Gimana Mang Ali, eksekusi sekarang?" Kata Abah Dul.
"Hayu," jawab Mang Ali antusias.
"Di ruang tengah aja ya Mud," ujar Abah Dul.
"Rin, ruang tengah sudah dibereskan?" Tanya Mahmud kepada Arin.
__ADS_1
"Sudah Mas. Bah saya boleh ikut lihat ya, ya, Bah..." ujar Arin.
Abah Dul diam sejenak menimbang-nimbang apakah memeiliki efek bahaya atau tidak.
"Iya, boleh..." ucap Abah Dul.
"Yessss! Saya ajak Mbak Dewi ya Bah," kata Arin senang lalu meninggalkan ruang tamu untuk mengabari Dewi.
Semuanya beranjak pindah ke ruang tengah duduk lesehan. Abah Dul, Mang Ali, Mahmud, Kosim memangku Dede, Arin dan Dewi duduk setengah melingkar.
"Gimana Mang Ali?" Abah Dul meminta pendapat.
"Sekarang jam berapa?" Mang Ali balik tanya.
"Jam delapan lewat Mang," ujar Mahmud.
"Nggak bisa sekarang Bah, nanti jam 12 lewat," kata Mang Ali.
"Yaaaaaahhh, keburu ngantuk!" Arin dan Dewi serempak kecewa.
Mahmud, Kosim, Abah Dul dan Mang Ali spontan tertawa melihat reaksi Arin dan Dewi yang ingin sekali melihat dan mengetahui proses pengungkapan pelaku pesugihan.
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Hahahahaha..."
"Tidur... tidur... Mbak, yuk ah" ujar Arin beranjak sambil meraih Dede dipangkuan Kosim lalu melangkah menuju kamarnya.
Dewi pun demikian, dengan wajah kecewa bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang tengah. Suasana menjadi riuh menertawakan Arin dan Dewi mengiringinya melangkah ke kamarnya masing-masing.
Beberapa saat lamanya setelah Arin dan Dewi masuk kamar, Mang Ali menjelaskan cara yang pernah digunakannya untuk mengungkap pelaku peaugihan.
"Biasanya pelaku Babi ngepet menentukan waktu kerjanya itu pada hari Jumat atau malam sabtu dan hari Selasa atau malam Rabu. Sekarang hari apa?" Kata Mang Ali.
"Hari selasa Mang," timpal Kosim.
"Pas kalau begitu, malam ini malam Rabu berarti pelaku akan keluar bekerja mencari rumah-rumah yang berduit," terang Mang Ali.
"Cara mengungkap pelakunya gimana Mang?" Tanya Mahmud.
Mang Ali pun menerangkan cara-caranya dengan jelas dan mendetil. Mahmud, Kosim dan Abah Dul pun manggut-manggut memahami penjelasan itu. Kedengarannya sangat mudah dan tidak berbahaya.
"Apalagi dengan kemampuan Abah Dul, akan semakin mudah," ujar Mang Ali.
"Biasanya saya mengandalkan insting untuk menjeratnya karena saya nggak bisa melihat dari jarak jauh hanya sebatas bisa merasakan keberadaannya," sambungnya.
"Saya nanti gimana Mang Ali?" Tanya Abah Dul.
"Nanti tunggu aba-aba dari saya Bah." Ujar Mang Ali.
Waktu serasa berjalan lambat menuju tengah malam pukul 24.00 wib. Keempatnya saling menyeruput kopi setelah mendengar penjelasan Mang Ali.
......................
NB:
Tidak ada manusia yang sempurna. Meskipun terkenal pintar, pandai dan memiliki kemampuan diatas rata-rata manusia umumnya. Akan tetapi tetap saja ada hal yang tidak bisa dilakukannya sendiri dan pasti akan membutuhkan kemampuan orang lain.
__ADS_1
Contoh kecil paling kelihatan dalam kehidupan sehari-sehari adalah tukang potong rambut, tukang urut, hingga seorang dokter ahli pun kalau sakit keras tetap akan membutuhkan orang lain sesuai kemampuan. APALAGI YA❓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=