
Masih di malam ke-7 menjelang Purnama,
Kejadian warga menggeruduk rumah Kosim dan penganiayaan terhadap Kosim serta kembalinya Kosim dan keluarganya mengungsi ke rumah Mahmud membuat istana kerajaan Siluman Monyet bergetar. Raja Kalas Pati kembali murka mendapat laporan dari para anak buahnya.
"Kenapa manusia bernama Kosim tidak sampai mampus?!" Teriak Raja Kalas Pati dengan muka merah.
"Ampun Paduka Junjungan kami, hamba sendiri tidak tahu kenapa manusia-manusia lainnya tidak ikut menghajar Kosim. Padahal hamba dan Anggada Kora sudah menghasutnya," terang Anggada Gini.
"Lalu kenapa Kosim mau kembali ke rumah itu lagi?!" Seru Raja Kalas Pati, suaranya penuh kemarahan menggelegar menggema hingga menggetarkan ruangan istana.
"Ampun Paduka, setelah peristiwa itu pengaruh kekuatan kami yang menutup akal sehatnya seketika pudar sehingga kesadaran Kosim sepertinya telah pulih kembali dan dia mau meninggalkan rumahnya mengungsi ke rumah itu lagi," terang Anggada Gini, siluman monyet perempuan.
"Grrrrrrrkkkkhhhhh... Gagal! Gagal! Kenapa susah sekali?!" Teriak Raja Kalas Pati murka.
Wajahnya merah padam, sorot matanya merah darah menyiratkan kebengisan menyapu seluruh para siluman-siluman monyet dihadapannya yang tertunduk dalam-dalam. Tidak ada yang berani bergerak sedikit pun apalagi menatap mata Rajanya.
"Purnama...! Purnama...! Bulan purnama ini aku sendiri yang akan turun membetot nyawanya. Akan aku seret dia hingga ke istana ini dan akan aku jadikan keset istana, HAAHAHAHAHA...." Suara besar dan sember kembali menggema dan menggetarkan seisi istana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
RUMAH MAHMUD PUKUL 22.25 WIB,
Mahmud, Kosim dan Abah Dul duduk lesehan di ruang tengah sedangkan Dewi dan Arin sudah tidur di kamarnya masing-masing.
Mahmud maupun Abah Dul sengaja tidak langsung mengabari Mang Ali kalau Kosim kembali tinggal di rumah Mahmud. Mahmud pikir, kondisinya bukan sedang dalam ancaman siluman monyet.
Beberapa detik berlalu suasana hening, Kosim menghisap rokoknya perlahan diselingi dengan menyeruput kopinya. Mahmud pun demikian sama dengan yang dilakukan Kosim. Keduanya menunggu reaksi Abah Dul yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ini seperti mencari jarum dalam jerami, Mud, Sim..." gumam Abah Dul.
"Maksudnya Bah?" Sergah Mahmud.
"Kita nggak tau secara pasti siapa orangnya yang menjalani pesugihan itu atau minimal ada yang dicurigai saya bisa mendeteksinya. Ini kan sama sekali nggak ada gambaran nama maupun orangnya jadi sedikit sulit juga, nanti timbunya fitnah Mud," kata Abah Dul.
Mahmud dan Kosim manggut-manggut membenarkan penjelasan Abah Dul.
"Kalau menurut ente Sim, ada nggak orang yang ente curigai di kampung ente? Tanya Abah Dul tiba-tiba.
"Mmm, dari semenjak kejadian Arin minggat dari rumah saya juga sempat memikirkan itu tapi saya nggak bisa memastikan Bah," jawab Kosim.
"Berarti ente sudah mencurigai seseorang Sim, siapa?" Sergah Abah Dul.
"Hanya sebatas mengira-ngira aja Bah," ujar Kosim.
"Siapa Sim?" Tanya Mahmud turut penasaran.
"Saya curiga sama bu Parni, orang yang menyebarkan gosip di warung." Ucap Kosim.
"Hmm... gimana cara menyelidikinya ya, saya bingung juga," ujar Abah Dul.
Abah Dul termenung, Mahmud dan Kosim hanya bisa menunggu sambil kembali menyeruput kopinya yang sudah dingin disusul menghisap rokok.
"Bah mungkin Mang Ali mempunyai cara mengungkap hal-hal seperti ini," ucap Mahmud spontan.
"Betul juga ya Mud. Coba di telpon Mang Alinya," ujar Abah Dul.
Abah Dul memang tinggi ilmu kebatinannya namun untuk mengatasi masalah mencari tahu pelaku pesugihan benar-benar belum pernah menanganinya. Sebagian besar orang yang meminta tolong rata-rata sebatas membersihkan rumah dari aura gelap atau dari gangguan mahluk halus, selebihnya menangani orang sakit, orang kesurupan, guna-guna santet atau teluh.
"Ya halo assalamualaikum, bi. Mang Ali nya ada bi?" Mahmud berbicara dengan seorang perempuan diseberang telpon.
__ADS_1
"Iya bi, punten ya bi..." kata Mahmud lagi.
"Sssttt, Mang Alinya ada?" Sela Abah Dul berbisik.
Mahmud menutup bagian bawah telponnya lalu menjawab, "Ada lagi dipanggil, katanya lagi duduk ngopi didepan rumah," Balas Mahmud pelan.
"Ya halo, Mang Ali repot nggak?.... ngopinya disini di rumah saya aja Mang Ali, hehehe... Ya tau dong, kata istrinya Mang Ali tadi, hehehe... ke rumah ya...., oke, oke matur suwun Mang, assalamualaikum," Mahmud mengakhiri telponnya.
"Otw katanya Bah," ucap Mahmud.
"Saya langsung bikinin kopi buat Mang Ali dulu, Mas mau nambah? Abah?" Sela Kosim, beranjak berdiri menunggu jawaban Mahmud dan Abah Dul.
"Boleh deh," jawab Abah Dul dan Mahmud berbasamaan lalu keduanya tertawa.
Jawaban kompak spontan tanpa dikasih aba-aba itu membuat ketiganya tertawa. Ruang tengah Mahmud pun berisik oleh tertawa ketiganya.
Rumah Mang Ali tidak terlalu jauh dari rumah Mahmud hanya selisih 10 rumahan. Beberapa menit kemudian terdengar suara Mang Ali dari luar bersamaan dengan munculnya Kosim dari dapur dengan nampan ditangan membawa 4 gelas kopi hitam.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab ketiganya bersamaan.
"Masuk aja Mang Ali, nggak dikunci." Seru Mahmud.
Mang Ali pun melangkah masuk dan saat sampai di ruang tengah, dia sedikit terkejut melihat Kosim.
"Loh Sim..." kata Mang Ali.
"Hehehe... iya Mang Ali, ngungsi lagi," timpal Kosim memahami keterkejutan Mang Ali.
Satu-persatu Mang Ali menyalami, Abah Dul, Mahmud dan Kosim lalu duduk disebelah Kosim.
"Iya Mang Ali, untungnya bisa dicegah RT sama pamong desa. Kalau nggak ada mereka ya mungkin saya sudah dibakar kali Mang, hehehe..." jawab Kosim dengan tertawa sumbang.
"Ya itu dia Mang Ali, Kosim dituduh menjalani pesugihan. Dan kata Pak Kuwu kebetulan di desanya memang sedang geger banyak warganya kehilangan uang secara misterius," ujar Abah Dul.
"Sampeyan kesana Bah? Saya kok nggak dikabari toh Mud," Sergah Mang Ali.
"Maaf Mang Ali nggak sempat, begitu ditelpon Arin saya ajak Abah Dul langsung meluncur," sela Mahmud.
"Kurang ajar betul tuh warga!" Kata Mang Ali turut emosi.
"Saya juga emosi Mang, mendengar Kosim dipukuli begitu. Tapi yang lebih kurang ajarnya lagi orang yang melakukan ngepet Mang Ali. Bayangin saja, dia yang melakukan, Kosim yang kena fitnah," ujar Abah Dul.
"Yang jadi iparnya nggak marah Mud," seloroh Mang Ali.
"Mahmud sih marahnya cuma diem aja Mang Ali, nggak akan ngomong, hikhik..." timpal Abah Dul.
"Ya biar Abah aja yang ngoceh-ngoceh didepan Pa Kuwu tuh Mang Ali," balas Mahmud.
"Hikhikhik..."
"Hikhikhik..."
"Hikhikhik..."
Semuanya terkekeh-kekeh mendengar Abah Dul menimpali dan melihat reaksi Mahmud. Beberapa saat lamanya suasana malam menjadi sedikit berisik.
"Sudah, sudah... kembali ke" kata Abah Dul belum tuntas disela oleh celetukkan Mang Ali.
__ADS_1
"Leptop!" Sergah Mang Ali.
"Hahahahaha...."
"Hahahahaha...."
"Hahahahaha...."
Gelak tawa kembali memenuhi ruang tengah itu. Abah Dul yang tadinya mau serius pun spontan ikut tertawa mendengar selorohan Mang Ali.
"Sudah, serius... serius..." sergah Abah Dul menyisakan tawanya.
"Oke,"
"Oke"
"Siap Komandan! Mau bertarung lagi dengan monyet?! Ujar Mang Ali.
"Hehehe, nggak Mang Ali. Tujuan manggil Mang Ali itu bukan mau ngajak bertarung dengan monyet, ini menyangkut Kosim," kata Abah Dul mulai serius.
"Kosim kenapa Bah?" Tanya Mang Ali penasaran.
"Kosim itu kena fitnah Mang dan memang di kampungnya ada yang melakoni pesugihan. Tadinya saya pengen mengungkap siapa pelakunya tapi saya bingung caranya. Barangkali Mang Ali punya cara untuk menemukan orangnya," terang Abah Dul.
Mang Ali tertegun mendengar keterangan Abah Dul. Ekpresinya terlihat sedikit terkejut.
"Kira-kira pesugihan jenis apa Bah?" Tanya Mang Ali.
"Saya sih kurang tau Mang, mungkin Kosim tau," ucap Abah Dul.
"Coba saya telpon Mak Ijah dulu Bah, barangkali emak tau," sela Kosim sambil merogoh saku celannya mengambil hape.
Kemudian sejenak Kosim mencari kontak Mak Ijah dan setelah ketemu langsung menelponnya. Menunggu beberapa detik telpon pun diangkat Mak Ijah.
"Halo assalamualaikum Mak... Alhamdulillah baik Mak, gini Mak mau nanya. Emak tau nggak pesugihan apa yang sedang geger disitu Mak," tanya Kosim pada Mak Ijah diseberang telpon.
"O.. iya Mak, matur suwun ya Mak. Maaf mengganggu, assalamualaikum." Kosim menyudahi telponnya.
"Apa katanya Sim?" Tanya Mang Ali penasaran.
"Belum tau katanya Mang tapi nanti besok mencari informasi. Nanti dikabari kalau sudah dapat kabar," terang Kosim.
Suasana hening sesaat, Mang Ali menyeruput kopinya disusul Kosim dan Mahmud reflek turut nyeruput melihat Mang Ali. Sesaat kemudian Abah Dul memecah keheningan.
"Saya belum pernah mencoba mengungkap pelaku pesugihan Mang Ali, baru kali ini. Makanya saya sedikit bingung gimana caranya," kata Abah Dul.
"Kalau dengan melepas sukma sih Bah?" Tanya Mahmud.
"Melepas sukma itu memang salah satunya digunakan mencari keberadaan orang tapi bukan mencari pelaku pesugihan yang belum diketahui orangnya, Mud. Terkecuali ada seseorang yang sembilan puluh persen diduga pelakunya, mungkin saya bisa menyelidikinya dengan melepas sukma," terang Abah Dul.
"Masa saya harus mendatangi satu persatu orang sekampung kaya sensus penduduk aja, hehehehe..." Abah Dul tertawa kecil diikuti Mahmud dan Kosim.
......................
Dalam dunia pesugihan, konon cara kerjanya terbagi dua jenis. Ada yang pelakunya merubah wujudnya menjadi babi yang familiar disebut babi ngepet, ada yang berubah jadi anjing dan ada lagi yang wujudnya berubah menjadi pocong tetapi jenis ngepet ini entah kenapa tidak disebut pocong ngepet. Mungkin nggak pas kali ya namanya. Dan golongan pesugihan ini pelakunya bekerja sendiri dan mencari targetnya sendiri.
Jenis pesugihan lainnya yang tidak bekerja langsung adalah memelihara tuyul, memelihara Buto Ijo, memelihara monyet atau ada pula hanya dengan menikahi bangsa mahluk halus, biasanya yang paling umum dari golongan siluman ular.
Untuk pesugihan siluman monyet sendiri biasanya pelakunya akan memelihara monyet di rumahnya. Taaaapiiii.... ingat ! Bukan berarti orang yang memelihara monyet dipastikan pelaku pesugihan ya!
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=