
Pertempuran antara prajurit siluman monyet yang berjumlah 100 ribu melawan pasukan jin dan pasukanKajiman yang jumlahnya dua kali lipat lebih banyak tersebut berlangsungsebentar. Selain kalah jumlah, para prajurit siluman monyet dengan mudah dibantai karena kondisi mereka dalam keadaan tidak terkontrol akibat kondisinya mabuk berat.
Melihat pertempuran selesai dan berhasil memusnahkan prajurit siluman monyet, 50 pasukan yang bertugas menutup pintu utama istana sebelumnya kembali membuka pintu raksasa tersebut. Seketika prajurit- prajurit
yang berada tak jauh dari pintu istana tersebut menoleh kearah pintu yang terbuka.
Dalam kondisi mabuk berat, prajurit- prajurit siluman monyet langsung berlompatan keluar istana disaat bersamaan pintu terbuka dan melihat ada banyak mahluk asing di luar istana. Tubuh- tubuh prajurit bergerak limbung menuju luar istana, mereka berdesak- desakkan dan saling tabrak satu sama lain.
Akibat pengaruh mabuk, para prajurit kontan terbakar amarahnya manakala melihat mahluk asing di mata mereka berada diistananya. Namun kemarahan para prajurit itu tidak dibarengi dengan kekuatan fisik dan akal yang normal sehingga tanpa memikirkan apapun mereka merangsak kelauar istana.
Ketika satu kumpulan prajurit siluman monyet baru saja satu langkah melewati pintu raksasa tersebut mereka langsung di berondong dengan hujan sabetan pedang dan senjata- senjata mematikan lainnya yang datang dari
arah samping kiri dan kanan.
“Aaaaakkkkkhh!”
“Aaaaakkkkkhh!”
“Aaaaakkkkkhh!”
Suara -suara jeritan menyat saling bersahutan dari para prajurit. Suaranya seperti nyanyian kematian yang berbaur diiringi tetabuhan suara musik pesta dari dalam istana.
Kejadian tersebut terus menerus berlangsung hingga sudah memusnahkan lebih dari 500 ribu prajurit- prajurit siluman monyet. Lama- kelamaan kekacauan pun nampak terjadi didalam istana, para prajurit yang tidak
mengetahui kejadian penyerangan tersebut terlihat ikut merangsak mengikuti arus rekan- rekannya yang berbondong- bondong menuju pintu keluar istana yang sudah terbuka lebar.
Sementara itu Gus Harun beserta sahabat- sahabatnya seketika baru menyadari kalau dirinya yang sedikit terlambat bergerak saat melihat di kejauhan disekitar pintu istana terlihat adanya kekacauan.
__ADS_1
“Kita terlambat! Pasukan sudah menjalankan rencana ke 7, ayo kita harus secepatnya menemukan putra Kosim!” seru Gus Harun.
Kosim seketika melesat mendahului yang lain, dia tampak tak sabaran ingin segera menmukan arwah putranya. Melihat Kosim melesat lebih dulu, Gus Harun, Abah Dul dan lainnya langsung bergerak menyusul kosim memasuki lorong yang sebelumnya terlihat sekumpulan prajurit mabuk memasuki lorong tersebut.
Setelah melesat melayang menyusuri lorong bercahaya temaram tersebut beberapa saat kemudian Kosim yang berada paling depan mendengar suara- suara jerit ketakutan dari banyak wanita lebih dulu. Suara- suara jeritan itu berasal dari sebuah ruangan yang berada di ujung lorong. Kosim pun kian mempercepat gerakannya menuju arah suara, disusul Gus Harun serta ke tujuh sahabatnya.
Sesaat kemudian tiba- tiba terdengar suara bentakkan dari Kosim menggema seantero lorong dan ruangan hingga menggetarkan dinding- dindingnya. Sepasang mata Kosim menyala merah darah menatap tajam kedalam
ruangan yang temaram.
Didalam ruangan tersebuts Sekumpulan prajurit yang berjumlah kurang lebih 30 –an sedang melakukan perbuatan asusilanya terhadap arwah- arwah wanita. Para prajurit dengan brutal dan sadis memperlakukan arwah wanita itu layaknya binatang seperti diri mereka dalam menyalurkan biologisnya dengan cara mereka.
Kosim yang melihat itu seketika murka. Kedua matanya yang menyala merah darah langsung melesat menerjang sekumpulan prajurit siluman monyet yang sedang keenakan menyalurkan biologisnya. Cahaya putih perak menyilaukan seketika memancar keluar dari telapak tangan kanan Kosim yang diacungkan tinggi- tinggi. Cahaya peraknya menerangi seisi ruangan yang gelap gulita tersebut.
“Mahluk laknat!!!” teriak Kosim dengan suara bergetar yang dibakar amarah yang teramat sangat.
“Ayo cepat!” seru Gus Harun.
Hanya beberapa saat Gus Harun dan sahabt- sahabatnya telah sampai di depan muka sebuah ruangan yang terang benderang oleh cahaya keperakan tersebut. Mereka melihat dengan jelas kalau cahaya keperakan itu berasal dari telapak tangan Kosim.
Tiba- tiba Kosim mengayunkan tangannya yang dibungkus cahaya tersebut dengan hentakkan keras mengarah pada sekumpulan prajurit siluman monyet yang sibuk sedang menindih arwah wanita dari belakang.
Saat sekumpulan prajurit siluman monyet menoleh terkejut kearah munculnya sinar putih keperakan, saat itu juga sinar putih keperakan berbentuk bola sebesar bola sepak meluncur derah kerah mereka.
‘Booom!!!
Suara dentuman keras terdengar disusul serpihan- serpihan tubuh prajurit berterbangan melesat ke berbagai arah lalu berubah menjadi asap kelabu dan lenyap dalam sekejap. Tanpa sempat menyadari ada penyerangan, 30 prajurit tersebut keburu terhantam sinar perak dan musnah seketika.
__ADS_1
Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin, Mahmud, tuan Denta dan Raja Kajiman terkesiap melihat apa yang telah dilakukan oleh Kosim. Terutama Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud, ketiganya tidak menyangka sama sekali jika Kosim memiliki kekuatan sedemikian dahsyatnya. Mereka sangat mengenal Kosim yang semasa hidupnya merupakan pemuda yang pendiam, sikapnya sopan dan santun, kini di hadapan mereka Kosim terlihat seperti iblis pembunuh yang paling brutal.
“Darimana Kosim mendapatkan kekuatan sebesar itu?!” gumam Abah Dul dengan suara ditekan keras.
“Maaf tuan, saya yang memberikan kekuatan itu. Kekuatan yang baru saja dikeluarkan Kosim itu merupakan kekuatan sejati dari mahluk golongan kami, Kajiman…” sergah Raja Kajiman.
“Sungguh luar biasa tuan raja!” balas Abah Dul, terlintas didalam hatinya ingin memiliki juga kekuatan seperti Kosim.
“Tuan Dul bisa memilikinya,” ucap Raja Kajiman, ia mengetahui yang dipikirkan Abah Dul.
“Benarkah tuan Raja?!” tanya Abah Dul memastikan.
“Benar tuan Dul.” Balas Raja Kajiman.
Obrolan tak sengaja tersebut tiba- tibha terputus saat itu juga manakala mereka mendengar teriakkan histeris. Teriakkan histeri tersebut berasal dari Kosim yang berada di dalam ruangan yang gelap gulita.
Sebelumnya sesaat setelah memusnahkan 30 prajurit siluman monyet, dihadapannya Kosim melihat banyak sekali sosok- sosok yang berwujud manusia memenuhi ruangan tersebut. Sosok –sosok manusia tersebut tak lain merupakan arwah dari para pengabdi pesugihan monyet.
Melihat kemunculan Kosim yang berwujud menyerupai prajurit siluman monyet, para arwah nampak ketakutan saling merapatkan wujud mereka dengan arwah lainnya. Kosim tak memperdulikan pemandangan itu, dia langsung bergerak mencari- cari putranya diantara ratusan ribu sosok arwah yang tahan sambil berteriak- teriak memanggil nama putranya.
“Dedeeeee!!!”
“Dedeeee… kamu dimana nak!!!”
Teriakkan Kosim menggema seantero ruangan tahanan arwah yang sangat luas tersebut. Dan teriakkan itu pula yang menyudahi perbincangan Abah Dul dengan Raja Kajiman.
“Mari kita bantu mencari putranya Kosim!” kata Gus Harun.** BERSAMBUNG
__ADS_1