
Alam Tak Kasat Mata,
Hampir sudah seharian ini langit diatas desa Sukadami tertutup awan. Mendung tebalnya menghalangi cahaya matahari yang turun menyinari desa Sukadami. Meski terlihat mendung semenjak subuh hari akan tetapi sepertinya tidak ada tanda- tanda hujan akan turun.
Yang nampak hanyalah kilatan- kilatan cahaya dikejauhan yang sesekali berpendaran disertai suara gemuruh seperti guntur yang terkadang hingga menggetarkan kaca jendela rumah-rumah warga.
Desa Sukadami serasa begitu mencekam!
Dibalik suramnya cuaca desa sukadami, jauh di alam tak kasat mata suasannya berbamding terbalik. Suasana istana Kerajaan Siluman Monyet nampak hiruk pikuk kemeriahan pesta yang sedang berlangsung.
Gema Suara gelak tawa dan tetabuhan saling tumpang tindih bersahutan baik didalam istana maupun di luar istana timbul tenggelam diantara gemuruh suara guntur dan kilatan petir.
Di ruang utama istana, Raja Kalas Pati nampak tengah sudah mabuk berat dan terlena diantara suka cita kemeriahan pesta. Wanita- wanita cantik dan sensual sesekali menyuapi Raja Kalas Pati dengan buah- buahan.
Beberapa wanita lainnya sibuk memijat- mijat bagian- bahian tubuh Raja Kalas Pati tanpa henti. Sorot mata dari wanita- wanita yang melayani Raja Kalas Pati semuanya terlihat kosong.
Meski sekujur tubuhnya dibalut pakaian bagus dan seksi namun raut wajah mereka tergurat jelas merasakan penderitaan yang mendalam.
Wanita -wanita yang menjadi pelayan Raja Kalas Pati itu tak lain merupakan arwah -arwah yang terikat perjanjian dengan siluman monyet. Ada yang terpenjara di istana karena mengingkari perjanjiannya maupun mereka yang sudah mencapai batas waktu perjanjiannya.
Sekarang penyesalannya pun sudah tidak berguna lagi, meskipun semasa di dunia mereka berlgelimang harta yang dihasilkan dari mengikat kontrak pesugihan dengan siluman monyet. Mereka baru menyadari kalau harta kekayaannya itu hanyalah semu belaka.
Kerajaan Siluman Monyet melangsungkan Pesta tersebut yang merupakan acara rutin bangsa siluman monyet yang digelar satu tahun sekali dimana waktunya bertepatan dengan penanggalan 1 Suro bagi penanggalan manusia di jawa.
Para siluman menganggap dalam setahun tersebut merasa telah berhasil memenuhi target untuk menggiring manusia- manusia kedalam lingkarannya dengan iming- iming harta kelayaan.
Padahal sejatinya harta kekayaan yang diberikan para siluman monyet itu hanyalah semu. Mereka Para siluman mempunyai tujuan tersendiri dengan menggiring manusia- manusia untuk menjadi budaknya atau pun pengikutnya.
Konon, Semakin banyak manusia yang terperosok masuk ikut kedalam jebakannya itu membuat para iblis akan semakin merasa kuat untuk menentang Tuhan semesta alam yang menciptakannya. Hal itu tak luput dari amanat yang diberikan oleh nenek moyang mereka yakni Iblis semenjak ribuan tahun yang silam.
__ADS_1
"Hahahaha... Ayo habiskan semuanya!" Ujar prajutit siluman monyet.
"Ya, nikmati pesta ini sampai mabuk, hahahaha..." timpal prajutit lain.
Diantara hiruk pikuk tetabuhan berbaur dengan gelak tawa para siluman yang mabuk di pesta besar itu, ratusan sosok berwujud roh manusia tak henti- hentinya mencucurkan air mata. Para roh itu tersebar diberbagai tempat dan posisinya
Wajah- wajah penuh penyesalan sangat terlihat jelas dari puluhan, ratusan ribu bahkan jutaan roh manusia berjenis kelamin laki- laki maupun perempuan yang sewaktu hidup diduniamya menjadi pengabdi pesugihan monyet. Kini mereka semua sedang membayar karmanya di alam siluman.
"Saya menyesal... saya sangat menyesal..." ucap salah satu sura roh laki- laki merintih menahan
kesakitan manakala tubuhnya terinjak- injak oleh lalu- lalang para prajurit siluman monyet.
"Iya, saya juga sangat menyesal. Kalau tau pada akhirnya tersiksa seperti ini saya tidak akan
melakukan pesugihan," rintih sauara roh laki- laki disampingnya.
Dengan bercucuran air mata yang terus mengalir seakan tanpa henti laki- laki itu teringat kembali dengan apa yang telah dilakukannya saat hidup di alam dunia.
“Seandainya Romlah istri saya tidak menuntut harta kekayaan dan mendorong saya mengambil jalan
pintas, mungkin saya tidak akan melakukannya dan berakhir penuh siksaan seperti
ini…” ucapnya dengan lirih.
Roh- roh yang mendengar ungkapan penyesalan dari laki- laki disekitarnya hanya terdiam. Mereka merasakan hal yang sama seperti yang diucapkan roh laki- laki barusan. Roh- roh tersebut merasakan latar belakang
yang sama sehingga terjerumus menjadi pengikut siluman monyet. Entah sudah berapa puluh tahun lamanya rohnya tersandera di alam siluman monyet semenjak dinyatakan meninggal di alam dunia.
Nyaris setiap hari para roh- roh pengabdi siluman monyet itu saling mengeluarkan keluh kesah penyesalannya. tak dapat dibayangkan sekian lamanya roh- roh yang terpenjara itu begitu sangat tersiksanya. Namun penyesalan selalu datang diakhir setelah semuanya terjadi.
__ADS_1
Masih teringat jelas dalam benak merreka dari saat pertama kali mendatangi sebuah Gunung G yang berada diujung pulau Jawa. Mereka disambut oleh pekikan- pekikan suara monyet yang seolah- olah menyambut kedatangan mereka penuh dengan kegembiraan.
“Jangan takut, monyet- monyet itu hanya sekedar menyambut atas kedatangan kalian. Monyet- monyet itu merasa sangat gembira dengan kedatangan kalian,” ucap juru kunci pesugihan siluman monyet.
“I, iya mbah,” jawab suami istri berusia 40 tahunan dengan suara bergetar.
Sang juru kunci membawa sepasang suami – istri itu ke sebuah goa yang berada tak jauh dari bilik tempat menerima calon pesugihan sebelumnya.
Setelah 30 menit berjalan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi ilalang, akhirnya Si juru kunci alias sang kuncen dan sepasang suami istri itu sampai juga di mulut goa. Ukurannya tak terlalu besar sekitar
berdiameter 2X2 meter.
Cahaya di langit nampak sudah mulai temaram menjelang magrib, semilir dingin udara lereng gunung “G” terasa hingga ke tulang sepasang suami istri, namun tak menyurutkan keduanya untuk tetap mewujudkan impiannya
untuk menjadi orang terkaya di kampungnya.
Istrinya sudah membayangkan sepulangnya dari ritual ini akan langsung berencana membangun rumah, membeli sepeda motor model terbaru, membeli mobil, membeli perhiasan.
“Ayo masuk!” seru sang kuncen membuyarkan lamunan suami istri tersebut.
“eh, I, iy, iyya mbah,” sahut suami istri serempak.
Setelah sang kuncen serta suami istri itu berada didalam goa, langsung disambut oleh cicitan- cicitan suara monyet yang menggema diruangan goa sehingga membuat riuh ramai namun menyiratkan nuansa mistis.
Kontan saja membuat sepasang suami istri dibuat bergidik melihat pemandangan yang ada didalam goa. Mata sepasang istri itu terbelalak melihat banyak monyet bergerombol mengelilingi ruangan di dinding goa, ada yang
duduk diatas batu sambil menggenggam pisang, ada yang bergelayutan bergantung diatas stalaktis- stalaktit diatas atap goa. Monyet- monyet tersebut seolah- olah menatap tajam kearah kedua sepasang suami istri sambil tak henti- hentinya mengeluarkan suara cicitannya.
…
__ADS_1