Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
ABAH DUL PANIK


__ADS_3

Setelah beberapa saat lamanya sukma Mahmud melayang terlempar sangat jauh dari lokasi ledakkan sebelumnya, saat ini sukma Mahmud terdampar di suatu tempat yang sangat asing bagi dirinya. Di suasana temaram Mahmud dapat melihat di sekililingnya banyak tumbuhan ilalang dan semak belukar. Mahmud mendongakkan kepalanya melihat keatas, seketika dirinya baru menyadari kalau suasana temaram tersebut akibat tertutup oleh rimbunan dedaunan pohon- pohon raksasa tinggi menjulang.


“Dimana ini?” gumam Mahmud celingukan kesana kemari.


Kemudian Mahmud mencoba bermaksud melompat dan melayang untuk melihat sekelilingnya, akan tetapi saat Mahmud menghentakkan kakinya tubuhnya sama sekali tidak dapat terangkat. Mahmud sangat penasaran, ia berulang kali mencoba untuk meloncat keatas, namun lagi- lagi Mahmud hanya meloncat- loncat ditempat saja.


“Aneh, kenapa saya tidak bisa melayang apalgi melesat? Apakah ini di alam manusia? Tapi dimana?” Mahmud sangat bingung bercampur keheranan karena dirinya sama- sekali tidak dapat melayang seperti sebelumnya.


Spontan Mahmud menepuk nepuk pipinya, namun ia tidak dapat merasakan sentuhan tangannya, “ini masih sukma saya! Tapi kenapa tidak bisa melayang?!”


Terpaksa Mahmud pun melangkahkan kakinya menyibak semak belukar kearah depan tanpa arah tujuan, ia berharap mendapatkan petunjuk mengenai tempat dirinya berada. Sejauh mata memandang, hanya ada rerimbunan semak belukar dan pohon- pohon besar dan tinggi  didepan matanya. Hutan belantara! Mahmud berpikir kalau dirinya terdampar pada sebuah hutan belantara di alam manusia.


“Tapi nampaknya tak ada tanda- tanda aktifitas orang disini,” ucap Mahmud dalam hati.


“Bagaimana dengan Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin? Lalu cahaya putih yang menabrak tongkat emas raja Kalas Pati itu siapa?” sektika Mahmud teringat dengan kejadian sebelumnya hingga membuatnya terlempar ke tempat asing.


“Sebaiknya saya kembali saja, pasti mereka sedang mencari- cari keberadaan saya,” ucap Mahmud sambil terus melangkah menginjak rumput ilalang didepannya.


Mahmud celingukkan mencari- cari tempat yang nyaman untuk dirinya melakukan perjalanan sukmanya menuju raga dengan cara pintas. Mahmud pikir, dengan cara pintas tersebut sukmanya akan langsung kembali masuk kedalam raganya tanpa melintasi dimensi gaib lagi.


Setelah cukup jauh melangkah tanpa arah dan tujuan, samar- samar dikejauhan Mahmud melihat sesuatu yang menjulang tinggi diantara pepohonan, akan tetapi bentuknya sangat berbeda dengan bentuk pepohonan. Mahmud sangat yakin kalau benda itu bukanlah pohon, ia memfokuskan penglihatannya lebih seksama lagi dan Mahmud pun sudah dapat memastikan kalau benda yang menjulang tinggi itu adalah sebuah bangunan seperti menara.

__ADS_1


“Menara???” Mahmud semakin keheranan.


Mana mungkin di dalam hutan belantara ada bangunan menara, begitu pikir Mahmud. Namun ia penasaran, menara apakah yang dilihatnya tersebut. Mahmud pun mempercepat langkahnya agar sampai di tempat menara itu berada sekaligus akan dijadikan tempat untuk melakukan prosesi kembali ke raganya.


......................


Sementara itu di saat waktu yang sama di rumah Mahmud, rencana keberangkatan Kiyai Sapu Jagat, Kosim, Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin tertahan oleh perkataan tuan Samanta.


“Lalu bagaimana dengan tubuh tuan Mahmud serta tuan- tuan semuanya?! Siapa yang menjaga tubu tuan- tuan?!” sergah tuan Santana menghentikan gerakan Kiyai Sapu Jagat dan yang lainnya yang hendak melesat ke alam siluman monyet kembali untuk mencari Mahmud.


Sontak saja peringatan tuan Samanta menyadarkan kondisi yang sangat penting dan  sempat terlupakan oleh Kiyai Sapu Jagat dan empat muridnya. Mereka semua membenarkan peringatan dari tuan Samanta, akan sangat berbahaya ketika sukma keluar dari raganya tanpa ada yang menjaga raga tersebut. Segala kemungkinan hal- hal buruk bisa saja menimpa pada tubuh tersebut entah mendapat gangguan dari mahluk- mahluk hidup disekelilingnya atau mungkin juga mendapat gangguan dari mahluk- mahluk gaib.


“Aku bisa saja tinggal disini dan menjaga tubuh tuan- tuan semuanya. Tetapi yang aku khawatirkan bagaimana kalau ada manusia yang datang ke rumah ini, sedangkan aku tidak bisa berbuat apa- apa untuk mencegahnya, pasti manusia itu akan ketakutan karena tidak dapat melihat wujudku,” kata tuan Gosin.


“Kalau begitu biar saya yang disini menjaganya,” ucap Abah Dul memecah kebuntuan.


Abah Dul mengajukan diri karena dia pikir, hanya dirinya yang sudah terbiasa berada di rumah Mahmud dan pastinya tidak akan menimbulkan kecurigaan bagi orang- orang yang berada di sekitar rumah Mahmud. Jika pun ada yang datang tentunya Abah Dul dapat mengatasinya. Sedangkan jika Gus Harun atua Basyari dan Baharudin yang berada di dalam rumah Mahmud tentunya akan menimbulkan beragam pertanyaan.


“Baiklah kalau begitu, mari kita berangkat sekarang,” ucap Kiyai Sapu Jagat.


Gus Harun dan semuanya menganggukkan kepala, lalu melesat menyusul Kiyai Sapu Jagat yang lebih dulu melesat keatas dan lenyap dari pandangan Abah Dul.

__ADS_1


Sepeninggal sukma Gus Harun, Basyari dan Baharudin menuju ke alam siluman bersama Kiyai Sapu Jagat, tuan Samanta dan tuan Gosin, Abah Dul memandangi satu persatu tubuh tanpa sukma di hadapannya dan pandangan terakhir Abah Dul jatuh pada tubuh Mahmud.


“Mud ente ada dimana?” gumam Abah Dul sambil menatap lekat- lekat tubuh sahabatnya tersebut.


Ada perasaan cemas yang teramat sangat yang timbul memenuhi pikirannya. Berbagai pertanyaan yang mengkhawatirkan tercipta saling berseliweran di dalam isi kepalanya, bagaimana jika Mahmud tidak diketemukan dan tidak kembali kedalam raganya? Lalu bagaimana menjelaskannya jika Dewi dan Arin menanyakan penyebabnya? Lalu apa kata orang- orang? Mereka pasti akan mengaitkannya dengan anaknya Kosim yang hidup kembali.


Tubuh Mahmud yang ditatapnya masih tetap diam tak bergeming, kedua matanya terpejam rapat, kedua tangannya  berada diatas ujung lutut kedua kaki yang ditekuk duduk bersila. Pikiran- pikiran negatif terus menari- nari didalam kepala Abah Dul, hinga membuatnya semakin gelisah. Abah Dul tercenung dengan segala dugaan- dugaan kemungkinan- kemungkinan buruk yang akan terjadi pada Mahmud.


Suasana didalam rumah Mahmud yang hening tiba- tiba dipecahkan dengan suara dering telpon dari dalam saku celana Abah Dul. Abah Dul sendiri sampai berjingkrak sangat kaget sekaligus membuyarkan lamunan gelisahnya.


Kriririiiiing…! Kriririiiiing…! Kriririiiiing…! Kriririiiiing…!


Abah Dul segera merogoh saku celananya untuk mengambil hape. Sesaat melihat ke layar hape untuk melihay siapa yang menelpon lalu mengangkatnya, “ ya halo, wa’ alaikum salam…”


“Bah, hape mas Mahmud kok nggak aktif?” tanya suara dari seberang telpon.


“Mungkin baterainya habis belum di cas Wi, ada apa Wi?” sahut Abah Dul.


“Tanyakan ke mas Mahmud Jam berapa ke rumah sakitnya gitu Bah bawa baju- bajunya Dede, soalnya kondisi Dede sekarang sudah berangsur- angsur membaik. Mungkin tak lama lagi akan kembali normal Bah, ” kata Dewi.


“Oh, iy, iya wi. Nanti saya tanyakan ke Mahmud ya, secepatnya pasti ke rumah sakit Wi,” sahut Abah Dul seketika tergagap.

__ADS_1


Beruntung Dewi yang berada diseberang telpon tidak begitu memperhatikan kegugupan suara Abah Dul dan langsung memutuskan sambungan telpon. Jantung Abah Dul langsung berdegub kencang, rasa cemas dan khawatirnya terhadap Mahmud kian membesar seakan- akan tidak memiliki harapan lagi pada Mahmud.


“Apa yang akan saya katakan pada Dewi???” tanya Abah Dul begitu risau sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.** BERSAMBUNG


__ADS_2