Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KECEROBOHAN YANG FATAL


__ADS_3

Alam Jin,


Tuan Denta bergerak dengan mengendap- endap menuju jendela yang dalam keadaan menutup yang berada di sisi kiri. Dengan hati- hati tuan Denta mulai membuka daun jendela yang terbuat dari kayu lebar.


Seketika terdengar bunyi deritaannya, dengan cepat tuan Denta menghentikan dorongannya pada daun pintu, dia sangat khawatir suara deritan itu mengundang kecurigaan dari luar


rumah. Tuan Denta terdiam beberapa detik sambil mencermati keadaan barangkali ada reaksi dari luar rumah, namun setelah dipastikan tidak ada pergerakkan kemudian perlahan- lahan kembali tuan Denta meneruskan mendorong daun jendela sedikit demi sedikit.


Setelah daun jendela dirasa terbuka secukupnya hanya sekedar untuk dapat mengintip ke luar rumah dari celahnya, tuan Denta segera merapatkan wajahnya pada daun jendela dan mengamati situasi di luar kediamannya dengan


menahan nafas.


Benar saja seperti dugaan tuan Denta, bahwa kediamannya masih di jaga ketat oleh prajurit- prajurit kerajaan jin. Di luar kediamannya,


terlihat beberapa prajurit berpakaian lengkap dengan memegang senjata mondar- mandir di depan rumah tuan Denta. Bahkan di jalanannya pun terlihat banyak prajurit yang berlalu lalang.


“Rupanya Raja Gondewa masih memburuku,” gumam tuan Denta.


Sementara itu Mahmud yang masih berdiri diatas pintu lorong mengamati seisi bangunan yang semuanya nampak terbuat dari kayu sebagai tempat tinggal tuan Denta. Sauasana di dalam ruangan dengan penerangan yang temaram namun masih cukup jelas bagi Mahmud untuk melihat benda- benda di sekitarnya. Di dalam ruangan yang tak terlalu besar tersebut tampak tidak ada sekat atau ruangan lain, bahkan tak ada satu pun prabotan rumah tangga seperti umumnya rumah- rumah manusia.


Di tengah ruangan hanya ada meja besar lengkap dengan kursinya yang berjumlah 6 buah yang semuanya terbuat dari kayu. Selain meja dan kursi- kursi tidak ada lagi perabotan- prabotan lainnya. Tanpa sengaja pandangan mata Mahmud membentur suatu benda yang tergantung pada dinding kayu. Benda tersebut nampak seperti sebuah kalung dengan liontin hitam. Liontin tersebut berukuran lebar berbentuk oval dan disetepinya terukir yang menggambarkan seperti jilatan- jilatan lidah api. Di tengah liontin terdapat ukiran- ukiran yang aneh membentuk simbol.


Mahmud sangat tertarik dan penasaran dengan kalung yang tergantung di dinding tersebut lalu berniat beranjak menuju tempat kalung itu


tergantung untuk melihatnya dari dekat. Kedua mata Mahmud fokus tertuju pada kalung tersebut saat berjalan. Dan pada langkahnya yang ketiga, tiba- tiba kakinMahmud tersandung pada kayu papan yang menonjol. Kontan saja tubuh Mahmud terhuyung kedepan, dengan reflek Mahmud meraih pegangan pada tiang penyangga dan nyaris saja jatuh tersungkur.


Gubraaakkk..!!!


Meski tidak jatuh namun suara yang ditimbulkannya cukup terdengar keras dan membuat tuan Denta sangat terkejut. Sektika tuan Dentanmenoleh ke arah Mahmud dengan mata membeliak lebar, lalu dengan pandangannya kembali diarahkan keluar jendela melalui celah- celah daun jendela untuk

__ADS_1


melihat prajurit- prajurit di luar rumah. Dugaan tuan Denta sangat tepat, ternyata suara yang ditimbulkan oleh Mahmud tersebut didengar oleh para prajurit yang berjaga.


Baru saja tuan Denta hendak memperingati Mahmud untuk bersembunyi, tiba- tiba daun pintu di dobrak dari luar. Suara dobrakkannya


terdengar sangat keras membuat Mahmud tersentak kaget. Mahmud terkesiap melihat


kemunculan prajurit- prajurit ditengah- tengah pintu yang didobrak. Ia hanya bisa tertegun memandangi prajurit jin yang berjumlah 6 orang yang sedang menatap tajam kearahnya.


“Itu Jenderal Denta!!!” teriak salah satu prajurit yang melihat kearah posisi tuan Denta berdiri merapat di dinding. Semua mata prajurit seketika mengalihkan pandangannya pada tuan Denta dengan tatapan nyalang.


“Tangkap!!!” teriak pimpinan prajurit.


Ke enam prajurit serentak bergerak mengurung tuan Denta yang tersudut di dinding kayu dekat jendela dan mengabaikan keberadaan Mahmud. Mahmud yang semula pasrah menahan nafas, kini sedikit lega karena semua prajurit jin


menyerang tuan Denta. Namun kelegaan hati Mahmud tak berlangsung lama karena tiba- tiba muncul 5 prajurit memasuki rumah sambil menghunus pedang.


Mahmud kian terkesiap, beberapa saat ia hanya tertegun melihat situasi yang sangat mengerikan didepan matanya. Mahmud juga menyadari kalau bahaya sedang mengancam bukan pada tuan Denta saja melainkan dirinya juga.


Kilatan cahaya putih membentuk mata pedang yang tajam melesat cepat mengarah ke bagian peruta 6 prajurit yang sedang mengangkat


senjatanya bersiap menyerang.


Traaang…!!! Suara benturan nyaring terdengar.


Cahaya mata pedang tuan Denta mengenai perisai baju zirah yang dikenakan 6 prajurit membuat cahaya yang membentuk mata pedang itu seketika buyar dan cahayanya berpendaran ke segala arah menghantam dinding- dinding rumah.


Pedang 6 prajurit yang sudah teracung sebelumnya tak.menyurutkan serangannya pada tuan Denta meski sempat terhantam oleh sapuan cahaya mata pedang tuan Denta. Enam pedang hitam legam yang besar dan bergerigi


meluncur deras mengarah ke satu target yaitu kepala tuan Denta!.

__ADS_1


Wussss… Wussss… Wussss… Wussss… Wussss… Wussss…


Belum hilang rasa terkejutnya melihat serangannya tak dapat menembus tubuh 6 prajurit, Tuan Denta kembali terkesiap dengan mata terbelalak melihat hujaman ujung- ujung mata pedang yang berkilatan mengarah ke kepalanya.


Tak ada jalan lain bagi tuan Denta untuk menghindar karena posisinya sudah dikurung dari segala arah dan dirinya tersudut pada dinding rumahnya sendiri. Satu –satu jalan untuk membela diri hanyalah dengan menangkis


6 pedang yang meluncur deras secara bersamaan tersebut meski tuan Denta menyadari usahanya itu tidak akan menyelamatkan dirinya sepenuhnya. Tetapi paling tidak dirinya dapat mengurangi hujaman pedang- pedang yang akan mendarat di kepalanya.


Tuan Denta memalangkan pedangnya diatas kepala untuk menahan hujaman pedang 6 prajurit, namun sayangnya panjang pedang milik tuan Denta tidak mencukup untuk menangkis 6 bilah mata pedang tersebut. 4 hujaman pedang


membentur punggung pedang besar tuan Denta, tetapi 2 mata pedang meluncur deras menuju kepala tuan Denta tanpa dapat di tangkisnya.


Tuan Denta menyadari betul ancaman dua mata pedang tersebut tak dapat di tangkisnya, dia pun perlahan- lahan memejamkan matanya. Tuan Denta nampak sangat pasrah menantikan mata pedang- mata pedang itu menghujam kepalanya.


Buuummm…!!!


Selarik cahaya putih tiba- tiba menghantam punggung dua prajurit yang sedang menghujamkan pedangnya dengan bebas ke kepala tuan Denta. Seketika tubuh dua prajurit jin itu terdorong kedepan dan menabrak tubuh tuan Denta, sedangkan dua pedang yang sedikit lagi mengenai kepala tuan Denta seketika


menghujam mengenai dinding akibat tubuhnya terdorong.


Braaakkk…!!! Suara dinding rumah tuan Denta jebol terdorong oleh dua prajurit yang menabrak tubuh tuan Denta.


Tuan Denta terbelelak membuka matanya penuh keheranan bersamaan dengan tubuhnya menabrak dinding rumah dan  meluncur jatuh ke halaman disusul tubuh dua prajurit yang melayang jatuh diatasnya. Dengan cepat tuan Denta menyabetkan pedang besarnya dengan gerakkan memapras dua tubuh prajurit jin yang melayang diatasnya tersebut.


Suara gaduh yang ditimbulkan membuat semua yang ada di luar rumah kontan menoleh kearah tuan Denta dan dua prajurit yang sedang di tebas


oleh ayunan pedang tuan Denta. Hal itu pula yang menarik perhatian para prajurit- prajurit yang sedang berjaga berlalu lalang di jalan pemukiman.


“Siapa yang menolongku?!” ucap tuan Denta dalam hati, setelah pedangnya mempu membuat tbuh- tubuh prajurit terpotong jadi dua.

__ADS_1


“Tuan Mahmud? Ah, tidak mungkin. Aku lihat tuan Mahmud juga diserang oleh prajurit- prajurit itu,” sambung tuan Denta dalam hati.**


BERSAMBUNG


__ADS_2