
Setelah makan siang tadi Dewi langsung cabut lagi ke tempat kerjanya di dealer motor yang tidak jauh dari rumah sedangkan Mahmud pergi mengontrol kebun cabainya persiapan panen besok lusa.
Udara siang ini terasa lembab, terik matahari sedang berada pada titik kulminasinya. Kosim tiduran di lantai teras depan tanpa alas tikar hanya mengenakan kaos singlet dan celana kolor. Semilir angin dan dinginnya lantai keramik dibawah punggunya sedikit mengurangi kegerahannya.
Kosim tiduran telentang, matanya menatap langit-langit serambi. Pikirannya melayang mengingat lagi rentetan kejadian demi kejadian yang dialaminya. Sudah hampir memasuki satu bulan semenjak melakukan ritual pesugihannya yang gagal, Kosim tak habis pikir dan menyangsikan hari-harinya dipenuhi ragam peristiwa aneh yang tidak masuk diakal hingga beberapa kali sempat mengancam nyawanya.
Ada perasaan cemas dan takut menjalar dihatinya mengingat semuanya itu. Ingin rasanya terbebas dari gangguan-gangguan mahluk gaib dan kembali hidup normal seperti hari-hari biasanya.
Dirinya tidak pernah mengira sebelumnya kalau imbasnya seperti ini, harus mengalami hidup penuh teror dihantui siluman monyet dan harus berjuang ‘Melawan Perjanjian Gaib.’
Beberapa lamanya Kosim hanyut dalam penyesalannya. Tanpa disadari, perlahan-lahan mata Kosim terkatup hingga rapat dan dia lelap tertidur dengan rokok masih terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
Tiba-tiba Kosim celingukkan melihat sekelilingnya. Pandangan matanya tidak bisa melihat apapun, sejauh mata memandang semuanya terlihat gelap dan hitam pekat. Tidak ada yang bisa dia lihat apapun, dia merasa bukan berada di ruangan tetapi berada didalam alam luas yang gelap gulita.
Sekian lamanya Kosim berdiri mematung, diabtertegun dengan perasaan diluputi kebingungan yang luar biasa.
“Dimana ini?!” gumamnya.
Dalam kebingungannya tiba-tiba terdengar desiran angin yang cukup besar entah darimana datangnya. Lalu disusul terdengar suara besar dan berat seperti menggema memenuhi seantero alam ditempatnya berdiri.
Kosim kontan memutar-mutarkan tubuhnya melihat kesekelilingnya namun tidak menemukan siapapun. Rasa takut dan panik langsung menyergap perasaannya.
“Jika ingin terbebas, persiapkan dirimu, tiga hari sebelum Purnama tiba!”
Suara berat dan besar namun sangat berwibawa itu menggema jelas hingga menggetarkan jantung Kosim, seketika kakinya gemetar, keringat dingin langsung mengucur deras membasahi kaos singletnya.
Kosim kian panik, tak henti-hentinya celingukkan kesana-kemari mencari-cari sumber suara. Namun yang dilihatnya hanya hitam dan gelap sejauh mata memandang.
Tiba-tiba Kosim tersentak kaget manakala merasakan sebuah tepukkan halus di dadanya. Sontak Kosim gelagapan terbangun dari tidurnya. Diikucek-kucek matanya sesaat lalu dibukanya, pandangannya melihat plavon putih kemudian melirik kekiri melihat wajah Arin yang berdiri menggendong Dede sedang memandanginya penuh keheranan.
"Kenapa Mas?!" Tanya Arin heran.
Kosim segera duduk dengan wajah masih terlihat kebingungan. Lalu memperhatikan sekitarnya dalam keadaan setengah sadar lalu ditepuk-tepuk pipinya, "Aww!" seru Kosim.
"Kenapa sih Mas?!" Arin mengulang pertanyaannya sedikit cemas.
"Ah, mimpi!" gumam Kosim tidak menghiraukan pertanyaan istrinya.
"Mas..." ucap Arin merasa takut-takut melihat Kosim berbicara sendiri.
"Eh, i, iya Rin..." Kosim gelagapan.
"Kenapa sih Mas? Ngigaunya sampai kedengaran dari dalam," ujara Arin.
"Saya mimpi aneh Rin," ucap Kosim.
__ADS_1
"Mimpi apa Mas?!"
"Seperti peringatan soal Purnama," kata Kosim.
"Memang kenapa dengan Purnama Mas? Arin dibuat bingung.
"Saya juga nggak tau Rin," ucap Kosim.
"Ah, cuma mimpi." Ujar Arin acuh tak acuh.
Arin tidak begitu serius menanggapi cerita Kosim soal mimpinya. Lalu ia ngeloyor kembali masuk meneruskan nonton televisi di ruang tengah. Pikiran Arin dianggapnya hanyalah mimpi biasa.
"Purnama... Purnama... Ada apa dengan Purnama? Sering sekali kata Purnama itu muncul dalam mimpinya, bahkan Abah Dul juga pernah mimpi soal Purnama," ucap Kosim dalam hati.
"Rasanya ini bukan mimpi biasa, ini peringatan! Tapi apa yang harus saya lakukan dengan Purnama?" Kosim mencoba meyakinkan dirinya dalam kegamangannya.
"Assalamualaikum.."
Kosim terkejut bukan main tiba-tiba mendengar suara sesorang mengucapkan salam. Kosim langsung menoleh dengan wajah terkejut dan mulut ternganga.
"Sim, alhamdulillah akhirnya ketemu juga," ucap orang itu.
"Wa'alaikum salam, astagfirullah Din, Udin... Kaget saya," ujar Kosim.
"Emang saya hantu! Kamunya yang bengong aja," seloroh orang yang dipanggil Udin.
"Tadi ke rumah tapi nggak ada siapa-siapa untungnya dikasih tau tetanggamu," kata Udin.
"Mak Ijah? yang rumahnya disebelah?
"Iya, dia ngasih tau kalau kamu sedang di rumah kakak iparnya," terang Udin.
"Iya itu Mak Ijah," selah Kosim.
"Terus dikasih petunjuk kesini, ya dua kali nanya rumah Mas Mahmud di depan sana sih, akhirnya ketemu juga," kata Udin.
"Ada apa Din. Kayaknya bawa rejeki nih, hehehe..." seloroh Kosim.
"Ya dibilang rezeki ya rezeki tapi dibilang bukan rezeki juga bisa. Tergantung kamu Sim," kata Udin.
"Ya udah saya mau rezeki aja deh, hehehe..." ujar Kosim.
"Gini Sim, saya lagi nyari orang untuk kerjaan Seismik. Kamu mau nggak?" jelas Udin.
"Di daerah mana Din?" Tanya Kosim.
"Di Wonosobo Jawa Tengah," jawab Udin.
__ADS_1
Kosim terdiam, terlihat wajahnya ragu-ragu. Pikirannya langsung terbagi dua, disatu sisi dengan kondisi dan situasinya saat ini rasanya tidak mungkin pergi jauh meninggalkannya, dia mengkhawatirkan dirinya, anak dan istrinya.
Tetapi jauh didalam hatinya ada keinginan kuat ingin menerima kerjaan itu. Apalagi saat ini dirinya sedang nganggur karena baru saja dipecat dari kerjaannya di proyek perumahan.
"Gimana Sim? Mau nggak. Saya sih mengharapkan kamu bisa ikut karena saya tau kerjamu," kata Udin membuyarkan lamunannya.
"Kapan batas waktunya Din. Maksudnya saya mau membicarakannya dulu dengan istri saya," ujar Kosim.
"Sampai tanggal 14 Sim, ya lima hari lagi dari sekarang," terang Udin.
"Waduh!" Spontan Kosim bergumam membuat Udin bertanya-tanya keheranan mendengarnya.
"Kenapa Sim?!" tanya Udin.
"Eh, anu... nggak apa-apa Din, hehehe... Ya nanti saya ngobrol dulu dengan istri saya. Besok saya kabarin deh." Kata Kosim.
"Beneran ya Sim, semoga saja kamu bisa ikut." Ujar Udin.
"Mudah-mudahan Din tapi saya nggak janji nih," kata Kosim.
"Nggak lama kok Sim. Kontraknya cuma dua bulan. Bayarannya lumayan gede Sim, lima juta diluar uang makan," Udin berusaha membuat Kosim memberi jawaban saat itu juga.
"Wah, lumayan besar ya Din," ucap Kosim.
"Ya makanya, iya aja sih. Udah nggak usah ragu-ragu gitu," rayu Udin.
"Ya bagaimanapun juga harus dibicarakan dulu sama istri toh Din. Masa ngloyor-ngloyor aja, hehehe..." ujar Kosim.
"Yowis lah, ditunggu kabar baiknya besok ya Sim. Saya langsung cabut lagi," kata Udin.
"Loh, loh... kok buru-buru Din. Ngopi dulu ya, saya buatin nih," sergah Kosim.
"Jangan, jangan! Udah nggak usah Sim, beneran saya masih harus nyari empat orang lagi. Sudah ya saya permisi, Sim." kata Udin beranjak berdiri dari duduknya.
"Yowis, matur suwun ya Din sudah bela-belain sampai nyari saya kesini." kata Kosim.
"Assalamualaikum..." ucap Udin sambil menyalami Kosim pamitan.
Seperginya Udin, pikiran Kosim sibuk menimbang-nimbang tawaran temannya itu. Lima juta bukanlah uang yang sedikit hanya dua bulan lagi, pikir Kosim.
"Tapi bagaimana dengan Purnama itu?! Bagaimana kalau cuma sekedar mimpi saja? Jika saya tolak kerjaan ini berarti lima juta hilang begitu saja didepan mata gara-gara takut dengan mimpi itu." ucap Kosim dalam hati.
Hatinya mulai gamang dengan peringatan-peringatan terkait Purnama yang muncul didalam mimpinya. Tawaran kerjaan dengan bayaran besar dalam waktu singkat itu semakin menggoda dan mendominasi di pikirannya. Kosim nampaknya mengabaikan Purnama!
......................
🔴Jangan Lupa tinggalkan jejak JEMPOLnya...
__ADS_1
🔴Jangan Lupa Klik Favorit...