
Sebuah peristiwa yang disebut- sebut masyarakat sebagai sebuah keajaiban yang terjadi di desa Sukadami menjadi sebuah topik pembicaraan paling hangat di tengah- tengah masyarakat. Bukan saja menjadi perbincangan di kalangan warga masyarakat desa Sukadami saja melainkan kabar ceritanya sudah kian meluas hingga kebeberapa desa dari kecamatan lain.
Belum genap satu hari kabar tentang hidup kembalinya seorang anak yang telah di kubur selama 40 hari tersebut dengan cepat merebak luas. Banyak yang terkesan penuh suka cita saat diceritakan kabar itu dan begitu mempercayainya meskipun hanya mendengarnya melalui cerita dari mulut ke mulut.
“Konon kata orang- orang dulu, anak yang mengalami peristiwa itu bakal memiliki kekuatan batin yang dahsyat,” kata seorang pria tua sambil menyeruput teh tubruknya.
“Masa sih kang?” tanya penjaga warung kopi penasaran.
“Sok aja nanti lihat kedepannya, anak itu bakalan ramai dikunjungi orang- orang yang butuh pertolongan,” kata
pria tua.
“Bisa ngobati orang sakit?!”
“Ya, seperti itulah,” pungkas pria tua.
Namun ditempat lain tak sedikit yang tidak mempercayainya dan dianggapnya cerita angin karena sangat mustahil dan tidak masuk diakal serta sangat di luar nalar manusia. Bahkan banyak yang menganggap kabar itu hanyalah sebuah karangan belaka dan dianggap kabar hoax bertujuan untuk mendapatkan ketenaran semata.
“Ah, nggak mungkin itu Dar!” sergah seorang lelaki setengah baya.
“Iya, mana ada manusia sudah dikubur empat puluh hari masih bisa hidup. Apalagi katanya hanya seorang anak kecil berusia tiga tahunan, nggak mungkin lha!” timpal pria muda lainnya.
“Tapi kata pak Yatno yang melihatnya langsung tadi pagi di desa Sukadami itu benar begitu kok,” sergah mang Darman yang pertama kali memberi kabar tersebut kepada dua temannya.
“Saya sih masih nggak percaya Dar. Bisa saja itu hanya akal- akalan keluarga Mahmud saja yang ingin dianggap sakti atau hanya akal- akalan Abah Dul supaya orang- orang pada datang padanya untuk meminta bantuan karena dianggap sakti!” sungut lelaki setengah baya.
Di rumah sakit di kamar rawat inap nomor 19 Arin dan Dewi duduk disamping ranjang dimana Dede berbaring. Selang- selang oksigen dan impus nampak terpasang di tubuh Dede. Kondisi tubuhnya sudah mulai menunjukkan perubahan yang semula lemah dan pucat kini sudah tampak segar.
__ADS_1
Suara alat deteksi jantung terdengar dinamis memenuhi ruangan kamar tersebut. Arin terus menggenggam telapak tangan kanan Dede semenjak dari awal Dede di baringkan, sementara Dewi pun tak lepas mengelus- elus kepala Dede. Melihat itu Mahmud dan Abah Dul kini dapat tersenyum lega melihat kondisi Dede saat ini, lalu menoleh kearah sisi kanan ranjang Dede dimana sosok tak kasat mata sedang memegang erat telapak tangan
kiri Dede yang dibaluti selang impus.
Mahmud dan Abah Dul yang dapat melihat kehiadiran Kosim tersenyum sambil menganggukkan kepala manakala Kosim menoleh kearah keduanya. Namun Mahmud dan Abah Dul sedikit mengerutkan dahinya
melihat ekpsresi raut wajah Kosim yang tampak murung.
Seolah mengerti dengan keheranan yang ditunjukkan Abah Dul dan Mahmud Kosim pun berkata melalui telepati bahwa tidak akan lama lagi dirinya harus segera meninggalkan alam dunia ini.
“Mari kita pulang ke rumah dulu Sim,” balas Abah Dul melalui telepati.
Kosim menganggukkan wajahnya sambil tersenyum getir membalas ajakan Abah Dul, wajah Kosim kian murung seakan enggan untuk pergi meninggalkan putranya.
“Rin, Wi, saya sama Abah Dul pulang dulu ya. Kasihan Gus Harun, Basyari dan Baharudin ditinggal di rumah,” kata Mahmud kepada Arin dan Dewi yang duduk di samping ranjang tempat Dede terbaring.
“Iya, nggak apa- apa Wi, ya sudah mas pamit ya,” kata Mahmud yang diangguki Abah Dul.
“Mas, mas, satu lagi nanti kalau kesini lagi tolong bawain beberapa stel baju Dede ya,” sergah Arin menghentikan
langkah Mahmud dan Abah Dul.
“Iya rin,” sahut Mahmud lalu melanjutkan langkahnya keluar kamar rumah sakit.
Sebeleumnya di area pekuburan,
Setelah mobil ambulance pergi meninggalkan area pekuburan dengan membawa Dede, didampingi Arin, Dewi Mahmud dan Abah Dul ke rumah sakit, pak Wira, petugas kepolisian dan warga masyarakat yang ada di area pekuburan itu pun satu- persatu meninggalkan tempat tersebut. Begitu pun dengan Gus Harun, Basyari serta Baharudin, mereka bertiga langsung kembali ke rumah Mahmud.
__ADS_1
Diatas bekas kuburan Dede yang sedang di urug kembali, Kosim masih melayang memperhatikan empat orang penggali kubur yang tengah menimbun bekas kuburan yang masih terbuka itu. Ada seutas senyum mencuat di bibir Kosim menyaksikan 4 orang yang sedang mengurug tanah utnuk menutupi bekas kuburan putranya.
Beberapa lama kemudian setelah kuburan putranya hampir selesai diurug, Kosim pun langsung melesat kearah perginya mobil ambulance meninggalkan area pekuburan yang membawa putranya.
“Waktuku di alam dunia sudah hampir habis…” keluh Kosim dengan berat hati.
Cuaca di langit yang sebelumnya tertutup mendung pekat selama dua hari, kini berangsur- angsur sudah mulai
tampak cerah. Namun matahari belum menampakkan keperkasaannya, hanya bias cahayanya saja yang masih terhalang awan- awan tipis menggantung di langit.
Sepulang dari pekuburan, Gus harun, Basyari dan Baharudin langsung membersihkan badan secara bergantian karena bak mandi di rumah Mahmud hanya ada satu. Beberapa saat lamanya setelah selesai mandi ketiganya duduk- duduk lesehan di teras depan rumah dengan santai sambil ngobrol menunggu Mahmud dan Abah Dul pulang.
Di tengah- tengah ketiganya tersaji termos air panas, beberapa renceng kopi dan dua piring gorengan pisang yang mereka ambil dari ruang tengah. Rupanya Arin dan Dewi sudah menyajikannya sebelum menuju pekubuiran untuk melihat kebenaran kabar dari para tetangganya itu.
“Gus, apakah sudah ada kabar dari sahabat- sahabat kita di alam siluman?” tanya Baharudin.
“Belum Har, belum ada satu pun yang memberikan kabar,” jawab Gus Harun menggeleng- gelengkan kepala.
“Apa mungkin tuan Denta dan Raja Kajiman itu telah kalah dan musnah ya Gus? Kita sendiri sudah tau seperti apa kekuatan Raja Kalas Pati itu,” kata Basyari.
Gus Harun tampak diam tak langsung menjawab pertanyaan Basyari itu. Didalam hatinya sebenarnya juga merasakan firasat yang sama seperti yang di perkirakan Basyari, namun Gus Harun tak mau mengungkapkannya dan berusaha meyakinkan diri kalau tuan Denta dan Raja Kajiman tersebut baik- baik saja.
“Apakah nggak sebaiknya kita kembali kesana Gus, kita susul dan bantu tuan Denta dan Raja Kajiman?” usul Baharudin.
Sebelum Baharudin menyatakan usulannya itu, di dalam benak Gus Harun terlintas hal yang sama seperti yang
Baharudin katakan. Gus Harun pun langsung memebrikan jawaban spontan meng iyakan usulan Baharudin tersebut.
__ADS_1
“Iya Har, saya juga berpikir begitu. Saya merasakan firasat buruk yang tengah dialami tuan Denta dan Raja Kajiman.** BERSAMBUNG