
Karso memilih meja di sudut dekat jendela menghadap langsung area taman bermain yang disediakan restourant tersebut. Suasana didalam restouran lumayan ramai, mungkin karena akhir pekan. Di sampingnya berdiri seorang wanita muda dengan paras cantik yang merupakan pramu saji menunggu dan siaga untuk menulis menu makanan yang dipesan Karso dan mang Jaka.
“Ayo Jak, kamu pilih menu yang kamu suka,” kata bos Karso.
Mang Jaka langsung menggeser buku menu didepannya, ia membuka lembar demi lembar memilih menu. Mang Jaka nampak sedikit bingung sehingga cukup lama ia membolak balik lembaran menu berulang kali.
“Saya pesan ini mbak, tongseng sapi sama sayur shop ya, minumnya es jeruk,” kata bos karso.
“Baik pak,” sahut pramu saji sambil sibuk menulis pesanan bos Karso.
“Jak kamu pesan apa?” tanya bos Karso menoleh kearah mang Jaka.
Mang Jaka nampak gugup karena belum menentukan menu mkanannya. Raut wajahnya tampak ragu –ragu ketika melihat dahtar harga pada makanan yang tertulis di buku menu.
“Sama aja deh dengan yang dipesan bos,” ujar mang Jaka beberapa saat dalam kebingungannya.
“Sama seperti saya katanya mbak,” timpal bos Karso pada wanita pramu saji.
“Baik pak, saya ulangi lagi pesannanya ya. tongseng sapi sama sayur shop dua dan minumnya es jeruk dua?”
ucap wanita pramu saji setengah bertanya.
“Iya mbak,” sahut bos Karso.
“Baik, di tunggu ya pak,” ucap wanita pramu saji lalu pergi meninggalkan meja bos Karso dan mang Jaka.
Bos Karso hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Sepeninggal wanita pramu saji mang Jaka buru- buru
mengungkapkan unek- unek di dalam hatinya.
“Bos, harganya mahal- mahal saya jadi nggak enak mau milih makanannya juga,” kata mang Jaka.
“Tenang aja Jak, nggak bakalan memotong gajimu, hehehe…” balas bos Karso nerkelakar.
“Kan sudah saya bilang kamu pilih menu makanan apa saja,” sambung bos Karso disela tertawanya.
“I, iya sih tapi tetep saja merasa nggak enak bos. Kalau saya makan disini sama keluarga, istri dan dua anak saya bisa- bisa nggak makan sebulan nih bos, hehehe…” ujar mang Jaka.
Setelah beberapa saat lamanya sekitar 15 menitan pesanan pun datamg. Wanita pramu saji datang bersama pelayan laki- laki muda membawa nampan berisi makanan lalu mempersilahkan bos Karso dan mang Jaka untuk menyantapnya.
“Silahkan dinikmati pak, saya permisi,” ucap wanita pramu saji menganggukkan kepala.
__ADS_1
“terima kasih mbak,” balas bos Karso.
Diatas meja tertata rapih satu wadah nasi, dua mangkuk besar Tongseng, dua mangkuk besar sop iga sapi, dua gelas air putih dan dua gelas es jeruk. Bos Karso pun langsung mengambil nasi satu centong lalu menyantapnya. Melihat bos Karso sudah memulai makan, mang Jaka pun mengikutinya. Pertama- tama mang Jaka menyendok kuah Tongseng menyicipinya terlebih dahulu.
“Waaahhh, ini enak banget ya bos, apa namanya tadi?” tanya Mang Jaka begitu girang lalu menciduk nasi sebanyak dua centong.
“Hehehe… Tongseng Sapi, ayo dimakan Jak,” balas bos Karso terkekeh melihat tingkah mang Jaka.
30 menit kemudian mang Jaka menyudahi makannya dengan diakhiri suara bersendawa yang ditahan sambil menutup mulutnya.
“Ueeenak banget bos,” jawab mang Jaka sambil mengacungkan jempol.
“Nanti saya pesankan lagi untuk anak istrimu di rumah ya,” kata bos Karso.
“Beneran bos?” tanya mang Jaka girang.
“Iya, biar ikut merasakan juga. Masa kamu enak- enakan makan seperti ini, orang di rumah mu nggak,” ujar bos Karso.
“hehehe… iya deh bos,” balas mang Jaka.
Bos Karso langsung memanggil pelayan restoran yang melintas sehabis mengantarkan mankanan di meja seberang. Pelayan laki- laki muda pun menghampiri meja bos Karso.
Bos karso pun meminta pelayan memesan makanan seperti yang dia makan sebelumnya untuk dibungkus.
“Baik pak, nanti pesanan yang dibungkus kami siapkan di kasir ya pak,” ucap pelayan lalu meninggalkan meja bos Karso dan mang Jaka.
Seketika Mang Jaka membayangkan istri dan dua anaknya bakal senang dan pasti bakal keenakan memakan Tongseng dan sop iga tersebut.
“Oiya Jak, kamu punya anak berapa?” tanya bos Karso tiba- tiba seketika membuyarkan angan mang Jaka.
“dua bos,” jawab mang Jaka.
“Umur berapa?” tanya bos Karso tersenyum.
“Yang pertama laki- laki SMP kelas tiga dan yang kecil perempuan baru masuk SD tahun ini bos,” jawab mang Jaka polos.
“oh,’ gumam bos Karso sambil manggut- manggut.
......................
Malam masih belum larut, sekitar pukul 9 malam mobil Karso sudah tiba kembali di rumah Karso. Mang Jaka segera turun untuk membuka pintu gerbang.
__ADS_1
“Jak, jangan lupa ini dibawa,” kata bos Karso menunjuk bungkusan plastik bertuliskan nama restourant.
“Iya, bos,” mang Jaka pun langsung mengambil bungkusan yang di letakan di jok belakang.
“Saya langsung pulang ya bos,” ucap mang Jaka berpamitan.
“Iya jak, hati- hati di jalan jangan ngebut,” ujar bos karso.
“Siap bos!” balas mang jaka.
Tak lama kemudian mang Jaka meluncur di jalan desa dengan perasaan senang tak terkira. Benaknya kembali membayangkan ekspresi kegembiraan istri dan anak- anaknya ketika dirinya pulang membawa makanan mahal dan enak.
Mang Jaka sedikit lebih kencang melajukan sepeda motor bututnya yang mengeluarkan asap dari knalpoynya. Dia ingin cepat- cepat segera sampai di rumah.
Sekitar 15 menitan, mang Jaka sudah sampai di depan rumahnya yang sederhana. Segera mang Jaka memanggil- manggil istrinya sambil mempercepat langkahnya setelah menyetandarkan sepeda motornya.
“Neeeng… Nengsih…!” seru mang Jaka memanggil istrinya.
Bersamaan mang Jaka sampai didepan pintu, pintu pun dibuka dari dalam. Muncul istrinya dengan raut wajah penuh keheranan. Tak biasanya suaminya pulang sambil berteriak- teriak memanggilnya begitu.
“Ada apa kang sampai teriak- teriak begitu?!” tanya Nengsih heran.
“Ini, Neng… ini ayo makan. Rido sama Aisyah belum tidur?” tanya mang Jaka menyerahkan bungkusan makanan pada istrinya.
“Belum, tuh masih nonton tivi,” jawab Nengsih lalu meutup pintu kembali setelah mang Jaka masuk.
“Apa ini kang?” tanya Nengsih penasaran.
“lauk makan Neng, ini namanya Tongseng, ueeenak banget,” kata mang Jaka.
“Emang kang Jaka sudah makan?” tanya Nengsih.
“Sudah tadi sama bos karso dan ini di bungkusin juga sama bos Karso buat Neng sama anak- anak,” kata mang jaka.
“Yaaahhh, baru saja selesai makan kang, tuh bekasnya belum diberesin,” kata Nengsih kecewa.
Terlebih Mang Jaka, ia nampak kecewa sekali. kenyataannya tidak sesuai dengan bayangannya selama dalam perjalan pulang tadi. Padahal mang Jaka ingin sekali melihat ekspresi dari istri dan dua anaknya makan makanan yang sangat enak dan mahal tersebut. Namun mang Jaka memaklumi tidak bisa memaksakan merea untuk makan lagi.
...----------------...
BERSAMBUNG.....
__ADS_1