Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
KATA HATI


__ADS_3

Suasana rumah pak Harjo kini tampak lengang, tak ada lagi orang- oranga berlalu lalang hilir mudik dan kerumunan- kerumunan warga. Suara- suara hiruk pikuk para warga masyarakat yang semula memenuhi halaman rumah dan sekelilingnya pun kini menjadi senyap.


Pak Harjo, Bu Harjo, Dewi, Arin serta Hasan kini sudah berpindah di dalam ruang tengah, tidak lagi duduk di


teras seperti sebelumnya.


"Mbak Dewi, mbak Arin nginep saja semalam ya?" kata pak Harjo.


"Waduh, kalau kami menginap rumah kami jadi gelap gulita pak Harjo, nggak ada yang nyalain lampu, hehehe.." ujar Dewi menolak secara halus.


"Nak Dede, nginep aja ya?" ujar Bu Harjo meminta dukungan pada Dede agar tetap tinggal di rumahnya.


"Tidak mau nenek, Dede pulang saja," jawab Dede menggeleng- gelengkan kepalanya.


Dewi dan Arin senyum- senyum saja, keduanya merasa menang karena bujukan Pak Harjo dan Bu Harjo gagal melalui Dede. Bukan saja pak Harjo dan bu Harjo yang tampak kecwa, Hasan pun demikian. Padahal didalam hatinya sangat berharap Arin menginap agar dirinya punya kesempatan bisa mengobrol lebih banyak dengannya.


Entah mengapa dirinya merasa sangat bahagia saat memamndang Arin. Ada rasa ingin selalu dekat dengan Arin yang timbul begitu saja didalam hati Hasan, padahal baru kali ini dirinya bertemu dengan Arin. Semua rasa itu semakin menguat manakala mendengar Arin akan segera pulang. Ingin rasanya dirinya mencegah Arin pulang, namun tidak ada keberanian di dalam dirinya.


“Bunda, bunada Dede pengen pipis,” kata Dede meringis menahan rasa ingin buang air kecil.


“Aduh, punten pak Harjo, bu Harjo numpang ke kamar kecil. Dedenya mau pipis katanya,” timpal Arin.


“Oh, monggo… monggo, San itu tolong anterin mbak Arin dan Dede ke kamar kecil ya,” pinta bu Harjo.


“Njih bu, ma, mari mbak…” sahut Hasan gugup sekaligus hatinya sangat senang, lalu Hasan segera bangkit berdiri.


“Iya, mas. Ayo De, cepetan keburu pipis di celana,” ujar Arin kemudian Dede langsung berdiri dan Arin segera


menuntun Dede mengikuti Hasan berjalan dibelakangnya.


Kata panggilan 'mas' yang diucapkan Arin mengalir begitu saja dan spontan keluar dari bibirnya yang tipis. Namun bagi Harun panggilan 'mas' padanya terasa begitu adem di pendengarannya dan merasa sangat spesial baginya.

__ADS_1


Dewi pun sempat terkejut saat Arin mengucapkan kata 'mas' pada Hasan, serasa begitu pas dan terdengar lebih akrab.


Dewi yang sedari tadi diam- diam memperhatikan gerak- gerik Hasan langsung senyum- senyum sambil sesekali melirik Arin. Pandangannya terus mengikuti Arin dan Hasan saat mereka berjalan ke dalam menuju kamar kecil.


Dewi sepertinya sudah tahu dan memahami gejolak hati yang sedang dirasakan Hasan. Rupanya pendiktean Dewi tersebut dilihat oleh pak Harjo dan bu Harjo, sehingga  membuat kedua orang tua Hasan tersebut bertanya- tanya di dalam hati merasa heran sekaligus penasaran.


“Kenapa mbak Dewi?” tanya bu Harjo.


“Hehehehe… entah kenapa hati saya merasa senang saat melihat adik saya berjalan bersama Hasan bu,” ungkap Dewi jujur.


Mendengar ungkapan Dewi tersebut seketika wajah bu Harjo dan pak Harjo sedkit terkejut, akan tetapi sedetik


kemudian keduanya cepat- cepat tersenyum.


“Hussst! Jangan seperti itu mbak Dewi, pamali. Arin kan sudah punya suami,” sergah bu Harjo.


“Arin itu sendirian bu, suaminya sudah meninggal,” sahut Dewi.


“Njih bu, nggak apa- apa. Saya sebgai kakaknya selalu berharap Arin bisa mendapatkan suami lagi karena selain usianya yang masih sangat muda, ia juga harus menghidupi anaknya. Tapi, sepertinya rasanya tidak mungkin ada lelaki yang mau menerima kondisi Arin yang sudah memiliki anak,” ungkap Dewi.


“Mbak Dewi, kalau Gusti allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin. Kalau bapak sendiri seandainya mbak Arin ada hati sama Hasan, bapak rasa Hasan juga mau tuh, hehehe…” seloroh pak Harjo.


“Iya mbak Dewi, ibu juga sangat senang seandainya Hasan dan Arin saling suka biar nak Dede langsung menjadi cucu ibu, hehehe…” timpal bu Harjo tertawa senang.


“Tapi apakah mas Hasannya mau ya sama Arin yang sudah punya anak bu, pak…” ucap Dewi ragu- ragu.


“Kalau bapak lihat sih, Hasan itu orangnya tidak pilah pilih dan tidak mau pacar- pacaran gitu mbak Dewi. Makanya dia tidak pernah memiliki teman dekat wanita, Hasan pernah mengungkapkan sendiri pada bapak dirinya hanya ingin lewat ta’aruf  saja lalu cepat- cepat langsung menikah jika memang sudah ketemu jodohnya,” terang pak Harjo.


“Tapi Arin tidak punya apa- apa pak Harjo, saya pun merasa malu andai benar mas Hasan mau menerima Arin,” kata Dewi.


“Astagfirullah mbak Dewi, jangan berkata seperti itu. Ibu dan bapak tidak pernah memandang orang dengan

__ADS_1


statusnya mbak. Sungguh kami tidak seperti itu mbak,” sergah bu Harjo merasa sedikit tersinggung.


“Ma, maaf bu saya tidak bermaksud menyinggung keluarga ibu dan bapak. Maksud saya ya kebanyakan orang bu,” balas Dewi.


Sementara itu di belakang, saat sudah berada di depan kamar kecil, tiba- tiba Dede merengek- rengek membuat


Arin kerepotan. Mau tidak mau Hasan dengan spontan ikut membantu Arin menenangkan Dede. Hasan berjongkok di belakang Dede sambil memegangi pinggang Dede, sementara Arin berjongkok didepan Dede berusaha membukakan celana Dede.


“Dede nggak boleh nakal ya, kasihan tuh bundanya…” kata Hasan lembut.


“Tuh, nanti mas Hasannya marah. Ayo cepetan De, nanti keburu pipis di celana loh,” timpal Arin.


Pada saat Hasan memegang tangan Dede dari belakang agar memudahkan Arin membukakan celananya dari depan, tiba- tiba Dede berlari masuk kedalam kamar kecil.  Hasan lengah sehingga pegangan Hasan pun lepas membuat tubuhnya jatuh terdorong kedepan, disaat yang sama Arin pun kehilangan keseimbangannya sehingga tubuh Hasan dan Arin saling bertubrukkan.


“Aduh!” pekik Arin dan Hasan bersamaan.


Tangan Hasan reflek memegang tangan Arin berusaha menahan tubuhnya  agar Arin tidak ikut jatuh tertimpa oleh tubuhnya.  Namun benturan pada dahi Hasan dan Arin tidak dapat terhindarkan lagi, keduanya mengaduh kesakitan.


Tanpa disengaja kedua mata mereka saling bertatatapan dan spontan tangan kiri Hasan dan Arin saling memegangi daihanya masing- masing bekas tubrukkan tadi. Hasan sendiri tidak sadar kalau tangan kanannya masih memegangi lengan Arin, begitu juga dengan Arin yang tidak menyadari telah memegang erat- erat lengan Hasan untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


Hasan dan Arin tertegun saling berpandangan. Kejadian tersebut seolah- olah membuat waktu telah berhenti berputar beberapa saat lamanya sampai akhirnya terdengar suara sorakan, “Horeeee… “


Hasan dan Arin seketika tersadar, keduanya cepat- cepat saling melepaskan pegangannya. Wajah Arin memerah, begitu pula dengan Hasan, ia terlihat sangat gugup dan kikuk merasa sangat malu sekali.


“Ohh, ma, maaf…” ucap Hasan memalingkan wajahnya karena merasa malu telah memandang Arin begitu lama.


“Eh, Mm, iy, iya sa.. saya juga minta maaf,” balas Arin tak kalah gugup.


“Horeeee… hereee….” Teriak Dede kegirangan.


Arin langsung mendelik kearah Dede, wajahnya kian merona merah lalu beranjak dari hadapan Hasan menuju Dede yang sudah berada di dalam kamar kecil. Sedangkan Hasan terlihat kian gugup dan bingung entah apa yang harus diperbuat selanjutnya.

__ADS_1


Hasan hanya garuk- garuk kepala sambil cengengesan menahan rasa malu sekaligus menyembunyikan debaran- debaran jantungnya yang berdegub semakin kencang tak terkendali.* BERSAMBUNG


__ADS_2