Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
MASA KELAM


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap dan sayup-sayup suara azan magrib berkumandang dari pengeras suara mushola-mushola dan masjid. Suara knalpot sepeda motor Kosim yang khas sudah terdengar dari jarak 20 meter sebelum sampai di rumahnya. Wajah lelah Kosim nampak begitu jelas menggurat sambil menurunkan gerobak kecil dari jok sepeda motornya yang butut. Setelah selesai membereskan peralatan dagangannya Kosim terduduk menggelosoh di teras rumahnya sambil menyandarkan punggungnya pada tiang saka.


"Datang harusnya cepat-cepat mandi, malah enak-enakkan duduk santai!" Dengus Arin tiba-tiba muncul di pintu.


Kosim tersentak kaget, wajahnya menoleh melihat Arin penuh dengan kegamangan. Batinnya sudah mulai berontak, dirinya merasa sudah tidak tahan lagi dengan perlakuan istrinya. Wajah Kosim mendadak muram diam membatu, amarahnya sudah mulai melonjak di dorong karena rasa lelah sehingga dapat menjebol kesabarannya yang sudah di tahannya kuat-kuat selama berbulan-bulan.


Meski pun amarahnya sudah memuncak, namun Kosim tidak menanggapi perkataan kasar istrinya. Kosim lantas beranjak dari duduknya dengan raut muka muram masuk kedalam rumah melewati Arin yang masih berdiri ditengah pintu.


"E, eee, eh mana duit hasil jualannya?!" dengus Arin menjulurkan tangannya.


Tanpa berkata-kata Kosim langsung melepaskan tas selempang yang terlampir di bahunya lalu menyerahkannya pada Arin. Kosim kembali melanjutkan langkahnya untuk mandi.


"Sebenarnya males saya ngitung recehan mulu tiap hari! Tapi mau gimana lagi..." celetuk Arin sambil menerima tas selempang.


Di dalam kamar mandi, Kosim memandangi wajahnya di depan cermin. Wajahnya muram ada kesedihan mendalam di relung sorot matanya yang mulai memerah menahan tangisnya. Sekuat tenaga Kosim menahan agar air matanya tidak luruh dengan mengerjap-ngerjapkan kedua matanya. Namun tetap saja air matanya tumpah mengalir di kedua pipinya oleh dorongan perasaan sakit hati yang sudah terlalu tebal menggumpal di dalan batinnya. Kosim pun menangis dengan menahan suara agar tidak terdengar keluar bak mandi. Kosim terduduk menekuk kedua kakinya bersandar pada dinding kamar mandi. Wajahnya disembunyikan rapat-rapat diantara kedua lututnya. Dia menumpahkan tangisnya hingga kedua bahunya terlihat terguncang-guncang.


Beberapa lama kemudian Kosim bangkit, ia mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Sorot matanya berganti penuh kemarahan mengingat perkataan demi perkataan Arin yang terus di pendamnya di dalam hatinya selama ini. Gejolak di dalam batinnya sudah sangat menguasai dirinya hingga dirinya berontak, ia merasa sudah tidak mempunyai harga diri lagi di mata istrinya.


......................


Malam sudah sangat larut, tanpa terasa sudah lewat pukul 12 malam. Namun Kosim masih duduk mematung di atas jondol pos Kamling yang berada di seberang jalan depan rumahnya. Sudah tiga jam lebih Kosim duduk sendirian di jondol poskamling hanya memainkan hape di tangannya. Setelah bosan membuka media sosial hingga Youtube, Kosim beralih membuka Google dan tanpa sadar jarinya mengetik, 'TEMPAT PESUGIHAN'.


Muncullah beragam situs-situs tentang pesugihan dan sebagian besar isinya nyaris sama yang menyebutkan dengan lengkap nama pesugihan, tempat hingga syarat-syarat. Dari sekian banyak tempat-tempat pesugihan yang di paparkan di internet itu, Kosim hanya tertarik dengan satu nama pesugihan yaitu PESUGIHAN MONYET. Di dalam hatinya langsung bertekad memilih pesugihan monyet karena mempertimbangkan lokasinya yang masih berada di pulau Jawa dan juga syaratnya mudah hanya membaca wirid mantra dan juga menyediakan anak ayam atau disebut pitik.


Kosim menelan mentah-mentah informasi yang di perolehnya dari internet tersebut. Dia tidak mencerna sama sekali salah satu syarat yang tercantum dalam tulisan tersebut yanh menyebut pitik. Kosim mengira syarat seekor pitik atau anak ayam itu pitik yang sebenarnya, padahal itu hanya bahasa kiasan saja. Arti yang sesungguhnya itu adalah tumbal anaknya.


"Rin..."

__ADS_1


"Astagfirullahal Azim!" pekik Arin hingga berjingkat kaget karena bahunya ada yang menepuk.


"Mas Mahmud, ngagetin aja!" sungut Arin.


"Lah, saya manggilnya pelan kok. Itu mah bukan ngagetin tapi kamu aja yang lagi melamun," balas Mahmud.


"Pagi-pagi ngelamun itu nggak baik Rin. Nanti ada bisikan-bisikan setan loh," seloroh Mahmud.


"Mas Mahmud mau kemana?" tanya Arin sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya mau ke kebon Rin, masa pakaian begini mau kondangan..." timpal Mahmud.


"Ya sudah Mas pergi dulu, awas jangan melamun lagi," ucap Mahmud kemudian melangkah meninggalkan Arin yang masih terbengong di tempat duduknya.


Baru saja Arin kembali duduk di tempatnya, tiba-tiba terdengar suara tangisan dari dalam.


"Aaaaa.... mamaaaaaah.... mamaaaah... aaaaa..... mamaaahhh...."


......................


Gunung Ng,


Sudah sehari semalam Ki Suta melakukan meditasi untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah pertarungannya melawan ustad Arifin yang di rasuki sukma Abah Dul. Di dalam pondok kayu nampak gelap karena tidak ada celah cahaya masuk. Jendela dan pintu telah ditutup rapat oleh Ki Suta sebelum bermeditasi.


Ki Suta melakukan meditasi untuk melepaskan diri dari penderitaan yang dirasakannya dari sisi psikologis, batin mau pun juga fisiknya yang terluka. Meditasi bagi golongan manusia di jaman modern tentu saja sangat berbeda dilihat dari tujuan dan caranya. Manusia yang hidup di jaman modern dan lingkungan perkotaan mungkin melakukan meditasi tujuannya untuk menghilangkan stres. Pemikiran baik dan buruk yang sangat subjektif yang secara proporsional berhubungan langsung dengan kelekatan dalam kehidupan sehari-hari yang melekat di dalam pikiran.


Sedangkan meditasi yang dilakukan Ki Suro lebih terfokus pada kebatinan atau supranaturalnya sehingga meditasinya akan menunjung kekuatan spiritualnya bahkan dapat meningkatkan kekuatannya.

__ADS_1


“Huuuuuffffhhhh....”


Ki Suro menghembuskan nafasnya perlahan-lahan dari mulutnya mengakhiri semedi. Kini tubuhnya merasakan sudah lebih bugar lagi.


“Sekuat itukah orang yang bernama Abdul Basit?!” ucapnya geram.


Tiba-tiba hempasan angin menghujam deras dari atap pondok membuat Ki Suta menutup wajahnya dengan menyilangkan kedua tangannya.


“HAHAHAHAHAHA.... KONDISIMU SUDAH LEBIH BAIK, SUTA?!” suara besar dan sember menyapu ruangan pondokkan.


“Salam hormat Junjungan,” sergah Ki Suta langsung menangkupkan telapak tangan di depan dadanya.


“SUTA UNTUK DAPAT MELAWAN ABDUL BASIT KAMU HARUS MENAMBAH ILMU KESAKTIANMU!” Seru mahluk tinggi besar itu yang tak lain adalah Raja Siluman Monyet, Kalas Pati.


“Bagaimana caranya junjungan?! Sodaraku sudah mati, saya harus berguru kepada siapa lagi?!” kata Ki Suta muram.


“KAMU AKAN AKU BERIKAN KEKUATAN TAPI KAMU HARUS MELAKUKAN RITUALNYA UNTUK MENDAPATKAN ILMU DARIKU!” seru Raja Kalas Pati.


"Baik Junjungan, saya siap!" sahut Ki Suta mantap.


"Kapan saya akan memulai?" Sambung Ki Suta antusias.


"MALAM INI SELEPAS PERGANTIAN TERANG KE MALAM!" jawab Raja Siluman Monyet itu.


"Baik junjungan, saya siap!" ujar Ki Suta.


Sosok Raja Kalas Pati kemudian langsung lenyap dari hadapan Ki Suta meninggalkan hempasan angin hingga menerpa tubuh Ki Suta. Ki Suta tersenyum lebar setelah kepergian Raja Kalas Pati.

__ADS_1


"Abdul Basit aku akan datang lagi, tinggu pembalasanku!!!"


......................


__ADS_2