
Dalam posisi duduk bersila penuh kensentrasi, Gus Harun mengerahkan amalan pemanggil sukma. Amalan tersebut dapat menarik ataupun setidaknya dapat menemukan posisi keberadaan orang yang hilang, bukan saja orang itu berada di alam dunia bahkan dapat mendeteksi hingga keberadaannya di alam lain.
Dulu di kampung-kampung saat jaman belum semodern sekarang, seringkali ayahanda Gus Harun diminta tolong mencari anak hilang. Dan anak yang hilang di masa-masa itu biasanya diajak oleh mahluk halus dari golongan Wewe Gombel. Kebanyakan menimpa anak-anak yang masih asyik bermain di luar rumah saat waktu menjelang azan magrib.
Amalan Pemanggil Sukma yang di gunakan Gus Harun diperolehnya dari ayahandanya. Dengan amalan ini di terbukti ampuh untuk menemukan orang hilang yang dibawa atau di sesatkan di alam tak kasat mata oleh mahluk halus dari golongan Wewe Gombel. Biasanya yang menjadi korbannya kebanyakan anak-anak. Konon katanya mahluk halus jenis ini sangat menyukai anak-anak.
Seperti malam ini, Gus Harun mengerahkan Amalan Pemanggil Sukma yang pertama kalinya baru ia gunakan semenjak memperolehnya 5 tahun yang lalu atas saran ayahandanya untuk mencari sahabatnya yang di kabarkan hilang tanpa jejak.
Beberapa saat setelah bacaan amalan Pemanggil Sukma selesai dibaca, seketika Gus Harun dapat merasakan aura Abah Dul melalui sambungan batinnya. Gus Harun mengerutkan dahinya dalam-dalam mencoba mencari lokasi keberadaannya yang dirasa bukan berada di alam dunia. Gus Harun merasakan kalau Abah Dul berada di alam lain namun penglihatannya seperti tersamarkan oleh tirai pekat sehingga Gus Harun tidak dapat melihat penampakkan sosok Abah Dul. Hal itu membuat sedikit kesulitan mengira-ngira dimana posisinya berada. Gus Harun pun berinisiatif mencoba untuk langsung mengajaknya dan menariknya keluar dari alam itu dengan memanggil-manggil nama sahabatnya itu.
"Astagfirullahal'azim!" pekik Gus Harun.
Wajah Gus Harun nampak bercucuran keringat, ia terperangah dalam duduk bersilanya. Amalan pemanggil sukma yang ia kerahkan seperti tersekat oleh dinding tebal tak kasat mata, tiba-tiba ia merasakan ada energi kekuatan gaib yang menutupnya. Pada mulanya Gus Harun sudah mengetahui dimana Abah Dul berada dan pada saat akan menarik membawanya keluar dari alam lain itu mendadak energi kekuatannya terputus tanpa diketahui sebabnya.
"Kenapa Dul sampai berada di alam Jin?" batin Gus Harun.
Meskipun sedikit heran namun disisi lain Gus Harun merasa tenang karena merasakan Abah Dul kondisinya baik-baik saja, ia meyakini itu karena sebelumnya sempat terkoneksi dengan batin Abah Dul sebelum koneksi batin itu terputus secara tiba-tiba.
"Sekarang tinggal bagaimana menjelaskannya pada kang Mahmud tentang keberadaan Dul. Ah, sangat rumit menerangkannya kalau berhubungan dengan hal-hal di luar nalar manusia," ucap Gus Harun dalam hati.
......................
Dihadapan Abah Dul dan Kosim, tuan Denta mengungkapkan kisah sepak terjangnya dahulu kala saat masih menjadi Jendral pasukan utama kerajaan Raja Azazil pada ratusan tahun yang silam.
Kala itu salah satu kerajaan siluman pesugihan jenis babi yang ada di tanah Jawa meminta bantuan kepada Raja Azazil, kalau istananya sedang di gempur habis-habisan dan terancam di musnahkan oleh seseorang Kiyai yang memiliki ilmu sangat tinggi.
__ADS_1
Raja Azazil langsung memerintahkan Tuan Denta untuk membantu siluman pesugihan babi itu agar tidak musnah dengan membawa serta sepasukan andalannya yang rata-rata memiliki kekuatan menengah keatas.
Saat turun di sebuah lereng pegunungan di tanah Jawa, Tuan Denta dan pasukkannya melihat istana siluman Babi sudah hancur dan hanya menyisakan puluhan siluman-siluman babi yang sedang bertarung menghadapi seorang manusia.
Sosok manusia itu tubuhnya nampak diselimuti oleh cahaya putih. Kilatan-kilatan cahaya menjalar dari sebuah senjata yang di mainkan digenggaman tangan kanannya menghajar siluman-siluman babi yang bersenjatakan tombak. Senjata yang di gunakan sosok manusia itu nampak seperti sebuah cambuk panjang dengan mata cambuk menyala merah.
Ctarrrr....!!!
Ctaaarrr...!!!
Ctarrrr....!!!
Ctaaarrr...!!!
Suara dentuman-dentuman dari mata cambuk terdengar sangat keras disertai getaran setiap kali mata cambuk menghantam tubuh siluman babi. Dan seketika itu pula tubuh siluman itu musnah meninggalkan pendaran cahaya kesegala arah. Gerakan-gerakan cambuknya begitu indah yang dimainkan dengan gerakan silat.
Baru saja pasukkan tuan Denta menyentuh pijakan, sebuah cahaya bekilat putih datang menyongsong dengan gerakkan vertikal menyapu seluruh pasukkan tuan Denta. Tuan Denta melihat cahaya putih itu berasal dari senjata cambuk di tangan sosok manusia yang nampak seperti berubah menjadi panjang dengan berkekuatan maha dahsyat menghajar pasukkannya.
Duarrr...!!!
Duarrr...!!!
Duarrr...!!!
Duarrr...!!!
__ADS_1
Suara-suara dentuman keras dari mata cambuk yang disertai lidah api menjalar hingga batang ke pangkal cambuk terdengar saat menghantam dengan telak sepasukkan milik tuan Denta. Sepasukkan itu seketika terbakar dan hancur menimbulkan percikan-percikan cahaya layaknya kembang api yang berpendaran ke segala arah. Lengkingan jeritan saling bersahutan diantara suara dentuman yang semakin lama semakin menghilang seiring lenyapnya percikan-percikan cahaya.
Tuan Denta terkesiap melihat sepasukkannya dapat di musnahkan oleh sosok manusia bercahaya putih itu dengan begitu mudahnya. Dirinya sangat penasaran sekali dengan kekuatan sosok manusia itu, sehingga terpaksa dia turun langsung di hadapannya.
Tuan Denta dapat melihat dengan jelas wajah sosok manusia itu, saat matanya beradu pandang seketika ia merasakan hawa sejuk menjalar seluruh tubuhnya dan membuat amarah yang sedari tadi meledak-ledak perlahan-lahan sirna. Wajah manusia itu terlihat tenang namun memiliki sorot mata tajam sekaligus meneduhkan.
"Kenapa tuan menghancurkan mahluk-mahluk itu?!" tanya Tuan Denta denga suara bergetar.
"Mahluk-mahluk itu menyesatkan manusia! Tidak masalah jika manusia itu sendiri yang bersekutu dengan bangsa kalian, akan tetapi kalau sudah menyangkut mengorbankan nyawa-nyawa manusia lainnya untuk memenuhi kepentingannya dijadikan sebagai tumbal maka harus di musnahkan hingga akar-akarnya!" tegas sosok manusia itu penuh wibawa.
Tuan Denta tertegun mencerna setiap kalimat yang diucapkan sosok manusia itu. Pendiriannya mulai bergolak antara menerima dan menentangnya. Akan tetapi kebenaran ucapan sosok manusia itu timbul tenggelam seakan berebut dengan titah sang Raja Azazil. Disisi lain tuan Denta harus melaksanakan amanah yang ditugaskan rajanya tetapi di lain sisi dirinya mengakui jika yang di hadapinya saat ini adalah suatu kebenaran.
"Tuan aku harus menjalankan perintah raja, tetapi aku juga sangat menghormati kebenaran tuan, aku terpaksa harus bertarung melawan tuan!" kata tuan Denta.
"Aku tahu pada dasarnya anda dari golongan jin baik. Aku hargai kebimbanganmu, aku tidak akan memusnahkan anda jika nanti pertarungan ini anda kalah tetapi dengan konsekwensinya anda masuk islam! Apakah anda bersedia?!" kata sosok manusia bercahaya.
"Baik, terima kasih tuan. Mata tuan sangat tajam mengetahui kebimbanganku. Ayo mulai!" seŕu tuan Denta.
Seketika tuan Denta mencabut bilah pedang di pinggangnya dan meloncat menerjang manusia bercahaya dengan mengarahkan tebasan ke bagian tubuh sosok mamusia bercahaya di hadapannya. Sosok manusia bercahaya itu nampak tidak melakukan gerakkan apapun, ia begitu tenang menghadapi serangan tuan Denta.
Traaang...!!!
Suara pedang besar tuan Denta terdengar keras begitu mengenai dada sosok manusia bercahaya itu. Seketika tuan Denta terperangah dengan mata membelalak lebar mendapati pedangnya terpental dari genggamannya dengan merasakan tangannya bergetar kesemutan. Belum habis dengan terkejutnya, sebuah kilatan cahaya putih menyongsong menghantam tubuhnya, tuan Denta kembali membelalakan matanya lebar-lebar. Tanpa bisa menghindar cahaya putih melesak menghantam dadanya, tuan Denta terlempar sejauh puluhan meter dan jatuh tersungkur.
Tuan Denta mendongakkan kepalanya dan kembali terkesiap melihat ujung bawah jubah putih sudah berkibar-kibar di hadapannya. Belum sempat tuan Denta bangun, sosok manusia bercahaya itu sudah berdiri di hadapannya dengan menempelkan mata cambuk di kepalanya.
__ADS_1
"Ampuun tuan, aku menyerah kalah..."
......................