Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
BERITA KOSIM


__ADS_3

Hari Jumat Kliwon,


Sejak dahulu dari tujuh hari dalam sebulan hanya ada satu hari


yang selalu saja dianggap sakral dan mistis. Hari itu adalah hari Jumat Kliwon.


Ketika mendengar Jumat Kliwon semua orang terutama di tanah jawa yang terlintas


di benak dan pikiran mereka adalah mistis!


Didalam intuisi pikiran secara tidak sadar kita digiring kedalam


nuansa horor ataupun sakral. Bahkan sebagian besar malam Jumat Kliwon tak


jarang dijadikan waktu untuk melakukan suatu tirakat atau lelaku terutama dalam


hal ilmu kebatinan. Dan juga dalam memulai menjalankan suatu misi pribadi,


santet misalnya.


 Dan konon mereka merasakan kalau hari Jumat Kliwon itu nuansanya


berbeda dengan hari jumat biasa. Entahlah bisa jadi karena disebabkan oleh


aktifitas rutin bulanan yang dilakukan para mahluk- mahluk astral seperti jin,


genderuwo, kuntilanak, siluman hingga para lelembut- lelembut dialam tak kasat


mata.


 Seperti hari ini Kamis malam Jumat Kliwon, cuaca di desa


Sukadami semenjak subuh tadi langit tampak diselimuti mendung tebal. Cahaya


mentari pagi pun tak mampu menerobos untuk menyinari bumi Sukadami.


Sesekali terlihat kilatan- kilatan petir berpendar di kejauhan.


Garis kilatannya seolah- olah menghantam bumi seperti sebuah cambuk yang


dilecutkan penuh dengan amarah.


Didalam rumah Mahmud, ketiga orang yakni Abah Dul, Gus Harun dan


Mahmud sendiri masih khusyuk berzikir didalam ruang pesholatan seusai


melaksanakan sholat subuh.


Posisinya duduk di urutan paling depan Gus Harun, lalu di


barisan makmum berjejer Abah Dul duduk disebelah kanan dan Mahmud duduk


disebelah kiri.


Dari ketiga orang itu hanya Mahmud yang duduknya gelisah.


Dadanya merasakan debaran- debaran yang tiba- tiba muncul disela- sela


berzikirnya.


“Kenapa tiba- tiba deg- degan ya?” tanya Mahmud dalam hati.


Seringkali Mahmud bergerak mengubah posisi duduk bersilahnya.


Kadang kaki kanannya di tumpangkan diatas paha kaki kirinya, tak lama kemudian


berubah lagi. Kali ini kaki kirinya yang ditumpakan diatas paha kaki kanannya.


Kegelisahan Mahmud itu membuat Abah Dul yang berada disampingnya


sedikit terganggu. Abah Dul melirik melihat Mahmud yang duduknya tidak anteng. Namun


Abah Dul kembali kusyuk tenggelam dalam zikirnya tak mrnghiraukan Mahmud yang


sedang gelisah.


“Ehemm!” Suara deheman Gus Harun sontak saja membuat Mahmud


tersentak kaget. Dia terlonjak dari duduknya,


“Astagfirullah!” Pekik Mahmud.


“Kenapa sih Mud?!” sungut Abah Dul. Dirinya pun ikut kaget


akibat pekikan Mahmud. Abah Dul sedikit dongkol karena merasa terganggu dan


membuyarkan konsentrasinya berzikir.


 “Kaget bah!” sahut Mahmud.


“Ya tahu kaget, tapi kenapa sampe kaget begitu?” sungut Abah


Dul.

__ADS_1


 “Anu bah, rasanya tiba- tiba deg- degan gitu. Nggak tau kenapa!”


tegas Mahmud.


 Intrik perselisihan kecil yang menggemaskan anatara Abah Dul dan


Mahmud itu seketika terhenti saat Gus Harun menoleh ke belakang seraya


bertanya,


 “Di luar sepertinya mendung ya?” suaranya pelan namun terdengan


penuh tekanan.


 “Kurang tau juga Gus,” sahut Abah Dul.


 “Sebentar saya lihat dulu Gus,” timpal Mahmud, lalu buru- buru


beranjak dari bersilahnya keluar ruangan pesholatan.


 Baru saja kakinya satu langkah keluar dari ruang pesholatan,


tiba- tiba Mahmud kembali terpekik sambil melompat mundur, “ Astagfirullah!”


 Abah Dul dan Gus Harun kontan menoleh kebelakang. Keduanya melihat


Mahmud sudah jatuh terjengkang diatas lantai.


 “Kenapa lagi sih Mud?1” sungut Abah Dul.


 Rasa kesal yang pertama belum hilang, kini ditambah lagi


kekesalannya karena terkaget- kaget oleh teriakkan Mahmud.


 “i… i..it.. itu, ada Kosim…” jawab Mahmud terbata- bata masih


shok sambil menunjuk depan ruang pesholatan.


 “Masya allah muuuud… mud… bikin jantung copot aja sih,” sungut


Abah Dul.


 “Sssstttt… sudah, sudah Dul,” sela Gus Harun.


 “Sim masuk, sim…” kata Gus Harun melambaikan tangan kearah Kosim


yang masih berdiri dengan bibir tersungging menlihat ulah kakak iparnya.


itu.


 “Wa’ alaikum salam…” sahut Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud


berbarengan.


 “Bikin kaget aja sih Sim!” sungut Mahmud sambil melihat sosok


Kosim yang melayang melintasi dirinya yang terduduk.


 Kosim lalu duduk bersila disebelah kiri Abah Dul menggantikan posisi


Mahmud sebelumnya. Setelah menyalami Abah Dul dan Gus Harun, Kosim pun berbicara,


 “Begini Gus, bah. Pasukkanku golongan Kaziman sudah siap siaga


tinggal menunggu aba- aba saja. Apakah mereka sebaiknya di kumpulkan saja


disini?” Tanya Kosim.


Gus Harun Nampak berpikir sejenak, kemudian menjawab; “nanti


saja jangan sekarang Sim, ini masih pagi. Kita punya waktu setengah hari lagi


hingga menjelang malam. Kalau mereka kumpul disini, ane khawatir keberadaan


mereka akan membuat suasana disekitar rumah Mahmud bakal terganggu.”


 “Terganggu Gus? Mereka kan nggak kelihatan?” sela Abah Dul.


 “Betul, Dul mereka tidak kelihatan. Tetapi jangan salah, hawa


keberadaan mereka dapat dirasakan oleh bayi- bayi dan anak- anak dibawah umur


satu tahun. Akibatnya bayi- bayi dan anak- anak itu akan menangis serempak. Bisa


kacau Dul, para warga akan bertanya- Tanya dan mencari penyebabnya,” terang Gus


Harun.


 “Oh iya ya Gus,” sahut Abah Dul.


 Kosim hanya manggut- manggut mengerti maksud dari pencegahan Gus


Harun itu.

__ADS_1


 “Dan satu l;agi Gus, menurut rekan saya yang ditugaskan


mengintai situasi di istana raja Kalas Pati katanya para siluman itu tengah


berpesta pora,” ucap Kosim.


 “Sesuai perkiraan. Itu adalah pesta tahunan bangsa siluman


monyet. Nanti menjelang magrib kita harus kumpul semua disini. Dul, kabari


Baharudin dan Basyari ya,” ujar Gus Harun.


 ***


Di waktu yang sama,


Di alam tak kasat mata,


Suara- suara tetabuhan dari gendang dan terompet terdengar riuh


gempita bercampur hiruk pikuk suara- suara seperti nyanyian sakral namun penuh


kegembiraan memenuhi seisi ruang utama istana kerajaan Siluman Monyet.


 Duduk di kursi singgasana yang berkilauan keemasan tertimpa


cahaya, sang raja Kalas Pati Nampak sangat menikmati suguhan tarian dan


tetabuhan di hadapannya. Ditengah- tengah ruangan, para penari perempuan-


perempuan dengan pakaian seronok meliuk- liuk erotis mengikuti hentakan-


hentakan irama gendang dikelilingi setengah melingkar para prajurit siluman


monyet.


 Ribuan mahluk dengan postur dan wajah menyerupai monyet


berjingkrak- jingkrak mengikuti tetabuhan sesekali terkekeh- kekeh mengeluarkan


suara bercicitan tumpang tindih dari mulut lebar mereka. Mereka terlena dalam


kemeriahan pesta yang menjadi ajang rutin yang digelar setiap tahun. Suasana   gegap gempita


dalam sukaria membuncah di istana siluman monyet.


 Diatara para siluman monyet itu Nampak puluhan sosok bertubuh manusia


dengan pakaian compang camping dan kumuh hilir mudik diantara kerumunan


siluman- siluman monyet. Ditangan para sosok manusia itu membawa baki yang


diatasnya terdapat botol- botol dan gelas minuman yang memabukkan. Mereka ada


yang membawa berbagai buah- buahan seperti pisang, anggur, apel, manga, jambu


dan buah- buahan lainnya serta ada juga yang membawa bermacam- macam daging


seperti ayamg, paha kambing, kepala kambing, kaki kambing.


 Sosok manusia- manusia yang menjadi pelayan siluman- siluman


monyet itu tak lain adalah para manusia yang telah diambil hidupnya di dunia


fana setelah kontrak perjanjian pesugihannya habis. Bahkan ada juga diantara


manusia pelayan itu yang terpaksa di renggut kehidupannya karena melanggar


perjanjian gaib dengan bangsa siluman itu.


 Suara –suara gelak tawa sling tumpang tindih dengan hentakan-


hentakan irama music terdengar hingga ke pelataran istana. Di luar istana pun


tak kalah ramainya, ribuan siluman monyet berpakaian prajurit Nampak berjingkrak-


jingkrak menari, melompat- lompat mengikuti irama music yang keluar dari dalam


istana. Ditangan mereka masing- masing menggenggam sebotol minuman yang


memabukkan sedang satu tangan lagi memegang makanan.


 Semuanya tampak larut dalam suasana kemeriahan pesta. Mereka tak


peduli dengan suasana sekelelingnya yang Nampak Kilatan cahaya petir sesekali


menjalar dan berpendar menghiasi langit tak ubahnya seperti nyala kembang api


yang turut memeriahkan pesta. Bahkan suara Guntur yang menggelegar pun tak


ubahnya seperti hentakkan gendang musik yang mengiringi pesta mereka.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2