
“Kulhu allahu ahad...” ucap Abah Dul spontan.
Ular raksasa yang berubah wujud menjadi wanita cantik khas orang Jawa itu tiba- tiba lenyap seketika saat mendengar ucapan yang reflek dari Abah Dul.
Seketika itu juga wujudnya berubah menjadi kulatan cahaya putih yang berkilauan hingga menyilaukan pandangan mata Abah Dul. Di tengah- tingah kilauan cahaya itu terdapag pusat sinarnya berupa benda bulat sebesar telor ayam kampung.
Abah Dul tersentak kaget, ia reflek tersurut mundur tiga langkah kebelakanh sambil menutupi kedua matanya dengan punggung tangan kanannya.
Disaat Abah Dul tidak menyadari situasi yang terjadi di depannya, seketika cahaya putih itu melesat menghantam dada Abah Dul. Abah Dul sama sekali tidak menyadari kalau cahaya itu melesat menerjang dan masuk ke dalam tubuhnya.
Bleessss!
Terjangan cahaya putih yang melesat mengarah dada Aba Dul itu nampaknya tak dirasakannya sama sekali oleh Abah Dul. Ia masih tampak menutupi matanya dari silau kilatan cahaya itu.
Bersamaan dengan melesaknya cahaya putih sebesar telur ayam kampung itu ke dada Abah Dul, Abah Dul hanya nampak terlihat tersentak sesaat dan mendadak berdiri kaku.
Tangan yang semula menutupi matanya pun langsung turun bersikap tegak disamping tubuhnya. Sesaat nampak tubuh Abah Dul menegang kaku, hingga urat- urat di lehernya terlihat bertonjolan.
Tanpa sadar kedua matanya dioejamkan rapat- rapat, Abah Dul merasakan ada sesuatu yang berbeda di dalam tubuhnya. Saat itu juga tubuhnya merasakan desuran hawa sejuk mengalir kesekujur badannya.
Situasi itu hanya berlangsung tak kurang dari 1 menit, lalu tubuhnya perlahan- lahan terlihat mulai kembali seperti sedia kala.
Cepat- cepat Abah Dul membuka matanya, ia seperti baru terbangun dari mimpi. Kepalanya celingukan memperhatikan di sekelilingnya.
Kemudian ia memperhatikan sekujur badannya dengan seksama mulai dari ujung kaki, naik hingga memperhatikan bagian dada kanan dan kirinya secara bergantian.
Raut wajahnya mengguratkan keheranan yang amat sangat sambil mengerutkan dahinya dalam- dalam. Abah Dul merasakan kondisi tubuhnya sangat segar 10 kali lipat.
Lantas ia menjulurkan kedua tangan di depan dadanya lalu memperhatikan tangannya bergantian secara seksama.
“Kenapa dengan badanku?! Badanku berasa sangat bugar dan kemana wanita ular itu?!” gumamnya, kemudian melihat kesekelilingnya.
Saat Abah Dul masih kebingungan dengan situasi yang terjadi pada dirinya, tiba- tiba terdengar kicauan burung gagak dibelakangnya.
Kyaaakkk... kyaaakk... kyaaakkk..
Kali ini suara burung gagak itu terdengar berbeda. Nada suaranya seperti mengekspresikan rasa senang menghadap posisi Abah Dul yang sedang terheran- heran.
Mendengar suara kicauan itu Abah Dul kontan membalikkan badannya. Di depannya terlihat burung gagak hitam terbang melayang- layang setinggi tubuh badannya dengan jarak sekitar 5 langkah darinya.
__ADS_1
Kyaaakkk... kyaaakkk... kyaaakk... kyaaakkk...
Suara burung gagak kembali menyalak nyaring menggema seantero hutan belantara, Abah Dul seperti memahami kicauan burung itu lalu segera melangkahkan kakinya kearah burung gagak.
Sekonyong- konyong Abah Dul sudah mengerti dengan kicauan- kicauan burung gagak itu. Alam bawah sadarnya mengatakan kalau burung gagak itu mengajaknya untuk melanjutkan perjalanannya.
......................
Di waktu yang sama, Kyai Sapu Jagat yang duduk di kursi rotan di depan saungnya, melirik kearah jam yang menggantung di dinding kayu disebelah kanannya.
Di atas meja di hadapannya, tersaji secangkir gelas mug berisi teh tubruk dan sepiring potongan singkong rebus yang tersisa 3 batang.
"Sebentar lagi waktu subuh akan tiba," gumamnya kemudian beranjak dari kursi.
Orang tua yang sudah berusia 80 tahunan itu melangkah pelan kearah pintu dimana Abah Dul sedang melakukan zikir semedi.
......................
Dialam Gaib,
Abah Dul beranjak melanjutkan perjalanannya mengikuti burung gagak yang terbang rendah 5 langkah di depannya.
Seketika Abah Dul menghentikan langkahnya, secara reflek ia memperhatikan tanah yang dipijaknya. Saat melihat tanah yang dipijaknya kini bukan lagi rerumputan liar dan alang- alang.
Akan tetapi tanah yang dipijaknya kini berupa pasir berwarna putih kehitaman.
Ia terpaku ditempatnya berdiri kemudian mengalihkan pandangannya dan menatap memperhatikan suasana di sekelilinya yang berubah terang benderang.
Abah Dul mengerutkan dahinya dalam- dalam dengan sedikit menyipitkan matanya, ia berucap pelan; “Dimana ini?!”
Bersamaan itu ia teringat dengan burung gagak yang menuntunnya, seketika itu juga Abah Dul langsung menoleh ketempat burung gagak hitam yang terbang didepanya.
KYaakkk.. kyakkk..
Kali ini suara kicaunya hanya dua kali, setelah itu burung gagak hitam tiba- tiba lenyap begitu saja dari tempatnya.
Kejadian itu sama persis dengan kejadian pada saat ketika dirinya baru saja melewati tapal batas yang bertuliskan huruf arab sebelumnya. Mengingat kejadian sebelumnya itu Abah Dul menjadi lebih waspada.
Benar saja perkiraan Abah Dul tak meleset. Ditengah perubahan suasana yang sebelumnya temaram dibawah lebatnya hutan belantara dan kini berubah menjadi terang dan gersang itu, samar- samar Abah Dul melihat di kejauhan nampak gumpalan hitam bergulung- gulung.
__ADS_1
Gulungan gumpalan hitam itu terlihat semakin lama nampak semakin mendekat kearahnya. Abah Dul menyiapkan dirinya dengan membaca amalan- amalan kekuatannya.
Kini ia lebih siap dalam menghadapi segala kemungkinan- kemungkinan yang akan menyerangnya seperti sebelumnya agar tidak kecolongan hingga membuatnya terhantam.
Tak butuh waktu lama, gulungan hitam diatas langit yang sebelumnya nampak seperti gulungan awan itu kian jelas saat mulai datang semakin dekat.
Seketika Abah Dul terperangah dengan mulut ternganga melihat gulungan- gulungan hitam diatas kepalanya.
Kedua matanya membelalak lebar, dengan jelas ia melihat gulungan hitam itu merupakan sekumpulan burung gagak berbulu hitam legam.
Yang membuat Abah Dul terpaku ditempatnya berdiri, sekumpulan burung gagak itu membawa sebilah pedang yang sangat besar.
Pedang besar itu berada dalam cengkeraman disetiap kaki -kaki ratusan burung gagak tersebut.
Nampak berkilatan cahaya terpancar dari mata pedang besar saat tertimpa cahaya.
Melihat kengerian itu Abah Dul tercekat membatu, ia hanya bisa menatapnya dengan pandangan nanar dan pasrah.
Sekumpulan burung gagak yang membawa pedang besar kini berada tepat diatas kepala Abah Dul berjarak sekitar 100 meteran.
Mata pedangnya nampak kian terlihat berkilauan tertimpa cahaya. Kiblatan- kiblatan pantulan cahayanya berpendaran menghujani Abah Dul.
Melihat bahaya datang mengancam, Abah Dul secepatnya bergerak melompat sejauh mungkin menghindari hujaman kiblatan cahaya putih keperakan itu.
Bertepatan dengan Abah Dul melompat, cahaya putih keperakkan serempak menghujani tempat berdiri sebekumnya.
Duaarrrr... duaarrr... duarrr... duarrr... duarrr...
Dentuman ledakan hingga menggetarkan pijakan Abah Dul berdiri. Di tempat sebelumnya terlihat kepulan asap hitam menyelimuti tempat itu.
Abah Dul menghembuskan nafas berat melihat pemandangan yang mengerikan di depan matanya. Dia berpikir seandanya dirinya tidak segera menghindar, entah apa jadinya dengan tubuhnya.
Mungkin saja sudah becerai berai menjadi daging cincang, begitu pikirnya.
Belum leluasa bernafas lega, Abah Dul kembali melihat kikatan- kilatan cahaya meluncur deras mengarah padanya. Seketika Abah Dul hendak melompat menghindar, akan tetapi kali ini ia merasakan kakinya tak bisa di gerakkan.
Abah Dul meronta- ronta berusaha menggerakkan kakinya, namun tetap tak bisa digerakkan sama sekali.
Sementara huja cahaya kian mendekat menghujam tubuhnya.
__ADS_1
......................