
Gus Harun sedari tadi merasakan dadanya berdebar-debar terus, ada perasaan yang tak enak menghinggapi hatinya namun ia tidak mengetahui apa penyebabnya. Berulang kali Gus Harun mengucap istigfar di dalam hati untuk mengusir perasaan gundah dan cemas tetapi tetap saja perasaan tak enak itu tidak juga kunjung hilang. Gus Harun kian gelisah dalam duduknya di dalam saung tempat ia bermunajat. Beberapa saat lamanya Gus Harun memikirkan mencari-cari penyebab kecemasan yang menyergap segenap perasaannya, akan tetapi tetap menemui jalan buntu tidak ada petunjuk apapun yang di dapatkan Gus Harun.
“Apakah meminta tolong tuan Denta saja, siapa tahu dia bisa melihat apa yang membuat aku cemas?!” ucap Gus Harun dalam hati.
Setelah menimbang-nimbang untuk meminta bantuan tuan Denta, akhirnya Gus Harun pun memutuskan untuk meneruskan niatnya dengan memanggil tuan Denta. Dia berharap tuan Denta dapat memberikan penjabaran tentang perasaan cemas yang menghinggapi perasaannya, sebab perasaan tak enak hati tersebut lebih merujuk pada sebuah firasat buruk.
“Assalamualaikum, tuan datanglah kemari...” ucap Gus Harun memanggil tuan Denta sambil berkonsentrasi menutup matanya.
Tak beberapa lama usai Gus Harun mengucapkan itu, tiba-tiba dari arah atas Gus Harun merasakan ada hembusan angin yang menerpa tubuhnya, Gus Harun pun membuka matanya. Dan ia pun terpekik kaget karena di depannya sudah duduk sesosok mahluk dengan pakaian jubah hitam yang menutupi kepalanya sambil menunduk.
“Tuan Denta?!” pekik Gus Harun sedikit terkejut.
Gus Harun sendiri tidak mengira pemanggilan terhadap tuan Denta akan mendapat respon secepat itu, selain itu pemanggilan ini pun baru pertama kalinya dilakukan oleh Gus Harun. Awalnya sempat ragu dan enggan untuk memanggil mahluk Jin tersebut akan tetapi karena keadaan yang mendesak, ia pun terpaksa meminta bantuannya sebab saat itu di kepalanya yang terlintas hanyalah sosok tuan Denta.
“Assalamualikum... salam tuan Gus Harun,” ucap tuan Denta.
“Wa’alaikum salam, maaf mengganggu tuan,” balas Gus Harun.
“Jangan sungkan tuan, aku siap kapan pun tuan Gus Harun membutuhkan dan memanggilku, ada apa tuan?!” tegas tuan Denta.
__ADS_1
“Terima kasih tuan, mmm... begini tuan, aku merasakan firasat buruk sejak tadi, bisa kah tuan Denta melihat penyebab kecemasan ini?!” ungkap Gus Harun.
“Baik tuan,” sahut tuan Denta kemudian merubah sikap duduknya.
Tuan Denta menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, tak lama kemudian wajah tuan Denta berubah serius. Dia mengerutkan dahinya dalam-dalam terlihat seperti sedang melihat-lihat sesuatu keadaan. Mudah saja bagi tuan Denta untuk mendeteksi suatu keadaan yang menjadi penyebab kecemasan yang di rasakan oleh Gus Harun sehingga menjadi sebuah firasat buruk, tuan Denta hanya melakukan pengontrolan terhadap sahabat-sahabat Gus Harun melalui aura kecemasannya. Dengan menyebarkankekuatan aura spritualnya terhadap orang-orang yang dekat dengan Gus Harun.
Diawali dengen mendeteksi dari lingkungan keluarga terlebih dahulu mulai dari kedua orang tuanya, adik- adiknya, akan tetapi tidak ditemukan sesuatu apa pun yang membahayakan keluarga Gus Harun.
Kemudian tuan Denta beralih menelusuri orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengan Gus Harun, saat itulah tuan Denta melihat sebuah energi kekuatan yang menariknya menuntun ke kediaman Mahmud. Tuan Denta langsung merasakan sesuatu bahaya yang sedang dialami Abah Dul. Seketika tuan Denta menajamkan penglihatannya agar melihat lebih jelas terhadap kondisi Abah Dul yang nampaknya dalam keadaan kritis. Tuan Denta melihat Abah Dul terkulai lemas dibawah lilitan mahluk ular hitam.
“Astagfirullah tuan! Sahabat Dul sedang dalam ancaman tuan!” seru tuan Denta tiba-tiba.
“Pegang tanganku tuan Gus Harun!” seru tuan Denta.
Seketika itu juga Gus Harun langsung menuruti ucapan tuan Denta, ia segera menyambut tangan yang diulurkan tuan Denta dan memegang punggung tangannya. Lalu sesaat kemudian Gus Harun dan tuan Denta lenyap dari saung tempat Gus Harun duduk sebelumnya tanpa meninggalkan bekas apapun.
......................
Batu mustika Raja Jin yang tersimpan di dalam tubuh Abah Dul seketika memberikan reaksinya disaat kondisi Abah Dul diambang batas dan dalam kondisi kritis. Batu mustika berwarna merah pekat itu seketika memancarkan cahaya merah pekatnya yang muncul di tangan Abah Dul sekaligus menarik sukmanya yang nyaris lepas untuk selamanya.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan, dua sosok tak kasat mata muncul di ruang tamu rumah Mahmud. Kedua mahluk dalam kondisi tak kasat mata itu adalah Gus Harun dan Tuan Denta, keduanya dapat menyaksikan Mahmud dan ustad Arifin sedang dalam kepanikan yang teramat sangat. Andai saja Mahmud dan ustad Arifin saat itu masih menggunakan mata batinnya, mereka pasti langsung dapat mengetahui kehadiran Gus Harun dan Tuan Denta. Keduanya langsung menutup lagi mata batinnya ketika melihat mahluk yang menyeramkan sedang melilit tubuh Abah Dul karena ketakutan.
“Tuan, tuan bantu tuan Dul saja. Biar aku yang urus siluman ular itu!” kata tuan Denta.
Ular hitam sebesar pohon kelapa yang melilit kuat tubuh Abah Dul tiba-tiba meledak bersamaan munculnya cahaya merah di telapak tangan Abah Dul yang berasal dari batu mustika Raja Jin. Pendaran cahaya kelabu dari tubuh ular tersebut memercik kesegala arah seperti sebuah kembang api, kemudian lama- kelamaan percikan-percikan api tersebut lenyap secara bersamaan dan menyisakkan satu cahaya sebesar genggaman tangan. Cahaya kelabu itu melesat keatas langit lalu menuju arah selatan.
Tuan Denta segera mengikuti lesatan cahaya kelabu tersebut sambil menghunus pedang besar berwarna merah di tangannya. Hanya dalam sekejapan mata, cahaya kelabu sebesar kepalan tangan itu melesak memasuki sebuh gubuk kayu di lereng gunung. Sementara dibelakangnya, tuan Denta mengikuti dengan ujung pedang terarah membidik gumpalan cahaya kelabu tersebut. Tinggal satu langkah lagi cahaya itu akan memasuki tubuh seorang kakek yang duduk bersila menghadap pedupaan dan beragam kembang, tiba-tiba cahaya itu meledak dan memberikan kekuatan kejut yang menghantam tubuh kakek tersebut.
Duarrrr!!!
Suara dentuman menggema hingga keluar pondokkan kayu saat mata pedang tuan Denta berhasil menghantam gumpalan cahaya kelabu tersebut. Tuan Denta melihat tubuh seorang kakek terhempas menabrak dinding kayu oleh ledakan itu. Kakek itu tak lain adalah Ki Suta yang sebelumnya sedang menyerang Abah Dul dengan menggunakan santet ular andalannya.
Tuan Denta tak memberikan kesempatan bernafas leluasa kepada Ki Suta, dia secepat kilat melemparkan pedang besar berwarna merah. Pedang berkilat merah itu kembali meluncur mengarah dada Ki Suta yang terduduk menggelosoh bersandar pada dinding kayu. Ki Suta menyadari datangnya bahaya yang menyongsongnya, ia pun segera menjatuhkan badan ringkihnya dengan gesit. Sehingga tusukkan pedang merah yang dilemparkan tuan Denta itu hanya melintas diatas kepala Ki Suta hingga menembus keluar dinding pondokkan tearsebut.
Ki Suta terengah-engah mengatur nafasnya yang terasa sesak oleh luka di dadanya sebelumnya di tambah lagi oleh hawa panas dari pedang merah milik tuan Denta. Dia segera bangkit berdiri untuk menghadapi tuan Denta meskipun di dalam hatinya sudah ciut nyalinya, bagaimana pun juga Ki Suta dapat merasakan dan dapat mengukur kalau sosok mahluk di hadapannya itu kekuatannya jauh diatasnya dan bukan lagi levelnya untuk adu kekuatan.
Wajah Ki Suta nampak pasrah dengan terpaksa harus menghadapi sosok yang jelas-jelas bukan tandingannya. Di saat tuan Denta melancarkan tebasan pedang merahnya ke leher Ki Suta, tiba-tiba satu kilatan memancar dari tubuh Ki Suta disertai dengan suara dentuman keras. Dua kekuatan besar pun bertabrakkan menimbulkan daya kejut hingga menggetarkan pondok kayu itu.
Buuummm!
__ADS_1
......................