Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ANCAMAN BELUM BERAKHIR


__ADS_3

Malam semakin gelap pekàt, namun hawanya terasa lembab dan gerah. Abah Dul cepat-cepat berjalan mènuju rumah Mahmud, sesekali dia mendongak keatas melihat pekatnya langit yang tertutupi oleh gumpalan-gumpalan awan-awan hitam yang tampak bergerombol. Suasana pedesaan begitu sepi, tak satu pun terlihat warga disepanjang jalan yang dilewati Abah Dul bahkan tidak ada satu pun warga yang biasanya terlihat sekedar duduk-duduk di depan rumah mereka masing-masing padahal malam masih berada pukul 10 wib. Abah Dul mempercepat langkahnya, berarak 10 meteran rumah Mahmud sudah terlihat didepan dengan pintu tertutup dan tampak sepi.


“Assalamualaikum..”


“Waalaikum salam...” sahut dari dalam rumah.


Kreeeottt...


Abah Dul langsung membuka pintu yang tidak dikunci. Terlihat Dewi dan Arin sambil menggendong Dede sedang memandangi ustad Arifin yang duduk bersandar pada dinding ruang tengah dengan wajah cenas bercampur ketakutan.


“Abah, tolong ustad Arifin Bah!” Seru Dewi begitu Abah Dul muncul.


Abah Dul tidak terlalu kaget melihat kondisi ustad Arifin dan melihat kepanikan di wajah Dewi dan Arin. Sebab dia sudah mengetahui situasi dan kondisi sebelumnya tanpa sepengetahuan Dewi, Arin maupun ustad Arifin kalau dirinya telah ikut membantunya. Abah Dul melirik sebentar pada sosok Kosim yang masih berdiri didepan pintu kamar Arin sedang memperhatikannya.


“Ambilkan air Wi,” ucap Abah Dul tenang.


Kondisi ustad Arifin cukup memprihatinkan. Nafasnya terlihat berat tersengal-sengal, tangannya memegang dada yang terasa sesak dengan mata tertutup.


Abah Dul duduk besila dihadapan ustad Arifin mengerahkan mata batinnya untuk memeriksa kondisi seluruh tubuh ustad Arifin. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, Abah Dul hanya melihat ada berkas bulat berwarna hitam di bagian dada sebelah kanan ustad Arifin. Rupanya salah satu hantaman si kakek berhasil mengenai dada ustad Arifin.


"Luka dalam ini bukan dari hantaman pukulan bangsa siluman monyet. Bekas pukulan ini seperti sebuah ajian yang tidak asing," batin Abah Dul.


Dewi datang memberikan segelas air putih kepada Abah Dul.


"Kamu, Arin dan tidak apa-apa?" tanya Abah Dul sambil menerima gelas yang di ulurkan Dewi.


"Kondisi Dede gimana?" sambungnya.


"Saya dan Arin nggak apa-apa bah," jawab Dewi.


"Nampaknya Dede tertudur bah," timpal Arin.


"Mas Mahmudnya mana Bah?" tanya Dewi celingukkan.


"Dia lagi nganterin mobil Wi," jawab Abah Dul.


Kemudian Abah Dul memejamkan matanya, mukutnya bergerak-gerak membaca doa-doa. Setelah selesai membacakan doa lalj ia meniupkan doa itu kedalam gelas berisi air putih. Abah Dul menuangkan air didalam gelas sedikit demi sedikit ke telapak tangannya kemudian dibalurkan ke bagian dada ustad Arifin.


"Ustad minum dulu," ucap Abah Dul setengah berbisik ditelinga ustad Arifin.


Perlahan-lahan kedua mata ustad Arifin terbuka. Ia segera meraih gelas yang disorongkan Abah Dul di mulutnya lalu meneguknya hingga tandas.


"Huuuffffhhh...!"


Ustad Arifin menghempaskan nafasnya kuat-kuat. Dia merasakan ada hawa habgat menjalar kesekujur tubuhnya sesaat setelah meneguk air minum yang berisi doa itu.

__ADS_1


"Gimana kondisinya ustad?" tanya Abah Dul.


"Alhamdulillah baik Dul, dimana mereka?!" Tanya ustad Arifin langsung duduk tegak mengedarkan pandangannya.


"Mereka siapa ustad?" tanya Abah Dul penasaran.


"Seorang kakek dan Kosim!" seru ustad Arifin.


"Mas Kosim?!" pekik Arin terbeliak.


"Kosim?!" sergah Dewi.


Ustad Arifin tidak melihat sosok Kosim yang masih berdiri didepannya karena terhalang badan Abah Dul.


"Bah, benarkah ada mas Kosim?!" tanya Arin penasaran.


Abah Dul tidak langsung menjawab, ia pandangi Arin sejenak lalu tersenyum sambil menoleh kebelakang.


"Benar Rin, Kosim ada disini. Apa kamu bisa melihatnya? Dia berdiri didepan pintu kamar tuh," jawab Abah Dul, kemudian menggeser badannya kesamping duduk ustad Arifin.


Ustad Arifin tersenyum, ia melihat Kosim berdiri memandangi Arin yang sedang menggendong Dede dipanhkuannya.


"Itu Kosim Rin," ucap Ustad Arifin pelan sambil menunjuk kearah posisi Kosim berdiri.


Arin memelototkan matanya melihat arah yang ditunjuk. Ia kecek-kucek matanya beberapa kali lalu mencoba melihatnya lagi.


Arin hanya melihat daun pintu kamarnya padahal posisi Kosim berdiri disana. Wajah Kosim tiba-tiba nampak murung menyaksikan istrinya yang tidak bisa melihat dirinya.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikum salam..." sahut mereka Abah Dul, ustad Arifin, Dewi dan Arin bersamaan.


"Itu Mahmud," timpal Abah Dul.


"Dewi, Arin gimana keadaan kalian?!" Mahmud langsung bertanya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Alhamdulillah kami baik-baik saja mas," sahut Dewi.


"Usatd, gimana bisa seperti ini?!" Mahmud langsung menghampiri ustad Arifin.


“Kosim...?!” Ucap Mahmud begitu sadar ada sosok Kosim berdiri.


“Mas Mahmud bisa melihat mas Kosim?!” Sela Arin.


“Mas melihatnya juga?!” Timpal Dewi.

__ADS_1


“Ya, tadi Kosim nuntun kita nyari batu mustika, tapi sewaktu dalam perjalanan pulang tadi tiba-tiba dia menghilang dari dalam mobil,” ungkap Mahmud.


“Kosim juga tadi membantu saya menghadapi serangan si kakek dan juga menghalau kekuatan lain yang datang dari atas,” sergah ustad Arifin.


“Oh iya, sekarang batunya dimana Sim?” Sela Abah Dul bertanya pada Kosim.


“Itu disana bah,” jawab Kosim sambil menunjuk arah pojok ruang tengah.


Abah Dul, Mahmud dan ustad Arifin dapat mendengar ucapan Kosim, ketiganya kontan menoleh kearah yang ditunjuk. Batu mustika kencana naga itu nampak tergeletak dipojok memancarkan cahaya kuning keemasan.


......................


Dialam tak kasat mata,


Pimpinan pasukan monyet penjemput tumbal terlihat membesi menatap atap rumah Mahmud. Wajahnya merah padam karena geram mendapati 20 prajuritnya musnah setelah menghantam perisai yang mengelilingi rumah itu.


“Anggada Soca, kamu cepat periksa kenapa para prajurit itu tiba-tiba terpental dan musnah!” Seru pemimpin pasukan.


Sosok besar berbulu lebat langsung melesat turun dari balik awan hitam yang bergumpal diatas rumah Mahmud. Monyet siluman bernama Anggada Soca itu melayang-layang diatas rumah mahmud, ia tidak berani mendaratkan kakinya diatas atap rumah. Dia memperhatikan dengan seksama sambil melayang mengitari sekeliling rumah Mahmud. Namun perisai yang melindungi rumah itu sama sekali tidak dapat dilihat oleh mata Anggada Soca. Monyet siluman itu menggaruk-garuk kepalanya merasa heran dan kebingungan.


“Aku coba lemparkan tongkat ini ke rumah itu,” kata Anggada Soca.


Wuuusssshhhh....


Kilatan cahaya kelabu terlihat meluncur deras mengarah pada genteng rumah Mahmud.


Duaaarrrrr!!!


Dentuman keras disertai goncangan hebat langsung berkiblat menghantam tubuh Anggada Soca. Tubuhnya langsung terpental keatas, pimpinan pasukan monyet yang memperhatikan itu terkesiap dan langsung menangkap kaki Anggada Soca yang melayang terpental lewat di depannya.


“Heyahhh! Huppp!


Pimpinan pasukan itu berhasil menahan laju tubuh Anggada Soca. Dan langsung diberdirikkan dihadapannya.


“Ampun Anggada Kunca, ada kekuatan yang tidak bisa dilihat melingkupi rumah itu!” seru Anggada Soca sambil memegangi dadanya.


“Kurang ajar! Ayo kita kembali dan laporkan pada junjungan!” teriak Anggada Kunca memimpin pasukannya.


Dalam sekejapan, seluruh pasukan penjemput tumbal itu melesat menampakkan cahaya merah dan menghilang dikejauhan.


......................


Di dalam rumah Mahmud,


"Astagfirullah!" pekik Abah Dul, Mahmud, Ustad Arifin, Dewi dan Arin.

__ADS_1


Suara dentuman disertai goncangan seperti gempa bumi mengejutkan mereka semua dan kembali menimbulkan kepanikan di raut wajahnya. Abah Dul langsung memposisikan duduknya dengan bersila dan memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian sukmanya melesat keatas keluar dari raganya.


......................


__ADS_2