
Hari Jumat Kliwon,
Sejak dahulu dari tujuh hari dalam sebulan hanya ada satu hari
yang selalu saja dianggap sakral dan mistis. Hari itu adalah hari Jumat Kliwon.
Ketika mendengar Jumat Kliwon semua orang terutama di tanah jawa yang terlintas
di benak dan pikiran mereka adalah mistis!
Didalam intuisi pikiran secara tidak sadar kita digiring kedalam
nuansa horor ataupun sakral. Bahkan sebagian besar malam Jumat Kliwon tak
jarang dijadikan waktu untuk melakukan suatu tirakat atau lelaku terutama dalam
hal ilmu kebatinan. Dan juga dalam memulai menjalankan suatu misi pribadi,
santet misalnya.
Dan konon mereka merasakan kalau hari Jumat Kliwon itu nuansanya
berbeda dengan hari jumat biasa. Entahlah bisa jadi karena disebabkan oleh
aktifitas rutin bulanan yang dilakukan para mahluk- mahluk astral seperti jin,
genderuwo, kuntilanak, siluman hingga para lelembut- lelembut dialam tak kasat
mata.
Seperti hari ini Kamis malam Jumat Kliwon, cuaca di desa
Sukadami semenjak subuh tadi langit tampak diselimuti mendung tebal. Cahaya
mentari pagi pun tak mampu menerobos untuk menyinari bumi Sukadami.
Sesekali terlihat kilatan- kilatan petir berpendar di kejauhan.
Garis kilatannya seolah- olah menghantam bumi seperti sebuah cambuk yang
dilecutkan penuh dengan amarah.
Didalam rumah Mahmud, ketiga orang yakni Abah Dul, Gus Harun dan
Mahmud sendiri masih khusyuk berzikir didalam ruang pesholatan seusai
melaksanakan sholat subuh.
Posisinya duduk di urutan paling depan Gus Harun, lalu di
barisan makmum berjejer Abah Dul duduk disebelah kanan dan Mahmud duduk
disebelah kiri.
Dari ketiga orang itu hanya Mahmud yang duduknya gelisah.
Dadanya merasakan debaran- debaran yang tiba- tiba muncul disela- sela
berzikirnya.
“Kenapa tiba- tiba deg- degan ya?” tanya Mahmud dalam hati.
Seringkali Mahmud bergerak mengubah posisi duduk bersilahnya.
Kadang kaki kanannya di tumpangkan diatas paha kaki kirinya, tak lama kemudian
berubah lagi. Kali ini kaki kirinya yang ditumpakan diatas paha kaki kanannya.
Kegelisahan Mahmud itu membuat Abah Dul yang berada disampingnya
sedikit terganggu. Abah Dul melirik melihat Mahmud yang duduknya tidak anteng. Namun
Abah Dul kembali kusyuk tenggelam dalam zikirnya tak mrnghiraukan Mahmud yang
sedang gelisah.
“Ehemm!” Suara deheman Gus Harun sontak saja membuat Mahmud
tersentak kaget. Dia terlonjak dari duduknya,
“Astagfirullah!” Pekik Mahmud.
“Kenapa sih Mud?!” sungut Abah Dul. Dirinya pun ikut kaget
akibat pekikan Mahmud. Abah Dul sedikit dongkol karena merasa terganggu dan
membuyarkan konsentrasinya berzikir.
“Kaget bah!” sahut Mahmud.
“Ya tahu kaget, tapi kenapa sampe kaget begitu?” sungut Abah
Dul.
__ADS_1
“Anu bah, rasanya tiba- tiba deg- degan gitu. Nggak tau kenapa!”
tegas Mahmud.
Intrik perselisihan kecil yang menggemaskan anatara Abah Dul dan
Mahmud itu seketika terhenti saat Gus Harun menoleh ke belakang seraya
bertanya,
“Di luar sepertinya mendung ya?” suaranya pelan namun terdengan
penuh tekanan.
“Kurang tau juga Gus,” sahut Abah Dul.
“Sebentar saya lihat dulu Gus,” timpal Mahmud, lalu buru- buru
beranjak dari bersilahnya keluar ruangan pesholatan.
Baru saja kakinya satu langkah keluar dari ruang pesholatan,
tiba- tiba Mahmud kembali terpekik sambil melompat mundur, “ Astagfirullah!”
Abah Dul dan Gus Harun kontan menoleh kebelakang. Keduanya melihat
Mahmud sudah jatuh terjengkang diatas lantai.
“Kenapa lagi sih Mud?1” sungut Abah Dul.
Rasa kesal yang pertama belum hilang, kini ditambah lagi
kekesalannya karena terkaget- kaget oleh teriakkan Mahmud.
“i… i..it.. itu, ada Kosim…” jawab Mahmud terbata- bata masih
shok sambil menunjuk depan ruang pesholatan.
“Masya allah muuuud… mud… bikin jantung copot aja sih,” sungut
Abah Dul.
“Sssstttt… sudah, sudah Dul,” sela Gus Harun.
“Sim masuk, sim…” kata Gus Harun melambaikan tangan kearah Kosim
yang masih berdiri dengan bibir tersungging menlihat ulah kakak iparnya.
itu.
“Wa’ alaikum salam…” sahut Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud
berbarengan.
“Bikin kaget aja sih Sim!” sungut Mahmud sambil melihat sosok
Kosim yang melayang melintasi dirinya yang terduduk.
Kosim lalu duduk bersila disebelah kiri Abah Dul menggantikan posisi
Mahmud sebelumnya. Setelah menyalami Abah Dul dan Gus Harun, Kosim pun berbicara,
“Begini Gus, bah. Pasukkanku golongan Kaziman sudah siap siaga
tinggal menunggu aba- aba saja. Apakah mereka sebaiknya di kumpulkan saja
disini?” Tanya Kosim.
Gus Harun Nampak berpikir sejenak, kemudian menjawab; “nanti
saja jangan sekarang Sim, ini masih pagi. Kita punya waktu setengah hari lagi
hingga menjelang malam. Kalau mereka kumpul disini, ane khawatir keberadaan
mereka akan membuat suasana disekitar rumah Mahmud bakal terganggu.”
“Terganggu Gus? Mereka kan nggak kelihatan?” sela Abah Dul.
“Betul, Dul mereka tidak kelihatan. Tetapi jangan salah, hawa
keberadaan mereka dapat dirasakan oleh bayi- bayi dan anak- anak dibawah umur
satu tahun. Akibatnya bayi- bayi dan anak- anak itu akan menangis serempak. Bisa
kacau Dul, para warga akan bertanya- Tanya dan mencari penyebabnya,” terang Gus
Harun.
“Oh iya ya Gus,” sahut Abah Dul.
Kosim hanya manggut- manggut mengerti maksud dari pencegahan Gus
Harun itu.
__ADS_1
“Dan satu l;agi Gus, menurut rekan saya yang ditugaskan
mengintai situasi di istana raja Kalas Pati katanya para siluman itu tengah
berpesta pora,” ucap Kosim.
“Sesuai perkiraan. Itu adalah pesta tahunan bangsa siluman
monyet. Nanti menjelang magrib kita harus kumpul semua disini. Dul, kabari
Baharudin dan Basyari ya,” ujar Gus Harun.
***
Di waktu yang sama,
Di alam tak kasat mata,
Suara- suara tetabuhan dari gendang dan terompet terdengar riuh
gempita bercampur hiruk pikuk suara- suara seperti nyanyian sakral namun penuh
kegembiraan memenuhi seisi ruang utama istana kerajaan Siluman Monyet.
Duduk di kursi singgasana yang berkilauan keemasan tertimpa
cahaya, sang raja Kalas Pati Nampak sangat menikmati suguhan tarian dan
tetabuhan di hadapannya. Ditengah- tengah ruangan, para penari perempuan-
perempuan dengan pakaian seronok meliuk- liuk erotis mengikuti hentakan-
hentakan irama gendang dikelilingi setengah melingkar para prajurit siluman
monyet.
Ribuan mahluk dengan postur dan wajah menyerupai monyet
berjingkrak- jingkrak mengikuti tetabuhan sesekali terkekeh- kekeh mengeluarkan
suara bercicitan tumpang tindih dari mulut lebar mereka. Mereka terlena dalam
kemeriahan pesta yang menjadi ajang rutin yang digelar setiap tahun. Suasana gegap gempita
dalam sukaria membuncah di istana siluman monyet.
Diatara para siluman monyet itu Nampak puluhan sosok bertubuh manusia
dengan pakaian compang camping dan kumuh hilir mudik diantara kerumunan
siluman- siluman monyet. Ditangan para sosok manusia itu membawa baki yang
diatasnya terdapat botol- botol dan gelas minuman yang memabukkan. Mereka ada
yang membawa berbagai buah- buahan seperti pisang, anggur, apel, manga, jambu
dan buah- buahan lainnya serta ada juga yang membawa bermacam- macam daging
seperti ayamg, paha kambing, kepala kambing, kaki kambing.
Sosok manusia- manusia yang menjadi pelayan siluman- siluman
monyet itu tak lain adalah para manusia yang telah diambil hidupnya di dunia
fana setelah kontrak perjanjian pesugihannya habis. Bahkan ada juga diantara
manusia pelayan itu yang terpaksa di renggut kehidupannya karena melanggar
perjanjian gaib dengan bangsa siluman itu.
Suara –suara gelak tawa sling tumpang tindih dengan hentakan-
hentakan irama music terdengar hingga ke pelataran istana. Di luar istana pun
tak kalah ramainya, ribuan siluman monyet berpakaian prajurit Nampak berjingkrak-
jingkrak menari, melompat- lompat mengikuti irama music yang keluar dari dalam
istana. Ditangan mereka masing- masing menggenggam sebotol minuman yang
memabukkan sedang satu tangan lagi memegang makanan.
Semuanya tampak larut dalam suasana kemeriahan pesta. Mereka tak
peduli dengan suasana sekelelingnya yang Nampak Kilatan cahaya petir sesekali
menjalar dan berpendar menghiasi langit tak ubahnya seperti nyala kembang api
yang turut memeriahkan pesta. Bahkan suara Guntur yang menggelegar pun tak
ubahnya seperti hentakkan gendang musik yang mengiringi pesta mereka.
BERSAMBUNG…
__ADS_1