
Di kejauhan dari ketinggian sepanjang jalan tol, dapat terlihat dengan jelas gumpalan awan hitam yang menggantung di langit terbias oleh cahaya senja yang mulai menghilang seperti memayungi disebuah wilayah arah barat. Sesekali terlihat kilatan- kilatan cahaya petir menjalar dari gelapnya gumpalan awan hitam menghujam ke bumi.
Pertanyaan Abah Dul sekaligus perkiraannya tersebut langsung di benarkan Gus Harun.
"Sepertinya begitu," jawab Gus Harun.
Mahmud yang sedari tadi mendengarkan percakapan Gus Harun dan Abah Dul pun baru memahami apa yang ditunjuk Gus Harun terhadap segumpalan awan yang memayungi suatu daerah dikejauhan tersebut.
"Kira- kira apakah masih ada kemungkinan anak Kosim bisa diselamatkan Gus?" tanya Mahmud.
"Entahlah kang Mahmud, ini sepertinya mustahil," jawab Gus Harun gusar.
Di dalam pikiran Gus Harun saat ini telah terbagi dua yakni sebelumnya memikirkan rencana penyelamatan arwah Dede kini ditambah dengan memikirkan nasib kedua sahabatnya, Basyari dan Baharudin.
Kedua sahabatnya itu tidak diketahui nasibnya, namun Gus Harun memiliki satu keyakinan pastinya Basyari dan Baharudin mengalami suatu kejadian yang membuat mobil serta barang- barang milik dua sahabatnya itu telah berpindah tangan.
"Kenapa sekarang Gus Harun menjadi ragu- ragu?" tanya Abah Dul terdengar sedikit kecewa.
"Iya Dul sekarang fokus saya terbagi memikirkan Basyari dan Baharudin. Bagaimana nasib mereka ya?" ucap Gus Harun.
Mendengar jawaban Gus Harun, seketika pikiran Abah Dul melayang mengingat- ingat lagi dimana saat terakhir kali dirinya tidak dapat menghubungi Basyari maupun Baharudin karena hape keduanya tak aktif.
'Apakah karena hape Basyari dan Baharudin juga ada pada korban kecelakaan itu ya?' kata Abah Dul dalam hati.
Abah Dul mengingat- ingat lagi barang- barang yang diperlihatkan petugas kepolisian saat di polres.
'Sepertinya tidak ada satu pun hape pada barang- barang yang diperlihatkan polisi itu' ucap Abah Dul dalam hati.
"Gus, Mud tadi sewaktu dibkantor polisi itu, ente semua pada lihat hape nggak diantara barang- barang yang diperlihatkan polisi tadi?" tanya Abah Dul.
Pertanyaan yang tiba- tiba itu membuat lamunan Gus Harun buyar yang sedang memikirkan apa yang kemungkinan dialami oleh Basyari dan Baharudin.
Sementara Mahmud langsung menoleh sebentar kearah Gus Harun seolah mempersilahkan Gus Harun untuk menjawab lebih dulu.
"Mm... Saya lihat sih sepertinya nggak ada Dul, memang kenapa?" Gus Harun balik tanya.
"Iya kenapa Bah, saya juga nggak melihatnya," timpal Mahmud.
"Berarti Basyari dan Baharudin masih memegang hape," ujar Abah Dul.
"Iya ya Bah," balas Mahmud.
__ADS_1
"Kalau begitu cepat coba telpon mereka sekarang Dul!" seru Gus Harun matanya berbinar penuh harap.
Abah Dul langsung merogoh saku celananya mengambil hape jadulnya. Lalu segera mencari kontak Basyari terlebih dahulu dan menghubunginya.
Tuuuttt...
Tuuuttt...
Tuuuttt...
"Maaf Nomor yangbada tuju sedang tidak aktif atau tidak dalam jangkauan. Hubungi sesaat lagi"
Setelah terdengar suara operator, Abah Dul langsung mematikan sambungan telpon lalu segera beralih mencari kontak Baharudin.
"Hape Basyari nggak aktif," ujar Abah Dul sambil menunggu penuh harap kali ini telponnya tersambung. Sesaat kemudian wajah Abah Dul terlihat sumringah, "Alhamdulillah nyambung Gus!" seru Abah Dul girang bulan kepalang.
"Alhamdulillah..." gumam Gus Harun dan Mahmud turut sumringah.
"Haddduh!" pekik Abah Dul.
"Kenapa Dul!?" tanya Gus Harun terkejut.
"Kenapa Bah?!" susul Mahmud.
Tuuttt... Tuuuttt... Tuuuttt...
"Tadi tersambung tapi tiba- tiba mati!" seru Abah Dul kecewa.
"Coba lagi Dul!" sergah Gus Harun.
Abah Dul juga dibuat sangat penasaran dan kembali menghubungi telpon Baharudin.
"Maaf Nomor yangbada tuju sedang tidak aktif atau tidak dalam jangkauan. Hubungi sesaat lagi"
Kali ini terdengar Suara wanita dari operator seluler yang menyahut dari kontak Baharudin membuat Abah Dul semakin gusar dan cemas bercampur kecewa.
“Hapenya mati Gus,” kata Abah Dul lemas menghempaskan punggungnya di sandaran jok..
"Sabar Dul, banyak doa saja untuk keselamatan Basyari dan Baharudin," ucap Gus Harun menenangkan Abah Dul.
Tak terasa perjalanan pulang sekarang telah memasuki wilayah Cirebon, Jawa Barat berarti waktu tempuh
__ADS_1
hingga sampai di rumah kurang lebih 1 jam. Hari sudah malam waktu menunjukkan pukul 20.11 wib, Mahmud terus memacu mobilnya diatas kecepayan 80 km/jam sebelum keluar dari tol.
Kini Mahmud mengurangi kecepatan mobilnya setelah keluar dari pintu tol dan meluncur di jalur pantura
yang padat kendaraan. Mahmud melirik ke samping kirinya, ia melihat Gus Harun masih tertidur. Sesaat kemudian Mahmud melihat melalui kaca spion tengah melihat Abah Dul juga sama masih tertidur lalu pandangannya kembali fokus menatap jalan di depannya.
“Mendung…” gumam Mahmud saat mendengar suara guntur di kejauhan.
Mahmud melempar pandangannya jauh keatas langit yang nampak kilatan- kilatan petir di kejauhan
sana. Kilatan berwarna putih terang itu membelah pekatnya langit malam membentuk guratan akar yang menggaris dari atas ke bawah, sekilas terlihat seperti langit retak.
“Benar kata Gus Harun, sepertinya mustahil dapat menyelamatkan arwah Dede. Dan rasanya sangat mustahil
juga seandainya berhasil membawa arwah Dede kemudian Dede dapat hidup kembali setelah terkubur 40 hari,” kata Mahmud dalam hati.
“Akan tetapi kekuasaan Gusti Allah tidak bisa diingkari, jika Gusti Allah meridoi dan berkehendak
kalau upaya Gus Harun dan Abah Dul berhasil membawa arwah Dede dan Dede bisa kembali hidup juga bisa saja terjadi. Bagi Gusti Allah tidak ada yang tidak mungkin, sekali pun sangat sulit diterima akal,” sambung Mahmud dalam hati.
“Lalu apa yang terjadi dengan ustad Basyari dan ustad Baharudin? Semoga saja keberadaannya segera dapat diketahui dan dalam keadaan baik- baik saja, amiin..” doa Mahmud dalam hati.
Mahmud sangat respek dengan jalinan persahabatan antara Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin. Rasa toleransi untuk saling membatu begitu besar diantara mereka terutama terhadap Gus Harun, Basyari
dan Baharudin. Ketiga orang sahabat Abah Dul itu bukan siapa- siapa jika melihat runtutan keluarga terhadap siapa yang hendak mereka bantu, akan tetapi keduanya begitu sungguh- sungguh mau membantu hingga bertaruh nyawa.
“Ya allah, lindungi orang- orang baik ini…” gumam Mahmud tanpa sadar hingga didengar oleh Gus Harun yang
sudah bangun dari tidurnya.
“Sampai dimana kang? Apakah masih jauh?” tanya Gus Harun.
“Eh, Gus sudah bangun. Ini sebentar lagi 30 menitan lagi Gus,” jawab Mahmud.
“Sudah jam delapan lewat tiga puluh lima menit,” tiba- tiba terdengar suara Abah Dul dari jok belakang
yang juga sudah terbangun.
“Masih ada waktu,” ujar Gus Harun.
“Mud, cari rumah makan dulu lah. Baru terasa laparnya, nggak apa- apakan Gus?” sela Abah Dul.
__ADS_1
“Ya udah kita makan dulu,”sahut Gus Harun.
“Injih Gus, nanti didepan ada rumah makan,” timpal Mahmud.** BERSAMBUNG...