Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Bahagia Ditengah Prahara 2


__ADS_3

Di ruang tengah semuanya sudah berkumpul duduk melingkar diatas tikar. Ditengah-tengahnya tersaji beragam masakkan dan sebakul nasi. Zakiyah mengambilkan nasih dan lauk untuk ibunya kemudian mengambilkan nasi untuk Dewi, Arin, Dede, Kosim, Mahmud dan Abah Dul.


"Lauknya pilih dewe-dewe, yo. Monggo, monggo," ucap Zakiyah setelah mengulurkan piring terakhir kepada Abah Dul.


"Masya allah, cah kangkung ini ueeenak banget Kiyah, celetuk Abah Dul.


"Hallah... Hati-hati Kiyah tua-tua keladi," timpal Mahmud.


Wajah Zakiyah merona merah malu-malu dipuji Abah Dul sekaligus diperingatkan kakaknya.


"Meneng ente Mud," kata Abah Abah Dul.


"Awas Kiyah, misi DK sedang dilancarkan tuh," timpal Mahmud lagi.


"Opo meneh misi DK Mud?!" Abah Dul menghentikan suapannya.


"Misi DK alias misi Durung Kelakon (belum kesampaian)" ujar Mahmud cuek.


"Wah, bener-bener ente Mud," kata Abah Dul gemas sambil melotot.


Kontan saja semuanya pada tertawa mendengarnya. Zakiyah makin merona menghiasi wajah putihnya yang cantik.


Sedangkan Abah Dul terlihat kikuk dan menjadi salah tingkah oleh ucapan Mahmud. Lalu pura-pura tersedak untuk menghilangkan geroginya.


Bukannya mereda tertawa mereka semakin kencang melihat tingkah Abah Dul.


Zakiyah memang masih gadis usianya 23 tahun, meskipun banyak pemuda-pemuda sekitarnya yang menaruh hati namun tak satu pun yang dapat menaklukkan hatinya.


Sedangkan Abah Dul yang seumuran dengan Mahmud kebetulan juga belum menemukan jodohnya seperti sahabat-sahabatnya yang kini sudah memikiki anak. Padahal wajah Abah Dul terbilang gagah dan ganteng orangnya soleh pula serta masih memiliki darah keturunan kearab-araban dari nenek moyangnya.


"Ssstttt! Bah, sikaaaat..." bisik Kosim ditengah derai tawa.


Bisikkan Kosim yang terdengar kencang makin membuat gaduh ruangan, semuanya terkekeh-kekeh kecuali Abah Dul hanya tersenyum melotot malu-malu kearah Kosim.


Sementara Zakiyah pun dibuat tertawa sambil menundukkan wajahnya menyembunyikan perasaan malunya.


"Waduuuh, saya punya adik ipar macam ini bisa-bisa dunia runtuh nih," sergah Mahmud sambil tertawa.


"Husss! Ndak boleh gitu Nak," sela ibu Ayu Ning Tyas.


"Siapa tahu Gusti Allah merencanakan jodoh buat Zakiyah dan Nak Dul," sambung ibu Ayu Ning Tyas.


"Asyeeeekkkk... Suiiittt, suiiiitttt..." seru Kosim spontan.


"Berarti ibu Ayu setuju ya misalkan Abah Dul dan Mbak Zakiyah begini?" kata Kosim sembari menunjukkan dua jari telunjuknya diadu-adu.


"Hahahaha... Hahahaha... Hahaha..."


Gelak tawa semakin riuh memenuhi ruangan tengah. Suasana makan siang terasa sangat meriah penuh kebahagiaan.

__ADS_1


......................


Bersamaan selesai makan bersama sayup-sayup terdengar suara azan Duhur dari pengeras suara masjid.


"Kita sholat berjamaan ya," pinta Ibu Ayu Ning Tyas.


"Kelihatannya ibu sudah segar kembali, cepat banget sembuhnya ya bu," ujar Zakiyah melihat ibunya semangat.


"Waah, jangan-jangan hanya karena pengen ketemu sama Mas Mahmud ya bu, hehehe.." sambungnya.


"Ya mungkin juga Kiy, hehehe..." sahut Ibu Ayu Ning Tyas.


"Kiyah, ayo dibereskan dulu. Sholat disini aja biar muat semuanya," sambungnya.


Meski ibu mertuanya tidak menyuruh Dewi dan Arin namun kedua kakak beradik itu dengan cekatan ikut membantu Zakiyah membereskan piring-piring dan sisa makanan untuk diaimpan diatas meja makan.


Abah Dul melangkah keluar rumah disusul Mahmud dan Kosim sambil menggandeng Dede untuk berwudzu di kran air samping rumah.


Didalam langkahnya hati Abah Dul berkecamuk perasaan tak menentu. Namun ia sendiri tidak memahaminya dengan perasaannya yang terjadi saat ini. Namun jauh didasar hatinya, nama Zakiyah dirasakannya cukup mengganggunya.


Baru kali ini Abah Dul merasakan ada rasa bahagia didalam hatinya tetapi tidak tahu disebabkan oleh apa. Ia pun senyum-senyum sendiri mengikuti rasa bunga-bunga yang sedang mekar di hatinya.


"Ssstt! Sim, Abah Dul sudah mulai edan," bisik Mahmud pada Kosim.


Namun suara bisikkan Mahmud tak sepenuhnya di telinga Kosim, Mahmud seperti sengaja agar bisikkannya terdengar oleh Abah Dul.


Spontan Abah Dul menoleh balik badan ke Mahmud dengan mata melotot, "Apa katanya Sim?!"


"Wah, bener-bener nih," seru Abah Dul tapi membiarkan keduanya berlari.


Sementara didalam rumah, Zakiyah, Dewi dan Arin sedang menata sajadah untuk sholat berjamaah. Ibu Ayu Ning Tyas sedang berwudlu di kamar mandi.


"Kiyah, Dul kan ganteng turunan Arab pula masa nggak ada rasa apa gitu, hikhik..." bisik Dewi sambil merapihkan dan meluruskan sajadah.


"Ah, Mbak Dewi. Apaan sih ah," ujar Zakiyah tersipu-sipu.


"Iya Mbak Kiyah, kurang apa lagi. Ganteng, soleh dipanggilnya Abah pula, hikhik..." timpal Arin.


"Abah?" tanya Arin penasaran.


"Iya Kiyah, dia disana tuh orang-orang memanggilnya dengan nama Abah Dul. Nah, kan pas tuh Kiy, Abah dan Nyai Dul, hahaha..." seloroh Dewi disusul tawa Arin.


Zakiyah makin tersipu digodain Dewi dan Arin, sampai-sampai tanpa disadari ia menggelar satu sajadah paling depan yang disiapkan untuk Imam yang nantinya ditempati oleh Abah Dul.


"Cie.. cieeee... Buat calon imam sih special, hikhikhik..." goda Dewi.


Zakiyah terkaget-kaget mendengar seloroh Dewi.


"Dul yang jadi imam?" gumam Zakiyah.

__ADS_1


Tidak disadari gumamannya didengar oleh Dewi dan Arin. Tetapi kedua kakak beradik itu hanya cekikikan saja. Tak beberapa lama datang Mahmud, Kosim dan Abah Dul selesai mengambil air wudlu.


“Ada apa sih pada cekikikan?” tanya Mahmud yang pertama melihatnya.


Dewi dan Arin tidak menjawabnya namun memberikan kode menggerak-gerakkan kepalanya menunjuk ke arah Zakiyah yang masih terlihat membetulkan posisi sajadah buat posisi imam.


Sementara Zakiyah tidak tahu kalau dirinya sedang diperhatikan oleh Mahmud, Dewi dan Arin, dia terus saja merapihkan sajadah.


Tak lama berselang muncul Kosim dan Abah Dul dan barulah Zakiyah beranjak pergi, “ayo Mbak ambil air wudlu,” kata Zakiyah.


“Semangat bener, adik Maas yang paling syyyyaantik ini,” goda Mahmud.


Zakiyah mempercepat langkahnya berjalan sambil menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Tetapi sedetik berikutnya Zakiyah tersentak tubuhnya menabrak ibunya, dia tidak melihat ada ibunya berjalan didepan baru keluar dari kamar mandi.


“Astagfirullah, Kiya...” seru ibunya yang sama-sama kaget.


Zakiyah tidak merespon apapun, ia terus saja berjalan ke kamar mandi untuk berwudlu. Ibu Ayu Ning Tyas melongo dibuatnya, “kenapa si Kiyah?” ucap ibunya keheranan lalu meneruskan langkahnya menuju ruang tengah.


Untungnya insiden tabrakkan itu tidak dilihat oleh Mahmud dan yang lainnya sehingga tidak menimbulkan kegaduhan. Kemudian Dewi dan Arin menyusul Zakiyah untuk mengambil air wudlu.


“Mud, ente aja yang jadi Imam,” kata Abah Dul.


“Sory Bah, ilmunya tuaan ente, hikhikhik...” sahut Mahmud.


“Udah Bah, lanjuuuut ah,” sergah Kosim sambil menahan tubuh Abah Dul agar tetap didepan.


“Nak Dul, udah ndak apa-apa. Nak Dul yang jadi imam,” ucap Ibu Ayu Ning Tyas.


“Tuh, dengerin Bah,” timpal Mahmud.


“Nurut sama mertua,” bisik Kosim.


Abah Dul hanya bisa melototkan matanya, mau membalasnya tapi tidak enak dengan ibu Ayu Ning Tyas. Tak lama kemudian Zakiyah, Dewi dan Arin sudah kembali dan bergegas memakai mukenanya berbaris dibelakang Mahmud dan Kosim.


Sesaat Abah Dul menoleh kebelakang untuk melihat apakah makmum sudah siap atau belum, lalu mengucapkan kalimat sebelum takbir, “أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا, Luruskan shaf kalian dan rapatkan.” Lalu disusul takbir.


“Allahu Akbar...”


......................


Beberapa lama kemudian ibadah sholat Duhur pun selesai dalakukan. Mahmud minta izin pada ibunya untuk pergi berziarah mengunjungi makam bapaknya setelah itu pergi ke tempat wisata, Pemandian Air Panas Gunung Guci.


“Ya kalau begitu berangkat aja semuanya?” kata Ibu Ayu Ning Tyas.


“Lah, ibu kan lagi sakit bu,” ucap Mahmud.


“Ibu udah sehat, udah segerrrr. Tuh, tuh...” sergah Ibu Ayu Ning Tyas sembari mengepalkan tangan kanannya.


Semuanya dibuat tertawa melihat ibu Ayu Ning Tyas mempraktekkan seperti seorang binaragawan.

__ADS_1


“Yowis, kalau begitu ayo siap-siap kita berangkat.” Kata Mahmud.


......................


__ADS_2