
Jauh di negeri tak kasat mata, istana Siluman Monyet baru saja bergetar dan berguncang hebat. Raja Kalas Pati nampak meradang marah besar sampai memghantamkan tongkat besar berwarna kuning emas ke tiang penyangga istana.
"Kurang ajar! Lagi-lagi gagal membawa anak Kosim!" Teriak Raja Kalas Pati.
Wajahnya memerah, sorot matanya tajam menyapu seluruh para Petinggi kerajaan Siluman Monyet. Empat taring runcing mencuat dari sudut bibirnya yang tebal dan hitam.
Semuanya diam tertunduk tidak ada yang berani bertingkah meskipun hanya menggaruk-garuk kepalanya.
"Anggada Wisesa, panggil prajurit-prajurit terkuat yang tersebar di Pulau Jawa. Suruh menghadap aku!" Seru Kalas Pati.
Siluman Monyet yang dipanggil Anggada Wisesa maju selangkah dari barisan. Ia membungkuk memberikan hormat dan berkata, "Laksanakan Tuan Raja kami."
......................
Di rumah Mahmud,
Kosim sudah duduk atas tikar di ruang tengah bersama Mang Ali. Ia meringis kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa terbakar saat mencekal tangan anaknya yang sedang dirasuki siluman monyet.
Dia merasa heran dan tidak mengerti dengan apa yang barusan dialaminya. Tangannya seperti terpental diiringi kepulan asap ketika menyentuh kulit Dede.
"Apakah sosok suara tanpa rupa kalah energinya dengan monyet siluman itu?" Gumamnya dalam hati.
"Kenapa sosok itu tidak muncul memperingatiku?" Hati Kosim bertanya-tanya.
Kosim tertegun memandangi telapak tangannya yang masih terasa sakit seperti habis tersengat listrik. Ada rasa kesemutan yang disertai panas hingga menjalar kedalam tubuhnya.
"Kenapa sosok suara tanpa rupa itu tidak membantuku?" Keluhnya dalam hati.
Melihat Kosim termangu sambil terus-menerus meringis kesakitan, Mang Ali pun berinisiatif mengobatinya.
"Sim coba saya obati ya," kata Mang Ali.
"Ia Mang Ali, panas sekali rasanya." Balas Kosim.
"Kamu pejamkan mata sambil baca Sholawat didalam hati ya," ucap Mang Ali sambil memposisikan duduknya.
Mang Ali duduk bersedeku menghadap punggung Kosim. Sesaat mulutnya komat-kamit lalu menghirup udara dalam-dalam melalui hidungnya kemudian dihepaskannya melalui mulut kuat-kuat.
"Fuhhhhhh!"
Udara yang disertai tenaga dalam itu menerpa punggung Kosim. Kosim merasakan seperti ada hawa sejuk yang merasuki punggung lalu menjalar menyebar keseluruh tubuh mengikuti aliran darahnya.
Telapak tangan Kosim yang semula terasa kesemutan dan panas berangsur-angsur hilang. Kosim lalu mengibas-ngibaskan tangannya kegirangan seolah tidak percaya rasa panas dan kesemutan itu hilang seketika.
__ADS_1
"Alhamdulillah, hilang sakitnya Mang Ali!" Seru Kosim senang.
"Alhamdulillah, syukurlah..." sahut Mang Ali.
Bersamaan itu Abah Dul keluar dari kamar setelah Dede dapat teratasi lalu duduk menghampiri Kosim dan Mang Ali. Disusul dibelakangnya, Mahmud, Dewi dan Arin terlihat membopong Dede didekapannya penuh cemas.
Ketegangan berangsur-angsur hilang. Kini mereka duduk berkumpul di ruang tengah. Dewi lalu beranjak mengambil obat-obatan di kotak obat dekat dapur untuk mengobati luka suaminya dan Arin.
"Dede gimana Bah?" Tanya Kosim mencemaskannya.
"Alhamdulillah sudah dapat diatasi Sim," jawab Abah Dul.
"Saya kenapa ya Bah, tiba-tiba mental merasakan sakit dan panas seperti terbakar saat menyentuh tangan Dede," ujar Kosim keheranan.
"Saya juga nggak ngerti Sim, saya lihat ada asap mengepul saat tangan kamu menyentuh Dede," timpal Abah Dul.
"Gimana sakitnya Sim?" Tanya Abah Dul.
"Mas, kamu nggak apa-apa?" Sela Arin sambil menggendong Dede.
"Alhamdillah nggak apa-apa Rin, sudah hilang Bah, tadi Mang Ali yang mengobatinya," kata Kosim menjawab kedua pertanyaan.
"Dede gimana?" Tanya Kosim sambil meraih Dede dari gendongan Arin.
"Pipi kamu terluka Rin," kata Kosim sambil menyentuh luka di pipi Arin.
"Aduh! Mas, lumayan perih." rintih Arin sambil meringis saat lukanya diusap Kosim.
Lalu gantian Kosim memandangi dalam-dalam Dede yang tergolek dipangkuannya. Perasaan bersalah langsung menghinggapi dirinya.
"Maafin ayah nak, kamu ikut merasakan akibat perbuatan ayah." ucap Kosim dalam hati.
Semuanya kini berkumpul di ruang tengah. Arin, Mahmud, Mang Ali, Kosim dan Abah Dul duduk bersandar ďitembok dengan wajah-wajah letih.
Tak lama kemudian Dewi datang membawa betadine langsung menghampiri Arin dan mengoleskannya pada luka bekas cakaran Dede.
"Awww! Pelan-pelan Mbak, perih..." kata Arin meringis.
"Maaf, maaf hehehe..." balas Dewi.
Lalu gantian Dewi mengobati luka di pelipis Mahmud yang juga terkena hantaman tangan Dede hingga meninggalkan bekas lebam.
"Bau apa nih?!" Seru Mahmud.
__ADS_1
Semuanya spontan menajamkan penciumannya lalu nyaris bersamaan teriak, "Gosooooong...!"
Arin dan Dewi bergegas ke dapur dan benar saja didalam wajan ada lima biji tempe sudah memghitam. Dewi cepat-cepat mematikan kompornya lalu mengangkat wajan dan membuang tempe gosongnya kedalam tempat sampah.
"Rin sekalian aja makan malam bareng-bareng. Udah matang semuanya kan?" Kata Dewi.
"Udah Mbak, terakhir lagi goreng tempe keburu Dede kerasukan, jadinya gosong deh," timpal Arin.
"Ya sudah yuk bawa semua yang ada ke ruang tengah." Ujar Dewi.
Sementara Kosim dan yang lainnya sudah duduk di ruang tengah. Namun Kosim masih penasaran dengan kejadian dirinya dan menanyakan pada Abah Dul.
"Saya belum bisa menjawab Sim. Malah saya heran melihat ente kepanasan gitu," jawab Abah Dul.
"Apa sosok suara tanpa rupa itu tak melindungi saya ya Bah? Tanya Kosim penasaran.
"Kalau perkiraan saya sih, justru mentalnya tangan ente dan keluarnya asap saat menyentuh Dede itu karena ada kekuatan besar saling beradu Sim," terang Abah Dul.
"Iya juga ya," gumam Kosim.
"Nanti juga ente dapat jawabannya sendiri Sim. Pasti sosok suara tanpa rupa itu akan ngasih tau ente," ujar Abah Dul.
"Atau saat itu dia lagi nggak ada Bah," kata Kosim.
"Nggak ada kemana? Kondangan? Hikhikhik..." timpal Abah Dul terkekeh hingga semuanya tertawa.
"Waduh, habis bertempur pada ketawa-ketawa." Celetuk Arin yang datang membawa bakul nasi.
"Lagian itu suamimu tuh Rin, mahluk gaib pake kondangan segala, hikhikhik..." ujar Abah Dul meneruskan ketawanya ditimpali ketawa yang lainnya.
"Mbak Arin ngapain bawa-bawa nasi nih?" Seloroh Mang Ali pura-pura tidak ngerti.
Selorohan Mang Ali makin menambah kencang ketawa semuanya.
Suasana tegang, panik dan cemas sudah benar-benar hilang di malam ke-12 melawan perjanjian gaib. Mereka pun bersama-sama menyantap makan malam yang sudah disiapkan Dewi dan Arin sebelumnya.
......................
Mereka tidak menyadari kalau monyet-monyet siluman itu akan terus datang untuk mengambil nyawa sampai nyawa yang sudah tertulis di alamnya sebagai tumbal berhasil didapatkan.
Hanya saja intensitasnya berkurang tidak seperti minggu pertama usai Kosim di cap sebagai manusia yang melawan perjanjian gaib oleh bangsa siluman monyet.
Mereka, bangsa siluman monyet akan kembali datang pada saat Kosim dan yang lainnya dalam keadaan lengah, pada saat dianggap keadaannya sudah aman serta dianggap tidak ada lagi ancaman nyawa.
__ADS_1
......................