
Sejak pagi langit nampak mendung melingkupi desa Sukadami. Awan-awan kelabu bergerak perlahan-lahan bersama tiupan angin kearah selatan. Alam seperti menunjukkan reaksinya menaungi iring-iringan para pelayat berjalan menuju ke tempat pemakaman umum.
"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar..."
"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar..."
"Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar..."
(Artinya: Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada satu Tuhan pun yang disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar)
Kalimah-kalimah zikir terus dilantunkan oleh para pelayat yang berjalan dibelakang mengiringi empat orang yang menggotong keranda mayat. Di barisan depan iring-iringan pelayat, seorang ibu muda memakai kerudung hitam berjalan gontai. Isak tangisnya samar-samar terdengar berbaur diantara suara zikir pelayat, air mata tak henti-henti meleleh deras membasahi di kedua pipinya. Wanita itu tak lain adalah Arin.
Di samping kanan Arin, Dewi membimbingnya sambil terus-menerus menenangkannya agar ikhlas menerima takdir dengan meninggalnya Dede. Meskipun Dewi sendiri terasa hancur hatinya mendapati kenyataan yang ada, keponakan satu-satunya yang sangat dia sayangi layaknya anak kandung sendiri telah pergi untuk selama-lamanya.
Tingkah lucu anak berusia 3 tahunan itu masih begitu lekat menggambar jelas di dalam pikirannya. Semenjak Kosim, Arin dan Dede tinggal di rumahnya, hari-hari Dewi tak lagi hambar dengan kehadiran anak kecil di rumahnya itu. Dewi begitu menyayangi Dede selayaknya darah dagingnya sendiri, rasa bahagia itu semakin lengkap karena Dede memanggilnya Mamah. Panggilan itu mempunyai makna tersendiri bagi Dewi yang seakan-akan turut merasakan menjadi seorang ibu dan sedikit melupakan penantiannya selama 5 tahun lebih keinginannya memiliki momongan yang Allah Subhanahu Wataala belum juga mengabulkan.
"Mamah Dewi..."
Suara lucu dari anak kecil yang memanggilnya itu seperti masih lekat terngiang-ngiang di telinga Dewi. Kini Dewi menyadari panggilan itu tidak lagi akan terdengar di rumahnya. Dirinya pasti akan selalu merindukan panggilan itu, selamanya...
Berjalan di samping kiri Arin, nampak Mahmud yang berjalan tertatih-tatih merangkul erat bahu Abah Dul yang memapahnya. Kepalanya masih terbalut melingkar kain perban, masih nampak jelas rembasan-rembasan berwarna merah di bagian dahi dan samping kepala menodai putihnya perban. Tangan kanannya dibungkus kain penyangga yang juga dipenuhi balutan perban hingga pangkal siku dan beberapa luka di kedua kakinya nampak masih mengeluarkan darah yang merembas dalam balutan perban.
__ADS_1
Mahmud sendiri seharusnya tidak diperbolehkan meninggalkan rumah sakit karena kondisinya masih belum stabil dan syok. Di tambah lagi dengan luka-luka yang ada di tubuhnya, sehingga dokter melarangnya pulang. Namun karena dorongan ingin melihat keponakkannya untuk terakhir kali, akhirnya Mahmud bersi keras memaksakan diri untuk pulang sejenak hanya untuk bisa ikut mengantarkan Dede ke pemakaman.
Air matanya sudah tak bisa di bendung lagi mengalir di kedua pipinya. Hatinya sangat terpukul sekali, Mahmud menyalahkan dirinya sendiri. Berbagai pikiran seperti "mungkin, andai," dirinya dapat memberikan batu mustika itu mungkin nyawa Dede dapat terselamatkan.
Jika mengingat itu semua tangis Mahmud kembali membuncah hingga bahunya berguncang-guncang. Penyesalan yang teramat sangat tak henti-hentinya terngiang di dalam pikirannya.
"Sabar Mud, ikhlas... ikhlas..." ucap Abah Dul lirih.
Abah Dul turut merasakan Mahmud menangis tersedu-sedu, ia hanya bisa mengusap-usap punggung sahabatnya itu untuk menenangkannya. Jauh di dasar batinnya, Abah Dul tak henti-hentinya meminta maaf yang sebesar-besarnya karena tidak berdaya menolong Dede. Dirinya merasa kalau segala upayanya untuk menyelamatkan Dede selama ini ternyata sia-sia.
Beberapa lama kemudiian, iring-iringan pelayat sudah sampai di tempat pemakaman Dede. Liang lahat nampak sudah siap menerima mahluk Tuhan yang kembali ke tempat asalnya.
Arin bersimpuh 5 langkah di samping liang lahat itu, kedua kakinya serasa sudah goyah tidak kuat lagi menopang kakinya untuk tetap berdiri melihat prosesi pemakaman putranya. Arin masih bertahan sekuat tenaga agar dapat melihat putranya untuk terakhir kalinya.
Arin nampak masih tegar menyaksikan putranya di masukkan ke liang lahat hingga jasadnya tidak lagi terlihat. Setelah itu beberapa warga turut membantu mengurug tanah menutup liang lahat. Beberapa kali cangkulan tanah mulai menimbunnya, dan Arin masih terlihat tegar. Namun ketika tanah sudah mulai menutup liang lahat, Arin langsung terkulai menggelosoh tak sadarkan diri. Arin sudah tidak kuat lagi menyaksikan penguburan putranya.
Dewi segera merengkuh tubuh Arin sebelum kepalanya jatuh menimpa bangunan kuburan di belakangnya. Tangis Dewi kembali membuncah setelah sempat terhenti beberapa saat melihat adiknya pinsan.
Diantara para pelayat yang datang memenuhi prosesi pemakaman Dede, sesosok berbentuk kabut berdiri di belakang para peziarah. Sosok itu berdiri di bawah pohon Asam tak begitu jauh dari tempat Dede di kubur. Sosok itu adalah Kosim, pandangan matanya nampak sayu menatap prosesi itu. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kehadirannya, mungkin hanya Abah Dul dan ustad Arifin yang dapat melihatnya andaikan mereka tahu ada Kosim diantara para pelayat.
Beberapa lama kemudian prosesi pemakaman Dede pun selesai dengan diakhiri doa yang di pimpin ustad Arifin. Satu demi satu, para pelayat yang turut mengantarkan jenazah Dede pun meninggalkan tempat pemakaman.
__ADS_1
Kini tinggal Mahmud, Abah Dul, dan Dewi yang mendekap tubuh Arin yang masih tak sadarkan diri, semuanya berjongkok menghadap gundukkan tanah merah yang diatasnya bertaburan bunga-bunga yang masih segar. Mahmud kembali sesenggukkan menangis meratapi Dede, tangannya meremas kuat-kuat gundukkan tanah merah itu penuh emosional. Rasa bersalahnya menyesaki dadanya, Mahmud tak henti-hentinya mentalahkan dirinya sendiri. Mahmud merasa kalau kematian Dede itu karena dirinya.
Andaikan....
Andaikan...
Andaikan...
Kejadian malam itu seolah-olah terus-menerus menghantui pikirannya. Seandainya Mahmud tahu kalau malam itu Kosim datang ke rumah sakit untuk mengambil batu mustika itu mungkin saja rasa penyesalannya akan semakin bertambah dan akan semakin merasa sangat bersalah. Karena dirinya meninggalkan rumah sakit di saat semuanya membutuhkan dirinya. Apalagi dirinya menjadi satu-satunya yang membawa harapan untuk menyelamatkan nyawa Dede.
Kosim yang sedari tadi memperhatikan prosesi pemakaman putranya di bawah pohon Asam lalu melayang dan berdiri di samping Abah Dul. Abah Dul sempat terkejut sesaat mendongak melihat kehadiran Kosim secara tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Sim..." gumam Abah Dul menyapa Kosim.
Meskipun pelan gumaman Abah Dul jelas di dengar oleh Mahmud dan Dewi. Suami istri itu langsung menoleh kearah Abah Dul yang sedang mendongak melihat Kosim berdiri dengan raut penuh keheranan.
"Kosim?!" timpal Mahmud dan Dewi bersamaan.
Abah Dul baru tersadar kalau kehadiran Kosim hanya dirinya yang dapat melihat. Lalu mengutarakannya pada Mahmud dan Dewi.
"Iya, ada Kosim berdiri di samping saya," ungkap Abah Dul.
__ADS_1
Di balik wajah dingin dan tatapan sayu matanya, Kosim terlihat memendam amarah yang teramat sangat. Di dalam perasaannya telah membatu dan terukir satu-satunya kata, yaitu DENDAM. Ia bertekad akan membalaskan dendam apapun caranya.
......................