
Kegaduhan di ruang tamu membuat Arin dan Dewi beranjak dari depan televsi ingin melihatnya.
"Loh Mas Kosim sudah pulang? Deee, Dedeeee.. itu ayah pulang!" Seru Arin begitu melihat Kosim.
"Kirain nggak ada orang, nggak taunya ramai," seloroh Dewi.
"Mau pada minum apa nih?" Tanya Dewi.
"Kopi semua Wi," sahut Mahmud yang diiyakan Abah Dul.
Dede muncul berlari kearah Kosim, "Ayaaaahhh..." teriak Dede girang.
Dede langsung saja naik diatas pangkuan Kosim dengan tingkah gemasnya. Kosim menyongsongnya dengan senyum lebar.
"Dede udah makan belum?" Tanya Kosim sambil mencium pipi Dede.
"Udah," jawab Dede.
"Sama apa lauknya?" Tanya Kosim lagi.
"Sama telol," jawab Dede polos dan belum bisa mengucapkan 'R'.
Melihat kebahagiaan ayah dan anak itu didalam hati Abah Dul merasa terenyuh. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya andaikan Kosim dan anaknya hidup dialam siluman menjadi pengikutnya akibat melakukan pesugihan hingga akhir jaman.
Jika manusia berfikir logis dan sehat bagaimana kehidupan nanti setelah meninggal, tentulah tidak akan ada satu pun manusia yang mau melakukan pesugihan. Para pelaku pesugihan akan menjalani kehidupan setelah meninggal menjadi budak di alam siluman dimana manusia itu memuja dan mengikat perjanjian hingga hari Kiamat.
Bukan kesenangan dan kenikmatan yang mereka dapatkan didalam kehidupannya di alam siluman, melainkan mereka mendapatkan penderitaan sepanjang masa hingga akhir jaman. Mereka dipaksa bekerja tiada henti melayani bangsa siluman monyet bahkan ada pula yang dijadikan sebagai tiang penyangga istana, alas lantai ataupun keset istana siluman.
Tetapi sayangnya napsu duniawi manusia menutup rasa dosa dan rasa takut akan menjadi budak bangsa siluman dan hidup dalam penderitaan setelah meninggal nanti.
Sejak dahulu hingga sekarang Pesugihan sudah dikenal sebagai sarana yang digunakan manusia untuk mendapatkan harta kekayaan secara singkat dengan bantuan mahluk gaib.
Tentulah ada timbal balik kontrak dan perjanjian yang harus dipenuhi antara manusia dengan mahluk gaib. Manusia mendapatkan kekayaannya dan harus memberikan tumbal nyawa kepada mahluk halus sebagai timbal baliknya. "Nauzubillah mindzalik."
"Mang Ali mana? Biasanya sudah kesini Mas," Dewi muncul membawa kopi.
"Iya nggak tau kemana," jawab Mahmud.
Lamunan Abah Dul langsung buyar oleh pertanyaan Dewi yang membawakan kopi.
"Iya ya, udah jam 9 malam Mang Ali belum kesini juga," timpal Abah Dul.
__ADS_1
Dewi dan Arin lantas kembali ke tempat semula menonton sinetron kesayangannya di televisi. Kedua kakak beradik itu tidak curiga dengan kondisi Mahmud yang masih menyisakan lemas setelah terluka.
Andai saja keduanya tahu terutama Dewi, pastinya akan menimbulkan kepanikan. Mahmud, Abah Dul dan Kosim seperti dapat membaca situasi, ketiganya sengaja menutupi barusan yang terjadi di depan rumah.
Hingga hampir dua minggu ini Dewi belum mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi hingga teror datang silih berganti menimpa keluarga Kosim.
Arin sebagai istrinya Kosim pun belum mengetahui kalau teror siluman monyet yang sering menimpanya dan juga menimpa Dede itu akibat dari perbuatan Kosim.
Kosim sendiri bukannya tidak mau berterus terang, lebih tepatnya belum saatnya Arin mengetahuinya sekarang. Bersama Mahmud dan Abah Dul sepakat untuk menutupinya hingga pada waktu yang tepat akan diceritakan semuanya.
Jika berterus terang sekarang, hanya akan membuat masalah makin rumit. Arin akan marah besar yang imbasnya akan membuat Kosim semakin tertekan batin.
"Assalamualaikum," Terdengar suara dari luar.
"Waalaikum salam..." sahut Abah Dul, Mahmud dan Kosim.
"Nah, itu suara Mang Ali. Panjang umur baru aja ditanyain Mbak Dewi," ujar Kosim.
Kosim bangkit dari duduknya sambil menggendong Dede untuk membuka pintu. Namun langkahnya terhenti, telinganya tiba-tiba mendengung lalu terdengar suara ditelinga kanannya.
"Hati-hati Itu bukan Mang Ali dan bukan manusia!"
Abah Dul dan Mahmud yang melihat perubahan pada wajah Kosim sontak bertanya, "ada apa Sim?!"
"Bukan Mang Ali juga bukan manusia!" Seru Mahmud setengah berbisik.
Abah Dul dan Mahmud saling berpandangan dengan raut muka sama-sama terkejut.
"Biar saya aja yang buka Sim. Kamu bawa Dede masuk, cepat!" Sergah Abah Dul.
Tanpa menjawab Kosim langsung bergegas melangkah masuk keruang tengah dimana Arin dan Dewi sedang nonton televisi.
"Rin, Dedenya..." ucap Kosim singkat tak ingin menimbulkan kecurigaan kalau di depan bakal terjadi sesuatu.
Dengan keberanian yang tiba-tiba muncul di dirinya, Kosim melangkah ke dapur lalu keluar melalui pintu samping. Ia bermaksud menyergap sosok yang menyerupai Mang Ali.
Kosim berjalan mengendap-endap di tembok samping menuju ke depan rumah. Dengan berhati-hati ia mengintip melihat sosok yang berdiri menghadap rumah itu.
Mata lahiriyahnya melihat dengan jelas mahluk yang berdiri itu sama persis dengan Mang Ali. Hampir-hampir Kosim munculkan diri melihat Mang Ali sedang berbicara dengan Abah Dul, andai saja tak ingat peringatan dari 'suara tanpa rupa' tadi.
Kosim memperhatikan Mang Ali palsu dari ujung kaki hingga rambut. Tak ada yang aneh, memakai sarung dan kaos oblong bertuliskan produk rokok persis pakaian yang sering dipakai Mang Ali.
__ADS_1
Namun sekejap berikutnya Kosim terkesiap kaget menemukan kejanggalan pada sosok yang menyerupai Mang Ali tersebut.
"Aneh, nggak ada bayang-bayang dibelakang tubuhnya. Padahal lampu teras menyala terang menyinarinya," gumam Kosim dalam hati.
Samar-samar Kosim mendengar, Abah Dul mengajak Mang Ali masuk tetapi Mang Ali menolaknya dia memilih duduk di tepi teras.
"Kosim kemana?" Tanya Mang Ali dengan suara datar.
"Ada didalam," jawab Abah Dul.
Abah Dul yang pura-pura tidak mengetahui kalau itu Mang Ali palsu lantas ikut duduk di depan pintu, sengaja menjaga jarak sekitar tiga jengkal dari posisi duduknya Mang Ali.
Sementara itu Kosim yang bersembunyi dibalik tembok samping tiba-tiba muncul ide untuk mengisengi Mang Ali palsu.
Kosim mengambil kerikil sebesar biji kacang lalu digeggamnya sesaat sambil dibacakan amalan yang diberikan oleh Gus Harun.
Selesai membaca amalan lalu Kosim meniupkannya pada krikil digenggaman tangannya. Dengan hati-hati kerikil itu dilemparkan kearah punggung Mang Ali yang duduk membelakanginya.
Lemparan kerikil itu pelan meluncur dan tepat mengenai punggung Mang Ali. Bertepatan kerikil itu menyentuh punggung, sontak Mang Ali menjerit keras.
"Aaaaakh....!!!"
Tubuh Mang Ali terdorong seperti di jorokkan hingga jatuh tersungkur. Abah Dul dibuat kaget melihat Mang Ali tiba-tiba menjerit dan tersungkur.
"Kenapa Mang Ali?!" Tanya Abah Dul.
Abah Dul masih berpura-pura tidak tahu kalau itu Abah Dul palsu. Diam-diam Abah Dul menyiapkan amalan 'Penghancur Sukma' di telapak tangan kananya.
Mang Ali terlihat bangkit dengan sorot mata tajam dan raut muka menahan amarah. Kepalanya celingkukan seperti mencari sumber energi yang menghantamnya.
"Ada apa Mang Ali?!" Tanya Abah Dul setengah meledek.
"Siapa yang membokongi saya?" Seru Mang Ali.
"Nggak tau, saya dari tadi disini Mang Ali," tukas Abah Dul.
Sementara Kosim yang bersembunyi dibalik dinding sedang cekikian tertawa-tawa sendiri melihat tingkah polah Mang Ali palsu.
"Kosim mana?" Tanya Mang Ali lagi.
"Ada apa nyari Kosim Mang Ali?" Abah Dul balik nanya.
__ADS_1
......................